"Flo, mau nonton kaltun celu nggak?"
Anak kecil berambut sebahu itu mendongak, melepaskan tatapannya dari mobil-mobilan di tangannya. "Film, apa?"
Teman sebayanya hanya menggeleng dengan menampilkan senyum kecil. "Liat aja cini, di kamal aku."
Flo mengangguk cepat, dengan girang ia berdiri dan berjingkrak-jingkrak. "Ayo, Doni!"
Anak laki-laki bernama Doni itu menahan tangan Flo. "Mobilan aku talo sini, nggak boleh dibawa ke kamal!"
Meskipun dirinya sangat menginginkan mainan itu, tetapi rasa penasaran Flo lebih besar. Dahi Flo mengerut ketika melihat Doni berbisik sambil tertawa kecil bersama Farel, kakaknya yang berusia lebih tua 2 tahun.
"Kalian ngetawain apa?"
Farel menahan tawanya, ia bergeleng cepat lalu menyeret tangan Flo untuk mengikutinya. "Ayo, kita nonton kartun." Flo berlari kecil untuk mengikuti langkah panjang Farel. Doni mengikutinya dari belakang, terdengar oleh Flo bahwa anak itu masih cekikikan, entah sedang menertawakan apa.
Sesampainya di kamar, Flo disuruh untuk duduk di depan televisi plasma. Flo memperhatikan Farel tengah memasukan benda berbentuk lingkaran ke dalam DVD.
Kemudian sederet huruf tertampil di layar. Tanpa Flo sadari, Doni dan Farel berlari keluar kamar dan menguncinya dari luar. Mata Flo membelalak besar, ia lantas berlari menuju pintu dan memukulnya keras. "Doni, jangan nakal! Bukain, Doni!"
"Wayulu, Flo di dalam kamal cama cetan, hihihi!"
Jantung Flo berdegup kencang, suara jeritan melengking perempuan terdengar dari televisi itu. Perlahan ia menoleh dan melihat adegan apa yang tengah berputar. Mata Flo tertancap pada layar persegi itu, napasnya menderu cepat saat sosok makhluk menyeramkan tertampil di layarnya. Ia ingin berlari, tapi mendadak kakinya lemas, Flo merasa sesak dalam dadanya sebelum ia akhirnya. "Aaaaa!" Flo berteriak kencang, sangat kencang. Sebelum akhirnya ia tersadar dan meraung-raung minta dibukakan.
***
Flo mengusap tengkuknya, merapatkan kardigan biru muda yang ia pakai. Udara sore ini terasa lebih dingin dari biasanya. Entah memang karena cuaca atau karena keberadaan makhluk tembus pandang di sampingnya.
“Jangan deket-deket bisa nggak, sih!”
Wujud sosok gaib yang dulu pernah ia lihat kembali terngiang di kepalanya. Flo masih tidak percaya wajah Sandy yang sekarang ia tampakkan. Karena bisa saja Sandy berubah wujud menjadi makhluk yang menyeramkan. Flo belum bisa percaya bahwa Sandy tidak seperti hantu yang ia lihat dulu.
“Kenapa takut sama gue, sih? Emangnya gue nyakitin lo apa?” gerutu Sandy di belakang Flo.
Flo memeluk tubuhnya, selalu merinding ketika mendengar suara Sandy. “Bisa aja wajah lo yang sekarang bukan wujud asli. Aslinya lo nyeremin.”
Sandy berembus dan berdiri di depan Flo. Membuat cewek itu terperanjat hingga terjatuh ke belakang. “Ah, sakit.” Flo meringis, karena bokongnya cukup keras saat jatuh ke aspal.
Sandy berjongkok. “Lo nggak percaya sama gue? Gue nggak lagi ngebohongin lo. Wujud gue gini aja.”
Flo beringsut ke belakang. Matanya tidak berani membalas mata Sandy. “Apa buktinya? Kalo cuma ucapan belum cukup buat ngeyakinin gue.”
“Gue butuh lo buat bantu gue. Gue bahkan nggak tau status gue apa. Mati atau masih hidup … dan alasan gue dalam keadaan ini itu apa.” Sandy menunduk, rahangnya mengeras rasanya ia ingin menyerah saja. “Nggak ada sama sekali niat jahat. Gue cuma butuh balik lagi seperti semula. Ingatan kembali, kehidupan normal gue kembali.”
Lalu wajahnya kembali terangkat. “Flo, gue butuh lo.”
Flo mengerjap. Ia menelan salivanya susah payah. Perasaan tegang yang ia rasakan sebelumnya perlahan mengendur. Ia merasa sedikit lebih tenang.
“Neng, nggak apa-apa?” tegur seorang wanita paruhbaya kepada Flo.
Flo tersentak. Ia buru berdiri ketika melihat wajah kebingungan ibu itu. Cewek itu baru menyadari dirinya yang sudah menjadi pusat perhatian karena duduk terlalu lama di tengah jalan.
“Eungh … Iya, nggak pa-pa, Bu.” Flo membungkuk untuk mengucapkan terima kasih dan beranjak pergi.
Flo mengambil langkah lebar. Sandy di sampingnya sudah terkekeh geli.
“Kenapa lo nggak bilang kalo banyak yang merhatiin gue,” protes Flo.
Sandy mengangkat kedua bahunya. “Ya, salah sendiri terlalu penakut.”
Flo berdecih. Memangnya dia mau punya sifat ini. Flo menunggu angkutan umum di halte. Sandy berdiri di sampingnya. Dengan ragu Flo melirik ke arah cowok itu. Ia hanya sebahu Sandy.
Flo berdehem. “Yang lo inget apa aja?” Pertanyaan itu ia lontarkan untuk memecah keheningan.
Sandy menengok ke arah Flo. Ia memasukan tangannya ke dalam saku dan melihat ke arah langit. “Nama gue, sama kalung itu.”
“Kecelakaannya?” Alis Flo terangkat satu.
“Ingatan gue buram. Tapi gue sempet denger suara tangisan cewek yang nyebut nama gue pas lo ngambil kalung itu.”
Kening Flo berkerut tanda berpikir. “Lo kecelakaannya berdua?”
Sandy tidak langsung menjawab. “Gue nggak yakin. Kayaknya sendiri.”
Cewek berambut lurus itu mendesah panjang. Ia memang harus ke tempat kejadian itu untuk mencari jawabannya.
“Kayaknya untuk kemampuan dan kesukaan gue masih inget, deh.”
Flo cepat memutar wajahnya ke arah Sandy.
“Gue suka itu.”
Sandy menunjuk ke arah gerobak hijau yang bertuliskan Seblak Bandung. Flo bergeleng tidak percaya, untuk masalah lidah memang tidak bisa dilupakan.
“Oh,” jawab Flo.
Sandy mendengkus. Ia mencoba menarik Flo, tetapi tidak tersentuh. “Gue mau itu, beliin,” rengek Sandy.
“Ha?!”
Mata bulan sabit Flo membulat. Tidak percaya bahwa Sandy memintanya membeli seblak. “Emang lo bisa makan?”
Bahu kedua cowok itu terangkat sekilas. “Beliin dulu makanya.”
Angkutan umum tujuan Flo sudah berhenti di depan mereka. Flo tersenyum penuh kemenangan kepada Sandy. “Takdir berkata lain.”
Flo naik ke dalamnya, Sandy mengekor.
“Pengen seblak.” Lagi-lagi Sandy berkata seperti itu.
Angkutan umum yang ditumpangi Flo belum juga jalan. Mungkin masih menunggu penumpang.
“Gue nggak makan loh dari kemaren. Nggak kasian?”
Flo berbisik. “Lo aja tembus pandang, jangan macem-macem, deh.” Mata Flo lincah melihat ke kanan dan kiri, takut-takut ada yang memperhatikannya tengah berbicara sendiri.
“Gue tembus panjang juga butuh asupan. Liat, nih, gue duduk juga nggak nembus keluar mobil, ‘kan?”
Flo memperhatikan Sandy yang setengah dirinya sudah ditiban oleh badan seorang bapak-bapak.
“Jangan sampe gue masuk ke bapak ini terus ngerengek minta seblak.”
Flo berkomat-kamit menyuruh Sandy tidak berbuat aneh. Dengan terpaksa, Flo bangkit dari duduknya dan kembali turun.
Sandy bersorak girang saat keinginannya akan terpenuhi.
Dengan langkah berat Flo mendatangi gerobak hijau itu. Memesan satu porsi seblak ceker pedas pesanan Sandy.
Setelah mendapatkan pesanannya Flo kembali ke halte tempat ia menunggu tadi. Duduk di sana dan membuka bungkus seblak yang ia beli. Sandy sudah tersenyum lebar saat makanan kesukaannya di depan mata.
“Terus gimana caranya makan?” tanya Flo dengan sedikit mendongak.
Sandy menepuk bangku kosong di sampingnya. “Taro sini.”
Flo melongo, “Gue rela ketinggalan angkot, terus rela ngantri di abang-abang seblak. Dan cara lo makan kayak gitu?”
Sandy mengangguk mantap. Membuat Flo bergeleng tidak percaya. Ia lantas menyuap besar-besar seblak di tangannya. “Daripada mubadzir cuma gue taro di situ. Mending gue makan.”
“Loh, kok, lo yang makan!”
“Emm, enak!” kata Flo tak acuh.
“Balikin nggak seblak gue!” Sandy berusaha meraih mangkuk sterofoam itu, tapi tak terjangkau.
“Duh, pedesnya nampol banget. Enaknya kek kek pen meninggoy,” kata Flo bak selebgram yang tengah mempromosikan suatu makanan.
“FLO! SEBLAKNYA!”