10. then, he freaked out.

1186 Kata
Namanya hanya Sana. Sependek itu. Tetapi, sepak terjangnya dalam hidup Kamga jelas nggak separokial namanya sih. Oh, iyalah! Sebab, jika nggak ada Sana ... Kamga mungkin udah berakhir dari lama. Kendati, orang-orang—terlebih Aswa—boleh jadi menganggapnya sebatas seonggok robot, tapi Kamga sendiri tahu kok bahwa there is no free lunch, right? Untuk apa yang ia dapat baik itu jabatan, kemewahan, starata sosial, dan ya uang, dia sadar menjadi robot pun sebetulnya belum tentu telah masuk 'harga' yang pantas. Lagi, dia cuma ... 'membantu' Sana. Lalu, akan selalu muncul pertanyaan sejenis siapa Sana? Kapan dan di mana mereka bertemu? Bagi Kamga, butuh waktu lebih dari seharian penuh demi dapat menjabarkannya. Karena, seperti yang telah ia tegaskan bila peran Sana nggak pernah seremeh itu terhadap hidupnya. Lagi, sejujurnya membuka soal Sana itu ... seolah sepaket dengan menjembrengkan kembali mengenai masa lalu yang dengan susah payah ingin ia enyahkan. Maka, tak ubahnya gonggongan anjing, Kamga sering kali hanya akan membiarkan pertanyaan-pertanyaan sejenis itu berlalu dengan sendirinya. Oh, come on! Seenggak suka dia terhadap keju atau warna-warna cerah, Kamga juga nggak pernah sudi menganggap penting masa lalunya. He hates it! Andai betulan masa lalu bisa dihapus, dia tentu telah mencabik-cabiknya hingga tanpa jejak. Pun, intinya, Sana adalah orang terdekatnya. Seperti halnya Aswa. Bedanya, dia nyaris enggak mungkin sanggup membantah Sana—di luar mengenai beberapa hal terkait Srivarani Wang yang itu pun biasanya dia berani mengambil jalan berbeda sebab, ada Aswa yang mengomporinya—layaknya apa yang kerap ia lakukan pada Aswa. Lalu, seharusnya sih nggak mengherankan kalau tangannya sedikit agak gemetaran—oh, ayolah, dia baru saja gagal mengerjakan sesuatu yang secara terang-terangan telah diwanti-wanti oleh Sana bila itu amat esensial baginya—sewaktu ia memegang ponsel untuk kemudian ditempelkannya di sisi sebelah kiri telinga. Sial! Napasnya bahkan terembus dengan tersendat kala ia menunggu hadirnya seuntai suara dari balik sambungan. Serta, jantungnya bak mau copot saja ketika akhirnya ia sukses mendengar munculnya seruan dari nada suara Sana yang rendah, tapi lugas yang tiba-tiba justru datang menodong, "So?" Membikin Kamga yang sejak tadi terbelenggu dalam kecemasan malah makin cemas saja saat tanpa komando mulutnya malah berulah dengan mengulang bimbang, "So?" "Gue udah dengar," Dari ujung panggilan Sana ujug-ujug membeberkan. Sedang Kamga, di atas kursi yang ia duduki seorang diri selepas Aswa memutuskan untuk terlebih dahulu hengkang meninggalkan ruangan VIP restaurant bergaya Victoria dengan banyak ornamen dinding yang tampak amat rumit, lampu gantung yang kalau jatuh mungkin bakal langsung bikin Kamga gegar otak atau bahkan tewas seketika saking besarnya, dan furniture berbau abad pertengahan yang didominasi kayu-kayu berwarna glamour, pria itu sontak tercenung. Pikirannya yang udah sumpek memaksa terus berkelana. Mengira-ngira siapa gerangan yang telah terlalu dini mengadu pada Sana? Apakah Madam Thato? Apakah justru suaminya yang berkepala pelontos dan persis algojo itu? Yang selalu sok ikut campur?! Hish! Padahal, siapa juga yang ada niat untuk datang terlambat?! Untuk menebusnya Kamga telah minta maaf berkali-kali. Kamga bahkan udah berusaha mencairkan obrolan. Dia bahkan juga memuji Madam Thato yang memang santer terdengar paling haus akan sanjungan. Dia juga nggak membuat kesalahan-kesalahan tak penting. Dia .... Iya, apa pun alasannya dia tetap telah gagal. Sana jelas bukan tipikal orang yang mau tahu bagaimana prosesnya. Kamga mendesah sambil mengurut dahinya melalui satu tangan. "Accidentally ...." "Accidentally, what?" "Hah? Madam Thato ...." Kamga bingung. Serius. Lagi, kenapa pula dia pakai tiba-tiba menyinggung soal accidentally-accidentally segala? Sekarang, gimana caranya dia menjelaskan perihal Si Madam Thato ini?! "Madam Thato kenapa?" buru Sana, nada suaranya bahkan telah berubah kian tipis. Dia jelas sedang mencurigai sesuatu. Dan, wait! Mencurigai? "Lo udah ketemu Madam Thato emang?" tanya Sana. Sementara, Kamga spontan menggertakkan giginya geregetan. Jadi, Sana belum tahu? Dia kira dia menelepon untuk itu. Terus, kalau bukan soal Madam Thato bersama perusahaan pink diamond-nya yang gagal Kamga pikat, lalu apa dong? Come on! Sana bukanlah tipe manusia yang rela repot-repot menelepon cuma untuk hal seremeh basa-basi menanyakan kabar! Seenggaknya jika pada Kamga, panggilannya selalu punya tendensi bermuatan urgent tertentu. Kamga dengan kuat menggaruk rambutnya yang tertata rapi sebab, tak kuasa mengendus apa gerangan tujuan Sana kali ini. Di luar itu, dia juga lantas sibuk menebar kelitan, "Em, gue bakal langsung kasih lo report soal hasilnya kalo gue ketemu beliau. By the way, tadi, lo mau ngomong apa?" Sana mendecak kasar di seberang sambungan. Tetapi, itu nggak masalah bagi Kamga karena, untungnya perempuan itu belum tahu mengenai masalah yang telah diciptakannya. Dia masih ada waktu untuk memperbaiki masalah ini. Dia akan diskusikan dengan Aswa nanti. "So, lo gabung?" "Gimana?" Lagi, Sana berdecak. "Lo gabung nggak?!" "Gabung apaan?" tanya Kamga dengan dahi yang berkerut-kerut. "Tadi gue ditelepon sama Mas Zio." Oke. Tapi, Mas Zio ini siapa, anyway? Bukannya tercerahkan, Kamga malah tambah bingung saja. Sehingga setelah menelan salivanya kecut, dia bertanya ragu, "Mas Zio siapa? Dan, apa hubungannya sama gue?" Sana menggumam panjang, sebelum menukas, "Lo tahu ME entertainment kan?" Kamga mengangguk. Namun, detik berselang ia sadar bahwa Sana nggak akan melihatnya. Lagi, dia memang tahu kok ME entertainment. Bukan karena ia segaul itu sehingga semua hal berbau showbiz dapat dengan mudah ia kantongi. Juga, Biarpun Annelise berasal dari dunia sarat akan gemerlap tersebut, tapi Kamga jelas nggak pernah terlalu suka sorotan. Satu-satunya hal wajar mengapa ia tahu Me entertainment ya karena belakangan salah satu pentolannya begitu giat guna menerornya supaya kepincut untuk turut serta ke dalam program sampah yang rencananya hendak mereka produksi. Uwh! "So, balik lagi, tadi Mas Zio hubungi gue. Mereka berencana bikin project iklan satu aplikasi gitu. Katanya, mereka udah lebih dulu kontak lo juga. So, ya gimana?" "Ikutan Nasi Basi?" tanya Kamga menegaskan. "What? Easy-Peasy, Kamga!" "Ya whatever you name it." Kamga mendesah lelah. Terasa lebih lelah lagi karena, haruskah dia ngurusin Si Nasi-Basi melulu? Dia ini sibuk lho ya. Perlukah dia memangkas waktunya yang padahal nggak seberapa banyak longgarnya untuk memikirkan tentang program antah berantah yang apa memang untungnya buat dia kalau betulan harus ikutan?! Biar nggak digosipkan dekat dengan Annelise? Sebutuh itukah dia? Lagi, sejak kapan Kamga peduli soal gosip? "Jadi, gimana keputusan lo?" tuntut Sana setelah mendapati Kamga yang tak kunjung lanjut bicara. "Buang-buang waktu aja nggak sih? Lagian, nggak ada efeknya juga buat gue," ujar Kamga. "Jadi, lo nolak?" "Memangnya perlu gue terima?" Sana nggak langsung menjawab. Dia memberi jeda nyaris satu menit, sampai-sampai Kamga harus mengecek ponselnya beberapa kali untuk mengecek masih tersambungkah panggilannya? "Lo mending gabung deh," pungkas Sana bikin Kamga yang mendengarnya sontak mengernyit. Ayolah! Nadanya, menitah sekali! "Sana, gue rasa itu—" "Itu mungkin nggak ada efeknya buat lo, tapi itu pasti berefek buat Srivarani," gunting Sana bersama intonasinya yang terdengar agresif. And, here we go again, Srivarani! "Tapi, tanpa ikutan gituan pun, marketing kita apalagi dengan Feliang gue pikir bisa—" "Ada yang nyuruh lo mikir?" "Ya?" Helaan napas berat terembus dari balik sambungan, Kamga mendengarnya dengan intens dalam telinganya. "Di Bali kan lo?" tandas Sana tak dinyana. "Satu jam kayaknya cukup buat lo berangkat dari Seminyak. Gue tunggu lo di rumah." Shit. s**t. s**t! Sana tahu. Semuanya. Termasuk juga agaknya soal Madam Thato beserta segala kepayahan Kamga. Sialan! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN