Chapter 8 - Bunga Tanda Cinta

1515 Kata
Selepas pergi membeli cincin pernikahan bersama, Darren mengantarkan Karina pulang ke rumahnya. Selama perjalanan, lelaki tampan keturunan setengah Belanda itu nampak begitu bahagia. Entah disadari atau tidak, Darren bahkan menyetir mobilnya sembari sesekali bersenandung ria. Karina, yang saat ini sedang duduk di samping mobil yang sedang dikendarai Darren, malah jadi terheran-heran. “Sepertinya kamu sedang bahagia sekali, ya?” ucapnya bingung. Darren beralih menatap Karina sekilas, “Kenapa kamu berpikir begitu?” Karina tersenyum manis, “Aku perhatikan sedaritadi kamu senyum-senyum sendiri.” Karina terdiam sejenak sebelum kembali bicara, “Oh, dan lagi, tak biasa-biasanya kamu bernyanyi seperti itu. Suaramu bagus juga.” Kedua mata Darren yang berwarna coklat terang itu langsung membulat, “Benarkah? Aku senyum-senyum sendiri daritadi?” Karina hanya mengangguk seraya menatap Darren dengan raut wajah polosnya. Darren tersenyum lebar. ‘Iya, aku memang sedang merasa bahagia karena kamu, Karina,’ benaknya. “Mungkin hanya perasaanmu saja. Aku memang selalu seperti ini kok,” bohongnya. Karina tersenyum miring, “Kamu bohong.” Darren mengangkat kedua bahunya santai, “Terserah apa katamu.” Karina terdiam sejenak untuk berpikir. “Aku jadi ingat dulu, waktu kita pertama kali bertemu di bandara. Sungguh, itu salah satu pengalaman terburuk dalam hidupku,” ucapnya seraya memperhatikan jalanan beraspal melalui kaca jendela mobil yang sedang ditumpanginya. Dahi mulus Darren langsung mengerut, “Kenapa?” Karina tersenyum kecut, “Tentu saja karena keterlambatanmu. Dan lagi, Oom Pieter sama sekali tak memberikanku fotomu. Seingatku, dia hanya bilang apa warna kopermu dan bagaimana bentuk tubuhmu. Kamu bisa membayangkan bukan bagaimana susahnya mencari dirimu di antara lautan manusia? Apalagi bandara sedang ramai-ramainya waktu itu.” Darren menghela napas sejenak, “Yeah, dan aku ingat sekali bagaimana menggelikannya ekspresi wajahmu saat kamu pertama kali bertemu denganku waktu itu. Oh, dan jangan lupakan juga papan bertuliskan namaku. Sungguh menggelikan.” Karina langsung cemberut, “Tapi itu ide yang bagus, tahu! Karena berkat papan nama itu juga kan akhrinya aku bisa menemukanmu? Untung juga tubuhmu tinggi, jadi kamu bisa melihatku dengan mudah saat itu ..” Karina lanjut bicara setelah beberapa saat terdiam sejenak, “Tapi apakah memang semua orang Belanda itu tinggi-tinggi seperti dirimu?” Darren langsung mengangguk, “Ya, rata-rata seperti itu, baik laki-laki maupun perempuan.” Darren lanjut bertanya seraya menatap wajah cantik Karina sekilas, “Kamu sudah pernah ke Belanda sebelumnya?” Karina menggeleng, “Belum. Jangankan ke Belanda, ke Thailand dan Australia saja aku belum pernah. Padahal aku ingin sekali berkunjung ke sana ..” Darren tersenyum ramah, “Kamu mau berkunjung ke Belanda?” Karina langsung mengangguk dengan semangat, “Tentu saja mau, aku tak akan menolak. Tapi berkunjung dengan siapa? Kalau pergi sendirian, aku pasti akan hilang di sana.” Darren menyeringai nakal. “Tentu saja bersama denganku, sayang,” godanya. Karina langsung tersipu malu. “Idih, tak mau ah. Kenapa juga harus bersama denganmu? Memangnya kamu buka jasa tour ke Belanda?” candanya. “Karena sebentar lagi kamu akan segera jadi istriku, Nona Karina,” ucap Darren serius. “Ah, iya juga ..,” ucap Karina kikuk. Darren lanjut bicara, “Dan lagi, aku tak peduli meskipun kamu bersedia atau tidak, tapi yang pasti, kita akan sering berkunjung ke sana nanti.” Darren kembali menatap wajah cantik Karina sejenak lalu mengedipkan satu matanya, “Aku memaksa.” “Dasar ..,” ucap Karina yang wajahnya terlihat semakin merona padam. Beberapa saat setelahnya, Darren langsung menepikan mobilnya sejenak begitu melihat sebuah toko bunga yang terletak persis di pinggir jalanan. “Tunggu di sini sebentar,” ucapnya seraya sibuk membuka seatbelt-nya. Karina menatap Darren bingung, “Kamu mau ke mana?” Darren tersenyum manis, “Tunggu saja di sini.” Lima belas menit kemudian, Darren akhirnya kembali dari toko bunga tersebut. Karina langsung terkejut seketika melihat Darren, yang nampak sedikit kesulitan membawa dua buket besar bunga mawar yang baru saja dibelinya tadi. Satu berwarna kuning, dan satu lagi berwarna merah menyala. Bunga-bunga itu nampak begitu segar, warnanya begitu cerah dan cantik. Sepertinya memang baru dipetik dari kebun bunga langsung. “Eh? Kamu beli bunga mawar? Untuk siapa?” tanya Karina penasaran. Darren tersenyum. “Bunga mawar yang kuning untuk ibuku. Ibu sangat suka dengan mawar kuning,” ucapnya seraya meletakkan sebuket bunga mawar kuningnya di kursi belakang mobilnya. Darren menyerahkan sebuket bunga mawar merahnya untuk Karina setelahnya, “Yang warnanya merah untuk kamu.”   “Untukku?” ucap Karina terkejut seraya menerima sebuket bunga mawar merah yang terlihat amat segar itu. Darren mengangguk seraya tersenyum, “Ya. Kamu suka?” Karina mencium bunga mawar itu sejenak lalu mengangguk, “Suka sekali .. Harum ..” Karina lanjut bertanya, “Kenapa kamu membelikanku bunga mawar merah, Darren?” Darren tersenyum lebar. ‘Sebagai tanda cintaku untukmu, Karina,’ benaknya. “Supaya harganya lebih murah. Toko bunga itu sedang mengadakan diskon, jadi setiap pembelian dua buket mawar warna apa saja akan langsung dapat potongan dua puluh lima persen,” bohongnya lagi. Karina tersenyum kecut, “Ah, begitu .. Jadi karena supaya harganya lebih murah saja?” “Memangnya mau karena apa lagi, hm?” goda Darren seraya mengelus perlahan lengan mulus Karina. “Kalau di film-film, biasanya laki-laki membelikan bunga mawar untuk kekasihnya sebagai tanda cinta. Tapi kalau kamu, malah supaya harganya lebih murah. Dasar cowok tak romantis ..,” canda Karina. Tanpa diduga-duga, Darren langsung mencium dahi mulus Karina. Ciuman bibirnya yang lembut itu perlahan turun setelahnya, mulai dari dahi, kedua pipi, hingga akhirnya sampai di bibir Karina. Darren mengecup bibir Karina sejenak sembari sesekali menyesapnya. Darren tersenyum nakal, “Bagaimana? Sudah romantis? Atau masih kurang?” Wajah cantik Karina langsung merona padam, “Da .. Darren ..” Darren hanya tersenyum lebar sebelum akhirnya mulai menyetir mobilnya kembali. ***** “Terima kasih untuk hari ini, Darren. Terutama untuk kalung dan bunga mawarnya,” ucap Karina pada Darren selepas sampai di halaman depan rumahnya. Darren tersenyum ramah, “Sama-sama.” “Aku masuk dulu,” ucap Karina kikuk seraya sedikit tersipu malu. Karina beranjak membuka seatbelt yang dikenakannya setelahnya, namun naas—entah mengapa, seatbelt-nya malah jadi sulit dibuka. Sepertinya pengaruh karena Karina terlalu gugup. “Bisa tidak?” goda Darren seraya tersenyum geli. “Bisa ..,” ucap Karina yang terlihat masih sibuk berkutat dengan seatbelt-nya. ‘Ah, sial, kenapa seatbelt-nya jadi sulit sekali dibuka?’ benaknya gugup. Darren tersenyum ramah, “Sini aku bantu.” Darren bergerak mendekati Karina setelahnya lalu membantu membukakan seatbelt-nya, “Seperti ini cara membukanya.” Begitu seatbelt-nya sudah terbuka, Darren dan Karina malah jadi saling tatap sejenak. Seperti biasa, setiap kali Darren menatap kedua mata Karina yang cantik itu, dirinya seolah-olah hanyut ke dalam dimensi yang lain. Seolah-olah tertarik masuk ke sebuah tempat—tempat di mana waktu terasa berhenti berdetik sejenak. Darren menyeringai nakal seketika melihat Karina yang nampak semakin gugup. “Kenapa, hm? Kamu gugup, ya?” godanya. “Se .. Sedikit ..,” ucap Karina yang nampak amat salah tingkah. “Kamu cantik sekali, Nona Karina ..,” ucap Darren serius seraya menangkupkan wajah Karina dengan satu tangannya. “Rasanya aku sanggup b******u dan bercinta denganmu semalaman,” ucapnya lagi seraya sedikit berbisik. Kedua mata Karina langsung membulat, “A .. apa yang barusan kamu katakan?!” Darren bergerak menjauh lalu tersenyum lebar, “Sana pulang. Orangtuamu pasti sudah menunggu.” “Selamat sore, Darren,” ucap Karina kikuk sebelum akhirnya pergi meninggalkan Darren. Darren hanya tersenyum lebar seraya mengangguk. Begitu masuk rumahnya, Karina mendapati Raphael, adik laki-lakinya, sedang duduk di ruang tamu seraya sibuk memainkan ponselnya. “Raphael? Ayah dan ibu belum pulang?” tanya Karina bingung. Raphael beralih menatap Karina lalu menggeleng, “Belum. Ayah lembur lagi malam ini, kalau ibu sedang pergi keluar sebentar. Katanya mau membagikan undangan ke beberapa tetangga.” Dahi mulus Karina langsung mengerut, “Undangan? Undangan apa?” “Undangan .. Oh, iya, aku lupa.” Raphael bangkit dari tempat duduknya lalu memberikan Karina satu undangan pernikahannya yang sudah selesai dicetak, “Ini. Undangan pernikahanmu sudah jadi.” Karina menatapi undangan pernikahannya sejenak. Kedua matanya berbinar-binar setelahnya, “Bagus sekali .. Benar-benar dibuat sesuai keinginanku.” Begitu melihat nama Darren Leonhardt yang juga tercetak di atas undangan pernikahannya, tiba-tiba, Karina jadi teringat akan Darren lagi. Dengan sigap, Karina langsung berjalan menuju jendela rumahnya, sekadar ingin melihat apakah Darren sudah pulang atau belum. Dan ternyata, Darren belum pulang. Mobilnya masih ada di sana, di halaman depan rumah Karina. Entah apa yang sedang ditunggunya. “Darren? Kenapa dia masih ada di luar?” ucap Karina bingung. Raphael terdiam sejenak memperhatikan sebuket bunga mawar merah segar yang diberikan Darren tadi. “Itu bunga mawar dari siapa?” tanyanya penasaran. Karina tersenyum manis, “Dari Darren.” Raphael langsung terkejut, “Oh, jadi kalian sudah akrab? Bagus lah kalau begitu.” Raphael lanjut bicara seraya tersenyum geli, “Lucu sekali ya, padahal sepertinya belum lama ini kamu putus dengan Aldric. Dia mantan kekasihmu kan? Aku tak menyangka rupanya kamu tipe perempuan yang cepat move on.” Karina hanya tersenyum. ‘Iya, akupun masih tak percaya. Bagaimana bisa Darren yang akhirnya akan jadi suamiku?’ benaknya. ♥♥TO BE CONTINUED♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN