12. what a shitty day.

1254 Kata
"Ngelamun terooooooosss!" Di atas ayunan rotan yang sedang ia duduki di area backyard kediamannya Juan nyaris saja jatuh terjelungup. Menoleh dengan tampang bengis ke sisi belakang—di mana asal suara cempreng, tapi menggelegar persis petasan renteng tadi berasal—yang sesuai dugaan, dia temukan satu sosok perempuan sebagai tersangka utama yang hampir-hampir sukses mengagetkannya. Datang masih lengkap dengan tampilan ala professional career woman andalannya; setelan floral blouse berkerah bow collar berserta satu pita yang mengikat di bawah leher sewarna daun monstera dan celana bahan putih. Oh, jangan lupakan juga perihal sepasang sepatu hak tinggi mewah yang membungkus kaki jenjangnya, yang mana seolah ingin mengingatkan kepada Juan bahwa Medina telah sangat siap sedia, kapan pun dia dibutuhkan untuk menggusur posisinya sebagai seorang pewaris utama dari gurita bisnis Projobumi. Oh, ayolah! Apakah itu mungkin buat terjadi? Sayangnya, sangat mungkin sih. Sebab, di antara orang-orang yang tergabung dalam himpunan pohon keluarga mereka, entah mengapa kakeknya rasa-rasanya begitu mengidolakan perempuan bernama Medina ini. Buktinya, dia bisa dengan mudahnya wara-wiri di rumah yang bahkan jika bukan lebaran mustahillah Projobumi sudi melakukan open house bagi mereka-mereka yang sekalipun adalah keluarga dekat, kecuali ya Medina ini yang jam berapa pun ia singgah pastilah akan langsung dibukakan pintu. Aneh. Kadang, pikiran liar Juan bahkan kerap berasumsi dengan sembrono bahwa jangan-jangan kakeknya bukan cuma punya satu anak? Jangan-jangan fakta yang terumbar di luaran sana jika ayahnya merupakan anak tunggal itu ternyata sekadar bualan belaka? Jangan-jangan Medina ini bukanlah anak dari saudara kakeknya?! Yah. Segala probabilitas itu mungkin-mungkin saja kan? Terlebih, bila menilik sepeduli apa kakeknya pada Medina selama ini. Juan nggak akan heran sih apabila suatu hari muncul selentingan gosip yang mengabarkan kalau Medina tak lain adalah anak kakeknya juga. Misalnya, dari istri keduanya, istri yang secara siri diam-diam dinikahinya, atau lebih parah dari itu ... jangan-jangan malah anak dari simpanannya? Bah! Juan bahkan tak pernah percaya tuh kalau kakeknya sesuai dengan citra yang sejauh ini tersohor di publik. Apa istilah yang kerap media gunakan untuk menulis pemberitaan tentangnya? Role model? Laki-laki paling setia? Halah! Projobumi bukan B.J. Habibie! Okelah, di industri binis dan perdagangan dia mungkin cocok dijadikan tonggak percontohan. Tetapi, sebagai pria setia? Walau, dia memang nggak pernah ketangkap mata bergenit-genit ria kepada setiap wanita. Namun, sampai 17 tahun berlalu Juan tetap ragu sih dengan istilah 'pria setia' itu. Entahlah. "Tuh kan ngelamun terus!" Lagi, Medina Si Usil menggurui Juan yang masih saja asyik berdiam diri. Membikin cowok berkaos putih itu sontak mendecak-decak kesal sambil mencetuskan gerutuan, "Badan-badan gue, suka-suka gue lah mau gue pake ngelamun kek, ngapain kek, mata lo aja yang kelewat nggak ada kerjaan nyampe sibuk merhatiin gue!" "Cih, sewot!" cibir Medina yang agaknya nggak tersinggung sih sebab, buktinya dia masih sanggup menyerocos, "Mikirin apa sih? Abis ditolak cewek ya lo?" Oke, Medina mungkin tak ubahnya ember bocor. Tapi, kok dia bisa pas tahu begitu sih?! Actually, nggak secara harfiah ditolak juga sih. Sebab, seharian ini dia kan emang nggak ada nembak. Mostly, yang masih jernih dalam ingatannya adalah tadi dia berusaha buat mengulurkan tangan, berniat membantu seseorang untuk mengangkat kardus. Sesederhana itu. Namun, ya siapa yang tahu kan? Di mata orang dewasa, cowok seumurannya mungkin terkesan cuma seonggok manusia payah. Dia dianggap nggak bisa berbuat apa-apa dengan becus. Parahnya, dia juga terlalu sampah untuk dapat diandalkan. Dalam kaca mata perempuan dewasa, mempercayainya sebagai tumpuan boleh jadi ialah sebuah kemunduran. Bagi mereka, anak seusia Juan cuma mengerti soal main, main, dan main. Dia tak lebih dari sekadar beban, utamanya ya ... untuk Janya. Tak bisa ia cegah, napasnya lantas terhela lesu. Medina yang masih berdiri di dekatnya bahkan sampai meloloskan komentar, "Dapet PR buat lunasin utang negara lo? Madesu banget komuk lo, Njir!" Setelahnya, dia bahkan dengan beringas melempari tubuh Juan dengan botol bekas air minum yang entah sejak kapan dia kempit di keleknya. "Bisa mingkem kagak lambe lo!" sinis Juan seraya memungut botol kosong yang yang terjatuh di dekat kakinya, untuk kemudian dia lempar hingga masuk tepat ke lobang tong sampah yang mungkin cuma berjarak tiga ratus meter dari tempatnya duduk di ayunan. "Ya maaf. Gue kan cewek, Ju. Gue butuh ngeluarin seenggak-enggaknya 20 ribu kata tiap hari tahu!" kilah Medina yang kali ini tanpa babibu langsung saja menjatuhkan b****g sintalnya pada bantalan ayunan yang persis berada di sisi kiri Juan. "Betewe, Om belum balik?" lanjutnya bertanya yang ... dalam hal ini orang yang disebutnya Om udah jelas, tak lain dan tak bukan adalah Projobumi—kakek Juan—seorang. Dan, please, kalau boleh jujur kuping Juan agak gatal lho ya. Come on! Medina nih masih kinyis-kinyis, usianya baru dua puluhan, ya walau dua puluhan paruh akhir. Namun, dia memang masih secakep Janya—ah, ralat, dalam hal ini bagi Juan udah pasti sih Janya jauh jauh jauuuuh bahkan bisa dibilang bak jarak dari matahari ke pluto untuk menempati strata lebih cantik dari Medina—yang bila dibandingkan dengan Projobumi, di mana kakeknya itu telah resmi menginjak di tangga usia tujuh puluhan, rasanya kok ... bikin overthinking ya. Oke, pikiran ini mungkin terkesan saru atau malah udah termasuk durhaka. Tetapi, bagaimana kalau dia benar? Bahwa, Medina bukan anak saudara kakeknya? Bagaimana pun secara fisik saja cewek itu bahkan nggak ada mirip-miripnya lho sama Opa Yos dan Oma Morley. Dengan dua saudaranya pun, Medina bisa disebut yang rupanya paling beda sendiri. Iya, kalau benar dia anak lain dari kakeknya? Kalau ternyata dia .... Juan menggeleng-gelengkan kepalanya banter, mengenyahkan kata sugar baby yang belakangan sedang hits dan tiba-tiba justru melintas bagai komet di benaknya. "Kenapa lagi lo? Sawan?" tegur Medina yang sepertinya terus memakukan matanya pada Juan sehingga setiap gerak-gerik cowok itu nggak sekali pun luput dari amatan dan mulutnya untuk mengomentari. "Anjir, diem sih ah!" omel Juan. "Lagi, lo pikir Bangkok sedeket Cikini? Doi balik lusa!" "Yaaaah. Padahal, ada yang mau gue diskusiin sama Om," tanggap Medina kecewa yang membuat Juan justru mengangkat alisnya dengan waspada. "Diskusi apaan? Teleponlah! Tapi, besok aja karena sekarang udah malem. Udah lewat dari jam kantor!" "Dih, bocil tahu apaan lo soal kantor," ujarnya meremehkan. Juan yang mendengarnya tentu gondok, tapi memilih untuk tak banyak bereaksi. Utamanya, ketika dilihatnya Medina mulai tampak memberengut serta tahu-tahu mengatakan dengan begitu entengnya, "Malem ini gue nginep sini deh, Cil!" Seolah keluarga mereka biasa melakukan hal itu dan seakan itu memanglah sesuatu yang lumrah untuk terjadi. Padahal, andai dia bukanlah Juankenas Pranaja dan adalah Mister Potato Head, matanya pasti udah luruh menggelinding di detik pertama dia mendengar perkataan yang secara ringan digaungkan oleh Medina barusan. Please! Menginap? Bila Medina nggak punya niat terselubung, maka Juan tak akan percaya. Come on! Medina selalu berambisi menggusur nama Juan dari puncak tangga. Juan tak suka nonton drama, tapi untuk ukuran Medina ... seingatnya, perempuan itu begitu suka bermain drama. Bagaimana kalau tiba-tiba Juan ditimpuk bantal saat dia sedang jatuh tertidur? Lalu, wajahnya akan ditutupi sampai dia kehabisan napas? Mana di rumah sedang nggak terlalu banyak Asisten Rumah tangga yang jaga pula. Medina .... "Lo naksir sama salah satu anak Feliang, ya?" Bukan ditimpuk bantal, mendengar serangan yang begitu mendadak tersebut Juan bagai dilempar dengan sebalok es. Bikin meremang sekaligus ... menggigil. Gerakannya bahkan agak terpatah-patah saat dia berusaha membalas tatapan Medina yang secara intens memindainya. "Beneran naksir? Nggak cuma main-main?" Juan diam. Namun, Medina memang tak berbakat diam. Stok dua puluh ribu katanya mungkin belum habis. Sehingga dia masih bisa sok menebar ancaman sejenis, "Kalo nyampe Om tahu, taksiran lo bisa dia singkirin tahu. Kasihan Janya, huhu!" Bersama tatapannya yang nyalang, Juan meremas erat buku-buku jemarinya. Emang dasar Medina Si Ratu Drama! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN