Janya susah-payah mentransfer sisa-sisa cadangan energi yang mengendap dalam ototnya demi menyentuh trap terakhir pada tangga darurat sambil membopong dua box bermuatan continous form yang sejak siang tadi udah ribut diminta oleh Tim Finance and Accounting.
Oh! Rasanya mungkin nggak bakal seencok saat ini sih, andai lift di Feliang nggak mendadak berubah status menjadi dalam tahap perbaikan. Pun, kenapa coba sore ini Jakarta mesti didera hujan lebat lengkap dibarengi pula oleh hantaman angin kencang, yang sampai-sampai membuat pohon mahoni di sisi jalanan depan gedung sana roboh seketika. Sialnya, mana sempat menimpa kendaraan yang lagi parkir untuk neduh—sehingga orang-orang yang diproyeksikan dapat membantu meringankan beban kerja Janya, justru harus sibuk berbondong-bondong ikut membantu proses evakuasi—tetapi, untungnya nggak ada korban jiwa. Walau sehabis ini, sembilan puluh sembilan persen telah mampu dipastikan sih, bila Janya lah yang akan berakhir sebagai korban guna dimaki-maki.
Ya. Di atas pundaknya—yang sekarang berasa mau copot sendinya—jelas-jelas ada tanggung jawab mencakup segala t***k-bengek bentuk maintenance baik terhadap gedung maupun lingkungannya. Biarpun dia belum genap dua hari menempati posisinya, tapi siapa memang yang mau peduli? Janyashree Adipati tetap adalah General Affair-nya Feliang kini maka, hal yang wajar dong kalau beban tersebut dilimpahkan kepadanya toh, itu salah satu jobdesc-nya.
Oh, yeah! Jobdesc my ass!
Umpatan Janya terus menggelegar dalam hati macam dentum-dentum guntur di angkasa yang sesekali rembes terdengar. Terlebih sewaktu seseorang datang mencegatnya sambil memajang wajah super-bete.
"Mbak Anyak, nggak punya foto-foto lain gitu? Masa proses dealing MoU bareng CEO Srivarani Wang goyang sih! Kan kesannya kurang aesthetic buat ngisi feed sosmed!" omel salah satu anak divisi sosial media, yang Janya ingat betul loh bahwa tadi pagi cewek itu milih sendiri stok dokumentasi dari ponselnya. Terus, sekarang ketika muncul keenggak puasan justru dia lempar bola panasnya ke Janya?
Masih berupaya berdiri, bertopang pada kedua kakinya yang mulai terasa kram gara-gara melibas nggak kurang dari enam lantai, Janya lalu mendesah panjang, sarat akan lelah.
Please deh! Foto blur tuh jadi salahnya juga, ya? Apa di jidatnya ada timbul tulisan 'fotografer pro'? Apa dia tahu jika tadi itu Janya nggak bawa kamera? Apa dia tahu kalau CEO Srivarani Wang itu adalah orang yang sama dengan pemilik Land Cruiser yang udah menabrak Mejiku dan ngeluyur begitu saja? Apa dia ini tahu apabila fokus Janya tadi pagi sempat serta merta buyar berkat beberapa baris pesan singkat yang dia terima?!
Nggak. Orang-orang selalu cenderung instan menghakimi, meskipun dia sama sekali nggak paham situasinya.
Namun, sayangnya Janya udah terlalu capek untuk melayani mengoceh. Sehingga perempuan itu hanya mengangguk singkat sambil berkata, "Nanti saya e-mail semua sisa-sisa foto yang ada ke kamu yah, Na."
"Ya emang harus lah! GPL!" Berikutnya, cewek itu langsung ngacir, meninggalkan Janya yang baru saja berniat melanjutkan langkah ke arah ruangan utama divisi finance and accounting. Rencana yang cuma bertahan di awang-awang sih sebab, gangguan selanjutnya telah keburu memburu.
"Mbak Anyak! Mbak Anyak! Stop! Stop! Stop!" Saking ributnya seruan tersebut, beberapa orang yang kebetulan melintas di lorong sempat menoleh terganggu. Janya bahkan harus menampilkan sebentuk ringisan sumir yang malah tambah anyep saja begitu suara cempreng ini garang menyambung, "Itu sabun cuci tangan di toilet bukan merk biasanya kan? Lo ganti, yah? Jangan gonta-ganti seenaknya gitu dong! Kulit gue jadi iritasi nih!"
OH, DEMI TUHAN!
Ya, Demi Tuhan, kendati Janya orang lama, tetapi di sektor HR & GA dia baru nugas dua hari! Dia bahkan belum hapal letak inventory kantor yang mesti segera dia stock opname, dia juga masih suka salah lantai kalau masuk kantor. Lalu, orang di depan hidungnya—yang entah siapa ini—langsung coba-coba bikin ribut didorong oleh faktor sabun? Jangankan mengganti sabun, yang malahan stok dalam gudangnya pun Janya belum lihat tuh ada di sebelah mana, ke toilet Feliang saja sejak kemarin nggak sempat Janya lakukan!
Namun, sekali lagi, siapa emang yang bakal mau tahu soal itu?
Janya kembali mendesahkan napasnya melalui celah sempit dalam mulut. Pas, sebelum segaris senyum asimetris menghias di wajah letihnya. "Nanti saya cek, yah," responsnya tak lama berselang.
"Jangan cuma diceklah! Diganti juga ke merk kemarin kek!" Kemudian, perempuan berkaca mata itu berjalan menghentak, mendahului Janya guna memasuki ruangan department finance and accounting.
Ah, jangan-jangan dia juga adalah orang yang sedari jam makan siang tadi tiada henti meneror Janya pake telepon minta kertasnya?
Huh! Dasar!
***
"Janya, pokoknya, jangan sampai lupa! Saya butuh driver besok jam 6 tepat. Kalau bisa jam 6 kurang dia malah udah stand by sih depan rumah saya karena, saya mau langsung berangkat ke lokasi dari rumah biar nggak putar-puter, mana lagi sering hujan gini. Paham kan? Jangan lupa bukan dari Feliang, tapi dari rumah saya! Oke?"
Janya mengangguk, mengerti, secara Bu Agnes pun udah ngomong kalimat tersebut sebanyak lima kali di hampir lima menit belakangan ini. "Iya, Bu. Adalagi?"
"Oh!" Bu Agnes menjentikkan jari-jemarinya yang berkutek merah cabe. "Kalau bisa jangan sama Pak Iko. Ribet. Dia nggak hapal jalanan di luar Jakarta!"
Lagi, Janya mengangguk.
"Dan, kamu ...." Bu Agnes menggantung kalimatnya, seketika membuat Janya refleks menajamkan baik mata pun telinganya—mengantisipasi. "Kalau setor form tuh kasih tanda tangan pemohonnya dulu lah! Gimana mau kami acc? Lupa, yah? Itu tumpukan form pengadaan barang di meja saya, gih buruan kamu bawa lagi deh! Bikin ngeres!"
Ini ... Janya nggak salah dengar kan? Form? Form apaan? Perasaan dia baru menjejak divisi finance and accounting hari ini, dan seingatnya dia belum ada pernah nulis form-form-an!
"Terus, ini kertas satu ply juga bawa balik deh! Jangan semua-semua ditaruh di sini! Bikin sumpek! Kami butuhnya yang empat ply!"
"Ah, gitu ya, Bu?" Janya menyahut rendah seolah linglung. Benarkah dia yang salah dengar? Bukannya memang merekalah yang tadi nyebut satu ply berkali-kali?
"Iyalah. Awas loh kalau sampai driver yang saya butuhin besok kamu lupain juga!"
Janya menjepit erat-erat bibir bawahnya. Bersama tubuhnya yang seperti bergetar menahan bergulung-gulung emosi, dia masih sempat mengangguk walaupun sedikit patah-patah seraya membalas sopan, "Iya, akan segera saya siapkan kok, Bu." Selepas itu, dia lantas undur diri sembari kembali mengangkat dua buah box kertas yang padahal telah mati-matian dia bawa menaiki tangga.
Janya baru hendak mendorong pintu tangga darurat, tatkala ponsel dalam sakunya terdengar ringan berdenting.
Satu kali, dia abaikan.
Dua kali, dia mulai digelitiki hawa penasaran siapa gerangan yang kira-kira mengirim pesan?
Tiga kali, Janya berencana untuk meletakkan sejenak box-box di depan dadanya ke lantai.
Dan, di denting ke empat, kedua box yang semula dipeluknya renggang tiba-tiba terlepas, terbang serta sekonyong-konyong berpindah kepelukan orang lain, atau ....
Janya kontan mendesis sinis sewaktu mendongak lalu menemukan sosok Juan yang sedang balik memandang ke arahnya, lengkap bersama seutas senyum khasnya yang khusus sore ini terkesan bagai sengatan matahari di siang bolong.
Ya. Entah ini normal terjadi atau nggak. Tetapi, dengan melihat senyuman tersebut, entah mengapa ampas-ampas bekas kesabaran Janya yang hari ini tanpa henti diperah bak impulsif terbakar.
Janya nggak tahu kenapa kemarahan seolah berkobar dalam dadanya. Serta, rasanya semakin jengkel saja ketika Juan justru berujar santai, "Sunblock-nya kepake kan? Hari ini, rencananya mau pulang jam berapa?"
"Sunblock? Pulang?" Janya mengulang dibarengi nada menyentak. Juga, kian di luar kendali saja ketika sekilas melalui ekor matanya dia dapat melihat segelintir orang terang-terangan menaruh atensi lebih pada mereka. "Berapa kali sih saya mesti bilang ke kamu, kalau saya tuh nggak butuh kamu kasih-kasih! Dan, kamu aja sana yang pulang! Anak sekolah harusnya ngerjain PR di rumah! Berhenti gangguin saya bisa kan? Saya tuh beneran nggak suka, ngerasa tergangggu kalau kamu suka ke saya! Berhenti jatuh cinta sama saya! Karena, itu gila!"
Janya tak sempat mengamati seperti apa reaksi Juan beserta orang-orang yang tadi mencuri-curi pandangan ke arah mereka. Saat ini, dia telah berlari menuruni satu demi satu undakkan tangga. Namun, otomatis mematung begitu ponselnya lagi-lagi berbunyi.
Dua menit lalu.
Makia: [ Mengirim sebuah lampiran ]
Makia: Lo print sendiri yak!
Makia: Pastiin lo ikut karena gue jamin nggak bakalan nyesel.
Makia: Sapa tau ada produser nyantol. Terus lo bisa cabut dari Feliang tanpa penyesalan. Sapa tau bisa jadi Seleb beken.
Baru saja.
Makia: Oke, Nyak?
Janya paham jika segala keputusan akan berakhir baik jika dipikirkan matang-matang. Tetapi, otaknya sedang terlalu buntu, seluruh sel-sel dalam darahnya bak tengah mendidih panas. Dia sungguh-sungguh layaknya berjudi kala mengetikan balasan singkat.
Janya: Oke.
Janya: Gue ikut.
***