10

1831 Kata
Seperti yang sudah mereka sepakati sebelumnya, beberapa hari berikutnya Zavier membawa Zia untuk menemui orangtuanya. Sekarang mereka sudah tiba di tempat tujuan, dan Zavier memimpin langkah lebih dulu sementara Zia mengikuti di belakang. Pagi itu cukup cerah, namun tak secerah hati Zavier. Tampaknya begitu pun dengan Zia. Istrinya itu jelas tampak murung sejak di rumah tadi dan tidak berusaha untuk menutup-nutupinya. Setelah berjalan cukup jauh, Zavier akhirnya menghentikan langkah. Zia ikut berhenti dan berdiri di sisinya. “Ma, Pa, aku datang,” ucap Zavier pada dua petak gundukan tanah di hadapannya. “Seperti yang aku janjikan sebelumnya, kali ini aku datang bersama seseorang.” Zavier melirik Zia yang wajahnya tampak semakin mendung. Kesedihan menggelayuti wajah cantiknya. Zavier pun mengulurkan tangan untuk meraih pundak Zia agar gadis itu merapat padanya. “Ini Zia, istriku. Menantu kalian yang dulu aku ceritakan.” Zavier mengusap pundak Zia, lalu perlahan mengajaknya untuk belutut di kaki makam. Zia pun menurut. Diletakkannya bunga lily putih yang sedari tadi ada di tangannya ke atas kedua makam tersebut, kemudian mengikuti Zavier yang mulai membaca doa.   ***   Sejak menikah dengan Zavier, Zia sudah tahu bahwa lelaki itu tidak memiliki orangtua lagi. Dan bahkan beberapa waktu lalu sebelum mereka akhirnya tinggal serumah, orangtua Zia juga sudah mengingatkannya kembali mengenai hal ini. Sekarang hanya Zia-lah satu-satunya keluarga terdekat yang dimiliki Zavier karena pria itu juga merupakan anak tunggal. Sama seperti dirinya. Sejak Zavier mengatakan ingin membawa Zia menemui orangtuanya, Zia diliputi rasa bersalah. Sejak kepindahannya ia lupa mengenai hal itu. Harusnya ia segera mengajak Zavier berziarah begitu tiba di sini lebih dari sebulan yang lalu, bukannya sibuk dengan segala kepentingannya sendiri. Bahkan minggu kemarin saat mereka akhirnya punya waktu luang, Zia malah menikmati kencannya dengan Zavier dan melupakan hal tersebut. Sungguh, Zia merasa seperti menantu kurang ajar. “Enam belas tahun lalu, tepat pada tanggal dan bulan yang sama seperti hari ini, aku kehilangan mereka,” ucap Zavier saat mereka selesai berdoa. “Aku seusiamu waktu itu.” Zia melirik Zavier. Tatapan pria itu terpaku pada ukiran nama di kepala makam. Menatap ukiran di dua makan itu secara bergantian. Sementara tangannya kini menyentuh rerumputan di bagian kaki makam. “Terakhir kali aku melihat mereka hari itu, keduanya hendak pergi dan tersenyum padaku. Mereka berdua tampak sangat bahagia untuk menikmati liburan yang sudah cukup lama direncanakan. Tapi, beberapa jam kemudian kabar itu datang,” tutur Zavier penuh nada pahit. “Aku tidak pernah menyangka bahwa itu adalah senyum terakhir yang mereka berikan untukku.” Zia langsung menyambar lengan Zavier dan menatap suaminya dengan sedih. Ia sudah tahu mengenai hal itu. Kecelakaan pesawat. Zavier pasti sangat terluka karenanya. “Jasad mereka ditemukan beberapa hari setelahnya. Dengan kondisi yang...” Entah keberanian dari mana, Zia tiba-tiba langsung memeluk Zavier dengan erat. Sebenarnya sudah sejak tadi ia ingin melakukannya. Agar Zavier tahu bahwa dirinya tidak sedang bersedih seorang diri. Zia bahkan merasa seolah kesedihan yang dirasakan Zavier kini juga terserap padanya. Ia tidak sanggup membayangkan apa yang sudah dialami pria itu dulu. Di usia yang sama dengannya saat ini, Zavier harus menghadapi hal berat seperti itu sendirian. Jika itu terjadi pada Zia, tentu ia tidak akan sanggup. Zia diam-diam menghapus tetes air mata di pipinya yang mengalir tanpa bisa dicegah, sementara puncak kepalanya disurukkan ke leher Zavier. “Hey... mengapa menangis?” Zavier mengusap pundak Zia untuk menenangkan. Zia semakin mengeratkan pelukannya dan berusaha menahan air mata yang tampaknya masih ingin terus mengalir. “Kamu selama ini pasti kesepian ya, Zavi. Aku tidak bisa membayangkannya, di usia muda seperti itu kamu harus menghadapinya sendirian.” Zavier menepuk-nepuk pundak Zia dengan lembut. “Awalnya memang membuatku cukup kesulitan. Tapi aku belajar untuk tetap kuat dan bertahan. Sudah... sudah... jangan menangis lagi. Sudah enam belas tahun berlalu.” Zia perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Zavier lurus. “Kalau kamu merasa sedih, jangan sungkan untuk cerita padaku, ya. Sekarang kamu tidak sendirian lagi.” Zavier tersenyum dan menghapus air mata yang masih tersisa di bawah mata Zia. “Tentu.” Zia kembali memeluk Zavier dan menyandarkan kepalanya di pundak pria itu. “Kamu pasti sangat rindu dengan mereka ya, Zavi.” Zavier hanya bergumam sebagai jawaban, lalu balas memeluk Zia sama eratnya.   ***   Selesai dari makam, mereka kembali ke rumah. Zia langsung minta untuk pulang saja. Rasa sedih masih menggelayuti hatinya. Sebenarnya meskipun sangat dimanja, Zia bukanlah anak yang cengeng. Tapi jika sudah menyangkut hal seperti ini, dalam sekejap ia bisa berubah menjadi kebalikannya. Terlebih karena perasaannya terhadap Zavier yang kini mulai tumbuh lebih jauh dari sebelumnya. “Zavi, aku boleh melihat foto orangtuamu?” pinta Zia begitu mereka tiba di rumah. Sejak tiba di rumah ini, Zia tak menemukan satu foto pun di dinding rumah Zavier. Jadi ia sama sekali tidak tahu bagaimana rupa mertuanya. “Tentu. Ayo kita ke ruang kerjaku.” Zavier menyahut seraya mengajak Zia melangkah menuju ruang kerjanya yang berada di lantai dua. Setibanya di sana, Zavier langsung menuju meja kerja yang terletak pada sisi bagian kanan. Dibukanya laci meja itu dan meraih beberapa kunci yang dikaitkan pada satu buah mainan kunci berbentuk ukiran unik berwarna emas. Zavier kemudian melangkah menuju sebuah lemari yang penuh berisi buku sementara Zia mengikuti di belakangnya. Zavier memasukkan kunci yang tadi diambilnya ke bagian bawah lemari tersebut karena bagian itulah yang memiliki daun pintu berkunci, berbeda dengan bagian atasnya yang terbuka, lalu membuka daun pintunya. Ada dua buah album foto ukuran besar yang ditarik Zavier dari sana. Zia seketika duduk di atas karpet tebal di depan lemari itu sementara Zavier kembali menutup pintu lemari. “Kenapa duduk di sini?” tanya Zavier saat Zia sudah meraih salah satu album yang tadi diletakkannya di atas karpet tersebut. “Di sana ada sofa,” tunjuk Zavier di belakang Zia. “Tidak apa-apa, aku mau duduk di sini saja,” jawab Zia dan langsung menyandarkan punggungnya ke pintu lemari yang sudah tertutup untuk bersandar. Zavier pun akhirnya mengikuti Zia dan duduk di sebelahnya. Zia kemudian membuka album foto tersebut dan menemukan foto sepasang suami istri di halaman pertama. “Itu orangtuaku,” jelas Zavier. Zia mengamati foto tersebut. Dari warna foto yang mulai pudar, tatanan rambut dan pakaian yang dikenakan mereka, foto itu tampak jelas sekali diambil jauh dari masa sebelum Zia lahir. Zia memperhatikan wajah-wajah di foto itu cukup lama. Perempuan di dalam foto itu mirip sekali dengan Zavier. “Kamu mirip ibumu ya.” Zia menoleh pada Zavier sambil tersenyum kecil. Zavier adalah cerminan ibunya versi laki-laki. Zavier mengangguk. “Ya, sepertinya gen ibuku lebih dominan.” Zia kembali ke album foto dan membalik halamannya. “Ibumu cantik sekali, wajar kalau kamu tampan,” gumamnya dengan mata yang terus mengamati foto tersebut satu persatu. “Wah! Ini kamu kan, Zavi?” Zavier mengikuti arah jari telunjuk Zia. “Ya, itu saat aku berusia satu tahun.” “Lucu sekali.” Zia mengusap foto tersebut di bagian wajah Zavier kecil. “Jadi ini kumpulan foto saat kamu masih kecil ya.” “Hmmm.” Zia terus membalik halaman. Ada banyak Zavier kecil di sana. Dari bayi hingga usia sekolah dasar. Ada yang bersama orangtuanya ada pula Zavier kecil seorang diri. Zavier tampak sangat disayang. Membuat Zia merasa kembali sedih mengingat hal tersebut harus diambil darinya saat Zavier seusia Zia dulu. Hingga akhirnya kesedihan Zia teralihkan ketika ia beralih ke album berikutnya dan menemukan foto Zavier yang sudah sudah jauh lebih besar bersama dua orang bocah lainnya. Satu bocah perempuan dan satu bocah laki-laki. Yang perempuan jelas sekali yang paling kecil di dalam foto tersebut. “Ini siapa?” tanya Zia ingin tahu. Jelas sekali Zavier sebagai anak tunggal tidak memiliki saudara. Tapi mereka tampak akrab di foto tersebut. “Sepupuku,” jawab Zavier. Ah, ya tentu saja sepupu, pikir Zia dalam hati. Ia dan sepupunya pun juga akrab. “Ibu kami bersaudara,” sambung Zavier. “Kalian tampak akrab,” gumam Zia sambil memperhatikan foto tersebut. “Apakah mereka bersaudara?” “Ya, kami cukup akrab. Dan ya, mereka berdua bersaudara,” jawab Zavier. “Yang ini Antares, lebih muda dua tahun dariku. Lalu yang ini adiknya, Carissa. Lebih muda tujuh tahun dariku.” Zavier menunjuk foto yang ia maksud satu persatu. Zia mengangguk mengerti. Ia pun melanjutkan kegiatannya, hingga kedua album tersebut selesai. Kini Zia meletakkan kembali album foto itu ke lantai dan fokusnya beralih ke Zavier. “Sejak orangtuamu meninggal, siapa yang menemanimu di sini?” tanyanya. Sebagai anak tunggal tentu Zavier hanya tinggal bersama kedua orangtuanya di sini.   “Tidak ada. Hanya aku sendiri dan bi Inah,” jawab Zavier. “Tapi terkadang adik ibuku dan suaminya yang datang untuk berkunjung. Merekalah yang mengurusku.” “Bagaimana dengan saudara ayahmu?” “Aku tidak pernah mengenal mereka,” jawab Zavier dengan suara pelan. Dari jawaban Zavier, Zia yakin ada yang tidak beres dengan hal itu. Dan seolah tahu bahwa Zia sangat ingin tahu mengenai keluarga ayahnya, Zavier kemudian melanjutkan ucapannya. “Ayahku tidak pernah dianggap dalam keluarganya karena menikahi ibuku.” Zavier memberi jeda. “Jadi... sejak saat itu beliau tidak pernah lagi berhubungan dengan keluarganya.” Zia terdiam. Bingung harus mengucapkan apa. Wajah Zavier tampak biasa saja saat mengatakan hal itu. Nada bicaranya juga, seolah itu bukanlah hal yang cukup penting. Tapi Zia yakin pria itu pasti menyembunyikan sedikit kekecewaan di dasar hatinya atas sikap keluarga sang ayah. “Ibuku hanya dua bersaudara. Jadi hanya itulah keluarga yang kumiliki,” sambung Zavier lagi. Ditatapnya Zia yang sejak tadi hanya diam dan menatapnya dengan sedih. Zavier kemudian tersenyum. “Tapi sekarang sudah bertambah, ada kamu dan keluargamu.” “Selama ini kamu pasti kesepian ya,” ucap Zia pada akhirnya. “Tidak juga.” Zavier mengusap puncak kepala Zia. “Aku belajar menghadapinya dengan baik.” Melihat betapa tenangnya Zavier menjawab, Zia seketika kembali dilanda perasaan untuk maju dan memeluk Zavier. Pria ini tabah sekali. Tapi berbeda dengan keberaniannya saat di makam tadi, sekarang seluruh nyalinya menciut. Ada perasaan malu yang menghalanginya untuk bersikap terlalu agresif seperti itu. Ada juga bisikan yang mengatakan sungguh keteraluan jika Zia menganggap Zavier sangat butuh pelukannya saat ini. Suaminya itu bukan anak kecil lagi yang harus dipeluk setiap waktu. Itu hanya akan mempermalukan diri Zia sendiri jika dilakukannya sekarang. Ia bisa dikira sedang mencuri-curi kesempatan. “Sudah. Jangan sedih.” Zia mengerjap karena ucapan Zavier. “Eh, aku....” “Istirahatlah.” Zavier pun membereskan album foto dan mengembalikannya ke dalam lemari. “Maaf karena harus kembali ke hotel dan tidak bisa menemanimu hari ini.” Zia mengangguk mengerti. Meskipun hatinya merasa sedikit kecewa karena harus ditinggalkan. Tapi Zia tahu ia tak boleh begitu. Ini adalah hari kerja, dan Zavier tidak bisa meliburkan diri seharian penuh. “Tidak apa-apa.” Zia pun berdiri. Ia dan Zavier kini berhadapan. “Oh ya, Minggu besok bi Inah dan Bambang meminta izin untuk menghadiri sebuah acara di rumah saudaranya. Mereka pergi sejak sabtu sore. Jadi tidak ada yang akan membuatkan kita sarapan di Minggu pagi. Kamu mau sarapan apa? Mau coba sarapan di luar?” tanya Zavier. Zia tampak berpikir sejenak. “Hmm... bagaimana kalau aku saja yang memasak? Sebenarnya ada beberapa resep yang ingin kucoba,” tutur Zia malu-malu. “Itu... kalau kamu tidak keberatan sih.” Zavier tersenyum mendengar jawab Zia. “Tentu saja tidak keberatan. Semula kupikir kamu lebih suka kita sarapan di luar karena bosan di rumah.” Zia langsung menggeleng. “Tidak kok. Jadi... tidak apa-apa, kan, kalau aku yang memasak minggu besok?” “Ya, tidak apa-apa,” jawab Zavier, lalu kembali mengusap kepala Zia. Mereka berdua pun kemudian beranjak dari ruangan itu sambil berjalan beriringan. “Aku pergi dulu,” pamit Zavier saat mereka melewati tangga. “Hati-hati,” balas Zia. Lalu, tiba-tiba saja Zavier yang sudah melangkah menjauh, kembali mendekati Zia dan mengecup puncak kepalanya. Membuat Zia seketika merasa seperti tersambar petir. Ini ciuman pertama Zavier padanya. “Jangan nakal,” ujar Zavier, kemudian berlalu begitu saja. Seolah sikapnya barusan tidak memberi efek apa-apa pada Zia. Padahal sesungguhnya, Zia merasa sudah tidak lagi memiliki tulang di kakinya akibat dari ciuman tiba-tiba tersebut. *** Bersambung... Teman2 pembaca yang baik, tinggalin komen juga dong di cerita ini. Selain tap love. Jangan cuma komen di sss aja dong ^^
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN