Ketika Bu Mega tengah asyik menjelaskan sistem pernapasan di depan kelas, jiwa lelaki itu dengan santainya duduk di atas meja guru. Tangannya melambai ke arah Flo. Membuat perempuan itu lantas membuang mukanya. "Anggep nggak ada siapa-siapa." Flo merapalkan kalimat itu pada dirinya sendiri.
"Nggak, lo nggak liat apa-apa. Kosong nggak ada apa-apa."
Tiara di sampingnya menyenggol lengan Flo. "Ngomong apa, sih?"
Flo tergagap. Ia mengusap tengkuknya. "Nggak kok, nggak ngomong apa-apa."
Dari sudut matanya, Flo dapat melihat Sandy tengah menampilkan senyum lebar padanya. "Anjir, kapan ilangnya tuh makhluk!" desis Flo sebelum membenturkan dahinya ke atas meja.
***
Makan Flo tidak tenang, tidur tidak bisa, bahkan konsentrasinya dalam belajar pun terganggu karena keberadaan makhluk jadi-jadian itu. Untuk itu Flo mau tidak mau harus meminta bantuan Tiara. Ia menceritakan semua yang ia alami kemarin hingga saat ini.
"Terus sekarang," Tiara mengecilkan nada suaranya, "setannya mana?"
Flo tidak melihat ke arah Sandy, hanya mengetahui keberadaan lelaki itu lewat ekor matanya.
"Ada di depan kita," bisiknya.
Kini, Flo dan Tiara tengah berada di kantin. Flo terpaksa bercerita karena Tiara yang menyadari perbedaan sikap Flo hari ini.
Selain perempuan itu yang mendadak tidak mau memakan makanannya, Flo juga jadi duduk lebih menempel kepada Tiara. Membuat temannya itu sedikit kesal karena ruang geraknya terbatas.
"Tapi mukanya nggak serem, 'kan? Dia nggak ganggu, 'kan? Kenapa lo setakut ini, sih."
Flo memegang tangan Tiara. "Nggak ganggu apaan. Dia ngikutin gue terus." Wajah Flo mengerut.
Tiara mendesah, sahabatnya itu memang paling ciut kalau sudah membahas mengenai makhluk goib. Perkataan bahwa 'jika kita semakin takut maka akan semakin mendekat' ternyata benar adanya. Tiara menjentikan jarinya kala sebuah solusi memasuki kepalanya.
"Deket rumah gue ada orang pinter, Flo. Mau ke sana nggak?"
"Ngapain? Gue bukan setan." Sandy menyahut. Membuat Flo meremang seketika.
Ide Tiara sangat tepat, ia tidak mau dihantui seperti ini lagi. Maka dari itu Flo mengangguk cepat mengiyakan ide tersebut.
***
Sialnya, karena semalaman Flo tidak tidur, boro-boro mau belajar alhasil saat ini perempuan itu kelimpungan ketika jejeran soal berada di depan matanya.
Ia menggaruk poni ratanya asal. Entah dosa apa yang ia lakukan di masa lalu.
"Jangan nyontek."
Flo menggertakan giginya, selain menakutkan makhluk halus itu ternyata menyebalkan.
"Gue nggak belajar kan karena dia juga," gerutu Flo.
Secepat kilat Sandy berembus dan berdiri di samping Flo. Membuat perempuan itu memekik terkejut.
"Ada apa itu?"
Bu Tanti menurunkan kacamatanya. Matanya menghunus tajam ke arah Flo.
"En-enggak ada apa-apa, Bu, maaf."
Flo meringis. Untungnya Bu Tanti tidak menarik kertas ujiannya. Dalam hati Flo memaki. Ia bersumpah akan melakukan berbagai cara untuk memusnahkan makhluk halus itu.
"Jawabannya A." Sandy menunjuk satu nomor yang masih kosong. "Kalo ini C." Lalu jemarinya beralih ke nomor di bawahnya.
Flo menelan salivanya. Tangannya bergemetar hebat saat raga Sandy terlampau dekat dengannya.
Wajah Flo sudah memerah menahan rasa takut yang menggebu dalam dirinya. Flo memejamkan matanya. Berusaha menormalkan embusan napasnya yang menderu kencang.
Sandy yang menyadari itu menegakkan kembali tubuhnya. Ia berdecak, "Jarak berapa meter biar lo nggak takut?"
Sandy melangkah satu langkah ke belakang. "Segini?"
Flo mengintip, melihat jarak mereka masih dekat ia bergeleng.
Sandy menjauh satu langkah lagi. "Dah, segini. Udah jauh ini anjir!"
Flo membuka matanya. Ia buru mengambil kertas ujiannya dan mengisi jawaban kosong yang barusan dibocorkan Sandy. Entah jawaban makhluk itu benar atau salah Flo hanya perlu mempercayainya agar ujiannya cepat selesai dengan begitu ia bisa cepat-cepat ke dukun untuk mengusir makhluk halus itu.
Flo tidak masalah kalau nilainya jelek. Namun, yang jadi masalah sekarang adalah hukuman yang akan gurunya berikan ketika nilainya berada di bawah KKM. Bu Tanti akan menyuruhnya mengikuti kelas tambahan sepulang sekolah. Belum lagi tugas tambahan yang harus ia kerjakan. Sudah cukup ia merasakan penderitaan itu saat kelas sepuluh. Di kelas sebelas ini jangan sampai ia harus pulang jam enam sore. Flo tidak sanggup menahan takut karena keadaan sepi sekolahnya beratus kali lipat lebih horor daripada di siang hari.
***
Tenggorokan Flo terasa kering saat melihat bangunan tua di depannya. Beberapa daun berserakan di perkarangannya, daun yang ia ketahui berasal dari pohon besar yang tertanam di sana. Cat putih yang sudah memiliki noda cokelat menambah kesan tak terurus pada rumah itu.
"Ayok, Flo, masuk."
Flo menahan pergelangan tangan Tiara. "Ini horor banget, gila. Balik aja, deh."
"Janganlah! Ini udah tanggung banget. Ayo, ih, masuk aja, sih. Daripada lo digentayangin terus."
"Bener tuh, daripada lo digentayangin," sahut Sandy. "By the way, digentayangin siapa?"
Flo memutar malas matanya. Makhluk itu berbicara seakan-akan bukan dia yang dimaksud.
Dikarenakan dorongan paksa Tiara, pada akhirnya Flo mau juga memasuki rumah itu.
Pria tua dengan uban yang sudah menghiasi kepalanya menyambut kedatangan mereka. Flo mulai menceritakan apa yang ia alami.
Pria tua yang dipanggil Mbah itu membawa segelas air. Bibirnya komat-kamit merapalkan mantra. Flo merinding melihat ekspresi dari si Mbah.
Kemudian gelas itu dicipratkan ke wajah Flo. Membuat Flo mengerutkan mukanya. Kala air itu memasuki mulutnya, Flo merasa asin menyergapi indra perasanya. Entah itu air apa yang dicipratkan kepada dirinya.
"Sekarang ini diminum," titah Mbah.
"Mi-minum?" Flo ragu. Pasalnya, gelas itu sudah diobok-obok dengan jari si Mbah.
Sandy menyemburkan tawanya. Ia berulang kali mengolok Flo bahwa usahanya akan sia-sia.
"Enak itu, lebih enak dari minuman starbak. Ayo diminumlah." Sandy terus tertawa hingga Flo merasa dongkol dalam hati.
Dengan sangat terpaksa Flo menyeruput minuman itu. Terasa asin. Sandy tambah terpingkal-pingkal karenanya.
"Abis ini apalagi, Mbah?"
"Itu minuman penangkal roh jahat. Habis kamu minum itu roh-roh jahat nggak akan gangguin kamu lagi."
Sandy mengangkat satu alisnya, berisyarat 'See? Gue masih di sini.'
Flo menggeram kesal. Merasa tertipu karena Sandy yang tak kunjung menghilang. Ia bangkit berdiri. "Makhluk itu masih ada, Mbah! Katanya buat ngusir. Mana? Dia masih ketawa di pojokan situ."
Si Mbah mengerut, matanya menyorot tajam tak terima dianggap penipu. "Kalau makhluk yang ikutin kamu itu nggak pergi setelah jampi dari saya berarti dia bukan roh jahat."
"Terus apa?" sergah Flo.
Mbah itu tertawa sinis. "Bukannya udah nggak percaya sama saya. Kok masih nanya?"
Tiara yang berada di tengah perdebatan sengit itu berulang kali menyuruh Flo untuk menghentikan protesannya.
"Ya udah saya pamit pulang. Permisi!" Flo lantas berbalik dan menarik pergelangan tangan Tiara.
"Dia masih hidup." Ucapan Mbah itu mampu membuat langkah Flo berhenti. Namun, ketika ia menyadari pendapat itu sangat tidak masuk akal-bagaimana bisa orang hidup tembus pandang-Flo kembali melangkah tanpa melihat ke belakang.
Sepertinya mbah dukun bukan pilihan yang tepat, mungkin habis ini ia akan menemui paranormal yang lebih kekinian, Risa Saraswati, maybe?