Empat belas bulan yang lalu Janya baru menganggur satu minggu—selepas resign dari pekerjaanya di salah satu Event Organizer yang berlokasi di Bekasi—saat Makia tiba-tiba mampir ke unit apartemennya sambil membawa sebuah paper bag berisi double whopper, cheesy fries, serta satu botol coke.
Oke, Makia bisa dibilang merupakan the one and only yang Janya miliki. Atau, seenggaknya begitulah yang tahun-tahun belakangan perempuan itu rasakan, utamanya pasca-keputusan besarnya untuk enyah dari rumah.
Yah. Ini mungkin agak terdengar lebay, tapi Makia tuh udah kayak Fée Marraine—karena, ungkapan a fairy godmother terkesan terlalu suci bagi perempuan itu, ngakunya, meski menurut Janya sih sama saja lagian maknanya pun nggak ada bedanya—di mana dia tak pernah ragu buat mencurahkan waktu, energi bahkan juga materi demi mengurus Janya—kecuali ketika Makia teler, mengurus dirinya sendiri saja nggak mampu apalagi orang lain kan.
Dan, setelah diberi kesempatan menjadi bagian dari salah seorang staf di perusahaan logistic and warehouse, yang hanya mampu Janya jalani selama dua minggu. Lalu, berperan sebagai PA di perusahaan Tour and Travel yang kalau tak salah, berhasil memakan waktu milik Janya nyaris setengah tahun lamanya. Surely, Makia emang selalu datang di waktu yang tepat. Bukan cuma sukses menumpas laparnya, hari itu Makia juga terancam berhasil guna menghempas status penganggurannya.
Sembari berebut kentang goreng di apartemen Janya yang kira-kira berukuran dua puluh satu meteran persegi, Makia ujug-ujug menginfokan kalau ada perusahaan kosmetik bonafide yang gedungnya sebelah-menyebelah dengan gedung kantornya sedang membuka lowongan pekerjaan.
Serta, yah, siapa yang sangka akhirnya Janya benar-benar dapat berhasil berlabuh di Feliang? Menjadi tetangga kantor Makia sekaligus ... bertemu dengan Medina.
Oh, yeah!
Medina yang dulu masihlah menempati salah satu kursi pada jajaran middle manager. Hari ini, ketika satu tahunan saja resmi berganti, ketika Janya seolah nggak bergerak ke mana-mana, Medina justru tampak begitu superior saat duduk di atas kursi kayu seraya menyilangkan kedua kaki jenjangnya yang terbalut a pointed-toe stiletto by Sergio Rossi.
Seharusnya, Janya nggak minder—dan dia pun udah berusaha kok buat mengangkat dagunya tinggi sewaktu mulai membuka pintu private room pada lantai dua sebuah cafe di bilangan Kembangan Selatan, tempat mereka berencana meeting—tapi, Medina beserta jabatannya emang paling ahli untuk membikin self assured seseorang runtuh. Janya bahkan harus sok sibuk melihat-lihat kertas-kertas yang ditentengnya kala Medina langsung menyambutnya pake lirikan super-tajam.
Namun, syukurlah itu nggak berlangsung lama. Sebab, begitu pintu di belakang punggung Janya terdengar kembali terbuka, Medina kontan tegap berdiri tak lupa sambil mengulas senyum ramah-tamah.
Janya pribadi baru berniat menoleh, tetapi urung karena Medina udah keburu memanggil namanya agar mendekat.
***
"Jadi, bukan Projobumi nih?"
"Iya. Pak Bumi ada keperluan mendesak yang nggak bisa diwakilkan, katanya. Tapi, ini sama Executive Director sales and marketing-nya kok. Kalau nggak salah malah kerabat dekatnya Pak Bumi juga."
Kamga mendesah. "Tahu gitu mending tadi gue langsung cabut aja ke airport."
"Emangnya lo mau pergi ke Jimbaran ketemu sama Madam Thato sendirian?" tanggap Aswa sembari membimbing langkah mereka guna menaiki satu demi satu undakan tangga menuju ruangan yang telah di-booking. "Ntar malah miscommunication pula kayak waktu itu. Dikira lo naksir dia lagi kan berabe! Yang ada paling gue-gue juga yang akhirnya puyeng gara-gara kudu ngejelasin ke lakinya yang jealous-an itu!"
"Dianya aja yang budek! Udah jelas-jelas gue ngomong I choose yours merujuk ke pink diamonds-nya, bukannya you malah ngeyel mulu naksar-naksir!" gerutu Kamga tak terima terhadap tudingan Aswa. "Lagian, gue kan udah pernah ngomong, lebih baik cari produsen pink diamonds yang lain. Padahal banyak yang dekat-dekat noh di Australia, tapi lo nggak percaya dan malah ngeyakinin gue buat milih mereka."
Aswa mengangguk-angguk patuh. Reaksi yang sungguh template sekali. "Oke, gue turut salah," setujunya. "Oke, tapi gue nyaranin lo pilih mereka karena mereka jelas-jelas berani ngasih jaminan soal persediaan. Mereka juga punya semua shades yang kita butuhkan. Tentunya, dengan harga yang reasonable. Toh, di luar salah paham lo sama Madam Thato, mereka cukup kooperatif. Dan, oke kita udah sampai di depan ruang rapat nih. Mau masuk sekarang atau lo perlu kencing dulu kayak biasa?"
Kamga memicing galak. "Kalau bisa sekarang ya ngapain mesti nunggu sehabis kencing?!" Dia—masih bersama muka jengkelnya—lalu mendorong daun pintu kasar, menyalip Aswa yang gagal menyembunyikan ringisan super-gelinya.
"Selamat pagi, Pak Kamga, Pak Aswa!" Seorang perempuan dengan atasan floral blouse sewarna emerald—terlihat sangat sinkron berdiam di dalam ruangan yang secara keseluruhan memang didominasi oleh pot-pot berisi tanaman, entah asli atau imitasi—menyambut kehadiran Kamga santun.
Kamga baru hendak menganggukkan kepalanya sewaktu suara Aswa cekatan menyela, "Selamat pagi, Bu Medina kan?"
Entah benar orang itu yang bernama Medina atau bukan, Kamga tak lagi memerhatikan. Sebab, netranya tiba-tiba berhasil menyapu sosok lain yang kini sedang berdiri kaku persis di sisi Si Floral Blouse. Sosok yang bagi Kamga sepertinya sih nggak terlalu asing. Namun, sekeras apa pun dia coba menggali memorinya, dia tetap nggak mampu memindai di mana atau kapan kiranya mereka pernah bertemu?
"Pak Kamga sama Pak Aswa mau brunch dulu atau ...?"
"Ooh." Kamga agak tergeragap, tapi karena dia adalah seorang Kamgamatra Jagawarna yang udah kenyang menelan asam-garamnya kehidupan, secepat kilat ia sanggup menguasai dirinya kembali, senyum basa-basinya bahkan sukses rekah ketika dia membalas tenang, "Kalau brunch sekalian langsung ngobrol-ngobrol, keberatan? Saya harus ke Tangerang soalnya sehabis ini."
"Ah, iya, tentu. Mari duduk dulu, Pak!" Si Floral Blouse yang agaknya benar bernama Medina itu tanggap mempersilakan.
"Jadi, pesan apa, Bu?" Walau berusaha untuk mengamati pot yang sedikit tumpang-tindih serta miring di pojok ruangan, Kamga toh masih mampu mendengar bisik-bisik yang gelagatnya nggak begitu niat nada bisikannya.
"Ya, yang spesial dong!" kasak-kusuk lainnya tak lama menyusul datang.
Dan, mulut Kamga rasanya terlalu gatal buat nggak ikut menyahut—meski Aswa udah memberi kode-kode agar Kamga mingkem saja. "Fyi, di sini mendoannya enak. Saya itu saja," interupsinya santai. "Oh, sama ketoprak boleh deh. Tapi, peanut dressing-nya minta ganti pakai kecap manis saja!" Mulut Kamga masih terbuka kala enam pasang mata terus mengawasinya bersama cara yang nggak biasa sehingga selepas berkedip dua kali, dia lantas menyambung ragu, "Em, saya boleh request apa yang mau saya makan kan? Nanti saya bayar sendiri kok."
Medina kontan tertawa aneh sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya heboh. "Boleh, boleh, boleh. Lagi pula, harusnya kami cari tahu dulu apa yang Pak Kamga suka. Maaf atas ketidak nyamannya ya, Pak. Padahal kami yang meminta bertemu."
Kamga hanya mengedikkan pundak ringan saat Medina mendelik pada perempuan di samping duduknya seraya berbisik, "Udah dengar kan? Buruan!"
Detik berselang, orang itu cepat-cepat beranjak pergi—diiringi oleh mata Kamga yang tiada henti bertanya-tanya dalam hati.
"Jadi, bagaimana Pak Kamga? Ada yang mau ditambahkan?"
Kamga memutar haluan netranya pas sekali dengan tertutupnya pintu yang menelan Si Orang Yang Rasanya Tak Asing-Asing Banget. "Nggak usah, toh tadi saya udah sempat breakfast."
"Hum?" Medina menyurengkan pandangan sebelum menyelipkan sejumput rambutnya ke belakang telinga serta, menukas hati-hati, "Maksudnya ... untuk MoU-nya, Pak."
"Oh." Biarpun tipis tetapi melalui ekor matanya Kamga bisa melihat Aswa mengernyih. Sialan! Mengabaikan respons Sang Asisten, pria itu kemudian berdeham sekilas demi menyatukan seluruh fokusnya sebelum berujar, "Sebetulnya, saya apresiasi sekali kalau memang semua keuntungan dari project ini akan dialokasikan untuk membantu program UNICEF. Karena sesuai misi Srivarani Wang, kami juga selalu berupaya untuk konsen dalam mendukung pemberdayaan perempuan juga perlindungan hak-hak anak." Atau, begitulah yang sejauh ini ingin diutamkan oleh Sana, sedang Kamga—bersama Srivarani Wang di bawah kendalinya—hanya mengikuti arusnya saja.
"Cuma, kalau bisa kami juga ingin dilibatkan secara nyata bukan sekadar dalam tahapan pra-produksi seperti pada diskusi terkahir kali, tapi juga ikut aktif baik untuk pengadaan events and activities dalam seluruh rangakain kegiatan promo project ini. Bagaimana?"
Di seberang meja, Medina bahkan seolah belum berpikir sewaktu menyeletuk yakin, "Bisa. Tentu bisa. Kami malah senang jika Srivarani Wang bersedia berpartisipasi aktif dalam proses promosi. Namun ...."
Kamga menunggu dan otomatis terhenyak tatkala Medina menyambung to the point, "Kami mau pihak Srivarani Wang dari yang awalnya menyediakan enam jenis batu mulia menjadi dua belas jenis batu. Sesuai dengan dua belas bulan kelahiran. Bapak bersedia?"
Jari-jemari Kamga beberapa kali mengetuk pelan permukaan meja seraya diam-diam menimbang apakah pihaknya bakal lebih diuntungkan atau justru sebaliknya. Tetapi, siapa sih yang nggak tahu Feliang Cosmetics? Terakhir, mereka berada di urutan kedua sebagai brand kecantikan paling dicari di Indonesia. Pun, sebagian besar pangsa pasar mereka—yang nyaris menyasar segala usia—merupakan pasar yang jelas-jelas tengah Srivarani Wang giat-giatnya incar demi memperluas market share. Selain itu, bilapun mereka gagal menggaet Srivarani Wang, toh sewajarnya mudah saja bagi mereka untuk mengajak jewelry brand lain berkolaborasi dalam project tersebut. Jadi, ya, sangat sayang jika harus dilewatkan.
Kamga sedikit melirik ke arah Aswa yang tampak mengangguk—percaya dengan apa pun keputusan yang akan Kamga ambil.
Lalu, satu tarikan napas Kamga yang terdengar samar akhirnya pria itu imbuhi dengan kalimat singkat, "Deal." Meski, sehabis ini dia mungkin bakal kenyang untuk menadahi ceramah tujuh hari-tujuh malam ala Sana.
"Oke. Janya, tolong dokumentasi!" pinta Medina tiba-tiba. Janya bahkan baru saja mulai melangkahkan satu kakinya masuk ke dalam ruangan.
Dan, justru menjadi kian bingung sendiri saat orang-orang telah membuat satu barisan berbanjar. Sementara, di tangannya hanya ada sebuah ponsel pintar.
"Tapi, saya nggak bawa kamera, Bu," adu Janya yang malah dibalas pelototan bercita-rasa: bacot lagi, gue tebas lo, dari arah Medina. Padahal, dia cuma mencoba bicara jujur daripada hasil fotonya ambyar kan?
Janya lantas hanya menghela napasnya berat, sebelum mau nggak mau bergegas membuka kunci layar pada ponselnya, untuk kemudian justru menemukan sebuah pesan singkat tampil di sana.
Ayah: Besok Ayah ulang tahun loh. Kalau-kalau Janya lupa.
Ayah: Janya ... nggak mau pulang? Ke rumah?
Ayah: Ketemu Ayah?
Dan, Janya nggak tahu dosa apa yang diboyongnya dari masa lalu sehingga hidupnya menjadi seribet saat ini.
***