Zia terbangun karena sebuah kecupan lembut mendarat di pipinya pagi itu. Bukan hanya sekali, tapi dua... tiga... empat... "Pagi, sayang." Sapaan itu menyambutnya begitu Zia membuka mata. Ada Zavier yang telah rapi dan wangi merunduk di atasnya. "Sudah siang. Masih capek ya?" tanya pria itu. Zia menggeliat, tapi tubuhnya terasa pegal-pegal. "Hmmm..." Hanya gumaman yang berhasil lolos dari bibirnya. "Sebenarnya aku nggak suka ninggalin kamu sendirian, tapi hari ini aku harus berangkat kerja," bisik Zavier, lalu menyentuh pipi Zia dengan ibu jarinya. "Kamu istirahat aja, ya?" "Hmmm..." Lagi-lagi hanya gumaman itu yang keluar dari mulut Zia. Zavier tertawa pelan. "Maaf sudah bikin kamu capek. Kalau begitu, selamat beristirahat." Kali ini dahi Zia yang mendapat kecupan. Zia otomatis mem

