9. survival of the fittest.

1125 Kata
"Dapat pesan dari Gerhana. Katanya, 'Gmna Mas Gaga stju kan join di prgrm kami'?" Kamga mengunyah suapan terakhir dari sepiring menu santap malamnya yaitu si penne torpedo atau entah apalah tadi sebutannya—di mana isinya cuman pasta dicampur braised chicken fillet, dipakein champignon sama cream cheese—yang semisal Kamga nggak ingat bahwa nyari duit tuh sulit, tentu dia udah lepehin dari detik pertama saat Madam Thato mulai mempersilakannya untuk menikmati pesanan hidangan hasil inisiatif beliau. Oh! Come on! Sekali pun tinggal keju satu-satunya makanan gratis di dunia ini, sumpahnya Kamga lebih baik makan nasi basi deh! Dan, bicara mengenai nasi basi Kamga sontak berdecak sebelum berujar, "Lo ketikin deh, Bang jawaban gue pake caps lock biar dia nggak tiap jam nanya! Balesin, 'OGAH'!" "Serius?" "Hm. Gue menolak tampil di nasi basi!" "Easy-Peasy," Aswa reaktif meluruskan. "Ya, apa pun lah itu namanya." "Nggak mau dipertimbangin lagi?" desak Aswa yang otomatis direspons oleh hadirnya sepaket delikkan super-masam Kamga. Oh, jelaslah. Seyoginya, pria itulah yang paling tahu sepadat apa jadwal kegiatan Kamga di setiap harinya. Khususnya hari ini, kelewat banyak menghadiri rapat—ya, bersama Feliang Cosmetic lah, bareng Selebritis kelas A tanah air yang kebetulan memiliki brand jewerly rintisan dan sedang mereka lobi untuk akuisisilah, belum lagi terjebak debat kusir dengan Jewerly Designer yang memakan waktu berjam-jam berkat alotnya hal yang harus didiskusikan—actually, dia sampai nyaris gagal meninggalkan Jakarta. Kamga bahkan baru berhasil touch down di Bali kurang dari 2 jam lalu. Akibatnya, dia cuma mampu menahan Madam Thato guna tinggal di meja salah satu fine dining restaurant hasil reservasi Aswa di sekitaran Seminyak selama 10 menit. Ogh! Anggaplah Kamga hampir-hampir bakal pasrah bila seandainya setelah itu, Sana bakal langsung mencak-mencak atau mengatainya kampret, t***l, serta ya dasar enggak berguna, seperti biasanya karena ya bagaimana dong? Madam Thato yang merupakan produsen pink diamond asal South Africa tersebut—di mana demi dapat taken kontrak kerja sama bersamanya, Kamga mesti mengabaikan Rio Tinto yang ketika keputusan itu Kamga ambil, Sana bahkan kontan meradang mampus hingga menyumpah-serapahinya secara gila-gilaan sekaligus bikin Kamga diam-diam membulatkan tekad bahwa, kalau pun dia harus bersujud demi memperoleh kontrak bersama Madam Thato tentu akan dia lakukan, bagaimana pun juga dia nggak boleh menyesali keputusannya dan satu-satunya cara agar dia tak menyesal adalah dengan membuktikan jika dia mampu dan Sanalah yang keliru—naga-naganya sih sama sekali nggak mampu dia buat terkesan. Sial! Mana akhirnya dia juga terlalu gengsi sih untuk bersujud! Haish! Andai nggak ingat kalau sehabis ini, dia udah ditunggu untuk mampir ke manufacturing center milik Srivarani Wang yang di Gianyar, Kamga pastilah akan lebih memilih buat cabut dan tidur di mana saja—mengingat makanannya pun telah sukses tandas dan dia sangat lelah. Terus apa yang coba Aswa drag ke malamnya yang kelabu? Tampil di Nasi Basi? Atau, apa Easy-Peasy? Oh, pertimbangkan? Serius, dia mungkin payah—seenggaknya di matanya sendiri dan Sana—tapi, seharusnya nggak sepayah itu juga sih sampai-sampai harus ikutan acara receh sejenis Nasi Basi! Cih!   Di lain sisi, menggaruk samar ujung hidungnya, tampaknya Aswa sendiri belum berniat menyerah, terbukti pria yang malam ini mengenakan setelan hitam-hitam—to be honest, sangat paradoksal dengan penampilan Kamga yang mana jadi kayak Yin dan Yang—tersebut tak lama justru berkomentar, "It's okay sih kalaupun lo nggak mau toh advantages buat kita nggak seberapa. Bahkan fee yang mereka tawarkan sama sekali nggak masuk akal untuk ditukar sama satu jam waktu lo. Tapi, serius lo putusin ini bukan gara-gara Annelise kan? Nggak karena dia yang ngelarang lo buat tampil di publik bareng cewek lain kan?" Jujur, seumpama nggak berperan sebagai Asistennya yang teramat kritis, Kamga pastilah nggak bakalan merasa heran bila mendapati nama Aswa nyemplung di barisan nama-nama pemilik sifat intuitif lain. Misalnya, di badan kehakiman, kepolisian atau malah karena, Aswa juga mempunyai daya fantasi supertinggi maka, dia bisa saja jadi Penulis Novel beken. Yah. Kamga sedikit mendesah sewaktu akhirnya menyahut jengah, "Annelise bukan tipikal perempuan kayak gitu. Dia nggak pernah ngelarang-ngelarang gue, Bang." Aswa lalu mengangguk-angguk seolah menilai, walau entah bagian mana kiranya dari kata-kata Kamga barusan yang bertendensi guna dinilai. "Oke. Katakanlah omongan lo bener." Dia menjeda sekitar tiga detik. "Dekat sama Selebritis kadang emang lumayan manjur demi nge-boost nama lo, tapi seenggaknya pilihlah mereka-mereka yang popularitasnya diperoleh berkat prestasi lah, Ga. Jangan Annelise yang kolom sosmed-nya banjir sama cacian dan bully-an! "Dan, sebelum ini makin jauh kecium terlebih parahnya ngefek ke Srivarani Wang. Saran gue, dengan lo cobain aja ikut gabung ke programnya Gerhana, siapa tahu itu bisa sekalian menepis gosip-gosip yang berkembang di luaran sana kalau lo lagi dekat sama Annelise," tutup Aswa, membuat Kamga yang nyaris menenggak air mineralnya urung dan melemparkan gelasnya kembali ke atas meja. "Tapi, kenyataannya memang begitu, Bang," tanggapnya tegas. "Ga?" Aswa menahan geramannya, matanya menusuk Kamga nyalang. "Selamanya lo mau jadi bayangan?" lanjutnya bersama nada yang entah mengapa terdengar begitu membekukan di telinga Kamga. Dan, bayangan, ya? Kamga tanpa sadar meringis sumir, sebelum menggumam, "Siapa yang membayangi siapa, Bang? Gue duduk di posisi gue saat ini karena, Sana minta begitu. Kursi yang gue duduki ... seberapa pun gue bermimpi dan berharap, nggak benar-benar tercipta buat gue kok." "Tapi, kalau usaha lo keras siapa yang tahu?" Aswa berucap. "Emangnya kalo nggak duduk di atas kursi itu lo sekarang masih punya mimpi lain? Balik ke lapangan? Apa itu masih mungkin?" Kamga diam. Dia benar-benar nggak tahu harus membalas apa. Lagi, apa memang kira-kira yang dapat dia cetuskan untuk bahan pembelaan? Aswa sangat mengenalnya, bahkan terkadang lebih baik dari dirinya sendiri. Dan, itu jelas fakta bahwa dia enggak punya 'mimpi lain'. Oh, come on! Dari umur empat tahun, Kamga udah mengenal bola dan hanya bola. Dia berlari siang-malam. Dia menendang sejauh yang dia bisa. Dia ikut akademi seleksi, lalu gagal. Kegagalan yang mengusir mimpinya jauh pergi. Serta, daripada hidup tanpa mimpi sama sekali, bukankah lebih baik dia hidup seperti apa yang selama ini ia jalani? Srivarani Wang adalah satu-satunya mimpi Sana, dan Kamga ... kendati ia nggak terlalu ahli dalam hal ini. Namun, tak apa. Jika bukan dia, seenggaknya Sana bisa dapatkan apa yang gadis itu betul-betul ingini. Dan, bicara soal Sana .... Kamga nyaris terlonjak sewaktu ponselnya yang ia letakkan di atas meja tiba-tiba nyaring berdering dan memajang sebaris nama tepat di layarnya. Sana memanggil .... Bak dianugerahi telepati, Kamga menoleh ke arah Aswa yang juga menolehinya. "Nggak mungkin dia tahu secepet ini kalo gue gagal ngeyakinin Madam Thato kan?" bisik Kamga bertanya. "Lo mau angkat?" Aswa justru balik tanya. "Kalo gue diemin aja dan pura-pura nggak denger?" "Gue bakal cek ke San Diego Hills lobang buat lo udah digali apa belum, atau lo mau yang di Tanah Kusir aja?" "Sialan lo!" sinis Kamga sambil mau tak mau menggeser tombol hijau di layar ponselnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN