"Ganiya, jangan lupa deadline besok, ya." ucap Bu Anggi selaku bos di tempat Ganiya bekerja.
"baik, Bu."
Hari ini Ganiya kembali pada rutinitasnya, bekerja di sebuah perusahaan editor yang masih dibilang kecil. Tapi sekecil apapun kantornya, tetap pekerjaan Ganiya sangat menumpuk hingga menyita seluruh perhatiannya sepanjang hari.
Hari ini sudah menunjukkan pukul tiga sore. Seharusnya satu jam lagi waktu bekerja selesai, tapi saat melihat layar komputer sepertinya Ganiya akan lembur hari ini.
Ganiya sedang mengerjakan sebuah proyek iklan untuk sebuah cafe. Klien kali ini memang sedikit rumit. Sudah hampir tiga kali Ganiya di minta melakukan revisi pada poster iklan yang sedang ia kerjakan.
Setelah di buat hampir sekarat dengan revisi berulang kali, Ganiya berfikir untuk memaki klien kali ini di depan wajahnya langsung. Padahal Ganiya sudah berusaha dengan baik mencocokkan warna, menerima masukkan, serta bekerja dengan iklas dan sabar. namun entah bagaimana selera klien kali ini, hingga setiap langkah Ganiya selalu saja ada salahnya. Mengapa tidak ia kerjakan saja sendiri jika begini?!
Dering ponsel yang terletak di sebelah mouse komputernya membuat Ganiya mengalihkan perhatian sejenak. Sebuah nomor asing terlihat di layar handphonenya. Ganiya memilih mengabaikan panggilan tersebut dan melihat ruangan yang ia tempati.
Seharusnya di dalam ruangan ini terdapat tiga karyawan, namun saat ini hanya tersisa Ganiya seorang di dalam ruangan. Ganiya menoleh kearah jam dinding yang terpajang di hadapannya saat ini sudah menunjukkan pukul enam sore. Seharusnya sudah adzan magrib, pantas saja hanya tersisah dirinya. Mungkin rekan yang lain sudah pulang lebih dulu.
Ganiya memang tidak terlalu dekat dengan rekan kerjanya, malah bisa di katakan benar-benar tidak dekat. Itulah mengapa mereka bisa datang dan pergi tanpa menyapa.
Bagi sebagian orang, tidak mendapatkan teman satupun di lingkungan pekerjaan itu suatu hal yang buruk. Tapi bagi Ganiya, ini adalah yang terbaik. Kehidupan yang sangat jauh dari mereka membuatnya membatasi diri agar sesuatu hal berbau 'kasihan' dan 'menyedihkan' sedikit berjarak darinya.
Ganiya sudah bosan merasakan itu.
Bersyukur sekali pekerjaan yang membuat kepalanya hampir terbelah sudah selesai. Setelah mengirim hasil kerjanya ke email Bu Anggi, Ganiya mengemas seluruh barang dan meninggalkan ruangan kerjanya.
Kantornya memiliki dua lantai. Ganiya menempati lantai bawah dan di lantai atas adalah ruangan Bu Anggi bersama anaknya yang selalu membantu.
Untuk hari ini tidak terlalu sangat melelahkan, bahkan Ganiya masih mampu berjalan menuju masjid di sebrang kantor. Biasanya beribadah di mushola kantor menjadi pilihannya. Tapi sepertinya, ubin masjid lebih menenangkan.
Setelah selesai menunaikan ibadah sholat magrib Ganiya memilih mampir di supermarket. Kulkasnya yang kecil seperti menjadi sangat luas karna isinya yang kosong.
Malam ini terlihat lebih sepi di supermarket. Saat Ganiya masuk sembari mendorong troli belanja hanya terdapat tiga orang yang Ganiya temui. Malam ini juga terasa lebih suram. Ini bukan cerita horor, memang suasananya saja yang membuat terasa horor. Tapi Ganiya merasa lega, saat ia melihat satu karyawan yang sedang menata barang di ujung ruangan.
Banyak barang yang ia ambil saat ini. Karna mengingat, sudah lama tidak memakan makanan lain selain mie instan.
Merasa sudah cukup dan akan menguras banyak uang, Ganiya berjalan menuju kasir. Kasir yang sudah terlihat di ujung mata terasa sangat jauh digapai langkah kecilnya. Langkah kakinya pun terasa tidak sendiri menapaki lantai yang sama.
Sebenarnya Ganiya sudah merasakan sedari tadi. Entah terlalu waspada atau memang benar, sedari tadi ia merasa seperti ada yang membuntuti. Bahkan kasir terasa jauh sekali di datangi.
Menghentikan langkah dan berusaha melirik seseorang di belakangnya melalui ujung mata. Ganiya menelan ludah yang terasa sangat mengganjal di tenggorokan, bahkan nafas yang sebelumnya setabil kini terasa seperti sehabis berlari maraton.
Mencoba memberanikan diri, Ganiya menolehkan badan kebelakang. Bersamaan dengan gerakan Ganiya, seseorang yang lebih cepat dari itu menarik troli belanjanya. Ganiya tersentak kaget hingga mundur selangkah. Jantungnya benar-benar seperti pindah posisi saat ini.
Seseorang itu menatap Ganiya beberapa saat sampai tanpa Ganiya sadari trolinya telah di ambil alih. Sejenak Ganiya mengamati orang itu apakah manusia atau bukan. Dari belakang, punggung itu terlihat seperti manusia normal, langkah kakinya pun menginjak lantai.
Tapi, kenapa membuntutinya sedari tadi? Bahkan Ganiya tidak mengenal orang itu. Dan kenapa dia mengambil troli belanjannya?
Ganiya mencoba menoleh kanan kiri memastikan barangkali ia yang salah mengambil belanjaan orang lain. Tapi tidak ada troli lain yang berisi belanjaan di sekitarnya, bahkan sedari tadi Ganiya tidak melepaskan trolinya.
"tunggu! Permisi." Ganiya memanggil dan mengejar orang tadi.
Orang itu tidak merespon sama sekali membuat Ganiya menghela nafas.
Setelah berhasil meraih troli belanja dan menatap heran orang di hadapnya, Ganiya bertanya "ini belanjaan saya. Mas-nya ngapain?"
"ini memang belanjaan kamu" balas orang tersebut sambil tersenyum.
Ganiya terdiam sejenak berusaha memahami keadaan. "terimakasih, Mas. Tapi saya ga butuh bantuan".
Dari pada merasa semakin aneh Ganiya memilih menarik trolinya dan mendorong menuju kasir yang sudah beberapa meter di depan. Berfikir bahwa pria tadi hanya modus dan mengharapkan sesuatu darinya.
Tapi baru dua langkah, troli itu kembali lepas dari genggamanya. Pria tadi lagi-lagi mengambil alih dan mendorongnya, bahkan menurunkan belanjaanya setelah tiba di kasir. Ganiya hanya menghela nafas sembari mengamati.
"totalnya 453.000, kak" ucap sang kasir.
Ganiya membuka tasnya dan mengambil dompet. Tunggu, kenapa di tasnya hanya ada handphone dan alat make up? Ganiya mulai panik mengorek tasnya. Apa dompetnya tertinggal?
"tunggu bentar, Kak," ucap Ganiya saat sang kasir menatapnya dengan penasaran.
Disaat yang sama, disaat Ganiya sedang sangat panik Pria asing di sampingnya justru tertawa. Ganiya tidak mempedulikan dan masih berusaha untuk mencari dompetnya barangkali terselip di dalam tas.
"ini, saya yang bayar" pria itu mengulurkan lima lembar uang seratus dan di terima sang kasir.
"nggak, nggak usah. Saya bawa handphone"
ucapan Ganiya mendapatkan respon tatapan menyepelakan dari pria asing tersebut. benar-benar sangat membuat kesal.
"saya bayar pakai M-Banking" lanjut Ganiya sembari menatap sang kasir.
Si karyawan kasir terdiam sebentar sembari menggenggap uang si pria itu yang tidak mau di kembalikan. Ganiya memilih mengambil handphonenya dan berusaha menghidupkan. Tapi, handphone itu sepertinya mati total.
Ganiya terdiam menahan malu. Merutuki diri sendiri kenapa bisa seceroboh ini. Benar-benar terasa memalukan. Bahkan kegiatan transaksi di depan matanya terlihat seperti sedang mengejek habis-habisan. Ah, mengapa seperti ini?!
"terimakasih." ucap Ganiya sembari meraih belanjaan yang di bawa pria asing tadi.
"besok datang ke kantor saya, atau hubungi nomor saya. Ah, hubungi saja nomor saya, besok kita bertemu. Saya akan bayar belanjaan saya. "
Setelah menyerahkan name card miliknya, Ganiya tersenyum dan berlalu pergi. Entah siapa pria itu yang sudah sangat membantu. Tapi rasa malu terasa sangat mencekik saat ini, berhadapan dengan pria ini pun terasa menyiksa.
Niat Ganiya untuk segera menjauh dari pria asing ini hanya angan saat Ganiya merasa tangannya di tahan untuk tidak pergi. Ganiya menoleh menatap pria yang mencekal lengannya.
"tidak perlu di kembalikan, Ganiya. Kamu hanya perlu makan yang sehat, dan jangan sampai telat makan. Uangnya kamu simpan dan tabung saja."
Setelah mengatakan itu, pria asing tersebut melepaskan cekalan di lengan Ganiya dan berbalik pergi. Ganiya masih terdiam kaget saat sadar pria itu ternyata mengenalnya.
"Mas-nya siapa, ya?" tanya Ganiya.
Pria tersebut berbalik dan memberikan Ganiya senyum tulus dan... Mengapa terlihat sangat manis? Sungguh, mengapa pria itu tersenyum begitu manis? Bahkan saat tersenyum pria itu terlihat lebih manis dari oh sehun.
"saya seseorang yang mengenalmu, jauh lebih mengenalmu ketimbang diri kamu sendiri. Saya,"
Waktu terasa berlalu lambat menanti kalimat kelanjutan dari pria itu. Ganiya menatap dalam mencoba merasakan suasana macam apa saat ini. Tapi semuanya justru semakin membeku kala detik demi detik Ganiya hitung sembari memperhatikan bibir pria itu yang mencoba terbuka. Suaranya dan kata-katanya seakan menghipnotis Ganiya agar mendapatkan ketenangan.
"saya, teman baik Rafa, malaikat penolongmu."
Sedetik setelah kata itu selesai terdengar, waktu yang berjalan lambat tiba-tiba terasa normal. Ganiya tersentak seperti baru kembali ke raganya setelah beberapa detik melayang entah dimana.
Tatapan Ganiya melebar menatap tepat dimana sebelumnya terdapat seseorang. Tapi sekarang tempat itu kosong. Seperti bunga yang melebur ke udara, tidak ada siapapun disana. Semerbak aroma parfum pria masih menempel di penciumannya, tapi mengapa tidak ada siapapun?
Mana mungkin Ganiya bisa tidak sadar saat seseorang yang sebelumnya masih ia pandangi tiba-tiba menghilang? Atau pria tadi seorang penghipnotis?
Ganiya refleks panik mengecek seluruh barang bawaannya. Di dalam tas hanya ada satu benda berharga yaitu handphone, dan plastik penuh belanjaan masih ada di genggamannya.
Ganiya menghela nafas lega karna tidak ada apapun yang hilang. Tapi siapa pria tadi? Apakah teleportasi benar-benar ada?