Seusai makan malam, seperti biasa, Flo akan membantu mamanya merapikan meja makan. Ia membantu mengelap meja makan dan membawa piring kotor itu ke dapur.
"Ma, Flo tidur di kamar Mama, ya," ucap Flo yang sedang menaruh piring kotor di westafel. Rita yang tengah mencuci piring itu langsung menoleh ke arahnya. "Aneh-aneh aja kamu! Kamu itu udah gede Flo, nggak pantes kamu tidur sama Papa Mama."
Flo memberenggut. "Ma, Flo takut."
"Masih masalah setan ganteng itu lagi?"
"Ma, mau dia ganteng kek, jelek kek, dia tetep setan!" sungut Flo tak terima jika mamanya tampak biasa-biasa saja menghadapi permasalahan ini. "Ma, ya-ya-ya boleh, ya?" Flo memasang puppy face andalannya.
Rita membilas piring terakhir. Ia simpan piring itu ke rak piring lalu menghadapkan tubuhnya kepada sang anak. "Enggak."
Satu kata itu mampu membuat binar di matanya menghilang. Ia mengerucutkan bibirnya manja. "Mama jahat."
Rita melengos tak memedulikan rengekan anaknya. Ia sudah bersiap memasuki kamarnya yang justru malah diikuti oleh Flo. Dan ketika Flo berniat menerobos masuk, buru-buru Rita menutup pintu kamarnya. Alhasil jidat Flo terantuk pintu kayu itu. "Aww! Gila sadis banget nih emak-emak," gumamnya sambil mengusap jidatnya yang sudah akan bersiap-siap membentuk benjolan.
Satu usaha lagi, dan dia berharap kali ini akan berhasil. Flo segera berlari ke lantai atas, melewati letak kamarnya dan berhenti di depan pintu kamar yang bertuliskan Dangerous Area. Flo berdecih kala membaca tulisan itu. "Bang Dicky!" Dengan semangat 45 Flo menggedor pintu kamar abangnya. "Bang! Abangku sayang nggak pulang-pulang," ucapnya yang justru menyanyikan lagu yang sangat dibenci Dicky.
"Berisik lo!" Dicky membuka pintu kamarnya kasar. Dari penampilannya bisa dilihat bahwa laki-laki berumur 20 tahun itu baru saja hendak menuju alam mimpi. "Flo tidur di kamar abang, ya?"
Dicky mengernyitkan keningnya. "Kamar lo kenapa?"
"Lo kan tau, kamar gue ada setannya, nanti kalo gue diapa-apain sama tuh setan gimana? Kalo gue diculik--"
"Biar aja diculik, setidaknya beban idup gue berkurang satu," tukas Dicky dengan tangan bersedekap santai.
Flo membelalak dengan ucapan abangnya itu. Wajahnya merah padam. "Kok lo resek, sih!" sulut Flo, telunjuknya terangkat ke depan wajah Dicky. "Eh! Yang ada lo tuh beban buat gu-"
Buk!
Pintu tertutup sebelum ocehannya selesai. Gadis itu mendengkus kesal sambil menghentakan kakinya keras. Dengan tangan yang mengepal ia menggedor pintu kayu itu sekali lagi. Namun, hasilnya nihil. Tahu jika usahanya tidak membuahkan hasil ia berhenti dengan sendirinya.
Flo melirik takut-takut ke arah pintu kamarnya. Susah payah Flo menelan salivanya, tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Dengan mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya ia bergegas kembali ke lantai satu menuju dapur. Ia mengambil setoples garam yang akan dibawanya ke kamar.
Perlahan ia menuntun langkahnya menuju kamar itu. Langkahnya yang pelan bahkan lebih lambat daripada siput. Sikapnya berhasil mematahkan julukan Flo si grasak grusuk, hingga pergerakan tangannya yang hendak memegang kenop pintu saja seperti adegan slow motion di sinetron yang sering ditonton mamanya.
Ceklek
Pintu itu berhasil terbuka. Namun, Flo malah memejamkan matanya. Ia berusaha menuju kasurnya tanpa membuka mata hanya bermodalkan tangan dan kakinya yang meraba-raba sekitar.
"Ngapain coba kayak gitu. Punya mata juga."
Suara itu membuatnya mundur kembali sambil memekik histeris. "Audzubillahi minna syaitonnirojim. Pergi pergi jangan ganggu." Matanya masih memejam gemetar. Jika saja ia mau membuka mata sedikit, melihat usahanya tidak berpengaruh sama sekali.
Satu alis Sandy terangkat, "Aamiin," katanya seraya menyunggingkan senyum miring.
Suaranya tertangkap jelas pada gendang telinganya. Dengan sedikit mengintip di sela-sela kelopak matanya Flo akhirnya tau, kalau makhluk itu masih berdiri di situ dengan angkuhnya. "Ngapain? Pergi dari kamar gue!" Flo memberanikan diri mengatakan itu, walau di lubuk hatinya paling dalam ia berdoa semoga tak diseret makhluk halus di hadapannya ke dunia yang penuh dengan valak dan sebangsanya.
"Lo ngusir?"
"Iya!"
"Nggak inget apa yang tadi nyokap lo bilang. Kalo lo nggak ganggu gue nggak bakal ganggu."
"Nah, terus kenapa lo ganggu gue?"
"Gue nggak ganggu lo."
"Ganggu! Kalo nggak ganggu itu pergi."
Setelah itu buru-buru Flo menaburkan garam yang sebelumnya ia bawa untuk ditaburkan di sekeliling kasurnya.
"Kalo bisa juga gue bakal pergi."
Pergerakan tangan Flo terhenti. "Kenapa nggak bisa?"
"Karena gue ngerasa ini tempat yang aman," jawab Sandy santai.
Flo bergidik ngeri.
"Gini deh, gue janji saat ingatan gue kembali saat gue udah mengetahui apa yang terjadi. Gue bakal pergi dari sini."
Untuk saat ini Flo benar-benar tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi. Bagaimana mungkin Sandy mengatakan itu seperti orang yang terkena amnesia saja.
"Untuk saat ini gue belum tau apa yang terjadi sama gue."
Perkataan Sandy seperti menjawab pertanyaan dalam benak Flo.
"Sekarang lo nggak perlu naburin gula kayak gitu. Gue bukan setan, dan gue baru tau kalo cara ngusir setan itu make gula bukan garam."
"Ini garem, tauk!"
"Lo nggak bisa ngebedain mana gula mana garem? Yang lo tabur itu gula bukan garem!"
Flo tak lantas memercayainya, ia mencicipi terlebih dahulu dari toples itu. Saat ia merasakannya, barulah ia menyadari apa yang ia bawa. Flo menengok ke arah Sandy yang menaikan kedua alisnya.
Lalu pandangannya beralih ke gula-gula yang ia taburkan tadi. Ia memandang nanar lantai itu. Bukannya mengusir setan justru yang ia lakukan mengundang semut-semut berpesta pora di sana. Dengan terpaksa ia keluar kamar untuk mengambil seperangkat alat bersih-bersih. Jadilah malam itu ia harus direpotkan dengan menyapu lantai kamar dan mengepelnya hingga dapat dipastikan tak ada lagi semut yang menggelar makan bersama di kamarnya.
Sandy di atas kasurnya menunjuk-nunjuk bagian lantai yang terlihatnya masih kotor. "Itu tuh!"
"Diem setan!" desis Flo.
"Apa lo bilang?" tanya Sandy dengan nada datar.
Sontak hal itu membuat Flo berjongkok sambil menutup wajahnya. "Ampun! Jangan sakitin gue, jangan bunuh gue, ampunnn!"
Flo kembali histeris, membuat Sandy menggaruk kepala belakangnya yang tak gatal. Segitu menyeramkannya-kah Sandy di mata gadis itu?
Lelaki itu meraba wajahnya. Tidak ada yang berbeda. Bahkan masih terasa normal.
Sandy berjongkok. "Emang gue keliatan kayak psikopat, ya?"
Flo masih menutup wajahnya. Tampak tidak berniat untuk melihatnya sedikit pun. Hal itu membuat Sandy harus mengalah dengan meninggalkan ruangan itu. Setidaknya memberi waktu untuk pemilik kamar agar terbiasa dengan keberadaannya.
Suara Sandy tiba-tiba tak terdengar lagi oleh Flo. Membuat perempuan itu perlahan mengangkat wajahnya untuk mengintip. Dengan takut-takut ia mengedarkan matanya ke seluruh penjuru ruangan.
Sudah menghilang.
Flo menelan salivanya, tangannya bergemetar saat memegang sapu. Dengan pandangan was-was perempuan itu berdiri dan segera menyelesaikan pekerjaannya.
Malam itu, Flo tidak bisa tidur nyenyak. Setiap beberapa menit sekali ia terbangun, takut-takut kalau makhluk halus itu kembali datang menjumpainya.
***
Dicky turun dari lantai dua rumahnya sambil bersenandung. Sesekali ia mengangkat tangannya untuk meregangkan tubuhnya. "Anjir!" Ia tersentak ketika melihat adiknya tengah duduk di sofa ruang tamunya. Keningnya mengerut kala melihat penampilan adiknya yang lebih cocok menjadi zombie. "Lo kayak nggak tidur semaleman, Dek."
Flo mengangguk lemah. "Bang, temenin ke kamar."
***
Sandy masih bingung kenapa tiba-tiba dirinya sudah ada di kamar anak itu dan di mana raganya?
Dua pertanyaannya yang masih mengepul di kepalanya. Untuk itu Sandy tidak berani pergi jauh dari perempuan bernama Flo. Hanya perempuan itu satu-satunya orang yang dapat membantunya kembali.
Maka ketika ia melihat perempuan berkucir kuda keluar dari perkarangan rumahnya, Sandy diam-diam mengikutinya dari belakang.
"Pagi, cewe!"
Flo menjerit terkejut. "Kenapa lo muncul lagi?!"
"Gue emang dari tadi ngikutin lo," jawab Sandy santai.
"Kenapa lo ikutin guee? Jangan ikutin gueee!"
Sandy menempelkan satu jarinya di bibir. "Lo sekarang diliatin orang-orang tuh."
Flo menengok ke sekelilingnya dan pada saat itu juga rasanya ia hendak menghilang saja. Mulai saat ini hari-harinya dapat dipastikan akan lebih kacau lagi.
Tidak percaya? Lihat saja sendiri.