8| Ide Gila

1213 Kata
Senyum tipis Sandy terbit kala iris hitamnya menangkap pergerakan perempuan berkucir kuda yang sedang men-dribble basket di tengah lapangan. Ia melangkah mendekati Flo yang tengah fokus membidik bola ke arah ring basket itu. Shoot! "s**t!" umpat Flo ketika bolanya membentur pinggiran ring. Sandy terkekeh melihat sasaran Flo yang melenceng. Perempuan itu memutar malas matanya ketika suara kekehan menyebalkan itu terdengar. Flo mengangkat kedua tangannya dan berkomat-kamit, membaca doa dijauhkan dari setan terkutuk. "Nggak bisa main basket aja belagu." Flo melirik tajam laki-laki itu. "Apa lo?!" Sandy bergeleng sambil berkacak pinggang. "Cara dribble lo salah. Apalagi nge-shoot." Perempuan itu menyedekapkan tangan dan mengangkat dagunya. "Biarin aja yang penting gue bisa megang bola, daripada lo bisa dribble bisa nge-shoot tapi enggak bisa megang. Wlee!" Flo menjulurkan lidahnya kesal. Ia tidak menyadari bahwa teman-temannya yang berada di pinggir lapangan sedang memperhatikannya. "Flo lo ngapain julurin lidah gitu?!" Tiara berteriak dari pinggir lapangan, tidak habis pikir dengan tingkah sahabatnya. Flo yang menyadari kekonyolannya itu langsung membeku. Sandy sudah terbahak-bahak melihat ekspresi kebingungan murid lain di pinggir lapangan. Flo menggaruk kepalanya yang tak gatal. Lidah yang ia julurin itu ia gerakan untuk membasahi bibir ranumnya sebelum ia masukan kembali. Lalu ia mengerucutkan bibirnya untuk bersiul, dalam hati ia merutuk tingkah bodohnya. Beni mendekat dan mengambil bola yang berada tidak jauh dari ring basket. "Lo demam Flo?" Flo bergeleng cepat. "Ini apa?" Beni mengangkat satu jarinya. "Satu." Laki-laki itu kembali bergeleng. "Lo bener-bener sakit Flo, udah jelas ini jari malah jawabnya satu." Flo mengernyit, iya juga ya, pikirnya. "Eh! Gue sehat walafiat kok! Enak aja lo ngomong," sungut Flo tak terima. Beni mengusap dagunya dan menatap lekat teman perempuannya itu. "Iya juga, sih." Nada bicaranya serius. "Kecuali kalo lo bertingkah waras baru itu harus dipertanyakan." Flo membelalak. "Sialan lo BENI!" Beni tertawa sambil berlari menghindari amukan perempuan itu. Beni berlari melewati seseorang yang berdiri di pinggir lapangan. "Beib, temen kamu jangan lupa minumin obat, ya." Tiara tersipu malu. "Sana main lagi, jangan ganggu Flo terus." Setelah mengatakan itu Tiara menghampiri temannya yang sedang mencak-mencak di tengah lapangan. "Dasar kutil badak nyebelin! Temen gue lo kasih jampe-jampe apaan, sih?!" Tiara membekap mulut Flo yang masih mengoceh. "Udah woy, enggak tau malu banget deh, lo." Flo melepas bekapan itu secara paksa. "Pacar lo nyebelin." "Lagian lo udah tau nggak ada yang bisa lihat Sandy. Pake segala berantem di tengah lapangan.” Flo melirik ke sampingnya. Sandy menaikkan satu alis sambil memasang senyum miring. "Kita harus cepet ke jalanan itu, Ra. Biar Sandy cepet lenyap!” Setelah mengatakan itu Flo lantas mengayunkan kakinya menuju pinggir lapangan untuk mengambil tasnya yang teronggok di sana. Berawal dari Flo yang tidak bisa bermain basket dan ditantang memasukan satu kali saja bola itu ke dalam ring oleh Beni, yang notabenenya pacar dari Tiara sekaligus teman sepertelatannya. Berakhir dengan ia yang harus bertingkah memalukan seperti tadi. "Haha, lo marah, nih, jadinya." Sandy berusaha menyejajarkan langkahnya. Tidak sulit, karena satu langkah Sandy adalah dua langkah Flo. "Nggak denger apapun. Aduh, sepi ya." Tiara di belakangnya ikut memanggil. "Flo tungguin gue!" Jam pulang sekolah kali ini benar-benar memalukan. *** “Di sini, Flo?” Tiara langsung menyemburkan pertanyaan kala mereka menginjakkan kaki di tempat Flo mengambil kalung itu. Flo meresponsnya dengan anggukan. Kepalanya berputar mencari keberadaan warung tempat mamanya mendapat berita itu. “Warung yang itu, tuh.” Flo menunjuk warung berdinding anyaman yang menjual makanan ringan. “Mama gue ngobrol sama ibu warung itu.” Tiara menganggukan kepalanya. “Ya udah kita ke sana.” “Permisi, Bu,” sapa Flo kepada wanita berdaster bunga-bunga merah itu. “Iya, Neng. Ada apa?” “Waktu sekitar seminggu lalu. Di sini ada kecelakaan, ya, Bu?” Si Ibu tampak mengingat-ingat sebelum menjawab. “Iya, betul.” “Cowok, ya, korbannya?” timpal Tiara ikut bertanya. Ibu berdaster itu bergeleng. “Yang mana dulu, nih, soalnya ada tiga kecelakaan. Satu di antaranya korbannya cewek dan cowok dalam satu mobil.” “Yang dua lagi?” “Satunya cowok sendiri, satu mobil lagi sekitar lima orang cowok.” “Itu kecelakaan beruntun atau—” “Enggak! Kebetulan di satu hari beda jam. Soalnya saat itu jalan lagi licin banget,” tutur ibu warung memotong kalimat Tiara. Flo melirik Sandy lalu berbisik. “Yakin cuma sendiri?” Sandy terdiam. Melihat jalanan lalu beralih ke Flo. “Nggak yakin.” Flo gregetan sendiri. “Mobil lo apa?” “Lupa. Tapi gue inget warnanya hitam,” jawab Sandy dengan ragu. “Maaf, Bu, mau nanya lagi. Itu yang kecelakaan mobil warna hitam isi penumpangnya berapa?” “Tiga kecelakaan itu warna mobilnya hitam semua. Maksud Eneng yang mana?” Flo mengerutkan keningnya. Sepertinya akan semakin sulit mencari Sandy. “Kalau nama korbannya Ibu nggak tau, ya?” Pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. “Ibu kurang tau kalo itu. Kenapa emangnya? Ada anggota keluarga Eneng di situ?” Flo buru bergeleng sambil menggoyangkan tangannya. “Enggak ada, Bu. Ini buat tugas sekolah disuruh buat berita terkini,” dalih Flo. “Oh, gitu.” Si Ibu mengangguk percaya. “Oh, iya, Ibu nggak tau kecelakaan yang mana, tapi salah satunya ada yang kecelakaan disengaja.” Flo dan Tiara saling berpandangan. Apa itu kecelakaan Sandy atau orang lain? “Kalau gitu, terima kasih, Bu, sudah membantu.” Si Ibu tersenyum dan mengucapkan sama-sama. Flo berjalan menjauh bersama Tiara. Bahu mereka merosot karena tidak dapat cukup petunjuk keberadaan Sandy. “Sandy itu di mobil sendiri, ama cewek, atau sama temennya?” Tiara bertanya. “Gue lupa, tapi kayaknya sendiri,” balas Sandy yang tidak dapat didengar Tiara. Flo mendesah lelah. “Dia lupa. Tapi kayaknya sendiri. Masih ‘kayaknya’.” Muka Tiara langsung kusut mendengar jawaban Flo. “Terus gimana kita nyari taunya?” “Ke kantor polisi kalo gitu,” ujar Sandy membuat Flo lantas menolak mentah-mentah. “Enggak! Gue nggak mau berurusan sama kantor polisi. Apalagi salah satunya kecelakaan direncana. Kalo nanti kita yang kena gimana?” Sandy terdiam. Ada benarnya, Flo tidak akan mau berbuat sejauh itu untuk menolongnya. “Kata Sandy kita ke kantor polisi?” “Iya.” Flo memutar malas matanya. Ide yang jelas-jelas akan mereka tolak. “Gue juga nggak mau!” tegas Tiara sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. “Kalian nggak ada kenalan polisi gitu?” Sandy masih berusaha mencari solusi. “Gue nggak punya kenalan polisi.” Flo berjalan ke arah kursi di bawah pohon. “Duduk sini dulu, Ra. Capek gue jalan terus.” “Gue juga nggak ada kenalan pak pol,” kata Tiara lalu mendaratkan bokongnya di samping Flo. Keringat sudah membasahi seragam mereka. Berjalan jauh di bawah sinar matahari memang cara cepat membuat keringat mengucur. Tenggorokan Flo sudah terasa seperti pohon kering kerontang, ia mengambil botol minum untuk menyegarkan tenggorokannya. Namun, pukulan tiba-tiba Tiara di bahunya berhasil membuatnya tersedak. “Anjir, Ra, gue hampir mati keselek,” sembur Flo. Tiara cengengesan sambil menggaruk belakang kepalanya. “Maaf, hehe, gue baru inget, bapaknya Kak Bagas, ‘kan, polisi. Apa minta bantuan dia?” Mata Flo membelalak. “Gimana caranya anjir? Lo nggak inget terakhir kita ngobrol sama dia kayak gimana.” Flo jelas menolak ide itu. Meminta bantuan Bagas? Itu ide gila. Flo menepis jauh-jauh ide gila itu. Walau ia tahu ide gila itu adalah satu-satunya cara yang bisa mereka lakukan sekarang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN