6. holding all these bags of s**t.

1084 Kata
Janya sedang memanjangkan leher, memindai ruko-ruko di sisi jalan di sekitaran Radio Dalam yang dia lewati. Outlet Domino's Pizza pada bahu kiri jalan baru saja dia lalui, dan itu berarti seharusnya nggak seberapa lama lagi dia pun bakal menemukan toko roti yang tengah dicari-carinya. Ya, itu mungkin masih menyisakan kurang-lebih seratusan meter jarak membentang, sewaktu mendadak nyanyian Demi Lovato merebak nyaring, memecah d******i suara gemuruh mesin, dari arah ponselnya. It's time for me to take it I'm the boss right now Not gonna fake it Not when you go down Cause this is my game And you better come to play Salah satu lagu favorit Janya, yang bahkan juga selalu menjadi bunyi alarm tersetianya—semenjak dia mulai tinggal sendiri. Nada yang jujur saja, setiap Janya bangun di pagi hari maka, tak pernah gagal untuk mengingatkannya kembali jika sebaik-baiknya hidup adalah hidup di mana di dalamnya ia bebas menjatuhkan pilihan serta keputusan. Ya. Meski boleh jadi, kadang terasa lebih terjal, tetapi seenggaknya toh dia mengontrolnya sebagai dirinya sendiri, dan bukan robot. Sayangnya, sangat sulit buat nggak jadi robot utamanya bila itu ada hubungannya sama Feliang. Janya bahkan udah terlebih dahulu menarik serta membuang napasnya lekat, tepat sebelum jarinya bergerak lambat demi membenamkan earphone ke lubang telinga—terpaksa menerima panggilan. "Lo temenin Bu Medina rapat di Kembangan!" Tanpa basa-basi perintah datang dari seberang sambungan. Dan, seharusnya sih udah bisa ditebak. Namun, tetap saja netra Janya sontak membeliak. "Hah? Kok ngedadak? Gue lagi mau ngurus STNK mobil dinasnya Pak Argo ini." "Hidup di jaman pithecanthropus erectus lo? Online lah! Nggak ada yang nganggur di sini." "Ya emang gue nganggur?" balas Janya refleks. Oh, ayolah! Ini jam setengah delapan pagi, Janya bahkan dengan sengaja melewatkan sarapannya agar bisa cepat-cepat berangkat—syukur-syukur dapat sekalian meminimalisir kans kena macet, biar pas di Samsatnya nanti nggak ngantri-ngantri amat—intinya, pekerjaannya jelas masih jauh dari kata selesai. "Yaelah, ketimbang ngurus STNK besok lagi juga bisa!" "Masalahnya, hari ini batas waktu terakhir dan Pak Argo minta gue buat drive thru aja, terus sekalian—" "Ya udah kalau lo mau nolak, bilang sendiri sono ke Bu Medina. Gue ogah!" Kemudian, sambungan pun terputus. Begitu saja, dan seburuk itu. Lihat kan! Keenggak berhasilan Janya untuk naik jabatan benar-benar berefek malapetaka. Nggak cuma bertahan jadi kacung, dengan posisinya saat ini tentu bukan perkara mudah bagi Janya buat bilang 'nggak' terhadap segala sesuatu yang singgah, meski dia sangat ingin membantah. Melempar earphone-nya secara asal kembali ke sudut dashboard, Janya lantas memejamkan matanya sejenak, sebelum di ujung belokan ia kontan membanting setir ke arah kiri—praktis mengabaikan niatnya mampir ke bakery sekaligus perutnya yang ribut minta diisi—guna menyusuri jalanan tak seberapa lebar, yang mana bakal membawanya menemukan sebuah lajur putar balik. Roda-roda Mejiku terus menggilas aspal—dilengkapi oleh beberapa titik speed bump yang praktis menghambat intensitas laju Janya—pada kawasan perumahan yang terasa lumayan sepi, ketika sekonyong-konyong melalui kaca spion, Janya menangkap kelebat gambar satu motor yang agaknya tengah berupaya membuntutinya. Memicing intens, Janya mencoba mengenali siapa gerangan pengendaranya. Sport bike semi silver dengan segaris celeret merah di bagian body carbon. Warna yang honestly, pasaran, tapi Janya yakin dia cuma kenal satu orang saja yang motornya sedari minggu lalu mulai dihiasi pake stiker norak bercorak kembang-kembang—overall bikin kegagahan MV Agusta F4 tersebut terjun tak terkendali sih. Tahu bahwa jika dia tak berhenti maka, orang itu pun akan terus mengikuti. Janya akhirnya memutuskan menepikan Mejiku persis di sebelah bak sampah—yang sialnya masih cukup penuh—tanpa sedikit pun beranjak dari balik kemudi. Dia bahkan baru menghitung sampai lima saat Si Motor Kembang-Kembang tiba-tiba berhenti di depan mobilnya. Seolah nggak mau buang waktu, pengendaranya masih berhelm lengkap begitu tiba di sisi mobil Janya untuk kemudian mengetuk kacanya sebanyak dua kali. "Apaan? Bukannya sekolah lo malah kelayapan!" sembur Janya sambil ogah-ogahan menurunkan jendela. Orang itu buru-buru membuka visor helmet-nya. Begitu wajahnya terlihat, segaris senyum super-sumringah dapat Janya jaring terbit pada bibirnya yang kata anak-anak di divisinya sih mirip banget sama punyanya Sehun Exo. Walau di mata Janya, kemiripan itu sama sekali nggak kelihatan tuh! "Abis ini jalan ke sekolah kok. Tapi ...." Dia menjeda, lagi-lagi buat mengulas senyum yang oke, mungkin karena efek lapar, tapi itu emang tampak sedikit-tambahin-banget manis sih kayak donat. "Ada hal penting yang mau aku kasih ke kamu." "H-ah?" Duh, please deh! Janya barusan memang sempat melamun. Namun, sejak kapan coba seorang Juankenas Pranaja—Si Bocah ingusan yang pernah belum Janya bilang bahwa, dia paling sebal terhadap intonasi yang kerap Juan gunakan untuk menyebut namanya?—dan, tanpa adanya hura-hara kata 'Janya' yang kerap bocah itu koar-koarkan buat menyapanya mendadak berganti jadi 'kamu'? Like seriously? Sayangnya, Janya hanya memperoleh uluran satu tube sunblock sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam benaknya. Oh, bersama embel-embel satu kalimat berikut, "Hari ini, kamu banyak kerja di luar. Semangat ya!" Selanjutnya, Juan udah langsung berlari kembali menyongsong motor kembang-kembang semi gagahnya, tak lupa sebelum melesat bagai ninja cowok itu terlebih dahulu melambai, berdadah-dadah ria pada Janya. Ya, seperti biasa, kekanakan—atau, memang itu lumrah sebab, toh dia masihlah anak-anak. Entahlah. "Hish!" Janya mendesah sambil melempar sunblock ke dashboard, berkumpul bersama earphone pun segala perintilannya yang lain. "Dasar bocah nekatan!" lanjutnya menggerutu. Iyalah. Apalagi emang sebutannya? Sekolahnya bahkan berjarak setengah jam perjalanan dari sini, dan sekarang udah hampir jam delapan. Mau kapan dia berhasil sampai di gerbang sekolahnya? Gimana, hah? Gimana coba caranya kalau ujung-ujungnya dia nggak lantas ngebolos? Dan, itu cuma demi sewadah sunblock? Jujur, Janya nggak pernah percaya terhadap kata-kata cinta yang suka Juan ocehkan—lagi pula, anak kecil macam Juan tuh tahu apa sih soal cinta—tapi, ungkapan love is blind barangkali memang bukan isapan jempol belaka. Karena, bagi Janya, Juan tampaknya beneran udah buta sehingga mau saja ngebela-belain melakukan semua hal ini untuk Janya, padahal ada rentang usia sebelas tahun membentang di antara mereka. Dan, dibanding menganggap Janya sebagai orang yang ngakunya dia cintai, rasa-rasanya lebih normal kalau seandainya Juan menganggapnya sebagai Tante saja! Yah. Janya sekali lagi melirik sekilas ke arah dashboard untuk menemukan nama Feliang Cosmetic tertulis pada permukaan sunblock-nya. "Huh! Belum becus nyari duit aja berani-beraninya ninggalin sekolah buat hal remeh kayak begini!" Tanpa mampu dicegah dengkusannya pun terlontar jengah. Berikutnya, Mejiku kembali ia pacu supaya dapat tiba di Kembangan tepat waktu. Meski feeling-nya sih nggak akan setepat waktu harapannya. Dan, masih feeling-nya, Medina boleh jadi akan langsung melemparinya macam profesional Pitcher. Ah, sial! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN