Janya mengetuk-ngetukan ujung pointed toe heels hitamnya ke atas lantai. Mencipta bunyi 'tuk tuk tuk' yang kontras di tengah sepinya suasana home decor and houseware store yang dia kunjungi.
Ogh! Mungkin karena jam operasionalnya sendiri udah mau kelar sih, jadi rasanya Janya adalah pengunjung terakhir. Atau, ... jangan bilang saban hari juga begini situasinya?!
Sekali lagi, Janya mengedarkan netranya untuk menelusuri bangunan yang walau luasnya jelas kalah telak dari Pantry Magic, tetapi kalau boleh jujur dengan banyaknya rak-rak yang berdiri dan memuat beraneka jenis perkakas maka, isinya boleh lah diadu.
Namun, apalah kiranya fungsi punya banyak dagangan kalau yang belinya aja nggak ada? Sepi-sunyi begini?!
Janya refleks menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin sewaktu mendapati betul-betul tak ada orang lain—di luar seorang cewek berseragam biru di balik meja counter kasir.
Actually, bisa dibilang Janya memang jarang sih bertandang ke Monthouse. Di samping karena emang nyaris nggak punya banyak waktu luang, dia juga sebetulnya ogah kalau mesti bertemu dengan owner tempat tersebut.
Yeps.
Dan, omong-omong soal owner Monthouse, padahal Janya udah sempat mengkonfrontasi Om Rama agar dia nggak usah sok-sokan membuka toko yang ... ayolah, dia bahkan nggak bisa ngebedain centong dan sutil!
Mana pake berlaga pula menginvestasikan nyaris semua duitnya buat menjalankan bisnis di ranah ini!
Iya, kalau akhirnya laku dan laris. Lha, ini?
Kendati bukan Janya yang mesti dihadapkan oleh masalah nggak laku dan terancam merugi, entah mengapa mendadak dia merasa ikut pusing.
Namun, ya mau sepusing apa pun dia memang ada yang bisa dia lakukan? Kalau-kalau tiba-tiba dia lupa, dia udah hengkang dari rumah. Bersama dengan itu, dia juga memutuskan untuk menyetop segala bentuk hubungan dengan orang-orang yang berkaitan dengan rumah, termasuk dalam hal ini Om Rama—adik ayahnya. Kecuali, ya ikatannya bersama Makia, tentu saja.
Lalu, soal Makia ....
Janya kembali secara spontan menyugar wajahnya dengan kasar. Bagaimana nggak? Dia masih ingat betul lho tindak-tanduk berbau impulsifnya.
Hish!
Kesurupan apa sih dia tadi tuh?!
Ikut acara kontak jodoh? Yang juga bakal disiarkan di televisi? Jika sampai keluarganya tahu, mereka pasti akan dengan semangat empat lima mengoloknya. Serta, yang lebih buruk dari itu ... mereka boleh jadi juga bakal mencibir ... ayahnya.
Ugh!
Di mana sih Janya letakkan kewarasannya?!
Ayolah!
Salah satu faktor yang mendasarinya keluar dari rumah adalah karena dia belum ingin menikah. Lantas, angin apa yang baru saja coba dia taburkan?
Si Penjilat Ludah Sendiri.
Dasar, naif!
Halah, emang dasar perempuan nggak laku!
Sok nggak mau merit, malah ngemis jodoh, mana di tivi lagi!
Malu-maluin banget!
Biar kapok deh dia!
Kena kan dia batunya! Durhaka sih!
Atau, seribu kalimat bernada merendahkan lain yang ... uh, entahlah, Janya sih cukup yakin tentu bakal dia tadahi andai dia beneran kepilih dan wajahnya nanti betulan sukses mejeng di televisi!
Janya mendesah panjang. Tangannya telah ia gerakkan untuk dia tolakkan di pinggang. Mencoba berpikir, tapi ....
Mau dia menyesal segimana pun juga, emang ada jalan buat dia kembali? Dia udah mengirimkan data dirinya. Kasarnya, dia udah mendaftar buat gabung ke program jodoh-jodohan itu. Cara membatalkannya aja Janya nggak tahu. Terms and condition-nya aja Janya belum sempat baca. Nah, kan betapa impulsifnya dia?
Lagi, emang gara-gara Makia nih, atau ... Juan?
Huh, dua-duanya emang ngeselin! Dan, yang lebih mengesalkan lagi ya dirinya sih!
Janya kontan mengepalkan tangan dan menggebuk ringan satu keranjang yang terpajang di gantungan tepat di depannya. Bikin benda yang tampak seperti wadah baju kotor atau mungkin malah beras, yang terbuat dari anyaman rotan tersebut bergoyang tak nyaman, nyaris jatuh malah, untungnya segera ia amankan.
Sayangnya, tak seperti keranjang itu yang aman, Janya sendiri justru boleh jadi nggak seaman itu. Sebab, netranya yang memanjang tahu-tahu malah secara tak sengaja memindai bila cewek di balik counter terlihat mulai bergerak meninggalkan meja kerjanya. Sialnya, dia seperti sedang berjalan ke arah ... Janya.
Duh! Apa jam bukanya udah rampung?
Janya melirik ke arah arloji yang tersemat di pergelangan tangan. Pukul 8 lewat 15. Harusnya, masih ada sisa lebih dari setengah jam lagi lho untuk Monthouse ini buka. Terus, masa sih Janya bakal kena usir?
"Mbak Janya?"
"Hah?"
Cewek berseragam biru itu berhenti beberapa langkah saja jaraknya di hadapan Janya. Dan, yang lebih mengherankannya lagi, barusan dia menyapa Janya kan?
Actually, kok dia bisa tahu, ya? Seingatnya, Janya bahkan baru pertama kali ini datang ke Monthouse serta menemukan cewek itu di balik meja kasir.
"Keponakannya Pak Rama kan?"
Janya melejitkan satu alisnya. Kian bingung saja dia.
Sementara, di depannya cewek yang dia taksir nggak jauh beda usianya sama Juan—oh, please, janganlah dulu ia ingat-ingat nama betein ini—udah memajang senyum ala bintang iklan pasta gigi.
"Tadi sebelum ninggalin toko, Bapak ada pesan kalau khusus hari ini jam buka toko bakalan diperpanjang. Katanya, bakal ada satu pengunjung yang datang. Namanya, Mbak Janya. Dia mau cari kado untuk ayahnya dan saya disuruh bantu. Mbak bener Mbak Janya kan?" Cewek itu memberondong sekaligus bikin Janya sontak melongo di tempatnya berdiri.
"Karena, kalau Mbak bilang bukan, saya juga nggak bakalan percaya sih. Karena, Monthouse ini sepiiii banget. Boro-boro ada yang datang buat beli, orang-orang yang lewat depan toko aja biasanya nggak pake ngelirik!" lanjut cewek itu bersama nadanya yang menggebu.
Dan, oke, Om Rama akan selalu jadi Om Rama, anyway. Seberapa lama pun mereka nggak saling berjumpa. Sebesar apa pun jarak yang berupaya Janya bangun di antara mereka, tapi lihatlah!
Dia selalu mengenal Janya. Seolah Janya adalah bagian dari dirinya sendiri. Hingga tak perlu mendengarnya berkata-kata, dia udah langsung tahu apa kiranya yang diam-diam sedang Janya pikirkan.
Lagi, bukan tanpa alasan Janya sampai bisa singgah di sana. Monthouse bahkan berjarak nyaris satu setengah jam perjalanan dari apartemen tempatnya tinggal. Jika bukan didorong oleh sesuatu hal yang lumayan prinsipil, dia tentu bakal lebih memilih untuk mendekam di kamarnya. Rebahan di atas kasurnya sambil merenungi aktivitasnya seharian di Feliang yang sangat menguras tenaga berikut emosi, jelas lebih baik daripada harus menjebakkan diri untuk terlibat dengan betapa menjengkelkannya jalanan di jam-jam macetnya ibukota.
Janya berani datang karena ... di antara semua tempat, Monthouse agaknya merupakan yang paling mengerti dan sesuai dengan kebutuhan yang tengah berusaha dicarinya. Utamanya, karena hal ini berkaitan langsung dengan ... ayahnya.
Yah.
Tanpa sadar, Janya menghela napasnya.
"Jadi, mau cari apa nih, Mbak Janya? Untuk ulang tahun atau anniversary sih?" Cewek yang Janya lihat name tag-nya memuat sebaris tulisan yang terbaca sebagai 'Aci' tersebut, memanggil Janya untuk kembali menapaki alam nyata.
Janya yang mendengarnya sontak mendengkus samar entah untuk alasan apa. Namun, mengikuti kata-kata Aci, ia pun kembali mengedarkan pandangannya demi menyapu seluruh ruang di Monthouse.
Bangunan ini sebetulnya minimalis sih. Nggak banyak pilar-pilar besar di dalamnya. Udah begitu, tone warnanya sangat homey. Gimana ya? Meski penuh, tetapi anehnya barang-barang yang tersimpan di sana tertata dengan ciamik dan rapi—mungkin juga gara-gara peminatnya yang jarang sehingga tatanannya pun nggak gampang dikit-dikit modal-madul. Di luar itu, di sana juga banyak sekali warna-warna cokelat yang semakin dilihat justru seakan menyedot Janya untuk terlempar ke tengah-tengah belantara hutan.
Tak hanya itu, Janya juga suka terhadap samar-samar aroma kayu yang menguar di sekelilingnya. Segar. Bak Janya sedang tersandera di tempat yang berada nun jauh sekali jaraknya dari pengaruh hiruk-pikuknya metropolitan.
Ugh, seandainya ... hanya jika seandainya Bunda masih ada, maka dia tentu nggak akan menyukai tempat itu. Dia boleh jadi juga akan menjadi orang pertama yang dengan semengat menggelora bakal menentang Om Rama untuk membuka houseware semacam ini.
Yah.
Janya meringis kecil. Berbeda dari Ayah, bundanya sangat anti dengan sesuatu yang bernuansa dapur-dapur club.
Kendati, nggak pernah berkesempatan mendengar melalui telinganya sendiri suara Bunda, tapi Janya seolah selalu bisa menjaring jernih suaranya yang mengatakan hal-hal ... mungkin sejenis:
"Teflon. Mas Reno ultah mah kasih teflon aja deh. Biar dia bisa berhenti ngedadar telor pake wajan! Eh, tapi tapi wajan sama teflon emang beda ya?"
Janya lagi-lagi mendesah sebelum, akhirnya menjereng satu senyum di bibir.
Dan, jika Bunda memberi teflon maka, Janya rasa dia harus membeli ....
"Aci, boleh kasih tahu saya letak section kain-kainan nggak?"
Karena, sama seperti ayahnya, Janya juga suka sekali sesuatu berbau dapur-dapuran.
***