Damian membuka kelopak mata, perlahan. Kepalanya terasa sakit seperti akan meledak. Sementara, sinar matahari menyentuh wajah sampingnya sampai ke netranya. Ia merasa silau, sehingga membalikkan wajah. Netranya menangkap seorang pria yang duduk di sofa. Pria itu tersenyum padanya sembari melambaikan tangan. Damian tak menghiraukan pria itu. Dia beralih menatap langit-langit. Menemukan kalau sekarang dia tidak di kamarnya. Mungkin saja kamar hotel. Pria itu bangkit dari sofa, menghampiri Damian dan tersenyum lagi. “Mau kubawakan sarapan?” “Sarapan?” Damian tak segera menjawab. Kerongkongannya terasa kering. Dia kembali menoleh, hanya untuk mendapati matahari sudah semakin menyengat. “A-air ....” “Kau mau air?” Bastian cepat-cepat mengambilkan air untuk Damian. Sempat ragu dan meng

