Orang-orang yang mengenalnya kini, sering kali berekspektasi bahwa Kamga nggak takut apa-apa. Nggak ada satu hal pun yang sanggup meruntuhkan self-confidence lebih-lebih self-worth yang dijunjujung tinggi oleh seorang Kamgamatra Jagawarna.
Dia punya tampang yang kendati dia nggak berusaha keras, orang-orang—khususnya lawan jenis—bakal menengokinya dua kali. Dia memiliki indeks pendapatan yang sukses menempatkannya sebagai manusia yang tak perlu ragu-ragu apalagi kesusahan untuk mendapatkan sesuatu. Jabatannya begitu mentereng, di usianya saat ini—walau nggak secara terang-terangan diakui—tapi, bersama semua achievement-nya dia tentu udah berhasil bikin silau pria-pria lain di sepenjuru ibukota bahkan tanah air.
Kamga adalah manifestasi dari sesosok pribadi yang nyaris diinginkan setiap orang untuk diajak bertukar peran.
But, ya there are a lot of stories behind every person kan? You may think you understand, but you don't.
Begitu pula lah sesungguhnya Kamga. Ketika, banyak orang ingin menjadi dirinya, dia justru sedang berusaha keras nyaris mati-matian malah untuk dapat menerima dirinya sendiri.
Karena, di matanya, mau sampai kapan pun dia ... benar-benar terkesan bagai pecundang.
Owh, sebab jika dia bukan pecundang dia pasti nggak akan berdiri saja macam pantung di bibir pintu, sementara sesosok wanita bersuarai persis kembang gula yang terlampau pink dan manis tanpa tedeng aling-aling justru langsung menghadang lajunya dengan cara melempar setumpukan kertas yang tepat mengarah ke wajahnya.
Nggak sakit.
Yah.
Lemparan-lemparan yang kerap kali dilayangkan oleh Sana memang tak pernah full power. Selain itu, dia juga nggak sekali pun mengayunkan benda-benda berbahaya. Hanya saja, setiap kali mengalaminya entah mengapa Kamga merasa bahwa dia kian pecundang saja.
Come on!
Bagaimana mungkin dia mampu membela orang lain bila membela dirinya saja dia tak berdaya?!
Cih, pantaskah dia disebut pemimpin?
Pun, iya anggaplah dia memang bersalah. Namun, sungguhkah dia nggak punya apologi? Kendati itu sepatah kata saja?
Augh! Betapa payah dirinya!
"Gue udah sempat ngomong supaya lo jangan kebablasan," Sana mengatakannya dengan nada mendesis persis orang kehausan. Yang bermodalkan mendengar arus napas yang ditarik dan diembuskannya saja, udah bisa dibayangkan sih sedongkol apa dirinya saat ini.
Kamga sendiri memilih untuk mengunci rapat mulutnya—di mana kalau tadi Aswa nggak keburu diusirnya, pria itu pasti tak akan dengan mudah menerima, dia akan mendorong Kamga bicara, atau lebih menjengkelkannya lagi dia justru bisa saja bakal melemparkan diri sebagai tamengnya, sesuatu yang sebetulnya nggak pernah Kamga sukai.
"But, lo dan ke-overconfidence-an sialan lo lagi-lagi bikin masalah kan?" tuduh Sana berang. "Sebelumnya, lo bilang bakal lebih mudah kalau kita bisa dapetin kontrak sama Madam Thato. Terus, di bagian mana kira-kira letak mudahnya? Kita bahkan belum ngebahas sampai kontrak, tapi lo udah bikin dia ogah!" Sana menjambak surai merah mudanya menggunakan dua tangan. "ARGHHH! Bisa berhenti bikin onar nggak sih lo, Ga?!!"
"Sana ...."
"... just, watch your f*****g mouth!"
Sana melangkahkan kakinya bolak-balik bak setrikaan di ruang depan kediamannya yang berlokasi di Denpasar Selatan. Sepasang lengan rampingnya ia taruh di pinggang, sedang netranya tampak terus meliar gusar.
Kamga kenal gesture itu. Sepanjang mereka saling kenal, ekspresi tersebut mungkin udah ribuan kali Kamga temui pada sosok Sana.
Sebenarnya, perempuan itu memang gampang panikan sih. Di luar sifatnya yang memang perfeksionis—sekaligus, menuntut orang lain untuk berlaku sesempurna dirinya—tetapi, Kamga sadar kok kalau Sana hanyalah gadis kecil yang terlalu takut diamuk oleh jahatnya kegagalan.
Bagaimana pun dia pernah berada di posisi di mana kegagalan nyaris menelannya dengan telak. Maka, ketika dia diberi kesempatan yang amat berharga untuk kembali berjuang, dia sangat berambisi untuk membuat segalanya sanggup berhasil di bawah kendalinya.
Kamga ... mengerti. Atau, ya ... dia berusaha mengerti. Karena, jika bukan dia siapa lagi memang orangnya yang bakal tahan berdiri di sisi Sana yang terlampau mudah meledak-ledak?
Oleh sebab itu, dia masih saja menahan dirinya untuk tetap bungkam biar pun di depannya jelas-jelas Sana lagi-lagi merepet beringas, "Lo emang bego banget sih!" Ada decak yang mengisi jeda. "Gue yang bakal selesaiin problem bareng Madam Thato ini dan elo ...." Sana menuding Kamga melalui jarinya. "Gue harap lo juga harus sadar kalau lo mesti lakuin sesuatu!"
Kamga refleks menyipitkan matanya serta untuk pertama kalinya sejak dia menginjak keramik rumah mewah Sana malam ini, dia berani bertanya, "Sesuatu ... dan itu adalah?" Dia memiliki beberapa hipotesis sih untuk perihal yang satu ini. Ogh! Nasi Basi bahkan menjadi kandidat yang dengan ribut melalang-lang buana dalam benak sumpeknya. Cuma ....
Sana membuang napasnya yang Kamga duga sih disengaja untuk dibuat berisik. Karena, dengan begitu Kamga jadi sadar kalau amarah cewek itu sama sekali belum hilang. Atau, malah justru bertambah?
Awh! Siapa yang bisa jamin kapan datang dan perginya Sana beserta mercon alami di tubuhnya?
"Ga, serius! Lo masih mikir kalau kedekatan lo sama Annelise tuh wajar?" Meski tanpa suara yang menggebu-gebu, tetapi Kamga cukup bisa merasai jika Sana memang betul-betul belum usai dengan letupan lahar berangnya.
Lalu, Annelise?
Kenapa sih semua orang terkesan sekeberatan itu terhadap hubungannya?
Nggak Aswa yang udah macam radio rusak, hobi sekali menebar ceramah agar Kamga jangan dekat-dekat dengan perempuan setengah Jepang itu.
Terus, ini lagi Sana. Kamga tahu, untuk ukuran cewek, Sana termasuk idealis. Logikanya bergerak lebih gesit dari perasaannya. Namun, bukan berarti dia mati rasa juga kan?
Apa sih salah Annelise? Memangnya dia membunuh orang? Apakah dia pemakai aktif narkoba?
Toh, kan enggak.
Satu-satunya alasan basi yang tiada henti mereka angkut untuk memojokan Annelise ya cuma ... karena cewek itu kelewat cantik. Naasnya, dia juga termasuk social butterfly. Dia akrab dengan nyaris semua orang yang ia temui baik itu perempuan atau laki-laki.
Oke, dia mungkin sedikit congkak. Namun, Kamga mampu memahaminya. Dia hidup di lingkungan yang kadang kala perempuan dinilai dengan sebelah mata. Tak hanya itu, banyak juga kejahatan yang mengintainya. Industri hiburan tak selalu segemerlap lampu-lampu yang menyorotnya. Bertahun-tahun mengurus Srivarani Wang lengkap dengan banyaknya Selebritis yang terafiliasi di dalamnya, Kamga sedikit-banyak tahu seberapa cepat dan ganasnya arus yang kerap menghantam di dunia showbiz.
So, ketika Annelise seperti membangun satu podium di mana dari ketinggian itu dia terlihat seolah punya power khusus, apa memang salahnya?
Satu hal yang tak pernah terasa masuk akal bagi Kamga adalah hanya karena Annelise kenal dengan banyak orang, sering jalan dengan banyak kenalannya, dan terlibat bersama mereka-mereka yang sangat homogen latar belakanganya lantas, dia begitu saja dengan seenaknya dikatai sebagai ... apa? w***e? Hooker?
Kamga mendesahkan napasnya lelah, sebelum dengan sangat dingin tiba-tiba suaranya terburai, "Itu ... urusan pribadi gue."
"KAMGA!"
"Sana," geraman Kamga ini nadanya terdengar bak orang tengah tercekik. Sesuatu yang jarang atau malah belum pernah Sana jumpai sebelumnya. Dan, rasanya gadis itu makin tak menyangka saja ketika di depannya ia dapat menandahi Kamga yang lanjut berkata, "Lo boleh mengatur segalanya dalam hidup gue. Segalanya, tentu aja. Kecuali, kepada siapa gue jatuh cinta. Kalau-kalau lo butuh diingatkan, jangan kebablasan."
Selesai dengan itu, Sana cuma bisa mendengar suara pintu yang keras berdebam.
Kamga ... mungkin pergi.
Untuk pertama kalinya di sepanjang perkenalan mereka, pria itu berani melakukannya.
***