Chapter 7 - Berduaan di Rumah (part 2)

2739 Kata
Hujan yang tadinya turun rintik-rintik berubah jadi deras tak lama kemudian. Karina mencoba menghubungi nomor ponsel ibu dan adik laki-lakinya, Raphael, setelahnya. Namun sayangnya nihil. Tak satupun dari keduanya yang menjawab panggilannya. Karina mendengus kesal, “Aduh, kapan orang-orang di rumah ini akan pulang?” Karina beralih menatapi jendela kamarnya yang basah dan sedikit berembun itu setelahnya. “Hujannya tambah deras ..,” bisiknya. Tiba-tiba, Darren mengetuk perlahan pintu kamar tidur Karina. “Karina? Kamu masih ada di dalam?” ucapnya dengan suara yang terdengar sedikit kalah oleh suara hujan. ‘Aduh, mau apa lagi sih,’ benak Karina sebal. Karina beranjak dari ranjang tempat tidurnya dan membukakan pintu kamar tidurnya setelahnya, “Iya, sebentar.” Karina menatap Darren bingung,  “Ada apa, Darren?” Bukannya menjawab, Darren malah terdiam di tempatnya seraya menatapi seluruh penjuru kamar tidur Karina. ‘Ternyata seperti ini isi kamar tidur Karina,’ benaknya. Karina menjentikkan jari-jari tangannya yang lentik itu di depan wajah tampan Darren. “Halo? Darren? Kenapa malah melamun?” tanyanya lagi. Darren langsung menggeleng, “Tak apa-apa.” Darren lanjut bicara, “Aku mau makan mie instan. Kamu punya tidak?” Karina menatap Darren curiga, “Kenapa tiba-tiba mau makan mie instan segala?” Darren memutar bola matanya malas, “Di luar kan sedang hujan deras, Karina sayang. Aku butuh sesuatu yang hangat untuk menghangatkan tubuhku.” “Ada di dapur,” ucap Karina acuh tak acuh. Darren meraih pergelangan tangan kanan Karina setelahnya, “Ayo.” “Ayo ke mana?” tanya Karina bingung. Darren tersenyum ramah, “Tentu saja ke dapur, sayang. Memangnya mau ke mana lagi, hm?” Karina langsung menepis tangan Darren dari pergelangan tangan kanannya. “Idih, cari saja sana sendiri. Mie instannya ada di dalam lemari dapur,” ucapnya malu-malu. Darren menaikkan satu alisnya, “Aku tidak mungkin mengobrak-abrik isi lemari dapur orang lain, Karina. Tidak sopan namanya.” Karina menghela napas sejenak, “Ya sudah, ayo.” Setelahnya, akhirnya Karina yang membuatkan Darren mie instan permintaannya. Darren terdiam sejenak untuk berpikir. “Kamu .. pergi dengan siapa tadi?” tanyanya pada Karina yang sedang sibuk menyalakan kompor. “Temanku,” jawab Karina cuek—sama sekali tak memperhatikan balik wajah tampan Darren. Darren mengerutkan dahi mulusnya, “Laki-laki atau perempuan?” Karina menatap Darren malas, “Memangnya penting buatmu?” “Tentu saja,” ucap Darren serius. Bukannya menjawab, Karina malah mengalihkan pembicaraan, “Kamu mau pakai telur atau tidak?” Dengan sigap dan perlahan, Darren beranjak mendekati Karina, menghapus jarak yang tadinya memisahkan tubuh keduanya, membuat tubuh Karina yang mungil itu terhimpit di antara tembok dan tubuhnya sendiri. Darren memegang dagu tirus Karina lalu menatap wajah cantiknya dengan serius, “Kamu selalu menghindari menjawab pertanyaanku, Karina. Apa yang sebenarnya sedang kamu sembunyikan dariku?” “Ti .. tidak ada ..,” jawab Karina takut-takut—dirinya merasa amat terintimidasi dengan tubuh Darren yang tinggi menjulang dibanding tubuhnya sendiri. Darren menatap Karina tajam, “Pembohong.” Karina akhirnya menyerah, “Laki-laki .. Dia ..” Karina terdiam sejenak sebelum kembali bicara, “.. dia mantan kekasihku.” Darren tersenyum kecut, “Mantan kekasihmu?” Karina hanya mengangguk dengan perlahan. Setelahnya, keduanya hanya terdiam seraya terus saling menatap. Tanpa disadari, Darren sudah berhasil membuat jantung Karina berdegup lebih kencang dari biasanya. Oh, bagaimana tidak? Bahkan jika dilihat dari dekat, Darren Leonhardt terlihat begitu mempesona. Wajahnya nyaris sempurna. Nyaris tanpa cela. “Darren ..,” bisik Karina. Darren tersenyum manis seraya menangkupkan wajah cantik Karina dengan satu tangannya, “Kamu tahu, Karina? Ada dua hal yang paling aku benci di dunia ini.” “A .. apa itu?” “Pertama, kebohongan. Dan kedua ..” Darren lanjut berbisik tepat di depan telinga Karina, “Aku tak suka jadi orang kedua.” Karina lanjut bicara seraya menatap Darren nanar, “Kami sudah putus, Darren. Orangtuaku tak pernah menyetujui hubungan kami ..” “Bagus. Aku senang mendengarnya,” ucap Darren seraya menyeringai puas. Darren bergerak menjauhi Karina setelahnya. “Ayo makan. Kamu pasti lapar juga, kan?” ucapnya ramah. Setelahnya, Darren dan Karina akhirnya memutuskan untuk makan bersama di ruang tamu—masih di tengah hujan deras yang turun. “Mie instan buatanku enak juga,” canda Darren seraya tersenyum. Karina menatap Darren sebal, “Idih, dasar. Buatanmu apanya? Yang benar ini mie instan buatanku, bukan buatanmu.” Darren menaikkan satu alisnya, “Aku kan juga membantumu memasak?” Karina tersenyum miring, “Ya, lebih tepatnya membantuku membuka bungkus mie instannya. Bahkan memisahkan putih dan kuning telur saja kamu tidak bisa.” Darren langsung menggeleng, “No, no, bukannya tidak bisa, sayang. Tanganku licin tadi.” Karina tersenyum lebar, “Alasan saja.” Darren lanjut bicara seraya tersenyum, “Aku jadi ingat. Dulu saat aku masih tinggal di Belanda, aku sering minum wine dan makan ayam panggang kalau sedang musim salju.” “Mewah sekali, ya,” ucap Karina seraya menatap Darren terkejut. “Jangan harap ada wine dan ayam panggang lagi setelah kita menikah nanti, Meneer Leonhardt. Kau harus membiasakan perutmu yang sixpack itu untuk makan mie instan setiap hari,” canda Karina. Darren menaikkan kedua bahunya. “Tak apa, asalkan aku bisa menikah dan tinggal bersama denganmu,” ucapnya serius. Rupanya ucapan Darren tadi sukses membuat wajah Karina merona padam seketika. Melihat Karina yang nampak begitu tersipu malu, Darren malah jadi tambah semangat menggoda Karina. “Ada apa, Karina? Kamu sudah tak sabar ya mau merasakan bagaimana nikmatnya malam pertama kita?” godanya seraya menyeringai nakal. Karina memukul lengan berotot Darren, “Ah, dasar m***m!” Darren hanya tersenyum lebar. Selesai makan dan sekadar demi membunuh waktu, Karina memutuskan untuk mencuci piring bekas makannya setelahnya. “Sini, biar aku cuci piringnya,” ucapnya pada Darren. Darren langsung menggeleng, “Jangan, biar aku saja. Kamu duduk saja di sini.” Karina menatap Darren curiga. ‘Tumben sekali dia berbaik hati seperti ini,’ benaknya. “Ya sudah. Yang bersih, ya?” candanya. Darren memutar bola matanya malas, “Iya ..” Selagi Darren sibuk mencuci piring di wastafel, Karina memutuskan untuk kembali menghubungi nomor ponsel ibunya. Naas, kali ini nomornya malah sedang tidak aktif. “Ibu ke mana sih?” ucapnya kesal. Karina beralih menatapi jendela rumahnya yang basah dan berembun karena air hujan itu sejenak. “Hujannya bertambah deras. Bagaimana ini?” bisiknya. Darren kembali menghampiri Karina tak sampai lima menit kemudian. “Ada apa, Karina?” tanyanya penasaran. Karina langsung menoleh, “Hujannya tambah deras, Darren. Aku khawatir ibu dan Raphael tak akan pulang.” “Ayahmu?” ucap Darren seraya merebahkan dirinya di atas sofa empuk persis di samping Karina. Karina menggeleng perlahan, “Kalau ayah sudah pasti lembur. Semoga saja malam nanti hujannya sudah reda ..” Darren menatap Karina serius, “Hmm .. itu artinya aku akan terjebak di rumah ini berduaan saja denganmu?” “Kamu boleh pulang sekarang kalau kamu mau,” ucap Karina cuek. Darren langsung menggeleng, “Tidak. Hujannya masih deras, bisa-bisa malah aku jatuh sakit.” Karina tersenyum tipis. ‘Sial,’ benaknya. Entah disadari atau tidak, setelahnya, Karina malah nampak amat gelisah di tempat duduknya. Darren menyeringai puas, “Ada apa, Karina? Kamu terlihat sangat nervous.” Karina langsung menggeleng. “Tidak apa-apa,” bohongnya. Seringai di wajah tampan Darren melebar, “Aku harap kamu membiasakan dirimu, Miss Karina. Toh sebentar lagi kita akan tinggal serumah, kan?” Darren terdiam sejenak sebelum kembali bicara, “Oh, aku lupa. Bahkan sebentar lagi kita akan tidur di atas ranjang yang sama.” Wajah Karina merona padam seketika. Ucapan Darren sukses membuat Karina semakin gugup. Darren beralih menatapi jendela rumah Karina. “Lihat ke luar sana. Hujannya tambah deras. Kira-kira, apa ya hal yang paling enak dilakukan saat sedang hujan deras seperti ini?” godanya. Karina beralih menatap wajah tampan Darren, masih dengan wajah cantiknya yang terlihat merona padam. ‘Bercinta?’ benaknya. Karina langsung membuang muka dan menggelengkan kepalanya setelahnya. ‘Astaga, apa sih yang sedang aku pikirkan?’ benaknya. “Wajahmu memerah. Apa yang sedang kamu pikirkan, hm?” goda Darren seraya merangkul manja pundak sempit Karina. Darren lanjut berbisik tepat di depan telinga Karina, “Aku harap kamu tidak berpikir yang aneh-aneh tentangku, ya.” Karina langsung bergerak menjauh, “Ah, dasar!” Setelahnya, dengan amat cekatan dan terburu-buru, Karina langsung bangkit berdiri dari tempat duduknya, “Aku mau ke kamarku dulu.” Belum sempat Karina berjalan, Darren sudah keburu memegangi pergelangan tangannya duluan, “Stop.” Darren lanjut bicara seraya menatap Karina serius, “Temani aku di sini, Karina.” Karina langsung salah tingkah, “Ta .. tapi .. Aku harus ..” “Harus apa, hm?” ucap Darren seraya mengajak Karina untuk duduk kembali bersama dengan dirinya di atas sofa. Darren beralih menangkupkan wajah cantik Karina dengan satu tangannya, “Jangan berbohong padaku, Nona Karina. Kamu sudah tahu kan kalau kebohongan adalah salah satu hal yang paling aku benci di dunia ini?” Karina langsung menepis tangan Darren dari wajah cantiknya dan mengangguk. “Iya! Kamu benar! Kamu sudah membuatku gugup, Darren! Puas?” ucapnya dengan wajah cemberutnya. Tawa Darren langsung pecah saat itu juga, “Sudah aku duga.” Darren lanjut bicara seraya tersenyum manis, “Kamu tahu? Ada satu hal yang tak pernah gagal aku lakukan sepanjang hidupku.” “Apa?” tanya Karina penasaran—masih dengan wajah cemberutnya. Darren tersenyum puas, “Membuat perempuan manapun yang aku temui nervous.” Karina menatap Darren sebal, “Dasar playboy ..” Darren langsung menggeleng, “Tidak. Aku bukan playboy, jadi jangan panggil aku playboy.” “Aku tak percaya padamu. Dasar pembohong.” Darren menghela napas sejenak, “Terserah apa katamu. Tapi yang pasti, sepanjang hidupku, aku hanya tiga kali mengalami yang namanya jatuh cinta pada seorang perempuan.” “Benarkah?” ucap Karina terkejut. Darren mengangguk, “Iya. Pertama, dengan ibuku. Aku sudah mencintai ibuku bahkan sejak pertama kali aku dilahirkan ke dunia ini. Kedua, dengan mantan kekasihku yang sekarang masih tinggal di Belanda.” Karina menatap Darren penasaran, “Kenapa kamu memutuskan hubungan dengannya?” Darren menggeleng, “Bukan aku, dia yang memutuskan aku. Dia bilang dia ingin fokus dulu pada karir dan pendidikannya, sementara papa sudah tak sabar ingin segera melihat aku menikah.” Darren terdiam sejenak seraya memperhatikan wajah cantik Karina sebelum akhirnya kembali bicara, “Dan yang ketiga ..” “Siapa? Pacarmu yang sekarang?” ucap Karina yang merasa tambah penasaran. Darren langsung menggeleng. “Bukan, aku sedang tidak punya kekasih sekarang,” ucapnya serius. “Lalu?” tanya Karina lagi. ‘Aku rasa orang yang ketiga itu adalah dirimu, Karina,’ benak Darren getir. “Lupakan saja,” ucapnya seraya kembali menggelengkan kepalanya. Karina terdiam sejenak untuk berpikir. “Hmm aneh sekali ..,” ucapnya. Dahi mulus Darren langsung mengerut, “Aneh apanya?” Karina menatap Darren curiga, “Aku masih tak percaya lelaki sepertimu hanya pernah pacaran satu kali saja seumur hidup.” “Mantan kekasihku memang banyak, tapi hanya dia yang benar-benar aku cintai sepanjang aku menjalin hubungan,” ucap Darren santai. Karina menatap Darren penasaran, “Siapa namanya?” Darren menghela napas sejenak, “Veronica. Dia perempuan asli Belanda, kami pertama kali bertemu di Utrecht dulu.” Karina mengangguk perlahan, “Ah, begitu ..” Karina lanjut bertanya, “Orangtuamu .. menyetujui hubunganmu dengan Veronica?” Darren tersenyum kecut, “Ibuku setuju-setuju saja, tapi kalau papa, kurang menyetujui hubunganku dengan dia.” Seketika, Karina malah jadi teringat pada Pieter Leonhardt, ayah kandung Darren. ‘Berarti benar, Oom Pieter memang sudah lama menginginkan aku menikah dengan Darren,’ benaknya. “Lalu ..” Belum sempat Karina menyelesaikan ucapannya, Darren sudah keburu angkat bicara duluan. “Please, stop, Karina. Berhenti mewawancaraiku lagi. Lagipula aku sudah lama melupakan Veronica. Dia hanya bagian dari masa laluku sekarang,” ucapnya yang merasa sedikit kesal. Ya, Darren memang paling tidak suka kalau diminta untuk membahas masa lalunya. Karina langsung cemberut, “Ah, padahal masih banyak yang mau aku tanyakan padamu ..” Darren tersenyum manis. “Daripada menanyakan soal Veronica, lebih baik kamu menanyakan soal aku. Apa yang mau kamu ketahui tentang diriku, Karina?” godanya. Karina langsung menggeleng. “Tidak ada,” ucapnya cuek. Darren menyeringai nakal. “Benarkah?” ucapnya seraya mengelus perlahan pipi mulus Karina dengan ibu jarinya. “I .. iya ..,” ucap Karina kikuk. Darren tersenyum lebar, “Ayo main ular tangga. Aku mulai merasa bosan.” “Aku tidak punya papan permainan ular tangga ..” Darren mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana jeans-nya setelahnya, “Ini, main lewat ponselku saja.” Setelah mengabiskan beberapa menit waktunya untuk bermain ular tangga digital bersama dengan Darren, Karina akhirnya lanjut bicara lagi. “Ah, sial! Masa aku kalah bermain ular tangga denganmu?” ucapnya kesal. Darren menyeringai puas, “Mungkin kamu memang tidak berbakat main ular tangga.” Karina terdiam sejenak seraya memperhatikan jam yang terpatri di dinding rumahnya. Waktu menunjukkan hampir pukul tujuh malam. “Sudah malam .. Kenapa orangtuaku tak kunjung pulang, ya?” ucapnya khawatir. Darren mengangkat kedua bahunya dengan santai, “Entah. Sepertinya aku memang harus bermalam di sini.” Karina langsung menggeleng, “Ah, enak saja! Pulang sana, Darren!” “Tidak, bahaya kalau aku meninggalkan kamu sendirian,” ucap Darren seraya mengerutkan dahi mulusnya. Setelahnya, lagi-lagi, keduanya hanya terdiam seraya terus saling menatap. Entah mengapa, setiap kali Darren menatap Karina, waktunya seolah-olah terasa berhenti berjalan. Seolah-olah kedua mata Karina yang cantik itu menghipnotis dirinya, membawanya masuk ke dalam dimensi lain. Karina menatap Darren bingung. “A .. ada apa, Darren?” tanyanya yang merasa amat salah tingkah. Darren menatap Karina serius, “Sepertinya kamu tidak pernah menyadarinya, Nona Karina.” “Menyadari apa?” tanya Karina penasaran. “Menyadari, betapa cantik dan menariknya dirimu,” jawab Darren serius. Wajah Karina langsung merona padam, “Dasar gombal ..” Darren tersenyum lebar, “Aku bersungguh-sungguh, Karina.” Darren lanjut bicara seraya menangkupkan wajah Karina dengan kedua tangannya, “Dan sepertinya, benar apa yang pernah dikatakan Veronica padaku dulu. Pilihan orangtuaku tak akan pernah salah.” “Darren ..,” bisik Karina. “Shh ..” Dengan perlahan, bibir Darren dan bibir Karina akhirnya bertemu. Menyatu dalam sebuah ciuman yang terasa begitu manis dan b*******h. Sesekali Darren menyesapi bibir Karina, mengeksplor mulutnya dengan indera pengecapnya, membuat sekujur tubuhnya terasa terbakar oleh panasnya bara asmara. Cukup lama keduanya saling b******u, hingga akhirnya, dengan amat terpaksa, Darren melepas ciumannya selagi dirinya bisa dan selagi dirinya masih memiliki kontrol atas dirinya sendiri. “Karina .. aku .. maafkan aku ..,” ucapnya yang merasa amat bersalah pada Karina. Karina menggeleng perlahan, “Ti .. tidak apa-apa, Darren ..” Darren beralih menatap Karina serius. Napas Karina terlihat masih agak terengah-engah. Bibirnya terlihat sedikit membengkak akibat ciuman panas Darren tadi. Oh, entah mengapa, Karina Hadriana malah terlihat begitu menggairahkan. Akhrinya, Darren Leonhardt menyerah. Gairahnya seketika mengalahkan pikirannya sendiri. “Damn,” bisik Darren sebelum akhrinya kembali menciumi bibir Karina, kali ini dengan ciuman yang terasa lebih liar dan menuntut dibanding sebelumnya. Jari-jari tangan Darren yang nakal itu mulai bergerak perlahan, meremas gundukan ranum Karina dari balik kaus dan bra-nya. “Mphh ..,” erang Karina. Darren melepas ciumannya, lalu beralih menciumi sambil sesekali menyesapi leher jenjang Karina—seraya terus meremas gundukan ranumnya. “Ahh ..,” desah Karina yang semakin terbuai dalam permainan panas Darren. Tanpa sadar, jari-jari tangan Darren mulai turun perlahan setelahnya, hingga akhirnya sampai tepat di depan area intim Karina. Dengan amat perlahan, Darren membelai lembut lubang surga Karina yang sudah sedikit basah itu dari balik celana pendek dan panties-nya. “Ahhh Darren ..,” desah Karina lagi. Tin!! Bunyi klakson mobil yang begitu memekakan telinga terdengar tiba-tiba. Dengan sigap, Karina langsung mendorong tubuh Darren ke belakang. “Sial, menganggu saja,” umpat Darren yang merasa amat kesal karena ‘aktivitas favoritnya’ harus terganggu. Karina langsung bangkit berdiri. “Sepertinya ibu sudah pulang. Aku .. aku buka pintu gerbangnya dulu,” ucapnya dengan raut wajah yang terlihat amat kikuk. Darren tersenyum manis seraya mengangguk, “Silahkan.” Dengan cekatan, Karina langsung keluar dari rumahnya dan membukakan pintu gerbang rumahnya untuk orangtuanya. Ya, mungkin memang belum saatnya bagi Darren dan Karina untuk bercinta, mengeskplor indah dan nikmatnya tubuh masing-masing. Tanpa sadar, sebuah senyuman puas langsung menghiasi wajah tampan Darren. ‘Aku pasti bisa memiliki hatimu suatu saat nanti, Karina,’ benaknya seraya mengingat kembali betapa manisnya bibir Karina tadi. ♥♥TO BE CONTINUED♥♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN