21| Rencana Baru

1049 Kata
"Tapi kita ke sananya alasan apa, ya?" ragu Sandy. Ia tak yakin apakah rencananya ini akan berhasil. "Emm, seinget gue anak tenis bakalan tanding sama SMA Pertiwi, apa SMA yang sama?" gumam Flo. Keduanya sama-sama saling menatap. Seakan mendapat kesempatan hidup kembali Flo dan Sandy bersorak dan berjingkrak-jingkrak. Sampai orang datang tiba-tiba ke dalam UKS. Membuat Flo membeku, kelopaknya bergerak kala orang itu menatapnya aneh. Mata Flo melirik ke kanan dan ke kiri, mencari ide agar dirinya tak terlihat aneh. "Satu! Dua!" Flo langsung bergaya seperti tengah melakukan pemanasan. "Huh, udah mulai seger nih," racau Flo sambil berjalan keluar UKS. Rasanya ia ingin tenggelam saja karena kepergok tengah jingkrak-jingkrakan sendiri. *** Flo berjinjit, matanya berusaha mengintip ke dalam kelasnya. Seharusnya setelah mengerjakan remedial tadi Flo langsung masuk ke dalam kelas. Namun, Flo malah ke ruang UKS. Untuk itu kini cewek itu tengah memantau keadaan kelas apakah sudah aman dengan kata lain apakah ada guru di dalam atau tidak. "Aman, Flo," kata Sandy yang sudah menembus tembok dan berjalan masuk ke dalam. Setelah mendapat informasi seperti itu, cewek itu buru masuk ke dalam. Tiara menatapnya bingung saat Flo baru masuk saat satu pelajaran terlewati. "Lo ke mana aja?!" seru Tiara langsung menyemburnya dengan pertanyaan. "Gue tadi ke UKS, nggak enak badan," balas Flo. Tiara menyipitkan matanya. Memberi ekspresi tak percaya. Melihat raut wajah Tiara membuat Flo berdecak kesal. "Gue bener lemes, nggak enak badan. Lo nggak percaya banget," protes Flo. Ia menghiraukan wajah Tiara dan mengambil tasnya untuk mengeluarkan peralatan tulis. "Lemes kenapa? Kan lo tadi abis remedial. Kok bisa lemes." Flo memilih tidak menjawab, tetapi alis matanya naik turun. Tiara yang paham sontak menutup mulutnya yang terbuka. Kemudian ia melepas bekapan itu dan memajukan wajahnya mendekati telinga sahabatnya itu. "Sandy yang ngerjain?" Tebakan Tiara diberikan anggukan oleh Flo. Kepala Tiara bergeleng tak percaya, decakan lolos dari mulutnya. "Nggak nyangka lo curang." Mata Flo mendelik, ada rasa enggak terima ketika Tiara mengatakan itu. Pasalnya, setiap orang di kelasnya pun melakukan kecurangan dengan cara yang berbeda. "Sekarang skip bahas itu." Flo mengibaskan tangannya di depan wajah. Ia menggeser duduknya hingga kini tubuhnya menghadap ke arah Tiara. "Karena gue ada berita yang lebih penting lagi. Dan menurut gue itu juga karena kecurangan gue itu." Tiara ikut menghadapkan duduknya ke arah Flo. Ia berusaha memfokuskan dirinya kepada sahabatnya itu. "Apa?" tanya Tiara penasaran. "Sandy bilang ke gue kalau saat ngerjain matematika tadi dia mulai inget sesuatu lagi." Tiara mengangguk, matanya melebar. Atensinya sudah seratus persen ke arah Flo. "Dia inget nama SMA-nya dulu. SMA Pertiwi Jakarta." Flo sedikit membisikkan saat menyebut nama sekolah Sandy. "Gue berniat ke sana dan cari tau info mengenai cowok itu." "Caranya?" Satu alis Tiara terangkat. Dalam hal ini ia bersyukur kalau ide itu tidak harus dipikirkan darinya. "Gue waktu itu denger tenis kita mau melawan SMA Pertiwi. Gue bakalan ke sana pura-pura jadi suporternya, padahal gue nyari tau latar belakang Sandy. Setidaknya gue perlu nama orang tua Sandy atau nama panjang cowok itu," tutur Flo panjang lebar. Tiara tak banyak bertanya, ia hanya berharap Flo segera keluar dari masalahnya saat ini. Melihat Flo yang tampak excited ketika menjelaskan rencananya membuat Tiara tidak tega menyela. "Masalahnya gue nggak tau jadwal bertandingnya kapan." Flo melipat kedua tangannya di atas meja lalu menjatuhkan dagunya di atas lipatan tangan. "Ya, lo tanya Kak Bagas sana. Dia, kan, anak ekskul tenis sekolah kita." *** Flo menatap jam di pergelangan tangannya lalu melihat ke arah kelas dua belas. Tadinya Flo meminta Tiara menemaninya. Namun, sang kekasih yaitu Beni mendesak Tiara untuk segera pulang dengannya. Membuat Flo terpaksa harus berhadapan lagi dengan Bagas sendirian. "Pulangnya masih lama kayaknya, mereka lagi bahas persiapan untuk foto buku tahunan sekolah," kata Sandy. Cowok itu habis mengintip isi kelas itu. Flo mendesah panjang. Bahunya melorot. "Kalau gitu kita terpaksa nunggu lama." Flo memutuskan duduk di pinggiran lapangan. Kakinya ia panjangkan. Matanya menyipit saat sinar matahari menyinarinya. Sandy mencoba menutupi sinar matahari dengan tubuhnya, tetapi sia-sia. Yang ia lakukan percuma saja karena matahari itu tetap menyinari sinarnya ke arah cewek itu. Merasa usahanya tak akan membuahkan hasil akhirnya ia memutuskan untuk mengecek kembali keadaan kelas Bagas. Pembahasannya sudah mengarah ke poin terakhir. Sandy kembali menuju ke Flo. Ikut duduk di depan cewek itu. "Bentar lagi," katanya menginfokan. Flo menganggukkan kepala sambil melihat arah jarum jam di pergelangan tangannya. Sudah setengah jam lebih ia menunggu. "San, lo sama sekali nggak inget masa SMA lo gitu?" tanya Flo untuk memecah keheningan. Sandy menggelengkan kepalanya membuat bibir sedikit mencebik. "Andai lo inget setidaknya sahabat lo siapa? Atau nama orang tua lo." Sandy menundukkan kepalanya. Cowok itu terdiam. Membuat Flo menengadahkan wajahnya. Tangannya ia pakai untuk menghalau matahari yang menembakkan sinar kepadanya itu. "Maaf." Satu kata yang keluar dari mulut Sandy membuat kepala Flo perlahan turun. Tangannya ikut luruh dan jatuh ke pangkuannya. "Maaf kalau kehadiran gue ngeganggu lo. Maaf kalau kehadiran gue cuma bisa nyusahin lo. Maaf kalau waktu lo harus kesita gara-gara gue. Maaf juga, karena gue lo jadi dapat banyak masalah." Tenggorokan Flo tiba-tiba terasa kering. Ia menelan salivanya untuk membasahi tenggorokannya. Keadaan seketika menjadi kikuk. Bahkan ia sudah terbiasa dengan sikap Sandy yang mengganggunya. Ia tak terbiasa dengan sikap melembut Sandy yang ini. "Em, gue maafin," jawab Flo sambil berdehem lalu beranjak dari duduknya. Ia menepuk roknya untuk menjatuhnya pasir dan kotoran yang menempel. "Gue kebiasa sama sikap resek lo. Ngedenger kata itu rada aneh di telinga tau nggak. Dan asal lo tau aja, kayaknya gue udah kebiasa juga diganggu sama lo." Setelah mengatakan itu Flo berbalik. Mengayunkan kakinya menuju kelas Bagas yang pintunya sudah terbuka. Tangan Flo melambai untuk memanggil kakak kelasnya itu. Sandy di tempatnya memperhatikan bagaimana Flo kembali berinteraksi dengan Bagas padahal sebelumnya ia meminimalisir interaksi dengan cowok itu setelah mendapatkan rumor tentang dirinya dan Bagas. "Kak, gue denger kalau ekskul tennis kita mau tanding sama SMA Pertiwi, ya?" tanya Flo mengonfirmasi. Bagas sempat mengerutkan kening. Tidak biasanya teman sekolahnya ada yang tertarik dengan berita terkait tennis. "Sabtu nanti, ada apa?" Flo menganggukkan kepalanya, tandanya ia harus mengosongkan jadwalnya pada hari sabtu ini. Cewek itu mengingat-ingat lagi tentang rencana apa saja yang sudah ia rancang dan harus dibatalkan. "Flo!" Bagas menggoyangkan tangannya di depan wajah cewek itu. Flo yang bengong kembali tersadar. "Eh? Oh, iya, Kak. Enggak apa-apa. Itu gue niat mau ikut nontonin. Boleh kan, ya?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN