❤ 7 || No Respons||

1044 Kata
Bella masih diam, Ia menunggu Gandi untuk melakukan sesuatu. Namun, sepertinya harapannya sirna karena pria itu bukan mengambil nampan untuk menyuapinya. Gandi terus sibuk dengan ponselnya hingga Ia berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Bella. "Sepertinya aku tidak bisa menunggumu di sini, hari ini kamu beristirahat dan sore nanti aku akan kembali, untuk mengantarmu ke asrama, jaga diri baik-baik ya! Ada pekerjaan yang menungguku!" Suaranya berat seperti biasa. Meski baru mandi dan belum tidur pria itu masih tetap tampan walau hanya berdiri dan diam. "Iya Om," jawab Bella kecewa. Ia pun memainkan jemari tangannya sembari menunduk. Harapannya pupus, Ia mengira dengan memeluknya semalam, Om Gandi menjadi perhatian kepadanya tapi tidak! Kejadian itu sungguh tidak berarti apa-apa bagi pujaan hatinya itu. Buktinya Om Gandi sekarang sedang berjalan ke arah pintu dan meninggalkannya begitu saja sendirian di ruang perawatan yang tampak luas. Sekitar pukul 2 siang setelah jam pulang sekolah. Pintu ruang perawatan terbuka tampak seorang perawat mengantar Nadia ke ruang perawatan Bella. Nadia tidak datang sendiri. Ada Mario yang mengekor di belakangnya. Mario adalah siswa laki-laki yang satu kelas dengan Bella sejak kelas X hingga kini mereka di kelas XII. Bella yang awalnya sudah merasa sangat bosan menjadi ceria karena kedatangan mereka berdua. "Apa yang terjadi padamu?" Nadia berjalan mendekat. Tampak khawatir, karena kemarin Bella masih baik-baik saja. Ia terkejut ketika guru kelas mengabarkan kalau Bella sedang di rawat di rumah sakit. "Semalam aku terjebak di lift, dan aku pingsan," jawab Bella. Mengingat kejadian naas itu. "Apa kamu terjebak di lift bersama Om Gandimu itu?" celetuk Nadia bersemangat. Ia tidak sabar ingin mendengar cerita selanjutnya. Pasti akan lebih heboh dari cerita-cerita yang di kisahkan Bella sebelumnya. Bella mengangguk pelan, menahan senyuman mengingat semalam, pergi makan hanya berdua, itu bisa disebut kencankah! "Siapa Om Gandi?" selidik Mario yang sedari tadi hanya bungkam. Nadia dan Bella saling berpandangan. Tampak diam dan menunggu yang lain berbicara. Hening. Tidak ada yang bisa menjawab. Sebenarnya Mario sangat khawatir mendengar Bella masuk rumah sakit. Selama tiga tahun satu kelas dengan Bella, baru kali ini gadis itu tidak masuk sekolah karena sakit. Kening Mario berkerut dengan kedua alis menyatu tampak tidak suka karena mengetahui bahwa Bella berduaan dengan seorang pria. Sebenarnya sejak pertama bertemu Bella saat MOS, Mario sudah menyukai Bella. Bahkan Ia secara pribadi selalu meminta pada pihak sekolah agar bisa satu kelas dengan Bella. Hanya saja sampai saat ini Mario belum berani mengungkapkan perasaan pada Bella. Rencananya setelah kelulusan nanti, dia akan mengutarakan semua perasaan yang sudah dipendamnya selama tiga tahun ini pada Bella. Di sekolah banyak yang menyukai Bella. Gadis itu cantik, pintar, dan ramah, tetapi Bella juga tidak mudah jatuh cinta. Setiap ada siswa laki-laki yang mendekatinya ia selalu acuh dan tidak memperlihatkan reaksi ataupun menanggapinya. Sehingga perlahan semua cowok di sekolah yang menyukainya menjauh. Namun, tidak dengan Mario dia masih tetap konsisten. Bagaimanapun Bella adalah gadis yang sampai saat ini adalah satu-satunya gadis yang masuk dalam kriteria nya. Melihat reaksi dua gadis yang ada di hadapannya. Mario mencoba bertanya mengenai hal lain. "Jadi kapan kamu boleh pulang Bella?" nada suara Mario lebih tinggi dari sebelumnya. Ada rasa kesal yang tertahan. Dia terus saja bertanya-tanya pada dirinya. Siapa Om Gandi? Apa hubungannya dengan Bella? Kenapa Nadia menyebut Om Gandi seolah pria itu adalah milik Bella? Hati Mario memanas terbakar api cemburu. Bahkan sebelum Ia melihat pria yang bernama Gandi itu. "Nanti sore aku sudah boleh pulang, dan mungkin besok aku sudah masuk sekolah. Jangan khawatir aku baik-baik saja!" jawab Bella. Nadia pun ikut tersenyum mendengar ucapan sahabatnya. Dia merasa lega karena Bella tampak baik-baik saja. "Lantas! Siapa yang nanti akan mengantarmu pulang?" tanya Mario semakin penasaran. Benar-benar tidak ingin jika pria yang bernama Gandi itu yang akan mengantar Bella pulang. "Seseorang yang akan menjemput dan mengantar ku kembali ke asrama," jawab Bella datar, tampak tidak suka dengan Mario yang berlagak tidak menyuakainya. "Apa Om Gandi yang akan mengantarmu pulang?" tanya Nadia dengan mata berbinar. Nadia dan Mario melihat tajam ke arah Bella. Tidak sabar dengan jawaban yang akan diberikan gadis itu. Bella hanya mengangguk pelan. Ada senyum tipis yang menghiasi bibirnya. Pipinya pun tampak merona. Awalnya Mario hanya ingin melihat sekilas dan memastikan Bella baik-baik saja, tetapi kali ini dia berubah pikiran. Setelah melihat ekspresi Bella yang begitu bahagia karena pria yang bernama Gandi itu ingin menjemputnya. Mario memutuskan untuk tetap berada di rumah sakit sampai Bella dijemput. Ia sangat penasaran dengan pria yang bernama Gandi itu. Terpaksa tidak berangkat di jadwal les privat fisika dan kimia nya sore ini. Nadia bertepuk tangan. Paham sekali jika Bella sangat bahagia karena hal ini. Amplop coklat tempat uang yang di beri oleh Gandi saja Bella simpan, memperlakukan kertas coklat yang pernah di sentuh Gandi itu seolah-olah harta paling berharga. Apa lagi Om Gandi mengantarnya pulang, bisa jadi Bella tidak mandi selama tiga hari. Nadia dan Bella pun tampak mengobrolkan hal lain selain Gandi. Sedangkan Mario duduk di sofa, menunggu sembari bermain game online favoritnya. Pukul 17.15 Gandi masuk ke dalam ruangan Bella. Ia mengenakan sweater warna hitam dengan celana jeans warna senada. Sangat kontras dengan kulit wajah dan tangannya yang putih bersih. Nadia dan Bella, menelan ludah bersama melihat pria yang penuh aura yang kini sedang berjalan menghampiri mereka. Bau parfumnya pun tercium meski masih berada jauh dari mereka. Seorang suster yang berjalan mendahului Gandi, berdiri di sebelah Bella melepas infus di tangan gadis itu. Kemudian memberikan penutup di bekas jarumnya. "Aku akan mengantarmu pulang," ucap Gandi tegas. Sekilas mata Bella dan Gandi beradu pandang. Gandi tampak biasa saja, tetapi tidak untuk Bella. Jantungnya berdebar kencang hanya karena satu detik tatapan mata dari pria itu. Nadia membantu Bella turun dari tempat tidurnya. Kemudian Ia mengajak Mario untuk segera pulang. Gandi berjalan di urutan paling depan, sedangkan Bella, Nadia, dan Mario berjalan sejajar di belakang. Ini pertama kalinya Mario bertemu dengan Gandi. Ada satu hal yang dia pahami. Bella bukanlah wanita idaman Gandi. Pria itu terlalu Om-Om untuk Bella yang masih 17 tahun. Satu hal lagi, Mario mengakui jika Gandi memang keren, tampan, penuh aura, trendi, berkarisma, dan maskulin. Namun, Mario sangat yakin jika dia dewasa kelak maka Ia akan lebih keren dan tampan daripada pria berbaju hitam yang sekarang berjalan di hadapannya. "Kamu kenapa?" tanya Bella. Gadis itu melihat Mario yang bersiap memukul Gandi dari belakang. To be Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN