❤ 8 || Alasan ||

1119 Kata
Sampai di area parkir, yang berada di belakang bangunan rumah sakit. Mereka berempat berhenti di mobil. "Kamu dan Nadia duduk di belakang saja!" titah Mario. Ia mendahului Bella yang ingin duduk di depan. Tidak rela jika Gadis itu duduk bersebelahan dengan Gandi. Penampilan Gandi yang modis, dan tipe badboy membuat Mario beringsut. Meski sedikit kesal duduk di belakang bersama Nadia, Bella mencoba menikmati momen ini, mencuri pandang ke arah Gandi, dan menyimpan wajah tampannya sebanyak mungkin. Mungkin bulan depan baru akan berjumpa dengan pria itu lagi. Mobil warna hitam itu pun mulai melaju dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan kota. "Kita makan dulu ya," tawar Gandi dia mencoba perhatian pada 3 remaja yang duduk di mobilnya. "Ya Om," jawab Bella, begitu pun Nadia. Mario memilih diam. Sebenarnya dia ingin cepat-cepat turun dari mobil Gandi, ingin berbicara empat mata dengan pria itu. Kendaraan roda empat menepi di sebuah area parkir Resto dengan steak sebagai menu utamanya. Gandi, Bella, Mario, dan Nadia berjalan masuk menuju restoran. Kemudian, mereka duduk di meja kosong berada di nomor dua dari kasir. Gandi terus sibuk dengan ponselnya. Sementara Mario terus mengawasi Bella yang terus saja mencuri pandang ke arah Gandi. Itu membuat dadanya berat, menahan cemburu. Tunggu! Memangnya Mario berhak cemburu?? TIDAK!! Tak berapa lama pesanan mereka datang. Empat porsi steak dengan varian rasa berbeda dan juga minuman hangat. Bella yang merasa tidak percaya diri dengan penampilannya, izin untuk ke toilet. Nadia ikut untuk menemaninya. Kini di meja itu hanya ada Mario dan Gandi. Kesempatan ini di gunakan Mario untuk mengatakan hal yang mengganggu hatinya. "Perkenalkan namaku Mario," ucap remaja laki-laki sambil mengulurkan tangannya. Kini Ia bisa dengan jelas melihat detail wajah pria dewasa yang menjadi topik pembicaraan Bella dan Nadia. "Namaku Gandi," jawab pria itu membalas jabat tangan dari Mario. "Om tidak berniat mendekati Bella kan? Aku dan Bella sedang dalam tahap pendekatan, aku tidak ingin Om tertarik untuk mendekati gadis pujaanku itu!" tutur Mario menatap tajam ke arah Gandi. Berharap pria dewasa itu mengerti maksud ucapannya. "Tenang saja, Nak, aku tidak akan mengganggu hubungan kalian, Bella bukan seleraku!" jawab Gandi tegas sengaja memancing bocah itu. "Baguslah kalau Bella, bukan selera Om berarti Om belum mengenal pribadi Bella, sudahlah aku takut nanti Om menjadi sainganku!" sahut Mario semakin membuat penasaran. Tidak perlu memberi penjelasan bagaimana Bella sebenarnya. Gandi akan menjadi saingan berat jika pria itu menyukai atau bahkan tertarik dengan Bella. "Tenang saja aku menganggap Bella sebagai adik tidak lebih," ucap Gandi jujur. "Aku percaya, aku harap Om Gandi akan selalu mendukung hubunganku dengan Bella," kata remaja laki-laki itu penuh harap "Tentu saja!" sahut Gandi sembari mengerlingkan matanya. "Tapi kalau Bella menyukai Om Gandi? Apa Om akan membalasnya?" selidik Mario was-was. "Tidak! Aku sudah bilang kan aku menganggap Bella sebagai adik, aku menyukainya itu hanya sebagai adik tidak lebih! Ingat ya hanya sebagai adik!" tegas Gandi kesal. Mario terus saja mengoceh tentang Bella. "Janji Om tidak akan menyukainya sebagai seorang wanita?" tanya Mario yang mulai tidak percaya diri. Kali ini Gandi tidak menjawab. Ia hanya tersenyum merasa lucu melihat tingkah Mario yang seolah-olah khawatir jika merebut Bella dari tangannya. "Memangnya apa yang kamu sukai dari Bella?" tanya Gandi iseng. "Bella itu pintar, baik, dan ceria, wajahnya memang tidak secantik artis korea, tapi dia manis dan tidak membosankan, buktinya selama tiga tahun ini aku setiap hari menatapnya, bukannya bosan tapi aku semakin tertarik!" cerita Mario membeberkan fakta mengenai Bella. Kedua matanya berbinar saat berkisah tentang Bella. Gandi, melebarkan bibir. Tahu apa bocah 17 tahun itu mengenai wanita. Rena istrinya itu cantik, ceria, baik, pintar, manis, tidak membosankan tapi pernikahan yang dibangun dengan sang model sudah di ujung tanduk. Kedatangan Bella dan Nadia membuat Mario bungkam, mereka kembali sibuk dengan steak di hadapannya. Mario melihat ke arah Bella. Rambutnya di sisir rapi dengan jepit bulu warna putih di sisi sebelah kiri. Bibirnya tampak lembab. Dan alis matanya tampak indah. Masih sama, kedua bola mata gadis itu, memang selalu membuat Mario terpesona, dengan pipi merona. Tadi pipinya belum berwarna pink seperti itu. Bella mulai mengunyah makanannya. "Makan yang banyak!" suruh Gandi. "Ya," sahut Bella antusias. Mario mencoba menguasai diri tidak memperlihatkan emosinya ketika Bella terus dan terus menunjukkan perasaan tertariknya pada Gandi. Hingga mereka berempat menghabiskan makanan di piringnya. "Ayo kalian harus pulang sekarang!" ajak Gandi. Formasi di mobil masih seperti tadi. Mario tidak memberi kesempatan pada Bella untuk duduk di depan. Mobil mulai berjalan dengan kecepatan sedang. Tibalah mereka di asrama. Mobil berhenti di gerbang utama asrama. "Terima kasih ya Om," ucap Bella. "Terima kasih ya Om," kata Nadia. "Iya, sama-sama," sahutnya. Bella dan Nadia turun dari mobil. Berjalan masuk ke dalam asrama. Mario melihat punggung Bella. Ada rasa sesak di dadanya. Malam ini, ia mengetahui satu hal kalau Bella menyukai Om Gandi. Untungnya pria yang bernama Gandi itu, tidak tahu, dan tidak menyukai Bella. "Anda benar-benar tidak tertarik dengan Bella kan?" tanya Mario memastikan. "Tidak, aku sudah beristri, dan meski pernikahanku di ujung tanduk, aku tidak mungkin menyukai gadis berusia 17 tahun seumuran denganmu!" jelas Gandi mulai bosan dengan apa yang di ucapkan Mario, seolah Bella mempunya pesona yang luar biasa. Sampai saat ini Gandi belum mendapatkan satu alasan yang membuatnya tertarik pada Bella sebagai seorang wanita, hanya menganggap sebagai adik. "Maaf Om, apa Om Gandi akan bercerai?" lirih Mario mengatakan kalimat itu. Gandi hanya mengangguk, menyunggingkan senyum tipis. Tampak baik-baik saja meski pun sebenarnya hatinya sedang hancur berkeping-keping. "Aku turun di sini saja Om," pinta Mario, dia akan mengambil motornya yang tertinggal di sekolah. "Biarkan aku mengantarmu!" desak Gandi. "Tidak perlu!" tolak Mario. Gandi menepikan mobilnya, membiarkan Mario turun. "Terima kasih Om," tutur Mario. "Sama-sama," Gandi kembali menjalankan mobilnya. "Sial," gumam pria itu ketika melihat dompet milik Bella tertinggal di kursi belakang. Gandi terus berjalan mencoba tidak peduli. Itu salah Bella karena meninggalkan dompet di mobilnya. Sejenak kemudian, Gandi memutar balik mobilnya dan kembali ke asrama! Mengantarkan dompet itu kepada pemiliknya. Tiba di depan gerbang utama. Gandi menelefon Bella melalui aplikasi warna hijau di ponselnya. "Iya, ada apa Om?" tanya Bella terdengar keheranan. "Segera turun, dompetmu tertinggal!" suruh Gandi. "Iya," Tak berapa lama Bella datang menghampiri Gandi di dalam mobilnya. Kali ini Bella sudah menggantinya dengan baju tidur motif kartoon, tampak tipis, usang, kekecilan dan tidak layak pakai karena sudah terlalu lama. "Ini dompetmu." Memberikan benda berbentuk kotak berwarna pink lewat jendela mobil yang terbuka. "Weekend, aku akan mengajakmu pergi!" ajak Gandi yang tidak sengaja melihat belahan d**a gadis itu. Menemukan alasan sebenarnya mengapa Mario ingin mengejar Bella. Bella mengangguk dan tersenyum sangat manis. Dompet itu memang sengaja ia tinggalkan atas saran Nadia. Ya, Gadis 17 tahun masa kini itu pandai. Pandai mencari alasan agar selalu berjumpa dengan pujaan hatinya. Kali ini Gandi setuju dengan Mario, Bella memang sangat manis saat tersenyum. To be Continue.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN