Siang hari setelah makan bersama dengan Pak Yusman dan Nyonya Karin. Gandi menyempatkan untuk main bersama putrinya. Hari ini pun dia masih belum berangkat bekerja menyerahkan semuanya pada Faris sekretarisnya.
Pria itu sedang membacakan dongeng timun emas pada Dea, yang saat ini ingin tidur siang. Maklum anak kecil itu menjadi sangat manja ketika papanya berada di rumah. Dea terus merebah manja di pangkuan papanya.
Tiba-tiba ponsel Gandi, berdering ada panggilan dari Rena, yang sekarang sudah pisah rumah dengannya. Sejenak Gandi merasa ragu untuk menerima telefon. Apa yang akan dibicarakan wanita itu. Apa alasan Rena menghubunginya.
Namun, Gandi tetap menerima telepon dari wanita itu. Berharap ada kabar baik yang akan di dengarnya.
Panggilan terhubung.
"Halo," sapa Gandi.
Terdengar jelas oleh pria itu bahwa Rena marah-marah dan mengatai seseorang sebagai tikus kecil, Gandi menyuruhnya untuk mengemis cinta.
Gandi tidak marah hanya saja Ia bertanya-tanya. Siapakah kira-kira orang yang menemui Rena dan meminta wanita itu untuk mencabut gugatan cerainya. Gandi merebahkan tubuh Dea di atas tempat tidur. Kemudian, Ia segera memakai baju hangat dan bergegas turun ke lantai dasar. Berjalan menuju mobilnya yang berada di garasi. Pak Yusman dan Nyonya Karina hanya diam tidak berani melarang. Paham! mungkin putranya itu, perlu waktu untuk menguasai perdebatan yang ada di gejolak hatinya.
Gandi duduk di belakang kemudi. Lalu melajukan mobilnya keluar dari gerbang utama. Ia tahu di mana istrinya itu berada. Karena sebenarnya, Ia masih memiliki jadwal kerja istrinya.
Pria itu terus menjalakan mobilnya membelah jalanan ibukota. Menginjak pedal gas dan mobil pun berjalan dengan kecepatan penuh.
Tiba di area parkir sebuah gedung, Gandi menghentikan mobilnya. Ia turun dari mobil melangkah menuju sebuah ruangan.
Vivi Manajer dari Rena menunjukkan di mana ruangan sang model berada.
Gandi menarik handle pintu hingga terbuka. Di sana terlihat dua orang perempuan. Pertama adalah Rena, dan satunya gadis muda masih berseragam abu-abu.
Pria itu berjalan maju. Kini Ia berada di hadapan Rena. Pandangannya tetap sama masih menatap wanita itu dengan penuh cinta dan perhatian. Namun, berbeda dengan wanita cantik yang berdiri di hadapannya. Binar bahagia di mata sang model sudah berbeda Ia tampak acuh dengan tatapan dingin seolah tak mengenal Gandi, yang saat ini masih menjadi suami sahnya.
"Aku akan membawa gadis ini pergi sekarang juga," tutur Gandi. Menoleh ke arah Bella lalu meraih tangan gadis itu. Bersiap untuk keluar dari ruang make up Rena.
"Tunggu berhenti di situ jangan berani melangkahkan kaki keluar dari ruangan ini!" titah Rena. Kedua tangannya berkacak pinggang tanda berkuasa.
"Iya ada apa," jawab Gandi datar. Pandangan matanya penuh kehangatan ingin sekali memeluk istrinya itu. Hanya saja gugatan cerai yang dilayangkan wanita itu seolah memberikan benteng yang amat tinggi pada Gandhi untuk melakukannya.
"Sekarang kamu bebas melakukan apapun, termasuk jika kamu mau berkencan dengan gadis kecil itu, aku sudah tidak akan marah lagi!" tutur Rena yang menunduk kepala. Sikapnya acuh dan tak ingin mengarahkan indra penglihatannya pada Gandi
"Aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu, aku selalu setia sama kamu dan gugatan cerai? Bukankah itu kamu yang menginginkannya? Bukankah kamu yang ingin membawa pernikahan kita ke meja hijau? Jadi cukup jangan memutar balikan fakta, kamu ingin bercerai dan aku akan mengabulkan permintaanmu! Asal kamu tahu saja aku tidak pernah sedikit pun tidak setia sama kamu! Mengerti!" tegas Gandi, berbalik semakin mempererat pegangan tangannya pada Bella. Kemudian, Ia menuntun gadis itu untuk keluar dari ruang make up Rena. Melangkah menuju ke tempat parkir yang berada di lantai dasar.
Gandi membuka pintu mobil lalu menuntun Bella untuk duduk di sana.
Kemudian, pria itu berjalan memutar dan duduk di belakang kemudi.
"Aku akan mengantarmu ke asrama sekarang!" ucap Gandi. Manik matanya melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 4 sore.
"Sebentar Om," cegah Bella yang sedari tadi diam saja karena syok, Ia belum. pernah menyaksikan pertengkaran penuh ketegangan seperti itu sebelumnya. "Sebenarnya aku kesini bersama Nadia," jelas gadis itu.
"Di mana Nadia?" tanya Gandi, Ia sedikit tahu mengenai teman Bella yang bernama Nadia, pernah suatu kali Bella bercerita mengenai sahabatnya itu.
"Sebentar aku akan mencarinya," sahut Bella.
Dia, turun dari mobil mencari Nadia. Terus berjalan dan melihat ke sekeliling, berjalan di rute yang dilewatinya. Tak Berapa lama Ia menemukan Nadia yang sudah menunggunya di Lobi gedung.
Mereka berdua pun berjalan menuju mobil milik Gandi.
Gandi menyalakan mesin mobilnya kemudian ya segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Bella duduk di sampingnya sedangkan Nadia duduk di kursi belakang dan sibuk dengan layar ponselnya.
Hanya ada keheningan diantara mereka bertiga.
Setelah 20 menit perjalanan sampailah mereka di depan gedung asrama tempat Bella dan Nadia menginap.
Nadia turun terlebih dahulu. Bella juga ingin turun, tetapi Gandi menghentikannya.
"Sebentar duduklah di sini ada yang perlu kita bicarakan," cegah Gandi kembali menggenggam lengan Bella. Menahan gadis itu agar tetap duduk di sana.
"Ada apa Om? tanya Bella menatap ke arah Gandi dengan rasa takut.
"Pakai sabuk pengamannya," titah Gandi.
Bella diam tak menjawab. Pikirannya sibuk menebak-nebak ke mana Gandi ingin mengajaknya.
Apa ini bisa si sebut kencan? Apa Om Gandi akan memberi hadiah sebagai rasa terima kasihnya?
Bella terlalu positiv thingking.
Melihat Bella yang diam saja. Gandhi memasang sabuk pengaman untuk Bella. Secara tidak sengaja tangan kekarnya menyentuh area sensitif di d**a Bella. Membuat Gadis itu menegangkan dan terkejut.
"Maaf!" celetuk Gandi. Sebenarnya Ia tidak merasakan apa-apa. Namun melihat Bella yang begitu Syok dia benar-benar merasa bersalah karena telah menyentuh bagian pribadi dari gadis itu.
"Iya tak apa Om," sahutnya. "Kita mau ke mana?" tanya Bella menguasai debar jantungnya yang berlebihan. Bukan karena murahan, hanya saja Bella memang sangat menyukai pria maskulin itu.
"Kita cari tempat makan," jawab Gandi. "Sudah aku bilang kan ada yang perlu kita bicarakan!" jelasnya.
Gandi menyalakan mobil dan menjalakan ke sebuah tempat makan yang sebenarnya ingin Ia datangi bersama Rena. Untuk mengurangi rasa kecewa tidak ada salahnya mengajak Bella.
"Om," panggil Bella.
"Iya," jawabnya.
"Aku belum izin ke Asrama kalau aku pulang terlambat," kata Bella murung.
"Jangan khawatirkan hal itu!" sahut Gandi percaya diri.
Bella pun mulai nyaman. Adegan romantis dengan Gandi berkelebat di benaknya. Tidak ada salahnya kan Ia membayangkan Gandi menggenggam tangannya seperti tadi.
Bella ingin mengulangnya lagi, di suasana dan tempat yang romantis.
To be Continue