❤ 6 || Khawatir ||

1022 Kata
Seketika pintu lift berhasil terbuka. “Help me!” Teriak Om Gandi, Bella segera di angkat ke tandu dorong yang sudah di sediakan. Gadis itu sudah tak sadarkan diri dengan peluh membasahi tubuhnya. Mereka segera membawanya menuju rumah sakit terdekat. “Bella, bertahanlah!” Om Gandi khawatir di berjalan di samping tandu dorong, setengah berlari. Satu tangannya mengusap pipi Bella. Berharap gadis itu bisa di selamatkan. Dia masih diam tak merespon. Kemudian, gadis itu di bawa masuk ke dalam ambulans. Om Gandi terus memandangi wajah Bella. Ada perasaan menyesal karena tidak membelikan Bella es krim. Jika Bella selamat Ia berjanji akan membelikan gadis itu es krim sebanyak yang dia minta. Arloji di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Pria itu meraih tangan Bella. Petugas medis yang berada di sisi yang lain, sedang memasang infus dan bantuan pernafasan. Meski sangat pelan, Bella terlihat sudah bernafas. Ada denyut lemah di pergelangan tangannya. Ambulance tiba di rumah sakit. Bella di rawat di dalam ruang rawat inap, Om Gandi, menjaga dan terus berada di sampingnya. Keadaan Bella, tidak terlalu berbahaya. Ia hanya merasa lemas karena kekurangan oksigen. Gandi menyuruh asistennya datang, untuk membawa ponsel yang lupa Ia bawa. Om Gandi merasa kelelahan, hanya Ia tetap menahan matanya agar tetap menunggu Bella yang saat ini sudah tidur. Tak lama kemudian Faris datang dengan membawakan ponsel bosnya. Gandi, menyuruh Faris untuk kembali dan Ia pun memberitahu bahwa besok Ia masih belum bisa berangkat kerja. Gandi, menelefon ketua pengurus asrama memberitahukan, kejadian buruk yang menimpa Bella. Setelah Itu, Ia kembali menjaga Bella yang masih tertidur. Pria itu memperhatikan wajah Bella yang sedang terlelap. Khawatir karena tiba-tiba wajah Bella berubah seolah mendapat mimpi buruk. Keringat dingin membasahi pelipisnya. "Bella," panggil Gandi khawatir. Ia berusaha membangunkan Bella dengan menepuk pelan pipi gadis itu. Mimpi itu datang lagi, mimpi buruk yang menghantui tidur Bella. Ia bermimpi di tempat gelap dan terus berlari memanggil kedua orang tuanya. Mimpi mengerikan itu selalu datang dan datang lagi. "Bella," panggil Om Gandi dengan suara lebih keras. Mencoba membangunkannya. Bella pun terbangun dan refleks memeluk tubuh Gandi dengan erat. Pria itu membalas pelukan Bella. Memberikan usapan di punggungnya. Menenangkan gadis itu. "Tenanglah itu cuma mimpi," bujuk Gandi yang tiba-tiba menjadi dekat dengan Bella. Sebelumnya tidak pernah mereka berpelukan seperti itu. "Aku Om," rintih Bella. Semakin mendekat dan memeluk Gandi. "Tenang ada aku di sini!" "Aku takut mimpi mengerikan selalu datang dan datang lagi Om," keluh gadis itu. Perlahan Bella mengurai pelukan Om Gandi. Is kembali merebahkan kepalanya di atas bantal rumah sakit. Ia menyeka air mata yang membasahi pipinya. "Jangan menangis," bujuk Gandi. Telapak tangannya mengusap air mata yang jatuh di pipi Bella. Ikut merasakan ketakutan yang dirasakan gadis ini. Bella mengangguk menahan air mata. "Tidur lagi!" titah Gandi menggeser selimut hingga menutup ke d**a gadis itu. Untuk pertama kali dalam hidupnya Ia merasakan Bella begitu menyedihkan. Sebatang kara, tak punya apa-apa, dan hanya dirinya lah yang di andalkan Bella. Bella menurut, Ia pun kembali tertidur. Gadis itu merasa tenang, pelukan dari tangan kekar yang saat ini sedang duduk di sampingnya itu, benar-benar membuatnya nyaman. Mampu menghapus ketakutan saat mimpi itu datang. Pria itu pun duduk dan ikut terlelap karena, merasa kelelahan. Tidak tega membiarkan gadis itu berada di rumah sakit sendirian. Bella terjaga di tengah malam. Perlahan Ia mengerjapkan mata menyapukan pandangan ke seisi ruangan. Ruang rawat kelas presiden suit, ada satu AC, satu tempat tidur, satu kamar mandi, kulkas, kursi tunggu, meja TV, almari baju, dispenser, sofa, tempat tidur penunggu, ruang keluarga dan satu set meja makan. Ini kali pertamanya, Bella berada di rumah sakit semewah itu. Pandangannya beralih pada Om Gandi yang tertidur. Kemudian, dia mulai mengingat kejadian saat terjebak di lift. Bella bernafas lega, tak menyangka dirinya masih hidup. Bella memperhatikan Om Gandi, merasa senang karena pria itu menggenggam jemarinya. Dia bahkan tersenyum sendiri di tengah malam di ruang sesepi itu. Entah perasaan apa itu, yang jelas Bella bahagia karena Om Gandi masih berada di dekatnya. Hingga pagi menjelang, Bella beberapa kali terjaga, dan selalu mengamati tangan Om Gandi. Ia kembali tersenyum ketika mendapati pria itu masih menggenggam tangannya. Hampir pukul enam pagi. Om Gandi terbangun. Bella berpura-pura memejamkan matanya. “Bella,” Om Gandi memanggil dengan suara lembut. Mengusap punggung tangan Bella. Mengamati wajah gadis itu. Kembali khawatir karena belum bangun juga. Tidak mungkin karena efek obat. Gandi, memutuskan untuk menekan tombol darurat. Tak lama kemudian, seorang perawat datang. Dia memeriksa keadaan Bella dan mengatakan bahwa kondisinya sudah normal, mungkin dia memang sedang tidur. Bella, yang masih pura-pura tidur mendengarkan dengan saksama percakapan Om Gandi dan perawat itu. Akhirnya ia memutuskan untuk membuka mata. Ya! Tidak mungkin menghindari Om Gandi karena pria itu, satu-satunya manusia yang akan mengeluarkannya dari rumah sakit. l “Uhuk,’ Bella pura-pura terbatuk. Membuka matanya perlahan, bersandiwara sebisa mungkin. Malu sekali mengingat kata-kata terakhir yang Ia ucapkan sebelum pingsan. Secara tidak sengaja Ia telah mengungkapkan perasaannya. Semoga saja Om Gandi tidak mendengarnya. Om Gandi, yang sedang berdiri dan merasa putus asa berbalik mendapati Bella yang sudah sadar. Pria itu bergegas, kembali duduk di samping gadis itu. “Bella,” Om Gandi memanggil nama itu, dengan mata berbinar dan bibir melebar. Hatinya merasa lega. Di pandangnya Bella dengan lekat. “Iya,” Bella menjawab sembari mengusap tenggorokannya karena kehausan. Gandi, mengambil air minum yang berada di atas nakas, memberikannya pada Bella. Bella meminumnya perlahan. Dengan tangan kanan Gandi memegang gelas dan tangan kiri merapikan rambut Bella yang tampak berantakan. “Apa yang kamu rasakan sekarang?” tanya Gandi. Ia menaruh gelas air minum yang masih sedikit. Kemudian, kedua netranya kembali menatap lekat Bella. Gandi merapikan rambut bagian depan Bella. Merasa bersyukur sekali bisa mendengar kembali suara perempuan yang ada di hadapannya. Ia sempat sangat khawatir akan hal buruk yang terjadi pada Bella. "Aku sudah membaik Om, aku ingin pergi ke sekolah!" pinta Bella. "Tidak! hari ini kamu tetap harus di rawat, aku akan menelefon ke sekolah, agar kamu tidak perlu berangkat sekolah hari ini," titah pria itu. "Baik Om," Bella menurut kembali merebahkan tubuhnya di ranjang rumah sakit. Dan saat seorang perawat memberikan makan pagi beserta obatnya. Bella sangat berharap Gandi akan menyuapinya. To be Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN