11a

985 Kata
Sore ini, seperti biasa suasana teras terasa begitu tenang dan damai. Zia bersandar santai di sofa panjang yang terletak di sana sambil menatap ponselnya yang kini menampilkan beberapa resep masakan. Sementara pada meja di hadapannya beberapa kertas dan buku tersebar tak beraturan, dengan sebuah gelas yang sebelumnya berisi jus dan kini telah kosong. Mata Zia meneliti baris demi baris yang tertera di sana. Memilah dengan cermat mana yang kira-kira pantas untuk ia coba sebagai menu masakan mereka di hari minggu yang akan segera hadir dua hari lagi. Hari khusus dimana ia akhinya memasak untuk Zavier. Ada beberapa jenis olahan cumi dan udang yang tertera di sana. Zia tandai resep tersebut sebagai salah satu pilihan untuk menu makan siang, yang nantinya akan ia tanyakan ke Zavier lebih dulu untuk dimintai persetujuan. “Sedang apa?” “Kyaaaa!” Karena terkejut, refleks Zia mengangkat tangannya hingga ponsel yang tadi digenggamnya menghantam sesuatu. Dukkkk! “Aww...” Zia menoleh dan ada Zavier yang sedang mengusap kening dengan mata terpejam di belakangnya. “Oh, Zavi. Maaf... Maaf...” Zia seketika berdiri dan mendekati Zavier. Tangannya diulurkan untuk mencapai kening Zavier yang tadi dihantam ponselnya. “Maaf ya, Zavi.” Zia menatap pria itu dengan cemas dan penuh rasa bersalah saat Zavier akhirnya berhenti mengusap keningnya. “Sudahlah. Salahku yang membuat kamu terkejut.” Zavier melewati Zia dan langsung duduk di sofa yang tadi ditempati Zia. Gadis itu lalu buru-buru menyusul. “Aku suka refleks kalau dikagetkan seperti tadi,” jelas Zia lagi sementara Zavier menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa. “Masih sakit ya?” Zia akhirnya memberanikan diri lagi menyentuh kening Zavier yang tampak memerah. Zavier menangkap tangan Zia dan menjauhkannya dari kepala. “Sudah tidak apa-apa.” Zavier menatap Zia dengan senyum menenangkan. Zia pun akhirnya menarik kembali tangannya, meskipun masih merasa bersalah. Mungkin memang cuma ponsel, tapi Zia tahu rasanya pasti lumayan sakit. “Kamu pulang lebih awal ya hari ini.” “Hmm... Aku bisa pulang lebih awal kali ini.” Zavier menyahut sambil memejamkan mata. “Omong-omong, aku ngantuk sekali. Boleh aku tidur sebentar?” tanya Zavier dengan membuka mata untuk meminta persetujuan Zia. Zia langsung mengangguk. “Tentu saja, kamu pasti lelah.” Mendengar jawaban Zia, Zavier tiba-tiba langsung merebahkan diri di sofa tersebut dan menjadikan paha Zia sebagai bantal. Zia sontak terkejut dan ingin menghindar. Kepala Zavier di pahanya, ya ampun.... “Z-zavi...” Zia terbata. “Tidur di sini tidak nyaman, loh.” Semula Zia pikir Zavier akan kembali ke kamarnya saat mengatakan ingin tidur. Tapi ternyata... “Nyaman kok,” gumam Zavier dengan mata yang sudah terpejam. “Boleh, ya?” Jantung Zia yang berdebar kencang pun semakin menambah temponya. Ini benar-benar tidak baik. Tapi melihat wajah Zavier yang tampak kelelahan membuatnya jadi tak tega untuk menolak. Walaupun kesehatan jantungnya yang menjadi taruhan. Zavier kembali membuka mata. Tanpa berkata, pria itu kemudian meraih sebelah tangan Zia dan menggenggamnya. Dibawanya tangan mereka yang bertautan ke atas perut, lalu pria itu kembali memejamkan mata. Zia terpaku. Zavier tidur di pahanya. Dan menggenggam tangannya. Ini merupakan hal baru yang sangat luar biasa. Demi menyelamatkan jantungnya yang berdentam semakin kencang, Zia berhenti memikirkan sikap Zavier yang mengejutkan ini dan mengalihkan perhatiannya ke kening pria itu. Biarlah. Anggap saja posisi mereka kali ini menjadi pengalaman untuk langkah berikutnya. Bekas merah akibat hantaman ponsel Zia tadi masih terlihat di kening Zavier. Tanpa sadar Zia pun mengangkat tangannya yang tak digenggam Zavier dan mengusap kembali bekas kemerahan tersebut. Seulas senyum terbit di wajah Zavier karena sentuhan Zia. “Jangan berhenti,” ujarnya. Tapi mata Zavier tetap terpejam. Zia terpaku beberapa saat mendengar ucapan suaminya. Tapi, tak lama kemudian ia kembali mengusap  kening Zavier. “Begini?” tanyanya. “Ya,” jawab Zavier tanpa membuka mata. Zia pun akhirnya melanjutkan mengusap kening Zavier. Hingga pada akhirnya pria itu benar-benar terlelap di pangkuannya. Zavier tampaknya merasa nyaman dengan usapan tangan Zia. Walaupun kaki panjangnya harus melewati lengan sofa karena tak cukup, hal tersebut tampak sama sekali tak mengganggunya. Melihat itu, Zia tak kuasa menahan senyuman. Dulu saat masih kecil, Zia gemar sekali merebahkan kepala di pangkuan ibunya. Bermanja-manja seperti ini hingga terlelap. Lalu kini, ia melakukan hal serupa dengan suaminya. Tampaknya hal tersebut juga memberikan efek yang sama bagi Zavier, rasa nyaman yang menentramkan hati hingga membuatnya bisa tertidur pulas. Hal tersebut berlangsung cukup lama, hingga pada akhirnya Zavier terbangun satu jam kemudian dan cemas karena membuat paha Zia yang menopang kepalanya kesemutan.   ***   Minggu pagi, Zavier dan Zia sudah sibuk di dapur membuat sarapan. Zia sibuk di depan kompor, sementara Zavier sedang menyeduh kopi dan segelas s**u untuk mereka berdua. Diam-diam Zavier tersenyum melihat Zia yang tampak gembira sekali menyiapkan sarapan. Saat pertama kali mengenal Zia, dugaan Zavier adalah istrinya ini merupakan gadis manja yang anti dapur. Tapi dugaannya saat itu jelas terbukti salah. Semakin Zavier mengenal Zia, semakin ia tahu bahwa di balik sikap manjanya, Zia adalah gadis yang cukup mandiri dan berani mencoba segala sesuatu. Menu sarapan mereka pagi ini adalah roti bakar yang diisi keju, selada, irisan tomat, dan daging cincang buatan Zia. Sementara untuk menu makan siang nanti, mereka akan membuat cumi pedas manis dan asparagus tumis ebi dari resep yang ditemukan Zia dari sebuah situs memasak kemarin. Rencananya setelah sarapan nanti mereka berdua akan pergi berbelanja bahan masakan tersebut dan memasaknya bersama. Zavier tahu Zia memang tidak terlalu pandai memasak. Tapi dari semangat gadis itu untuk mencoba segala sesuatu, Zavier tidak akan meragukannya. Nyatanya, selama ini masakan coba-coba Zia tidak ada yang gagal. Hanya kurang atau sedikit asin saja. Tapi meskipun demikian, tetap terasa enak. Seperti nasi goreng yang kadang disiapkan Zia untuk sarapan mereka, juga beberapa tumis sayur untuk makan malam. Keduanya kini sudah duduk di meja makan dengan sarapan masing-masing. Dan seperti biasa, setiap kali Zavier mencoba masakan buatan Zia, gadis itu akan menatapnya dengan muka harap-harap cemas. “Enak kok.” Zavier menatap Zia yang duduk di sebelahnya. Zia mengerjap dan tersenyum malu. “Rasanya tidak aneh, kan?” Zavier menggeleng jujur. Ya, tidak ada yang salah dengan makanan mereka. “Sesuai janji, aku akan langsung protes kalau masakanmu tidak enak. Jadi tenang saja,” ujarnya. Sebelumnya, Zia memang sudah memaksa Zavier berjanji untuk jujur setiap kali mencicipi masakannya. Kata Zia, jika Zavier tidak jujur, kemampuan memasak Zia tidak akan pernah berkembang. Zavier tentu saja menyetujuinya. Zia mengangguk senang dengan jawaban Zavier. Gadis itu kemudian kembali fokus ke piringnya sendiri dan mulai menyantap makanannya.   *** Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN