Suasana ramai dengan suara musik dan obrolan orang-orang. Namun, pria yang mengenakan setelan suit mahal itu—tidak peduli. Duduk sendirian di depan meja bar sembari meminta Bartender menuangkan bir untuknya. Saat ini Damian tengah menenggak bir ke tiganya. Rambutnya acak-acakan, tak seperti sebelumnya. Damian sangat benci jika rambutnya berantakan, tapi tidak dengan sekarang. Dia membiarkannya keluar dari tatanan, dan menikmatinya. Ada genangan dalam pelupuk Damian, jika diperhatikan dengan saksama. Pria itu tampak seperti sedang patah hati. Dia meletakkan gelas bir di atas meja. Menatap langit-langit dengan mata berkaca-kaca. Tujuannya agar bendungan itu tak menerobos keluar dari pelupuknya. Dia benci situasi ini! Sangat benci. Damian lebih memilih untuk tidak pulang hari ini. Le

