9| Memasuki Tubuh Flo

1355 Kata
Bunyi dentingan piring dan sendok. Teriakan pembeli yang ingin memesan makanan, serta obrolan riuh dari pengunjung warung mie ayam menyambut kedatangan Flo dan Tiara. “Rame juga, Flo.” Tiara menyempil di antara desakkan orang yang ingin keluar dari warung makan ini. Flo memanjangkan lehernya. Sedikit berjinjit mencari tempat duduk kosong yang masih tersisa. “Di situ tuh, Ra. Ada yang kosong.” Flo dan Tiara mengambil tempat duduk di bangku pojok paling belakang di bawah kipas kecil yang berputar. “Gue pesenin dulu,” ucap Tiara sambil berdiri. Flo mengangguk mengiyakan. “Pake bakso, ya,” pesan Flo yang mendapat acungan jempol. “Plis, Flo.” Sandy duduk di depannya. Tangannya bertaut memohon untuk menjalankan ide gila itu. “Enggak,” desis Flo. “Lo bisa masuk ke ekskul seni musik buat awalan,” kata Sandy memberi solusi. “Nanti kalo udah masuk situ, lo bisa deketin lagi,” sambungnya. Flo menggaruk telinganya. Berusaha tak acuh dengan ocehan makhluk tak kasat mata di hadapannya. “Kalo udah deket, baru, deh. Lo lancarkan misi.” Sandy melambaikan tangannya di depan wajah Flo. “Flo! Plis, dengerin dulu!” Cewek itu menggeram tertahan. “Gue nggak bisa main alat musik. Nggak bisa nyanyi juga, gimana caranya gue masuk senmus?” Sandy terdiam. Ia berusaha mengingat apakah ada bakat musik yang tertanam di dirinya. Tangannya refleks menari di atas meja. F minor, d minor, lalu ia tersenyum. “Gue bisa main piano atau kibord.” Tiara datang dengan dua botol teh dingin. “Mi ayamnya lagi dibuat.” Ia menyodorkan satu botol ke depan Flo. “Cuma sampe lo dapet info tentang gue,” bujuk Sandy tak menyerah. “Sekarang dia lagi ngebujuk gue masuk seni musik buat bisa deketin Bagas,” terang Flo kepada Tiara. Tiara jelas langsung melongo. Bahkan sedotan yang menempel di bibirnya jadi terlepas. “Seriusan?” Flo mengembuskan napas malas. Tangannya menopang kepalanya yang terasa pening. “Ide bagus itu. Eh, tapi lo kan nggak jago dalam bidang musik. Kalo kata Sesil bisa pecah kuping Kak Bagas.” Flo langsung memasang wajah mengerut kala Tiara mengatakan itu. “Dia bilang mau masukin tubuh gue. Jadi nanti dia yang mainin pianonya.” Tiara mengangguk kecil. “Sandy bisa main musik ternyata. Keren, San!” Cewek itu mengangkat satu jempolnya ke depan. Flo menggeleng tak percaya, bagaimana bisa ide itu disetujui Tiara. “Ra, lo tega liat gue kesurupan?” “Kalo kesurupan Sandy nggak apa-apa.” Mata Flo langsung membulat. Ia berdecak sebal melihat temannya itu tengah tergelak. “Nggak lucu,” gerutunya. Seorang lelaki paruh baya mendatangi meja mereka dengan dua mangkuk berisi mi ayam. Menaruh kedua mangkuk itu di hadapan Tiara dan Flo. “Cuma dua? Gue enggak?” Sandy menatap bergantian mangkuk di hadapan Tiara dan Flo. Bola hitam Flo memutar malas. “Makanan ini cuma buat manusia normal kayak gue.” Tangan Tiara menggantung di udara. Sendoknya belum sampai ke dalam mulut. “Apa lagi?” Decakan kecil keluar dari bibir tipis cewek berambut panjang itu. “Dia minta makan.” “Oh, ya udah pesenin,” jawab asal Tiara lalu kembali menyuap. “Hah? Gila!” tukas Flo. Sepertinya, Sandy harus cepat-cepat menghilang dari hidupnya, karena kehadiran cowok itu berpotensi membuat Flo gila. *** “Sebutin ulang peraturannya!” titah Flo sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. “Jangan raba-raba, jangan ngintip-ngintip, keluar tepat waktu,” tutur Sandy mengulang peraturan yang disebutkan Flo. Cewek itu manggut-manggut menilai, walau belum sepenuhnya percaya. Setidaknya Sandy sudah mengingat peraturan yang ia buat. Bujukan dari Sandy sejak kemarin sampai tadi malam manjur juga. Flo luluh dan menyetujui ide gila itu. Meskipun ia masih khawatir takut terjadi apa-apa. Sekali lagi Flo menekankan pada dirinya kalau belum dicoba, ya, belum tahu. “Hari ini cuma sampe dinyatakan lolos di senmus. Abistu lo harus langsung keluar,” putus Flo dan mendapatkan anggukan dari cowok di depannya. Tiara muncul dari samping Flo. Tangannya membawa celana dan gesper besar yang diminta temannya. “Nih.” Tiara menyodorkan kepada Flo, yang dibalas ucapan terima kasih. “Buat apa, sih?” tanya Tiara. Sejak ia diminta Flo membawakan kedua benda itu, Tiara selalu bertanya-tanya untuk apa gunanya. “Buat penjagaan,” jawab singkat Flo kemudian berbalik menuju toilet. Dahi Tiara mengerut. “Penjagaan?” Keluar dari toilet, penampilan Flo sudah berubah. Rok pendek yang ia pakai sebelumnya berubah menjadi celana panjang baggy dengan gesper yang melingkar kencang di pinggangnya. Sweater hoodie oversize berwarna peach membalut badannya. Rupanya, penjagaan yang dimaksud Flo adalah agar Sandy tidak macam-macam dengan tubuhnya. “Sekarang gue udah siap!” Tiara membulatkan matanya, mulutnya sedikit terbuka karena penampilan Flo yang tertutup itu. “Lo nggak gerah?” tanya Tiara tidak percaya. Flo membalas dengan gelengan. “Ini penjagaan biar dia nggak macem-macem!” Sedangkan Sandy melihat penampilan Flo itu malah membuatnya terpaku. Di matanya, Flo terlihat menggemaskan. Hoodie yang menutupi kepala Flo justru membuat wajah cewek itu terlihat mengecil. “Woy, kok bengong, sih!” tegur cewek itu. “Kaget gue berasa liat kucing dikarungin,” balas Sandy. “Sialan.” Sandy terkekeh karena berhasil membuat Flo merenggut kesal. “Udah siap?” Ia menghentikan tawanya, alisnya terangkat satu saat Flo terdiam sejenak. “Flo, batalin aja kali, ya, rencananya. Gue kok ragu.” “Apaan, sih, kemaren lo ikut-ikutan maksa. Udah ah, udah terlanjur,” sulut Flo kesal. Telat banget Tiara menolak ide itu di saat Flo sudah meyakinkan dirinya kalau semua akan baik-baik saja. Tiara mengangguk pelan. Ia menggigit bibir bawahnya gugup. “Lo jangan lengah, ya,” nasehatnya pada Flo. “Iya,” jawab Flo dengan mantap. Lalu matanya melirik ke samping. Menemui mata Sandy dan berkata, “Gue udah siap.” Sandy menarik sudut bibirnya tipis. *** Kelopak matanya pelahan terbuka. Mengerjap pelan. Kedua tangannya terangkat menyentuh pipi. Namun, belum juga merasakan kulit itu bergesekan sebuah tepukan keras sudah mendarat di punggung tangannya. “Lo mau ngapain?! Kan udah dibilang jangan nyentuh-nyentuh.” Sandy tersentak. Fokusnya beralih ke hoodie peach yang membalutnya. Dia benar-benar memasuki tubuh Flo! “Tes.” Sandy mengeluarkan suaranya. “Anjir suara gue kenapa gini?!” Cowok itu terkejut sendiri karena suara bariton kesayangannya hilang. “Terus lo kira, suara lo nggak bakal berubah? Kan lo statusnya numpang,” timpal Tiara. “Iya, juga.” Sandy berlari ke tengah lapangan membuat Tiara panik dan mengejarnya. Di tengah lapangan, Sandy yang berada di tubuh Flo merentangkan tangan. Menghirup dengan rakus oksigen yang ada. Merasakan semilir angin menerpa kulitnya yang terbuka. Ia berputar di tempat, sengaja agar wajahnya merasakan lebih banyak angin yang menerpa. Tiara di sebelahnya sudah meneriaki nama Flo agar berhenti. “Flo Andiani ngapain lo muter-muter gitu?!” Tiara menggeram kesal sambil mengacak rambutnya. “Ah, Sandy! Flo! Anjir siapa, sih, kalian. Pokoknya lo yang pake hoodie peach jangan malu-maluin gue!” “Woaa!” Sandy masih terus berputar. Ia baru berhenti saat sebuah tangan menghentikannya. “Diem, nggak! Jangan main-main sama tubuh sahabat gue!” Tiara memandangnya tajam. Saat berhenti, dunia terasa masih berputar. Membuatnya terhuyung dan jatuh. Lalu Sandy kembali tertawa geli. “Akhirnya gue bisa ngerasain pusing juga.” Tiara bertolak pinggang. Ujung kakinya mengentak kecil. “Lima belas menit lagi penilaian dimulai. Kita nggak punya banyak waktu. Cepet bangun,” perintahnya. Sandy mendongak. Tatkala pusing itu hilang, ia berdiri. Tangannya masuk ke dalam saku celana. Jalannya sedikit lebar. Dadanya ia condongkan ke depan. Tiara yang melihat itu langsung menutup mulut. “Jangan begitu gayanya, njir! Udah kayak cowok.” Alis Flo terangkat satu. “Lah, emang gue cowok,” belanya. Mungkin, lebih tepatnya Sandy yang mengangkat satu alis itu. “Lo, kan, masuk ke tubuh cewek, Sandy,” geram Tiara. Ia langsung menarik keluar tangan Flo. Memperbaiki bentuk bahu sahabatnya agar terlihat seperti biasa. “Kakinya jangan lebar-lebar. Liat jalan gue.” Dahi Sandy mengerut, selangkah dua langkah ia bisa mengikuti gaya jalan Tiara. Namun, karena dirasa terlalu ribet. “Ah, ribet, gue lari aja,” kata Sandy lalu berlari melewati Tiara. Muka Tiara menegang, ia kembali berseru dan mengejar Sandy dari belakang. “Woy! Makhluk halus, tunggu!” Tiara jadi tambah harap-harap cemas, apakah ide ini akan berhasil atau tidak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN