8

1437 Kata
"Zavi, kapan-kapan aku boleh ke rumahnya Kak Fifa lagi tidak?" tanya Zia saat mobil mereka telah mencapai jalan raya. Baru beberapa saat lalu mereka meninggalkan kediaman Fifa. Dan tadi sebelum mereka pulang, Fifa mengatakan pada Zia bahwa gadis itu bisa datang kapan saja ke rumahnya. "Boleh, tentu saja," sahut Zavier dengan melirik Zia sekilas, lalu kembali fokus menyetir. "Belajar sama kak Fifa itu enak banget loh. Penjelasannya nggak bikin pusing." Zia menyandarkan kepalanya dengan tubuh yang condong ke arah Zavier. Matanya tampak betah menatap bagian samping wajah suaminya. "Syukurlah." Zavier kembali menyahut. Tapi dengan jawaban pendek dan tanpa menoleh sedikit pun, membuat Zia cemberut dan akhirnya mengalihkan pandangan ke arah jalanan di hadapannya. Zavier tidak asik. Zia berusaha menekan rasa kesalnya. Niat untuk mengobrol panjang lebarnya lenyap sudah melihat respons yang diberikan Zavier barusan. "Mau nonton dulu sebelum pulang?" Zia yang semula tengah fokus pada beberapa kendaraan yang ada di depan mereka seketika menoleh ke samping. "Nonton? Di bioskop maksudnya?" tanyanya balik. Zavier mengangguk tanpa menoleh. Matanya masih terpaku pada jalanan. "Ya. Kamu mau?" Mendengar pertanyaan itu, seketika rasa kesal yang Zia rasakan sebelumnya menguap tak bersisa. Zavier mengajaknya nonton. "Mau!" serunya bersemangat. Sedikit berlebihan memang, karena ini bukan kali pertama mereka nonton berdua. Dulu saat Zia masih SMA, beberapa kali mereka juga pernah melakukan hal seperti ini. Tapi yang dulu itu sungguh tidak menyenangkan. Mereka memang ke bioskop berdua, duduk bersebelahan, tapi hanya bagai orang asing yang kebetulan duduk berdekatan. Tak ada yang spesial. Dan kali ini Zia berniat memperbaiki hal itu. "Kamu mau kita makan dulu sebelum nonton, atau nanti saja?" tanya Zavier yang pada akhirnya menoleh pada Zia. "Kalau sekarang mungkin agak kecepatan memang untuk makan malam, tapi kalau setelah nonton aku khawatir kamu telat makan." "Kita makan malam di luar? Tidak makan di rumah?" tanya Zia polos. Semula ia berpikir mereka hanya akan menonton saja. Untuk gadis seusia Zia yang masih begitu sensitif dengan hal yang berbau romansa, makan malam bersama pasangan merupakan suatu momen yang sangat spesial. Ini bukan kali pertama mereka makan di luar rumah berdua. Tadi siang salah satunya. Juga bukan makan malam berdua mereka yang pertama selain di rumah pula. Dulu mereka juga melakukan hal seperti ini beberapa kali. Tapi saat itu Zia merasa sedikit tidak nyaman karena Zavier yang menguarkan aura kelam hingga membuat Zia takut untuk mencoba akrab. Dan kali ini jelas berbeda. Meskipun masih ragu ingin menyebutnya apa, Zia merasa dirinya dan Zavier kini sudah mulai "cukup akrab". "Kamu sanggup menahan lapar hingga kita pulang ke rumah?" tanya Zavier. Zia segera menggeleng. Diam-diam ia tersenyum dengan ide penuh kejutan kali ini. Jadi inilah alasan mengapa Zavier menolak ajakan makan malam Fifa dan Althaf tadi dan buru-buru mengajak Zia pulang. Awalnya Zia pikir Zavier memang akan segera membawanya pulang, tapi ternyata dugaannya salah. Makan malam dan nonton. Terdengar seperti kencan, bukan? "Nggak sanggup," jawab Zia kemudian. "Aku pasti kelaparan." Sudut bibir Zavier sedikit terangkat mendengar jawaban tersebut. "Jadi?" "Kalau kamu sendiri gimana?" tanya Zia balik. "Aku akan ikuti keputusanmu. Jadi kamu yang pilih." "Yakin? Terus yang pilih filmnya nanti aku juga, boleh?" Zavier mengangguk. "Semua aku serahkan ke kamu. Aku ngikut saja. Kamu mau makan apa dan dimana juga akan aku turuti." Zia langsung tersenyum lebar. "Nggak boleh ditarik lagi ya omongannya," ucap Zia sedikit mengancam. Zavier hanya menjawab dengan gumaman. Tapi itu sudah cukup untuk Zia. Karena hari ini mereka akan menonton film pilihan Zia. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, saat Zavier menjadi yang paling dominan dengan film pilihannya yang menyeramkan. *** Zavier tak habis pikir bagaimana Korea kini berpengaruh besar pada remaja Indonesia. Salah satunya Zia. Setahu Zavier, istri kecilnya itu memang tidak sampai mengoleksi poster idola dan segala macam atribut untuk fan girling-an seperti yang dianut kebanyakan gadis-gadis muda lainnya. Tapi dengan kejadian hari ini, Zavier mulai curiga jangan-jangan Zia yang tampak lugu dan tenang ini diam-diam punya tempat rahasia khusus untuk hal tersebut. Hal ini tentu saja bukan masalah bagi Zavier. Selama Zia tidak sampai ingin bunuh diri dan menyilet tangan sendiri karena sang idola memutuskan untuk pacaran saja sudah cukup baginya. Mau mengoleksi poster, CD, dan segala macam merchandise, Zavier sama sekali tidak keberatan. Tapi tadi, saat memilih film yang akan mereka tonton, Zavier sedikit terkejut dengan pilihan Zia. Film yang dipilih Zia bukanlah jenis film yang umumnya disukai gadis seusianya. Film fantasy-horror. Setahu Zavier, Zia bukanlah penggemar film horror. Tapi tentu saja hal itu dapat terjawab dengan mudah. Pilihan Zia yang jatuh pada film tersebut adalah karena itu adalah film produksi Korea. Ditambah lagi dengan tempat makan mereka saat ini, Zia memilih restoran Korea yang ada di mal yang sama dengan tempat mereka nonton. Karena itu, Zavier sudah menyimpulkan sendiri, bahwa apa pun yang berbau Korea, tetap memiliki pengaruh pada kebanyakan gadis muda. Bahkan istri kecilnya yang semula ia pikir berbeda, ternyata sama saja. Dalam hati Zavier tidak sabar ingin segera melihat reaksi Zia saat mereka menonton nanti. Akankah Zia menyesali film pilihannya? Ah, seharusnya tadi Zavier memilih studio Velvet Class saja. Pasti menyenangkan sekali menonton film horror dengan sofabed yang luas tanpa penghalang apa pun bersama Zia. Terkutuklah pikiran sopannya tadi, yang dengan bijak mengkhawatirkan diri sendiri yang akan mencuri-curi kesempatan bersama gadis muda di hadapannya ini. Oh, tapi Gold Class sudah cukup memberi privasi, kan? Dasar m***m! Memangnnya apa yang ingin kau lakukan? Berapa umurmu sekarang, hah? Bertingkah layaknya p*****l dengan merencanakan hal-hal kotor pada gadis muda yang terpaut usia sangat jauh darimu ini. Zavier kembali mengutuk diri sendiri bersama pikiran kotornya. "Zavi, tidak suka makanannya ya?" Suara Zia seketika membuat Zavier tersentak. Wajah gadis itu tampak mendung karena Zavier belum juga menyentuh makanan yang ada di hadapannya. Makanan yang tadi dipilihkan Zia untuknya. "Maaf ya, harusnya tadi aku tanya dulu kamu suka masakan Korea atau tidak," ucap Zia lagi. "Bukan itu," sanggah Zavier. "Aku tadi sedang berpikir." "Kamu tidak suka film yang akan kita tonton nanti ya? Tadi aku sengaja pilih itu karena aku pikir kamu akan lebih suka film yang seperti itu." Jadi bukan karena itu film produksi Korea? Tapi hal itu hanya terucap dalam hati oleh Zavier. Ada sedikit penyesalan di hatinya karena tadi sudah perprasangka yang bukan-bukan pada Zia. "Bukan," ucap Zavier akhirnya. "Aku hanya sedang mengingat-ingat apa saja nama makanan ini," tunjuknya pada barisan makanan yang ada di hadapan mereka. Menutupi hal yang sebenarnya. "Kelihatannya enak." Perlahan, wajah mendung Zia berubah menjadi senyuman. "Aku juga lupa. Tapi nanti saja mengingat-ingatnya, sekarang makan saja dulu ya," ujarnya dengan senyum manis sambil menatap Zavier lekat, hingga Zavier akhirnya menyerah dan menyantap makanannya. *** "Zi," panggil Zavier sambil terus fokus menyetir. Mereka kini sudah berada dalam perjalanan pulang. Setelah beberapa jam yang terasa penuh terror karena Zia nyaris tak berani membuka mata sepanjang film berlangsung dan terus menggenggam sebelah tangan Zavier. "Ya?" Zia yang semula sibuk memerhatikan jalanan menoleh. "Kamu merasa malu tidak jalan berdua dengan laki-laki tua seperti aku?" "Tua?" Kening Zia berkerut tak mengerti. Dari mana pula pertanyaan ini berasal? "Kamu nggak tua kok. Baru juga tiga puluh empat tahun." Zavier tersenyum masam. "Sebentar lagi tiga lima. Itu lebih tepatnya." "Itu masih muda kok, Zavi," ujar Zia. "Masa segitu saja sudah disebut tua." "Ya, dibandingkan kamu pasti tua, kan?" Zia bertanya-tanya dalam hati apa gerangan yang membuat Zavier mendadak seperti ini. Seakan pria itu kehilangan kepercayaan diri. Ditatapnya bagian samping wajah Zavier yang tengah fokus ke jalanan sambil berpikir. Lalu, tiba-tiba saja sesuatu menyentak benaknya. "Ah, ini pasti gara-gara di rumah kak Fifa tadi ya," ujar Zia. "Zavi, tadi kak Fifa pesan ke aku untuk disampaikan ke kamu, katanya ucapan suaminya jangan diambil hati. Pak Althaf kadang memang suka asal bicara gitu." Zavier lagi-lagi hanya tersenyum masam. "Bukan karena itu kok. Tapi tadi saat kita jalan, aku merasa banyak orang yang memperhatikan kita. Pasti karena aku yang terlalu tua jika disandingkan dengan kamu." "Kamu salah mengartikan mungkin," ucap Zia tenang. "Bisa saja sebenarnya yang mereka perhatikan itu cuma kamu. Kenapa ada cewek dengan tampang biasa saja seperti aku bisa jalan dengan cowok super tampan seperti kamu." Zavier seketika menatap Zia terkejut. "Aku, super tampan?" Zia mengangguk mantap. "Ya, kamu tampan. Memangnya kenapa?" Sepersekian detik Zavier menatap Zia dengan tatapan tak percaya, sebelum akhirnya menggeleng dan kembali menatap jalanan. "Apa aku orang pertama yang bilang kamu tampan?" tanya Zia lagi. Zavier seketika tertawa. "Tidak. Aku sudah sering mendengarnya dari orang lain." "Lalu?" Zavier kembali menatap Zia, kemudian mengulurkan tangan untuk mengusap kepala gadis itu. "Aku hanya terlalu terkejut mendengar hal itu darimu," jawabnya. *** Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN