awal dari sesuatu yang berakhir
5 mei, tanggal cantik dan tanggal ulang tahun yang begitu ideal. Sepertinya sangat beruntung orang-orang yang berulang tahun pada angka kembar. Setiap orang menantikannya, banyak promo, story sosial media banyak yang mencantumkan tanggal, bahkan sangat indah terpajang disebuah papan tulis anak sekolah.
Ganiya alvas, perempuan cantik dengan blouse biru yang masih menatap dua angka kembar di layar handphonenya. Sebuah angka cantik yang telah memaksanya untuk merubah mood di pagi hari.
Hari ini Ganiya berulang tahun. Genap sudah usianya yang ke 20. Setiap hari disibukkan dengan pekerjaan membuat Ganiya tidak mengingat hal lain selain hari senin sampai minggu. Tanggal atau bahkan tahun berapa sekarang pun ia tidak mengingat dengan baik.
Sebuah kiriman setangkai bunga yang berada ditangannya saat ini lah yang menyadarkannya tentang berputarnya waktu.
Tentang cerita di setiap tanggal lima pada bulan mei, tentang seorang pria yang selalu mengucapkan selamat ulang tahun paling awal, tentang pria yang selalu mengirimnya setangkai mawar, dan tentang pria yang meninggalkan Ganiya untuk selamanya.
Terlalu banyak cerita mendalam untuk mei. Bahkan selalu ada cerita baru di setiap bulan mei.
Seperti bagaimana bunga mawar yang Ganiya genggam selalu sampai disaat pengirimnya telah pergi, bagaimana saat Ganiya mengembalikan bunga ini ke pengirimnya dengan perasaan sesak, Dan bagaimana Ganiya berjuang untuk baik-baik saja.
"Rafa, udah ya ngirim bunganya. Biar Ganiya bisa lupain Rafa. Biar Ganiya bisa hidup untuk hari esok." ucap Ganiya dengan lirih sambil mengelus nisan di hadapannya.
Selalu seperti ini. Setiap setangkai mawar datang di pagi hari, Ganiya selalu bergegas pergi untuk mengembalikan mawar pada Rafa. Meletakkan tangkai mawar itu di atas batu nisan Rafa.
Ganiya tidak tahu alasan Rafa meminta pada sebuah toko bunga untuk mengiriminya mawar setiap tahun itu benar-benar untuk mengingat hari ulang tahunnya atau kematian Rafa. Tapi yang terjadi Ganiya pasti akan selalu mengembalikan mawar itu pada Rafa. Karna, tanggal ulang tahun Ganiya adalah hari Rafa meninggalkan dunia.
Setelah diam yang begitu lama, Ganiya memutuskan untuk beranjak meninggalkan makam Rafa. Langkahnya dengan perasaan kosong mulai menjauhi makam.
"aku kangen banget ngobrol kaya dulu, Raf. Kamu yang selalu berbicara tidak jelas, tertawa keras seperti orang gila. Aku cape ngobrol sendiri terus, sedangkan kamu cuma diam. Lebih baik gini kan, aku ga banyak ngomong sendiri." gumam Ganiya.
Sepanjang langkah Ganiya tidak ada sedetikpun ia rasakan keramaian di sekitar. Ganiya yang sedang berjalan di trotoar hanya fokus pada andai-andai dibenaknya. Harapan-harapan indah dihari ulang tahun andai Rafa ada di sisinya.
Sebuah ucapan melanklonis, bunga yang harum, senyum yang manis, dan baju rapih yang melekat di badannya. Ganiya menghentikan langkang kakinya saat bayangan Rafa ada di hadapannya sedang tersenyum.
Gambaran sosok Rafa ada dihadapannya, sangat jelas seperti nyata. Ganiya terpaku di tempat, membandingkan kejadian saat ini dengan tiga tahun lalu. Dimana badan Rafa yang dingin dan wajah tampannya yang ia sentuh sama dingginya seperti mayat.
Akhirnya bayangan itu pudar, tidak ada Rafa. Memang benar Rafa telah pergi. Mau seperti apapun terlintas, Rafa memang sudah tidak ada!
Senyum pedih Ganiya tampilkan. Dalam hati terdalamnya Ganiya berharap, ada seseorang yang membuatnya tidak terpaku pada Rafa. Seseorang yang akan mengajarinya hidup lagi, membuatnya tertawa lagi, dan seseorang yang membuatnya merasa nyaman senyaman saat bersama Rafa.
Rafa si pria baik, tampan, dan selalu berpakaian rapih dan wangi.
Ganiya melanjutkan langkah kakinya, meninggalkan tempatnya berpijak kaku tadi. Beberapa langkah Ganiya menjauhi titik tadi, bersama itu bayangan muncul. Bayangan yang sebagai mana Ganiya membayangkan.