5. fingers crossed.

1529 Kata
Kamga masih berdiri di tengah-tengah walk in closet di mana kalau boleh jujur, terlalu mewah serta luas untuk sekadar menampung seluruh outfit-outfit yang dia punyai. Namun, ya, sangat sulit membujuk Sana, terlebih di dunia ini, mereka hanya memiliki satu sama lain, agar nggak selalu ikut campur guna mengurusi segala t***k-bengek—sampai-sampai ke level perintilan-perintilan remeh semisal, kayu jenis apa yang sebaiknya dimanfaatkan buat bahan lemari yang bakal diletakkan di dalam walk in closet Kamga—perkara hidupnya. Lalu, bicara soal lemari, itu akhirnya Sana putuskan untuk dirakit khusus oleh ahlinya langsung di sentranya, kota Jepara. Memakai kayu jati bermutu tinggi, yang masih kata Sana, bisa tahan hingga lima puluh atau malah seratus tahun lamanya. Meski, dengan tabiat Kamga—yang saking sibuknya di luar, mandi aja kalau ingat, apalagi sebatas ngerawatin lemari—sepertinya umurnya belum tentu dapat seawet itu sih. Lagi pula, jika makin dipikir walk in closet berharga fantastis tersebut toh, nggak fungsi-fungsi amat buat menunjang kebetuhan hidup Kamga. Bisa dilihat dari lemari di hadapan pria itu—dengan lebar mungkin dua kali tinggi badannya—kondisinya nyaris kosong melompong. Beberapa lembar kemeja putih yang tergantung di-hanger betul-betul tampak kesepian saat menerapkan social distancing bersama beberapa potong celana bahan hitamnya yang terlipat rapi di sudut lemari. Ah! Benar. Kamga bahkan hanya tahu dua warna dalam hidupnya. Hitam dan putih. Walau belakangan, lamat-lamat mulai muncul setitik warna lain yang sampai detik ini Kamga masih kebingungan mengidentifikasi apa gerangan nama warna itu? Apakah jingga? Merah? Atau, justru ... merah muda? Persis seperti warna dua buah sandal jepit yang menyempil di atas rak berisi sepasang sepatu pantofel juga sejumlah sneakers andalan serba hitamnya. Satu-satunya hal kontras—sama sekali bukan Kamga sekali—yang udah satu tahun ini dia dapatkan sebagai hadiah ulang tahun paling tak masuk akal, tapi toh buktinya lantas menjadi bagian dari penghuni tetap walk in closet-nya. Ya, begitulah. Nggak ada yang benar-benar terjamin kepastiannya dalam hidup ini kan? Utamanya dalam hidup Kamga sih, yang begitu mirip dengan ledakan-ledakan kembang api pada malam tahun baru. Kadang sebegitu kuatnya gelegarnya di angkasa, sampai-sampai lemparan cahaya terangnya sanggup menyapu bersih gelapnya langit malam. Kadang, saking lemahnya, ya hanya berupa percik-percik aja di atas kepala. Namun, semuanya singgah bersama cara yang sama, yaitu diledakkan oleh orang lain. Entah kapan waktu persisnya. Kamga cuma boleh menunggu untuk bisa menyaksikan pertunjukan itu. Lucu sekali kan? Padahal ini ... murni kehidupannya, tapi dia seolah tak memiliki kendali penuh terhadapnya. Entahlah. Satu napas Kamga kemudian terhela panjang, dibarengi dengan tangannya yang buru-buru meraih sebuah jam tangan pabrikan lokal—seingatnya, brand-nya sempat ada berkolaborasi bersama Srivarani Wang—sebelum, telinganya menajam sewaktu mendengar seruan dari luar yang berkali-kali menyebutkan namanya. Sengaja mengabaikan jas-jas yang tergantung begitu saja—karena, sumpah, meski tahun-tahun telah bergulir, dia masih tetap merasa jika pakaian yang menurut Sana, teramat kapabel demi menunjang kepercayaan diri serta dapat mengantrol efek kompetensi miliknya di mata orang lain, tapi sungguh rasanya masih seperti tercekik setiap Kamga nekat mengenakannya—dia keluar untuk melihat Aswa telah berdiri di muka pintu kamarnya sambil menyengir lebar. "Butuh dipakaikan dasinya sekalian, Pak?" tangannya mengangkat seikat dasi hitam bermotif pin dot yang kontan dibalas Kamga melalui satu kali putaran bola mata bosan. Pak, Pak, Pak! Kamga paling geli jika Aswa udah mulai menegurnya sok sopan begitu. "Kejedot angin kepala lo?" timpal Kamga tak nyantai sambil mengempaskan diri, duduk di atas ranjang king size-nya. Aswa terkekeh, tapi cuma sedetik. Sebab, detik berikutnya air mukanya telah sukses berubah jauh lebih serius tatkala menodong, "Mobil lo di depan baret. Perasaan, gue kemaren nggak jadi nubruk. Lo gagal parkir?" Kamga bahkan belum sempat mengkonfirmasi apa pun, sayangnya mulut Aswa mungkin telah terlalu gatal untuk mengomel, "Udah gue bilang kan, bukan keputusan tepat lo nyetir sendiri. Harusnya, semalem tuh gue nggak usah ngedengerin bualan lo!" "Dan, ngebiarin Nyokap lo sendirian di rumah sakit?" balas Kamga kilat. "Udahlah, gue cuma nyerempet." "Bukan salah parkir?" "Gue nyerempet mobil orang." Di tempatnya berdiri Aswa sontak menampilkan wajah terkejut yang sangat lebay. Jari-jarinya bahkan dia larikan ke pelipis untuk melakukan gerakan memijit seolah dia punya penyakit migren. "Tuh kan!" Aswa nyaris menggeram. "Mestinya, semalem langsung gue tolak waktu lo nyaranin buat putar balik naik ojol! Mestinya, gue tetap nyupirin lo nyampe ke Skye bukannya malah ngasih kepercayaan untuk lo nyetir sendiri! "Sekarang gimana, hah? Mana? Mana nomor kontak orang yang lo serempet itu? Dan, yakin lo cuma nyerempet? Udah hubungin pihak asuransi belum? Kejadiannya di mana? Hah? Lo ada urusan sama pihak berwajib? Atau, perlu gue cari dan temuin orangnya buat ngewakilin lo minta maaf? Terus, lo ... pasti udah ngasih kompensasi kan?" Belum. Ya, belum ada satu pun dari daftar yang dijembrengkan Aswa barusan yang telah Kamga lakukan. Pun, sayangnya, Kamga sedang enggan kembali mengingat tentang hal itu. Jadi, ia mengibas pelan. "Udahlah. Udah lewat juga. Gimana sama progress soft opening di The Peninsula?" "Ya ... beres sih. Sehabis kemaren ada gagal nge-taken kerja sama bareng DJ Snake, kita langsung hubungin the best local celebrity DJ. Dan, 99% dipastikan dia bakalan gabung buat ngisi event VIP party kita di hari kedua. Cuma lo yakin nggak mau pilih Singapura aja? Atau UAE deh, kalau nggak sekalian USA?" "Lo udah tanyain itu satu setengah tahun yang lalu," tanggap Kamga. "Satu setengah tahun lalu, satu bulan lalu, satu minggu lalu bahkan satu hari lalu, gue tanya juga," Aswa membenarkan. "Kenapa?" Kamga menyatukan ruas-ruas jarinya lalu, menumpukan tangannya yang hampir-hampir terkepal tersebut persis di atas dengkul, seraya melirik Aswa melalui ekor matanya. "Karena, setelah sejauh ini dan sampai hari ini, usaha gue masih tetap terasa meragukan?" sambungnya. Atau karena, Kamga memulainya tanpa bekal? Karena, sebelum ini dia hanyalah seorang pria yang sekadar tahu bagaimana caranya menendang bola demi menjebol gawang lawan? Atau ... karena dia adalah pemain cadangan yang kebetulan sedang Sana butuhkan—mungkin sementara—untuk menggantikannya? Karena, tempatnya kini dia dapatkan berdasarkan belas kasihan dan bukannya kemampuan? Sederhananya, Kamga nggak pantas berdiri di atas podiumnya sebab, dia bukanlah juara sesungguhnya. Gitu kan? Namun, tak jauh di sisinya Aswa justru menggeleng. Tampak meyakinkan. "Bukan. Lo selalu bekerja keras dan memutuskan segala sesuatunya dengan matang atas asas kepentingan perusahaan. Gue percaya. Tapi, lo tahu kan kita punya pilihan yang mana faktor resikonya lebih rendah. Belakangan, hembusan-hembusan isu soal kacaunya Hong Kong makin kenceng. Dan, kalau lo kepeleset kali ini, kita mungkin bakal kehilangan lebih dari setengah dari apa yang kita miliki." Kamga terdiam sejenak. Dia mengenal Aswa sebagai sesosok pribadi yang 'lebih' dalam banyak hal. Termasuk kapasitas analisisnya. Itulah mengapa dia menempatkan pria itu di sampingnya. Bantuannya dalam tumbuh-kembang Kamga di industri ini nggaklah ecek-ecek. Namun, sungguh, walaupun nggak ada yang benar-benar dapat dipastikan di dunia ini, tapi seengaknya Kamga masih memiliki sejumput keyakinan jika langkahnya yang kali ini pun akan sama mengesankannya dengan langkah-langkah yang telah diambilnya di hampir lima tahun keterlibatannya sebagai pengambil keputusan tertinggi di Srivarani Wang. Maka, dengan wajah yang terangkat dia lantas berkata, "Gue percaya kali ini pun bakal berhasil, Bang. Kecuali, ada faktor X yang sangat nggak terhindarkan. Yang mana gue akan pastikan sendiri kalau nggak bakalan ada faktor itu." Ya, semoga. Dia telah sampai hingga di titik ini. Tak mungkin berbalik mundur. Aswa terdengar membuang napasnya gusar. Boleh jadi sadar bahwa baik itu berbalik atau terus maju, toh memang akan sama-sama penuh resiko bagi Kamga. "Oke." Dia mengangguk-angguk, memutuskan untuk tak pernah berhenti mendukung atasannya. "Kurang dari dua jam lagi kita ketemuan sama orang dari Feliang. Lo udah siap?" Apa Kamga pernah siap? Ketika, dia terlempar dari lapangan hijau—yang meraup lebih dari setengah hidupnya—untuk tiba-tiba memasuki dunia yang penuh akan kekinclongan seperti Srivarani Wang, dia hanya menjalaninya aja. Mengganti bola dengan batu permata untuk dia pegang. Dia hanya mencoba terus berjalan satu demi satu langkah. Namun, dia ajeg mendengkus sewaktu meraih dasi dari tangan Aswa serta berjalan melewatinya. "Fingers crossed!" "Tumben bener ngucapnya," tukas Aswa pas satu detik aja sebelum menyambung, "Eh? Noh, pinggiran mulut lo kok ada lecetnya? Kenapa? Gara-gara peristiwa serempetan semalem? Atau malah ...." Aswa agak menyipit kala menyebut, " .... Annelise, yah?" Tuduhan Aswa tersebut serta merta berhasil menjegal laju Kamga. Pria itu bahkan sempat-sempatnya menoleh cepat dari bibir pintu guna melancarkan pembelaan yang rasanya sungguh telah Aswa hapal di luar kepala. "Dia nggak sengaja. Kairo aja yang udah tahu Annelise nggak bisa minum vodka, tapi tetap dia kasih." Selalu. Seburuk apa pun perangaian cewek blesteran Jepang itu, Kamga seolah nggak pernah kehabisan akal untuk memakluminya. Sesalah apa pun Annelise di mata orang lain, tapi di mata Kamga—yang bagi Aswa sangat rabun bila menyangkut cewek itu—dia selalu punya ruang untuk menganggapnya benar. Maka, Aswa betulan geram waktu menghardik, "Ga! Cewek itu tuh sinting!" Namun, boleh jadi sih nggak meleset anggapan Aswa bahwa, Kamga udah masuk ke fase bucin level dewa hingga dia bahkan melemparkan tatapan supertajamnya ke arah Aswa sambil berujar tegas, "Bang! Annelise nggak sengaja." Berikutnya, Kamga menghilang, meninggalkan Aswa yang rasanya andai dia bisa, dia ingin sekali memutar waktu dan nggak akan membiarkan Kamga berkenalan—atau bahkan bersinggungan seminim apa pun—dengan seorang Annelise Ueda. Si Ratu Troublemaker! Sayangnya, itu sebatas mimpi yang terlalu tinggi untuk digapai. *** Selamat membaca
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN