Zavier menghentikan mobil persis di depan halaman sebuah rumah yang terletak dalam kompleks perumahan berkonsep terbuka dan didesain tidak berpagar. Halaman kecil itu ditumbuhi rumput hijau dengan beberapa pot bunga mawar yang berjejer di samping teras. Di sisi lainnya, ada sebuah mobil yang terparkir di bawah carport. Zavier menajamkan pandangan untuk melihat nomor rumah, lalu mengamati nomor plat yang tertera di mobil.
"Dari alamat yang diberikan dan ciri-ciri yang disebutkan Mia, sepertinya ini rumah yang dimaksud," ujarnya pada Zia. "Plat mobilnya juga sama."
Zia mengamati rumah dan plat mobil tersebut beberapa saat, memastikannya sendiri. Setelah yakin, ia pun kemudian menatap Zavier. "Kalau begitu ayo kita turun," ujarnya, lalu membuka pintu mobil dan turun. Zia kemudian membuka pintu belakang, lalu meraih tas dan sebuah paperbag berukuran cukup besar yang sebelumnya diletakkan di sana.
Zavier mengikuti di belakang Zia yang berjalan lebih dulu. Istrinya itu tampak begitu penuh semangat. Sejak mereka meninggalkan rumah tadi, Zia memang begitu antusias. Karena tak sabar ingin melihat adik bayi katanya. Bukan karena ingin mengerjakan tugas. Zavier sendiri tidak mengerti mengapa Zia begitu tertarik pada bayi yang bahkan belum pernah mereka temui sebelumnya.
Setibanya di depan pintu, Zia langsung menekan bel. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk berdiri di sana, karena tidak sampai setengah menit, pintu di hadapan mereka segera terbuka.
Seorang perempuan dengan wajah bersahabat muncul dari balik pintu dan langsung tersenyum pada mereka berdua.
"Zia ya?" tanyanya, sebelum Zia sempat bertanya untuk memastikan bahwa mereka tidak salah alamat.
"Iya. Ini Kak Fifa?" tanya Zia balik.
Perempuan itu mengangguk. "Iya," jawabnya lalu mengulurkan tangan pada Zia. Mereka kemudian bersalaman. "Ayo, silakan masuk," ujarnya seraya memberi jalan.
Zavier dan Zia pun mengikuti Fifa memasuki rumah. Dari sikapnya, Zavier merasa perempuan yang menjadi teman Mia ini adalah orang yang menyenangkan. Dilihat dari keramahannya dan juga bagaimana caranya tersenyum pada mereka. Bukan jenis senyum palsu basa-basi. Tapi jenis senyuman yang memang benar-benar bersahabat dan memberi kesan nyaman sejak pertemuan pertama. Diam-diam Zavier bersyukur bahwa ia tidak perlu khawatir jika Zia akan belajar bersama seorang guru Fisika berwajah menyeramkan seperti guru fisikanya di sekolah dahulu.
"Emm... Kak," panggil Zia saat mereka baru berjalan beberapa langkah. "Ini, ada sesuatu buat si dedek." Diserahkannya paperbag ke arah Fifa,
"Eh, ini kenapa repot-repot bawa yang begini segala," ujar Fifa saat menerima paperbang tersebut dari Zia.
"Nggak repot kok, Kak. Cuma hadiah kecil dari kami untuk si kecil yang baru lahir," balas Zia. "Ya, kan, Zavi?"
Zavier yang sejak tadi hanya memerhatikan mereka menganggukkan kepalanya. Tadi sebelum ke sini, selepas makan siang, mereka sempat mampir ke sebuah toko yang menjual pakaian dan peralatan bayi karena keluarga yang akan mereka kunjungi ini baru saja memiliki seorang bayi. Istrinya itu ingin memberi hadiah untuk bayi tersebut.
"Makasih ya," ucap Fifa dengan senyum tulus. Ia pun mengajak Zia dan Zavier menuju ruang tengah lalu mempersilakan mereka duduk di sofa depan televisi. "Tadi susah nggak nyari rumahnya?" Fifa kembali memulai pembicaraan saat mereka sudah mengambil tempat duduk masing-masing.
"Nggak kok, Kak. Zavi bisa menemukan rumah Kakak dengan mudah malah," jawab Zia. "Nggak sampai nyasar juga tadi."
Fifa mengangguk mendengar jawaban Zia. Tepat saat itu, tiba-tiba muncul seorang pria yang Zavier tebak sebagai suami Fifa. Pria itu melangkah mendekati mereka sambil membawa bayi dalam gendongannya.
"Ah, ada dedek bayi," ucap Zia tertahan. Jika tidak ditahan, mungkin Zia sudah menjerit senang. Matanya terpaku pada sesuatu dalam gendongan pria itu. Zavier pun melakukan hal yang sama.
Fifa tersenyum pada suaminya saat pria itu mengambil tempat duduk di sebelahnya. "Kenalin, Ta, ini Zia sama Mas Zavi—"
"Zavier saja," potong Zavier saat Fifa mengenalkan dirinya dan Zia pada suaminya.
"Emm... Zia sama Zavier," koreksi Fifa kemudian.
"Althaf, suaminya Fifa," ujar pria itu seraya menguluran tangan kanannya yang bebas pada Zavier dan Zia.
Zavier membalas uluran tangan Althaf seraya menilai pria di hadapannya ini. Berbeda dari sang istri yang tampak santai dan bersahabat, Zavier bisa melihat Althaf sedikit kaku. Tapi itu bukan berarti buruk. Sepertinya memang pembawaannya saja yang seperti itu.
"Siapa nama dedeknya?" tanya Zia begitu selesai menjabat tangan Althaf. Matanya menatap si kecil dengan antusias.
Fifa menyebutkan nama bayi tersebut. Menggantikan suaminya untuk menjawab pertanyaan Zia.
"Namanya bagus," ujar Zia. "Dan dedek bayinya lucu. Sudah berapa bulan, Kak?"
Zavier melirik istri kecilnya itu yang sejak tadi tidak melepaskan tatapan dari sosok bayi di hadapan mereka. Mata Zia begitu berbinar, dengan tatapan yang tampak penuh damba. Zavier bertanya-tanya apakah Zia juga ingin mereka memiliki bayi seperti pasangan di depannya ini?
"Kemarin pas banget dua bulan," jawab Fifa. Perempuan itu menatap Zia dengan senyum dikulum. "Zia mau punya dedek bayi juga?" tanyanya penasaran, karena sejak tadi melihat Zia yang tampak begitu antusias dengan anaknya.
Zavier terkejut mendengar pertanyaan tersebut. Baru saja ia mempertanyakan hal itu di benaknya, dan kini Fifa sudah membantu menyuarakannya. Oh, tentu saja Mia sudah pasti menceritakan mengenai dirinya dan Zia. Jadi karena itulah Fifa berani membahas soal bayi pada Zia. Zavier pun melirik Zia dengan harap-harap cemas. Penasaran dengan jawaban gadis itu.
"Mmm... Zi pingin sih kak," jawab Zia, namun terdengar tak yakin.
Zavier ingin sekali bersuara dan mengatakan bahwa saat pulang dari tempat ini mereka bisa langsung membuat bayi seperti yang diinginkan Zia. Tapi jawaban gadis itu berikutnya membuat Zavier bersyukur bahwa mulutnya tetap memilih diam.
"Tapi Mami sama Papi sudah terlalu tua untuk bisa ngasih Zi adik."
Begitu mendengar jawaban Zia, Zavier sempat melihat kilat terkejut di mata Fifa. Yang kemudian segera ditutupi dengan senyuman oleh perempuan itu. Zavier tertawa dalam hati. Rupanya Fifa sepikiran dengan dirinya. Jelas sekali maksud pertanyaan tadi sama dengan apa yang Zavier pikirkan. Tapi rupanya, istri kecilnya itu salah menangkap arti sebenarnya.
"Nggak apa-apa, nanti Zia juga kan bisa punya dedek bayi sendiri," ujar Fifa.
Zavier ingin sekali berterima kasih atas pernyataan tersebut. Terimakasih karena Fifa sudah membantu untuk memperjelas hal tersebut pada Zia. Dan Zavier ingin sekali tahu bagaimana reaksi Zia mengenai hal itu.
"Iya sih. Tapi sekarang kan Zi masih terlalu kecil untuk punya dedek bayi, Kak."
Dan jawaban tersebut sudah cukup untuk Zavier. Ia tahu, ia memang tidak punya harapan dalam waktu dekat. Ketertarikan Zia akan bayi sejak tadi adalah karena istrinya ini ingin memiliki adik. Bukan anak. Tentu saja. Terlahir sebagai anak tunggal mungkin sedikit membuatnya kesepian. Pikiran Zavier saja yang lancang berkelana terlalu jauh.
"Dia nggak tidur siang?" tanya Zavier tiba-tiba. Pertanyaan yang ditujukan pada Althaf yang tengah menimang-nimang bayi di gendongannya, karena ia ingin segera menghentikan obrolan mengenai bayi di antara Zia dan Fifa. Ia sudah cukup dengan jawaban Zia tadi. Cukup kecewa.
"Seharusnya sih sudah tidur," jawab Althaf yang menatapnya sekilas, sebelum kembali ke bayinya lagi. Zavier tak menyangka akan langsung dijawab, karena sejak tadi Althaf tampak sibuk menatap bayinya, alih-alih menatap tamunya.
Fifa kemudian ikut memberi penjelasan. "Biasanya nggak selama ini juga dia main-mainnya. Ini anak lebih suka begadang, persis ayahnya. Jadi kalau siang memang tidur sama nyusu saja kerjaannya. Tapi nggak tahu kali ini tumben mainnya lama."
"Ah!"
Zavier menoleh ke arah Zia saat mendengar gadis itu tiba-tiba terkesiap.
"Hai," ucap Zia seraya melambaikan tangan.
Zavier mengikuti arah pandang Zia. Rupanya sekarang Althaf telah mengubah gendongannya, hingga bayi tersebut kini menatap ke arah Zia dan Zavier.
"Ayo, kenalan dulu sama tamu kita hari ini," ucap Althaf kemudian mencium pipi bayinya. Dan seolah mengerti apa yang baru saja dikatakan ayahnya, si kecil itu pun melebarkan mulut membentuk senyuman ke arah Zia dan Zavier.
"Huaaa... lucu banget," Zia menangkupkan kedua tangannya di bawah dagu. Tampak gemas sekali dengan bayi di depannya.
"Zia mau gendong?" tanya Fifa tiba-tiba. Membuat Zavier dan Zia yang tidak menyangka akan pertanyaan tersebut terkejut.
"Memangnya boleh?" tanya Zia tak yakin.
"Boleh kok," jawab Fifa tersenyum. Kemudian diambilnya bayi tersebut dari gendongan suaminya. Berbeda dengan Fifa, jelas Althaf tampak tak setuju. Zavier bisa melihat hal itu dari ekspresi lelaki itu saat melepaskan bayinya. "Sama Tante Zia sebentar ya," ucap Fifa pada anaknya lalu berdiri dari sofa dan berjalan mendekati Zia.
"Begini kan tangannya?" tanya Zia seraya melipat kedua tangannya agar siap menerima si bayi. Sebelumnya ia pernah diajari Mia saat Zia ingin menggendong keponakannya yang baru lahir.
Fifa mengangguk, lalu meletakkan bayinya ke tangan Zia yang sudah siap menyambut.
"Zavi, lihat nih," Zia menoleh ke arah Zavier dengan senyum lebar. Si kecil yang sudah berpindah ke dalam gendongan Zia itu tampak tenang. "Kamu lucu sekali. Juga wangi," ucap Zia pada si bayi lalu mengecup dahinya.
Zavier pun akhirnya mengulurkan tangan dan mengusap kepala si kecil.
"Mirip ayahnya ya?" ujar Zia. Matanya tak lepas dari wajah bayi itu.
"Hmmm... mirip ibunya juga. Lihat dagunya sama dengan dagu ibunya," ucap Zavier.
"Aku bilang juga apa." Althaf menatap istrinya. "Dengar sendiri kan, dia mirip sama kamu. Dagu kalian aja sama."
Zavier menatap pasangan suami istri tersebut. Fifa tampak sedang tertawa mendengar ucapan suaminya.
"Iya, percaya... percaya...," ujarnya. Lalu mendadak seakan teringat sesuatu, ia pun segera menoleh pada Zia dan Zavier. "Eh, kalian berdua mau minum apa? Ya ampun, maaf ya sampai kelupaan."
"Nggak apa-apa kok, Kak," sahut Zia sambil menimang-nimang si kecil dalam gendongannya yang tampak tenang.
"Sebentar ya." Fifa pun segera berdiri dari duduknya. "Oh ya, Ta, awas itu nanti Zia dipipisin. Si kecil nggak pakai popok kan tadi?"
Althaf mengangguk saat Fifa berjalan menuju dapur. "Iya, belum aku pasangin popok sejak pagi tadi." Pria itu lalu menoleh pada Zia. "Saya ambil lagi ya, nanti kamu dikencingin sama dia."
Sedikit tidak rela, Zia pun mengembalikan si kecil pada ayahnya.
Sembari menunggu Fifa kembali dari dapur, Althaf yang semula Zavier pikir akan mendiamkan tamunya dan lebih memilih fokus pada anaknya, ternyata mengajak mereka mengobrol. Hanya sebatas obrolan mengenai kuliah Zia, jurusan yang dipilih, dan kembali ke bayi kecil dalam gendongannya karena Zia kembali bertanya mengenai bayi itu. Hingga akhirnya Fifa kembali dan membawakan mereka minuman.
"Zia belajarnya di dalam aja, biar di sini Omnya yang nungguin bisa nonton TV dan nggak bosan ," ucap Althaf saat akhirnya Zia mengatakan ingin mulai belajar pada Fifa.
Zavier sempat melihat Fifa menyikut suaminya dan sedikit melotot. Membuat Zavier yang semula kesal karena disebut Om mengurangi kekesalannya.
"Ini Zavier suaminya Zia, Ta," ucap Fifa tampak tak enak sambil menatap Zavier. "Kan semalam sudah aku beritahu."
"Oh, iya. Maaf lupa. Maaf ya," ucap Althaf penuh penyesalan pada Zavier.
Zavier hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Memangnya apa lagi yang bisa ia lakukan? Ia memang lebih cocok jadi omnya Zia daripada suaminya.
***
Bersambung...