Pada akhirnya Flo diantar pulang oleh Beni dan Tiara sampai rumah. Tiara sendiri takut sahabatnya itu kenapa-napa. Mereka tidak masuk ke dalam rumah Flo. Hanya mengantarnya sampai pagar rumah dan balik pulang.
Flo merasa beruntung memiliki sahabat seperti Tiara. Dan, yah, tentunya beruntung Tiara berpacaran dengan Beni. Beni tipe cowok suportif yang selalu mendukung apa yang pasangannya suka. Ikut melindungi apa pun yang disayang pasangannya.
Tidak heran kalau cowok itu ikut membantu Tiara mengantarnya pulang. Flo masuk ke dalam rumah dengan langkah tertatih. Ia melewati ibunya yang tengah asyik menonton televisi. Tanpa mau mengganggu, Flo hanya mengucapkan salam dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Sandy membuntutinya, menembus pintu kayu itu masuk ke dalam kamar. Flo melempar asal ranselnya. Membuka hoodie yang ia gunakan. Matanya melirik tajam ke samping.
"Lo masih mau di sana?"
Alis Sandy terangkat satu. Matanya mengerjap bingung.
"Gue mau ganti baju!" Flo mendesis.
"Kan bisa di kamar mandi. Kenapa ngusir gue?"
Sandy lalu berjalan ke arah kasur. Merebahkan dirinya di sana sambil mengangkat satu kakinya bertumpu pada kaki lain. Flo menggeram tertahan, tetapi tak bisa berbuat apa-apa. Ia bahkan tak bisa menyentuh cowok itu. Dengan berat hati Flo masuk ke kamar mandi.
"Awas lo macem-macem!" ancam Flo. Tangannya bergaya 'i see u' sambil berjalan mundur masuk ke kamar mandi.
Meski harap-harap cemas, Flo tetap mengganti pakaiannya di sana. Meskipun segala pikiran buruk sudah memasuki pikirannya. Seperti, bagaimana kalau Sandy tiba-tiba nongol dan melihat tubuh polosnya. Flo tetap berusaha memikirkan hal positif. Bahwa ia memercayai lelaki itu.
Saat sudah menyelesaikan ganti bajunya, Flo kembali keluar. Ia berjalan melewati kasur dan duduk di depan meja belajar. Hal yang membuat Sandy ikut penasaran.
"Lo lagi ngapain?" tanya Sandy tak tahan dengan rasa penasarannya. Ia bangkit dari tidurnya dan berjalan mendekati Flo.
Tulisan RENCANA RAHASIA menarik perhatian Sandy untuk mendekat.
"Gue lagi nulis rencana yang udah kita buat di sini."
Flo menulis angka satu dan tulisan audi seni musik.
"Di sini kita punya dua kemungkinan. Kemungkinan nggak lolos dan lolos. Kalau misal lolos kita bisa ngelanjutin rencana selanjutnya. Sekarang, bagaimana kalau kita gagal diterima besok?" kata Flo mencurahkan isi pikirannya.
Sandy mengendikkan bahunya. Ia menaruh tangannya di pinggang. "Kenapa lo nggak mikir kemungkinan lolos aja. Nggak usah ngeberatin diri lagi," kata Sandy santai.
Flo menggebrak meja belajarnya. "Mana bisa gitu!" protes dengan keputusan Sandy.
"Kita nggak bisa nunggu saat gagal nanti. Kita perlu buat plan b sekarang."
Sandy bergumam, "Lo kayaknya yakin banget bakalan ditolak," kata Sandy. Melihat Flo dengan keukeuhnya yakin membutuhkan rencana kedua.
"Iyalah. Ada banyak kecurigaan pastinya. Apalagi kemaren lo abis ketemu sama Yuna. Ck, Yuna tau seburuk apa gue sama dunia musik. Boro-boro bisa main kibord. Belum lagi lo kemarin buat masalah sama Kak Alia. Udahlah. Gue nggak yakin." Flo mengibaskan tangannya.
Lalu ia menepuk bukunya itu dengan pulpen. Kembali bertanya mengenai rencana cadangan.
Sandy memutar otak, bagaimana kalau sampai Flo gagal masuk seni musik padahal ia harusnya lolos lalu mencari bahan modus mendekati Bagas.
"Kalau sampai besok nama lo nggak tertera. Tandanya lo harus tetap deketin dia tanpa nolak."
Flo jelas protes. "Mana bisa gitu!"
Sandy mengendikkan bahu singkat. Lalu kembali ke kasur lagi. Mau bagaimana lagi, pikirnya. Flo harus tetap mendekati Bagas walau urat malu Flo masih terikat.
***
Pagi-pagi sekali Flo sudah sampai di sekolahnya, Tiara sudah menunggunya di sana. Flo turun dari angkutan umum, merapikan roknya yang sedikit berantakan. Merapikan poninya yang beterbangan ke atas agar bersikap seperti semula. Lalu setelah memastikan semuanya rapi, ia barulah kembali berjalan ke arah sekolah.
Mata bulan sabitnya menangkap sosok yang ia kenal. Tangan kanannya naik ke atas. Melambai heboh sambil sedikit berjinjit.
"Tir! Tiara!" seru Flo. Tiara yang dipanggil heboh oleh Flo hanya celingukan mencari sumber suara. Hingga pandangan mereka berserobok barulah ikut melambai. Flo terkekeh lalu berlari kecil menghampiri sahabatnya itu.
"Woy, gak usah lari bisa kali."
Ucapan tiba-tiba makhluk itu lantas membuat Flo mengerem larinya. Ia menoleh ke samping. Kelopaknya bergerak bingung.
"Ke-kenapa?" Sandy bertanya kembali. Rada aneh ditatap dengan tatapan aneh dari Flo.
"Lo tadi ikutan lari?" tanya Flo random.
"Iyalah!" jawab Sandy.
"Kok bisa?" Lalu Flo berlari lagi sambil wajahnya masih melirik ke samping. Ia takjub ketika melijat Sandy belari, tetapi sebagian tubuhnya tidak bergerak karena menabrak angin.
Tiara mengernyitkan dahi tatkala melihat tingkah aneh sahabatnya itu lagi.
"Pasti lagi ngobrol sama Sandy," tebaknya.
Kini Flo tengah mengerjai Sandy dengan bertingkah seperti mau lari, padahal tidak. Lalu bertingkah seperti mau berjalan biasa, padahal lari. Begitu terus hingga mereka sampai di dekat Tiara.
Dadanya Flo naik turun karena napasnya tersengal-sengal. Poninya sudah lepek karena keringat.
Tiara melihat penampilan sahabatnya hanya berdecak pasrah. Tangannya terulur hanya untuk merapikan dasi Flo yang miring.
"Mainan apa sih lo sama Sandy?" komentar Tiara.
Flo menyengir kuda. "Biasa. Gue lagi ngerjain dia. Masa dia ngikut lari saat gue lari. Kocak nggak sih, tuh, makhluk halus."
Mendengar dirinya dibicarakan seperti itu Sandy bersikap seakan mau menyelepet Flo, tetapi tak dapat-dapat.
Tiara hanya bergeleng tak menyangka. Kemudian keduanya berjalan bersisian ke arah mading sekolah.
"Gue nggak mau liat deh." Flo menghentikan langkahnya saat jarak sudah deket. "Lo aja, Ra!"
Ia sedikit mendorong bahu Tiara. Tiara hanya mendecih sebelum akhirnya menuruti keinginan sahabatnya itu. Ia jadi merasa degdegan sendiri kala mengecek nama didaftar itu.
Hingga telunjuknya berhenti pada satu nama. Flo Andiani. Mata Tiara melebar. Mulutnya terbuka. Sepersekian detik Tiara tak berkata apa-apa hingga Flo menepuk bahunya dan bertanya, "Jadi gimana?"
"Lo lolos, Flo!" seru Tiara sampai berjingkrakan.
Detik pertama ia terdiam, padahal Tiara dan Sandy di sampingnya sudah loncat-loncatan. Matanya mengerjap. "Gue?"
Tiara mengangguk cepat.
"Lolos? Maksud lo lolos seni musik?"
Tiara kembali mengangguk. "Iyaa, aaak senang banget gue!"
"Hah?" Flo menutup mulutnya. "Jadi nggak sia-sia gue kemaren pingsan?"
Tiara kini terdiam, moodnya langsung jelek menyadari temannya lemot sekali dalam menerima informasi baru.
"Dari tadi gue bilang lolos, Flo. Lo kira lolos apaan? Lolos jadi gubernur lo?"
Tiara memasang wajah datarnya.
Flo menjerit tertahan kemudian berjingkrak heboh. "Gue loloss! Yes!" katanya sambil melihat ke arah Sandy. Sandy ikut berjingkrak heboh karena sudah berhasil melaksanakan tugasnya.
"Flo, Flo. Udah lo sekarang aneh jingkrak-jingkrakan sambil ngobrol sendiri gitu," bisik Tiara membuat Flo seketika terdiam.