❤ 5 || Jangan campuri Urusanku ||

1462 Kata
Mobil terus berjalan dengan kecepatan sedang. Bella mengalihkan pandangannya ke arah Gandi. Ia hanya ingin melihat sekilas senyum dari pria itu, tapi Bella tidak menemukannya. Yang ada dia melihat bibir Gandi terkatup rapat seolah ada kemarahan di dalamnya. Bella menyapukan pandangan keluar kaca menggigit Bibir bawahnya merasakan firasat buruk. Gandi mungkin akan memarahinya. Firasatnya benar terbukti saat berada di jalan yang cukup sepi Gandi, menghentikan laju mobilnya. Menepi di tempat yang sunyi. "Jangan ikut campur urusan pribadiku! Tahu apa kamu! Kamu tidak lebih dari ABG, jangan sok dewasa dan melakukan tindakan yang mempermalukan dirimu, bukan cuma itu, apa yang kamu lakukan itu juga membuatku sangat malu di hadapan Rena! Mengerti!" jelas Gandi. Kedua manik matanya menatap tajam ke arah Bella. Mendengar ucapan Gandi, Bella bungkam. Tanpa suara, air mata perlahan membasahi pipinya. Ini pertama kali Ia di marahi, dan yang lebih sakit pria yang sudah berteriak dan membentaknya adalah Om Gandi. Pria yang selalu Ia puja dengan seluruh jiwa dan raganya. "Pokoknya, aku tidak suka tindakan bodohmu itu!" bentak Gandi yang belum menyadari jika Bella sedang menangis. Kini Bella tidak bisa menahan isakan, air matanya tumpah. Ia menangis dan suara isakannya terdengar oleh Gandi. Gandi menoleh. Ia melihat bulir-bulir air mata yang lolos dari mata Bella. Terdengar isakan yang semakin sering. "Sial!" umpat Gandi kesal. Ia melayangkan tinju ke setir mobilnya. Kemudian, Ia meraup wajahnya kasar. Benar-benar tidak tahu bagaimana membujuk gadis belia yang sedang menangis di sampingnya. Bella masih menangis. Terkadang, isakannya terdengar keras. Pernafasannya mulai terhalang membuatnya terbatuk berkali-kali. "Astaga!" teriak Gandi semakin kesal. Ia membuang nafas kesal. Memperhatikan Bella yang masih menangis. "Hentikan tangisanmu Bella, aku akan membelikanmu es krim!" bujuk Gandi melihat jam di tangganya yang baru menunjukkan pukul empat lewat lima belas menit. Bella diam, masih belum berhenti menangis. Dia menggelengkan kepala kuat-kuat karena dadanya masih terasa berat. “Yakin kamu tidak mau, ada es krim paling enak di dunia loh?” bujuk Gandi. Tidak nyaman melihat Bella yang masih menangis. Matanya merah dan sembab. Ia yakin jika ada orang yang melihat adegan ini, pasti mereka berpikiran buruk tentangnya. Bella masih diam, hanya saja bola matanya membulat seolah tertarik. Ia penyuka es krim. Rasa es krim yang manis seperti menjadi obat pemanis di jalan hidupnya yang pahit. Bukan hanya itu, es krim yang manis juga mengingatkan kenangan indah bersama kedua orang tuanya yang telah tiada. “Kamu boleh memakan semuanya es krim yang kamu suka,” bujuknya lagi. Melihat ke atas, Gandi masih mencoba membujuk gadis itu. Tampaknya akan berhasil karena air mata Bella sudah tidak keluar. Hanya isakan yang kadang lolos dari bibir gadis manis itu. Kali ini bukan hanya bola matanya yang membelalak. Tangannya pun ikut bergerak. “Ada rasa vanila, coklat, --,” Gandi tidak meneruskan ucapannya. Kini dia melihat binar di tatapan dan wajah Bella. “Ayo, aku ingin makan es krim! ” ajak gadis itu. Ia mengusap pipinya yang basah. Mengambil selembar tisu untuk menekan pelan bagian atas bibirnya yang basah. Gandi tersenyum, Ia menyalakan mesin mobil dan akan segera melajukannya menuju sebuah mall. Ada pilihan es krim dan beberapa camilan yang enak di sebuah food court yang berada lantai teratas sebuah mall. Gandi yakin Bella akan menyukainya. Setelah sepuluh menit perjalanan Gandi menghentikan mobilnya di sebuah area parkir bawah tanah sebuah mall. Kemudian Ia mengajak Bella untuk masuk. Ada eskalator dan juga lift yang di gunakan pengunjung untuk mencapai lantai teratas, yaitu lantai delapan. Gandi mengisyaratkan pada Bella untuk naik lift saja, agar lebih cepat sampai. Bella menurut. Bersama empat pengunjung lain mereka masuk ke dalam lift. Pintu tertutup, lift mulai berjalan naik. Pintu terbuka, refleks Gandi meraih tangan Bella dan mengajaknya menuju tempat makan yang di tujunya. Beberapa orang melirik le arah Bella, yang masih memakai seragam. Gandi tampak cuek dengan pandangan nyinyir orang-orang. Ia pun lebih mempererat genggaman tangannya pada jemari Bella. "Jangan pesan es krim, kita pilih makanan yang lain, ini sudah sore kita pesan seafood saja," kata Gandi yang tiba-tiba merasa sangat lapar. "Aku mau es krim," kekeh Bella. Sudah lama sekali Ia tidak menikmati es krim, seenaknya sendiri Om Gandi melarangnya begitu saja. "Kita bisa makan es krim lain kali, sekarang pilih makanan lain!" titah pria itu menunjukkan kuasanya. Bella menelan ludah. Ia terpaksa menurut ucapan pria itu. Tidak enak jika membantah atau pun menolaknya. Tak berapa lama, hidangan lobster besar dan cumi-cumi yang di masak pedas manis terhidang di meja no 3 itu. Gandi yang selama tiga hari tidak berselera makan menjadi sangat bersemangat. Berbeda dengan Bella yang tampak enggan menyantap hidangan yang ada di depannya. Sebenarnya yang sedang marah itu Om atau aku? Kenapa Om yang lebih bersemangat makan dibanding aku? Batin Bella. Selesai makan Gandi membayar di kasir. Suasana menjadi petang. Arloji di pergelangan tangan Bella pun sudah menunjukkan pukul enam petang. Mereka berdua berjalan ke arah lift. "Kenapa manyun! Apa kamu masih marah?" tanya Gandi. "Tidak!" jawab Bella singkat. Ia berbohong sebenarnya Ia masih kesal karena tidak jadi menikmati es krim. "Lain kali aku akan mengajakmu ke sini untuk makan es krim!" kata Gandi. "Sungguh?" tanya Bella dengan mata berbinar. Gandi mengangguk yakin. Bella tersenyum puas. Akan ada kencan lagi bersama Om Gandi! Ini bisa di sebut kencan kan, apa lagi sekarang Om Gandi hampir bercerai dengan istrinya. Meski sedikit jahat, Bella tampak bahagia, dengan perceraian itu. Jujur mereka tampak tidak cocok dari segi mana pun. Begitu lah pendapat Bella, karena hanya dialah yang cocok untuk pria itu. Gandi dan Bella masuk ke dalam lift. Pintu lift tertutup. Hanya mereka berdua yang ada di dalamnya. Degh! Lift seolah berhenti berjalan turun dan setelah itu penerangan di dalamnya ikut padam. “Om!” panggil Bella. Ia mendekatkan tubuhnya pada pria yang berdiri di sampingnya. Merasa takut, karena cahaya lampu yang hilang begitu saja. “Diam jangan takut!” ucap Om Gandi. Ia berusaha tenang, padahal dirinya merasa khawatir. Sepertinya ada gangguan yang mengakibatkan lift rusak. Pria itu menuntun Bella melangkah mundur, bersandar di dinding kemudian duduk. Lebih mempererat genggamannya pada tangan Bella yang terasa dingin. “Kenapa jadi gelap seperti ini Om, kenapa liftnya juga berhenti!” cerocos Bella karena ketakutan. Gadis itu mendekap lengan Gandi kuat-kuat. “Tenang,” lirih Gandi. Satu tangannya merengkuh Bella dalam pelukan. Kali ini dia akan mencari cara agar ada orang yang menyadari bahwa lift rusak karena mereka terjebak di dalamnya. “Kamu membawa ponsel?” tanya Om Gandi. Ponselnya sendiri sudah lowbat, karena semalam lupa menge charge. “Ini,” Bella memberikan ponselnya. Telapak tangannya sangat dingin. “Kamu, duduk dulu,” pinta Om Gandi. Pria itu menerima ponsel , mulai beranjak dari duduknya. Sedikit cahaya dari ponsel yang dinyalakan membuatnya bisa melihat tombol yang ada di depannya. Gandi menekan tombol lantai satu persatu. Namun, tak ada pergerakan sedikit pun, itu artinya lift rusak. “Om Gandi, kita tidak akan mati di sini kan?” tanya Bella, sangat ketakutan. Keringatnya mulai keluar, baju seragam osis yang dikenakan mulai basah. Rasa takut dan tak ada udara di lift membuat suhu meningkat. Bella tidak bisa berpikir jernih. “Tenang saja, aku akan meminta bantuan dan tidak akan membiarkan kita terjebak berlama-lama di sini,” jawab Om Gandi. Semua tombol lantai kembali di tekan, tetap saja tidak ada perubahan. Gandi, melihat layar ponsel Bella, menyalakan wifi berharap tersambung dengan jaringan internet. Namun, tidak tersambung. Lebih parahnya lagi baterai ponsel akan segera habis. Tak terasa sudah lima belas menit Gandi dan Bella terjebak di dalam lift. Gandi terus saja menekan tombol alarm. Hingga terdengar langkah kaki mendekati lift. Bella mulai merasa tenang. Terdengar jelas, beberapa orang di luar mulai berusaha membuka pintu lift dengan paksa. Gandi dan Bella duduk mencoba menunggu. Menunggu. Masih menunggu. Terus menunggu. Hingga tak terasa hampir satu setengah jam mereka di dalam sana. “Om Gandi,” panggil Bella lirih. Nafasnya sudah begitu sesak. Alas kaki sudah ia lepaskan untuk mengurangi rasa panas dan sesak di dalam lift. Badannya sangat lemas hingga kepalanya terjatuh ke lantai. Ia sudah putus asa, pasrah dan menganggap lobster pedas manis adalah makanan yang ia santap terakhir kalinya. Bahkan Ia belum sempat memakan es krim terlezat di dunia seperti yang di katakan Om Gandi. “Iya,” jawab Om Gandi. Meraih tubuh gadis itu untuk bersandar di lengannya. Dalam kegelapan Bella meraba menghampiri sumber suara. “Sepertinya aku sudah tidak tahan lagi, kalau aku mati bilang sama Nadia kalau aku sangat menyayanginya, terima kasih sudah menjadi teman dan sahabat yang baik. Dan untuk Om Gandi, terima kasih untuk semuanya aku senang bertemu dengan Om Gandi, aku sungguh menyesal kenapa ini terjadi bahkan sebelum aku bisa membalas kebaikan Om Gandi yang telah berbuat baik padaku, dan aku bahkan belum menyatakan cintaku pada Om--!” rancau Bella sambil terbatuk karena sesak nafas. Gandi bangkit, kembali menekan tombol alarm. Kemudian, meraba ke bawah, meraih Bella. Gadis itu sudah tak sadarkan diri. To be Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN