Anak lelaki dengan kacamata yang menangkring di pangkal hidungnya itu berjalan menyusuri lorong. Hingga di ujung lorong tiba-tiba tubuhnya lemas. Tubuhnya meluruh, Sandy mundur di belakangnya menatap anak lelaki itu yang kini sedang berlutut. "Sorry gue pinjem tubuh lo."
Sandy berbalik meninggalkan tubuh lemas siswa itu.
"Kok gue lemes banget ya," katanya heran sambil mengusap tengkuknya yang terasa pegal.
***
Sandy memasukkan tangannya ke dalam saku. Berjalan santai melewati tubuh manusia normal. Ia merasa kesal saat melihat Flo diperlakukan seperti itu oleh Alia. Entah bisikan dari mana Sandy memasuki tubuh salah satu siswa dan melempar Alia dengan hal serupa.
Cowok itu kini melangkahkan kakinya menuju kantin kembali. Ia ingin tahu bagaimana keadaan Flo sekarang.
Langkahnya terhenti saat ia melihat lingkaran itu kini sudah diisi tiga orang. Sandy memerhatikannya dari jauh. Melihat Flo yang kini sudah berada di belakang punggung Bagas membuat Sandy tersenyum kecut sepertinya yang ia lakukan justru tambah memperuncing suasana.
Mata Sandy jatuh pada tangannya yang terlihat tembus pandang. Dengan keadaan seperti sangat mustahil kalau ia berniat ingin menyelamatkan cewek itu. Karena di posisi ini justru dialah yang perlu diselamatkan.
Sandy mengangkat kembali dagunya. Dari tempat berdirinya saat ini ia melihat Bagas menarik kasar tangan Alia untuk pergi dari lingkaran itu. Meninggalkan Flo yang menatap kepergian mereka dengan keadaan berantakan.
Cowok itu menghampiri Flo. Rambut basah lepek, baju seragam basah dan penuh noda. Pandangannya terhenti pada jas almet yang tersamping di baju cewek itu.
"Lo nggak ada niatan ganti baju?" tanya Sandy.
Flo berjengkit dan menoleh. "Gue mana bawa baju cadangan," jawab Flo seraya mendesah.
Tiara menghampirinya dengan wajah panik. Ia menarik bahu sahabatnya itu agar menghadap ke arahnya. "Lo kok bisa kayak gini sih? Lo ngapain berantem sama Kak Alia?"
"Siapa yang berantem? Orang gue lagi asik makan siomay tiba-tiba disiram," sanggah Flo. Ia tak terima masih disalahkan juga.
"Lah, aneh tuh orang," tukas Tiara.
Kening Tiara mengerut, tangannya ia taruh di pinggang. Tak habis pikir dengan tingkah primadona sekolahnya. Lantas mata Tiara jatuh pada penampilan Flo. Rambut basah lepek dengan seragam yang sedikit menjiplak untungnya jas almet milik Bagas menutup bagian atas tubuh sahabatnya itu.
Helaan napas panjang keluar dari mulut Tiara. Ia berusaha menurunkan emosinya lagi. Didekatkannya dirinya kepada Flo.
Kemudian ia membawa bahu sahabatnya itu mendekat. "Lo nggak bawa baju ganti lagi." Tangan Tiara melingkar di bahu sahabatnya itu.
Flo menggeleng lemah, lalu Tiara menuntun sahabatnya itu keluar dari kantin. Sandy membuntuti dari belakang. Tak banyak yang bisa ia lakukan saat ini.
"Gue bawa baju olahraga sih, nggak apa-apa kali lo pake itu, ya?" gumam Tiara.
"Iya, nggak apa-apa, Ra."
***
Setelah tragedi penyiraman saat itu Flo dan Alia tidak lagi banyak bicara. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Tak ada tegur sapa. Bahkan untuk saling bertatapan aja tidak. Seakan keduanya sama-sama tak menganggap ada kehadiran satu sama lain.
Bagas pun tak lagi mengungkit hal itu. Untuk rumor yang beredar, syukurnya cepat-cepat hilang. Ya, memang karena itu tidak benar adanya. Sampai sekarang Flo masih penasaran siapa orang yang sudah mengambil gambar dirinya dan Bagas saat makan kemarin.
"Flo!"
Flo menolehkan kepalanya saat namanya dipanggil.
"Ada apa?"
"Lo dipanggil Bu Tanti, katanya kapan remedial matematika."
"Oh." Flo mengerjapkan matanya, ia hampir lupa kalau ada hutang remedial dengan Bu Tanti. "Makasih, infonya."
Setelah mengatakan itu Flo langsung berbalik untuk menemui Sandy yang tengah berada di kelas Bagas.
Kebiasaan baru cowok itu, memata-matai Bagas.
Napas Flo tersengal kala ia berlari cepat menuju kelas dua belas. Kepalanya menyembul untuk mencari Sandy. Beberapa orang melihat Flo bingung.
"Sandy!" bisik Flo.
Sandy menoleh melihat cewek itu memelototkan mata kepadanya. Lantas cowok itu berjalan mendekat.
"Ada apa?"
"Bantu gue ulangan matematika!" Flo berdiri tegak, lalu berlari lagi ke arah kantor guru. Sandy mengekori dari belakang.
Saat Flo berbalik ketika itu juga Bagas melihat punggung mungil Flo. Bagas sendiri mengerutkan dahinya, ia pikir Flo akan menemuinya. Nyatanya tidak.
***
Flo menggunakan jaket dan menutup kancingnya hingga leher. Ia kembali memperingatkan Sandy akan peraturan saat memasuki tubuhnya. Sandy mendengarkan dengan menggaruk telinga yang tak gatal.
"Iya, iya!"
Lalu Sandy memasuki tubuh itu saat Flo masih hendak berbicara.
"Berisik banget nih, cewek!" kata Sandy, lalu berjalan masuk ke dalam kantor.
Di sana sudah ada Bu Tanti yang menunggu.
"Kamu ngerjainnya di sana, ya," tunjuk Bu Tanti di meja dan kursi kosong di pojok ruangan. Sandy menganggukkan kepalanya sambil menerima kertas ujian dan pulpen yang sudah disediakan.
Ia menaruhnya di atas meja. Mulai membaca soal pertama tentang deret aritmatika. Sandy mengerjakannya dengan fokus, keningnya sesekali mengerut.
Kefokusannya itu membuatnya tak sadar kalau ada tipe-x di ujung meja. Sikunya menyenggol tipe-x itu sampai terjatuh. Sandy terkesiap, Bu Tanti langsung memicingkan mata tatkala mendengar suara rusuh itu. Sandy menyengir kuda. Sambil mengangkat kedua jarinya membuat V.
Sandy menunduk mengambil tipe-x yang berada di bawah meja itu. Saat ia menunduk, saat itu juga kepalanya terasa berat. Sontak ia memegang kepalanya yang terasa bergoyang. Kilasan-kilasan masa lalu terlintas di benaknya. Kilasan saat ia masih menggunakan baju SMA. Celana abu-abu panjang dan baju seragam putih.
Kemudian berlanjut saat ia belajar di kelas. Sandy memejamkan matanya, sambil meringis menahan nyut-nyutan di kepalanya.
Lalu satu nama terlintas di kepalanya. Nama tempat ia bersekolah.
SMA Pertiwi Jakarta.
***
Setelah mengerjakan ujian Sandy langsung menuju kantin untuk membeli teh hangat, lalu ia membawa teh itu ke dalam ruang UKS. Sandy merebahkan dirinya di atas kasur. Dengan konsentrasi penuh ia keluar dari tubuh cewek itu.
Tak seperti kemarin, Flo masih sadar diri saat Sandy keluar dari tubuhnya. Namun, saat ia ingin berusaha bangun tubuhnya terasa lemas.
"Nggak usah dipaksa bangun nanti lo pingsan aja," tegur Sandy. Ia menunjuk teh di samping Flo.
"Gue tadi bawain itu, minum dulu gih, biar tenaga lo pulih."
Flo melirik nakas di samping tempat tidur. "Oh, thanks, ya."
"Pleasure," jawa Sandy sambil mendudukkan diri di pinggiran tempat tidur.
"Tadi pas gue ngerjain tugas matematika lo gue ingat sesuatu lagi," cetus Sandy.
Flo yang tengah menyedot teh hangat itu langsung menghentikan sedotannya. Wajahnya ia fokuskan kepada info yang baru ia dapatkan itu.
"Inget apa? Rumah? Nomor telepon?"
Sandy bergeleng. "Gue inget nama SMA gue dulu." Sandy balas menatap Flo.
"SMA Pertiwi Jakarta. Apa kita perlu ke sana?"