10| Audisi Seni Musik

2011 Kata
Flo—lebih tepatnya Sandy mengerem tubuhnya saat sudah berada di depan pintu kelas itu. Gaya berhentinya seperti sinchan yang ingin berubah menjadi pahlawan bertopeng. Dengan napas yang tersengal-sengal dan rambut panjang Flo yang terurai di wajahnya membuat penampilan tubuh Flo terlihat seperti kuntilanak. Sandy menegakkan tubuhnya. Ia melempar rambut panjang itu ke belakang. Sebulir keringat turun dari pelipisnya. Mata monoloid itu menangkap pandangan heran dari panitia yang berdiri di depan pintu. Sandy berdehem. Mencoba mengatur suaranya agar tak terdengar aneh. "Saya dengar, di sini ada audisi penerimaan anggota seni musik?" tanya Sandy sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku. Panitia itu hanya mengangguk dengan wajah cengoknya. Sandy menjentikkan jemari di depan panitia itu. Lalu mengeluarkan kertas formulir pendaftaran dan melambaikannya di depan wajah panitia yang Sandy tebak adalah salah satu anggota seni musik juga. Yang Sandy tidak tahu, panitia itu seangkatan dengannya atau tidak. "Sudah boleh masuk, Kak?" tanya Sandy. Sengaja menggunakan sapaan Kak, karena ia masih tidak tahu kedudukan orang itu. Bagaimana pun juga ia tidak boleh membuat image Flo jadi jelek dengan bersikap tidak sopan. "Kak? Flo gue tau lo emang gila, tapi kali ini. Lo manggil gue, Kak? Kayak orang nggak kenal padahal kita satu kelas pas kelas sepuluh," protes orang itu panjang lebar. Sandy mingkem. Tak berani berkata apa-apa lagi. Tampaknya ia melakukan kesalan di lima menit pertama menyamar menjadi Flo Andiani. Mata Sandy mengerjap, ia hanya berharap Tiara menghampiri mereka. Mata tajam Sandy menatap pergerakan sosok Tiara yang sedang berlari tergopoh-gopoh. Sandy hanya harus menunggu Tiara menghampirinya. "Flo! Lo kenapa nggak nungguin gue," protes Tiara dengan napas terengah-engah. Tiara menegakkan tubuhnya. Matanya memandang bergantian Flo dan Yuna. Mata Sandy bergerak memberikan kode kalau ia tengah dalam masalah. "Eh, Yuna dari kelas sepuluh E teman sekelas Flo dulu!" Tiara berseru sekalian memberikan kode kepada Sandy. "Lo jadi panitia seni musik? Oh, iya, soalnya lo kan anggota lama, ya. Mana permainan biola lo bagus banget." Sandy merangkum semua informasi itu Yuna, teman sekelas Flo saat kelas sepuluh, pemain biola. Orang yang sudah Flo lupakan tadi. "Yun, elah gue cuma bercanda lagi pas manggil elo 'Kak'." Sandy memaksakan tawanya. Tiara memandangnya tajam seakan menyalahkan kecerobohannya itu. "Bukan masalah manggilnya, Flo. Tapi dari tatapan lo aja kayak udah lupa sama gue." Yuna seperti tidak mau melepas jeratannya pada Sandy. Sandy memutar otak untuk berkilah. "Flo, mau masuk seni musik, Yun. Dia belakangan ini udah belajar mati-matian sampe kadang sama diri sendiri aja lupa. Maklumin aja, ya, Yun, kalau otaknya sedikit eror," kata Tiara berusaha memberikan alasan yang sedikit masuk akal. "Iya, Ra, paham, sih. Mungkin gue aja yang lebay," kata Yuna. Dalam hati, Sandy mendesah lega. Ia menarik kedua sudut bibirnya. Mendekati Yuna lalu meraih tangan itu. "Terima kasih, Yun. Temanku kelas sepuluh. Doakan aku semoga lolos, ya." Sandy menepuk bahu Yuna, lalu berbalik dan masuk ke dalam ruangan kelas itu. Yuna mengerjap bingung. Tak sanggup berkata-kata lagi dengan sikap Flo yang benar-benar aneh di matanya. Tiara meringis dalam hati. Ia berdiri mendekati Yuna. "Dia udah stress banget mau masuk ekskul seni musik, Yun." Yuna menatap tubuh Flo dengan tatapan kasihan. "Bener kata lo, Ra." "Iya, makanya itu gue mau nemenin dia," ucap Tiara berdalih sambil berjalan masuk. Namun, belum sampai kakinya menginjak lantai ruangan itu, Yuna kembali menahannya. "Lo mau ngapain?!" sembur Yuna. "Yang boleh masuk cuma peserta audisi. Selebihnya bisa nunggu di luar. Mata Tiara membeliak. Ia tidak menyangka kalau dirinya dilarang masuk. "Maksud lo? Jadi gue nggak boleh nemenin Flo?" Kepala Yuna bergeleng. Keringat mengalir di wajah Tiara. Berhadapan dengan Yuna saja, Sandy udah gelagapan. Bagaimana di dalam nanti. Saat mungkin saja Sandy bertemu dengan kenalan Flo yang lain. Tiara tidak menyerah, ia terus membujuk Yuna agar membolehkannya masuk. "Gue nggak duduk di kursi yang udah disediain panitia deh. Gue duduknya di bawah. Kalau perlu gue diri di pojokan." Tangan Tiara menangkup. "Plislah, Yun." Yuna menggoyangkan telunjuknya di depan wajah Tiara. Pendiriannya masih kuat. Pasalnya, Yuna juga tidak mau kena semprot kakak kelasnya kalau sampai ia tidak menjalankan aturan dengan benar. Belum lagi kalau Kak Alia tahu dia sudah membolehkan penonton masuk, Yuna bakalan habis dimakan omelan kakak kelasnya itu. Dalam suatu organisasi pastinya akan ada satu orang sosok kakak kelas galak, yang sukanya mencari kesalahan kecil dari adik kelasnya, kan? Nah, Alia adalah sosok kakak kelasnya itu. Maka dari itu sememelas apa pun Tiara di depan Yuna. Yuna tidak mau mengambil resiko harus dimarahi Alia tujuh hari tujuh malam. "Ra, udah, ya. Jangan ganggu gue bertugas lagi. Kalau lo emang ngerasa nggak adil atau mau protes, langsung aja ke ketua atau wakil ketuanya," tegas Yuna. Benar saja, setelahnya setiap omongan Tiara diacuhkannya. Yuna berfokus pada pendaftar yang memberikan formulir pendaftaran. Melihat usahanya akan sia-sia. Pada akhirnya, Tiara menyerah. Bahunya merosot. Ia mencoba berjinjit di jendela kelas. Terlihat Flo yang tengah duduk di bangku paling belakang. Pilihan yang bagus, batin Tiara memuji. Sandy hanya perlu duduk di tempat yang tidak menjadi pusat perhatian. Bersikap normal dan tidak menonjol lalu keluar dari ruangan itu dengan selamat. *** Sandy mulai merasa gerah dengan baju yang ia kenakan. Rasanya ia ingin membuka hoodie yang ia pakai itu. Namun, Sandy menahannya. Jika, ia melakukannya maka itu tandanya ia sudah mengingkari perjanjiannya dengan Flo. Mata Sandy melirik ke ambang pintu, Tiara masih belum masuk juga. Alisnya mengerut, apakah ada sesuatu yang membuat Tiara tidak bisa masuk? Sandy memilih bangku paling belakang. Kejadian dengan Yuna tadi cukup memperingatinya untuk bersikap lebih hati-hati lagi. Saat duduk, hal-hal di luar kesadaran membuat Sandy justru bersikap aneh. Ia hampir lupa bersikap feminim. Seperti halnya, satu kakinya ia angkat ke satu pahanya yang lain. Atau saat Sandy merasakan gatal di hidung dan menggaruknya hingga keluar kotoran hidung. Bahkan ia menyentil kotoran hidung itu hingga terjatuh. Saat wajahnya ia angkat. Satu orang menatapnya dengan pandangan jijik. Sandy mengerjapkan matanya. Kemudian ia baru tersadar dengan gaya duduknya. Buru-buru ia turunkan satu kakinya itu. "Dia mergokin gue ngupil?" gumam Sandy yang hanya bisa didengar olehnya sendiri. Dipaksakannya senyum di wajah Flo. Perempuan yang melihatnya itu tak membalas dan memalingkan wajahnya ke depan. Sandy mengembuskan napas lega. Ia memang harus lebih berhati-hati lagi. Sandy kembali melirik pintu, tampaknya Tiara benar-benar tidak bisa masuk. Jujur, Sandy mulai merasa gugup sekarang. Satu persatu orang mulai dipanggil ke depan. Memperlihatkan kemampuannya lalu keluar ruangan. Pengumuman diterimanya anggota seni musik akan ditempelkan di mading sekolah besok pagi. Sandy menunggu namanya dipanggil dengan sangat sabar. "Flo Andiani," sebut Bagas. Sandy masih terdiam. Ia lupa dengan nama sementaranya saat ini. "Flo Andiani kelas sebelas." Bagas kembali memanggil lengkap dengan kelasnya. Sedangkan Sandy sibuk menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Melihat orang-orang yang saling pandang-pandangan dan celingak-celingukan, membuat Sandy turut bertanya-tanya ada apa dengan semua orang? Hingga sosok bernama Alia itu mengambil alih mic di tangan Bagas. "Yang namanya Flo Andiani saya tunggu dalam hitungan ketiga!" bentaknya cukup membuat Sandy terlonjak di bangkunya. "Satu!" Saat hitungan Alia dimulai, otak Sandy berjalan lebih lambat dari biasanya. "Dua!" Berhasil keluar dari kebingungannya, Sandy mengangkat kedua tangan. "Saya! Saya Flo!" Sandy berlari ke depan. Sial, bahkan ia sampai lupa kalau nama ia menjadi nama perempuan. Alia melemparnya dengan tatapan tajam. Sandy memalingkan matanya. Tidak akan terpengaruh dengan serangan mental dari perempuan berparas cantik itu. Ya, kalau Sandy boleh jujur. Alia cantik. Dari sudut mata lelakinya, tipe wajah Alia adalah yang diidamkan kebanyakan lelaki. Hidung mancung lancip, mata besar yang indah, bibir tipis berwarna merah, rambut panjang bergelombang. Sayangnya, perempuan itu memiliki tingkat emosi yang sangat tinggi. Sandy pun tidak akan tahan kalau berdekatan dengan perempuan tempramental. Sandy duduk di kursi depan kibord. Ia menghirup udara sekitarnya sambil memejamkan mata seakan menjadi hal yang wajib ia lakukan. Kemudian tangannya mulai menari di tuts piano itu. Sandy pintar memainkan tempo dan membawa jiwanya masuk ke dalam permainannya. Hingga bel tanda waktu habis berbunyi. Sandy memberikan sentuhan dikit sebelum permainannya benar-benar selesai. Semua orang di ruangan memberikan sorak sorai kepadanya. Sandy menunduk hormat kepada peserta yang bertepuk tangan dan juri di depan. Ada rasa lega di dadanya. Sandy menatap kedua tangannya heran. Emosi itu seakan langsung mengalir ke seluruh aliran darahnya. Ia seperti mengingat sekilas permainan kibordnya dulu. Sandy keluar ruangan. Di sana sudah ada Tiara yang masih setia menunggu. "Lo tuh hampir ngerusak rencana tau, nggak!" sembur Tiara kala Sandy baru keluar dari ruangan itu. Sandy menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia tak bisa mengelak lagi. "Ya, ya udah sekarang gue mau tau penampilan tadi." Tiara menarik tangan Sandy hingga menjauhi kerumunan di sana. Kemudian mereka berhenti pada lokasi yang sudah sepi. "Sekarang lo udah bisa keluar," kata Tiara. Sandy menunjuk dirinya sendiri. "Aish, nantilah, gue masih mau nyobain jajanan di sini." Sandy sudah hampir melenggang pergi, tetapi Tiara berhasil menahannya. Sandy menarik tangan yang digenggam Tiara, tapi tidak berhasil. Kalau Sandy berada di tubuh aslinya, lelaki itu yakin tidak akan merasakan selemah ini. Pada akhirnya Sandy menyerah. Dan berusaha keluar dari tubuh perempuan itu. Tubuh Flo otomatis melunglai. Tiara buru-buru menangkapnya. Wajahnya jadi panik. Sedangkan sosok Sandy tidak bisa ia lihat lagi. "Woy, Sandy, ini kenapa temen gue pingsan?!" Tiara berkata panik. Tak mendapat seorang pun di sekitar mereka, Tiara mempunyai ide untuk menelepon pacarnya. "Aku segera ke sana. Tenang, ya, jangan panik!" pesan yang diucapkan Beni sebelum sambungan itu terputus. Tiara merebahkan tubuh Flo di bahunya. Sesekali ia menepuk pipi Flo untuk berkata jangan tidur, cepat bangun. Tiara benar-benar merasa sendiri. Yang ia harapkan kini adalah kedatangan Beni. *** Beni membopong Flo ke ruang UKS. Untungnya, lelaki itu masih main bersama temannya di lapangan utama. Jadi, Tiara tidak perlu menunggu lama. "Kenapa bisa pingsan gini?" tanya Beni. Tiara hanya bergeleng pura-pura tidak tahu. Tak mungkin Tiara mengatakan yang sebenarnya. "Apa mungkin dia kecapean?" tanya Tiara. Beni berdehem lalu mengangguk bisa jadi. Tak lama tubuh Flo bergerak. Tiara langsung menghampirinya dengan tatapan cemas. "Lo dah sadar?" Tiara memastikan. "Gue di mana?" Flo mengitari seluruh penjuru ruangan. "Lagi di UKS," timpal Beni. "Gue keluar dulu deh, beli sesuatu buat lo." Seperginya Beni, Flo langsung menembak Tiara dengan pertanyaan. "Gue kenapa?" Air mata Tiara merembes keluar. "Nggak tau pokoknya pas Sandy keluar lo malah pingsan." "Yah, jangan nangis dong. Cupcup." Flo menepuk bahu Tiara. Dia sendiri pun tak merasakan apa-apa. Justru merasah aneh tiba-tiba sudah di UKS saja. Saat Sandy berada di tubuhnya pun, Flo tak tersadar. "Terus gimana semuanya? Berhasil?" tanya Flo, tatapannya sekarang sudah berubah menjadi harap-harap cemas. "Saat permainan kibord sih, gue sebagai awam udah ngerasa bagus banget." Tiara menghapus air mata yang menetes dari pelupuknya. "Cuma dia sempet nggak ngenalin Yuna. Sampe Yuna sedikit kesel." Tiara mulai menceritakan semuanya. Dari mulai Yuna sampai kejadian Flo dipanggil oleh Bagas dan Alia, tetapi tidak sadar-sadar. Flo memijat pelipisnya, ia hanya harus berhadapan dengan orang yang Tiara sebutkan itu besok. Seharusnya itu tak masalah, tetapi image-nya jadi buruk hanya dengan beberapa menit Sandy berada di tubuhnya. "San, kenapa lo bisa diem aja saat nama gue dipanggil," kata Flo sambil mengurut keningnya. "Emm." Sandy bergumam. Sedari tadi cowok itu hanya berdiri di pojokan ruangan. Flo mengangkat kepalanya, dan memutar wajahnya untuk melihat sosok itu. "Lo udah nggak apa-apa? Tubuh lo ada ngerasa sakit?" Bukannya menjawab Sandy malah balik bertanya. Membuat Flo berdecak kesal. "Gue, kan, nanya lo. Kenapa lo malah nanya balik." Sandy menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Gue sempet lupa kalau nama gue Flo. Gue masih kepikir kalau mereka akan manggil Sandy," jawab Sandy dengan nada pelan. Tentu saja jawaban Sandy membuat Flo tepuk jidat. "Maaf, Flo," cicit Sandy. Bukan, dia bukan minta maaf karena sudah membuat Flo malu. Ia minta maaf karena sudah membuat perempuan itu kehabisan tenaga. Sandy, rasa penyebab Flo pingsan karena energi cewek itu yang habis. Belum lagi Sandy menggunakan tubuhnya dengan sedikit kelelahan. "Kita liat pengumuman besok. Kalau sampai gue nggak lolos, permintaan maaf lo nggak gue terima. Dan gue nggak akan mau bantu lo lagi," putus Flo sambil melipat kedua tangan di depan dadanya. Tiara mendekati Flo, bertanya tentang apa yang dikatakan Sandy dan Flo menerangkan. Sandy tersenyum kecut. Di saat seperti ini, cowok itu malah ingin menyerah saja. Ia merasa keberadaannya hanya bisa menyusahkan orang lain. Namun, apa ia sanggup bertahan dengan keadaan seperti ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN