14. just like old times.

1113 Kata
Janya memasukan kembali storage jar bermuatan sereal yang belum lama ini ia keluarkan dari dalam salah satu laci kitchen cabinet. Urung berniat menyantapnya sebagai menu breakfast, netranya yang berkelana di kawasan dapur minimalis apartemennya lantas lingsir demi menatapi satu set food container yang baru-baru ini berhasil ia lolosi dari kantung bekal tahan panas. Actually, sekitar lima belas menit lalu Makia baru saja mampir sambil dengan kepayahan—mengingat dia juga harus memanggul tas super-jumbo bahkan juga sampai menggeret-geret koper kabin yang naga-naganya sih berisi segala keperluannya untuk ngantor ke VER hari ini—memboyong semua wadah-wadah yang penuh akan makanan itu ke tempat tinggalnya. Walau pun fée marraine, fairy godmother, ibu peri atau apa pun lah sebutan mulianya. Namun, memasak untuknya tergolong sangat mustahil sih bakal dilakukan oleh Makia. Ugh! Jangankan muluk-muluk merepotkan dirinya sendiri buat memberantaki dapur demi Janya, bahkan jika itu demi Makia sendiri pun agaknya sih tetap enggak bakalan perempuan itu lakukan. Ayolah! Dia mungkin salah satu Product Designer yang andal di kantornya, tapi bakat masaknya sangatlah malu-maluin. Dia bahkan mungkin masih nggak mampu membedakan gula dan garam! So, jangan harap dia mau-maunya ngiris-ngiris cabe dan bawang cuma untuk bikinin Janya sarapan! Lalu, box-box di depannya ini asalnya dari .... Janya sontak menggerakkan tangannya guna membuka satu wadah persegi di tumpukan teratas. Detik berselang, matanya yang terpaku otomatis penuh dengan pemandangan betapa menggodanya tofu lada hitam. Uh, harum mericanya bahkan kontan membuat perut Janya bertalu lapar. Tak cuma itu, di sana juga ada nyempil beberapa sendok sosis teriyaki yang sewaktu dia kecil selalu jadi hidangan terfavorit yang sukses mematik gelora nafsu makannya. Janya tahu-tahu udah tersenyum sendiri mengingatnya. Kemudian, saat dia beralih ke box berikutnya, netranya lagi-lagi dibuat membola. Bagaimana enggak? Di dalam wadah yang nggak seberapa lebar itu Janya berhasil menemukan beberapa potong martabak lenggang ketan hitam yang diberi perisa warna hijau. Itu ... ayah pernah cerita, kalau makanan yang bentuknya kayak pastel dan rasanya nggak begitu manis tersebut adalah kesukaan Bunda. Lalu, sejak ayah bilang begitu, secara nggak sadar menu itu lantas bertransformasi menjadi makanan kesukaannya juga. Janya bahkan mulai dengan rutin memakannya ketika usianya mengingajak di angka sekitar tujuh tahun. Saat dia merasa udah cukup beranjak dewasa untuk mengerti bahwa biarpun Bunda nggak lagi ada di sisinya, tapi kapan pun jika ia rindu ternyata hanya dengan memakan martabak lenggang favorit Bunda itu saja, dia seolah bisa merasa sedang ditemani Bunda. Setiap kali ia mengecap sekelumit gurih di lidahnya maka, dia akan mulai berpikir bahwa itulah yang juga kerap kali dirasakan Bundanya. Sayangnya, udah seberapa lama kiranya ia tak lagi menjumpai menu itu? Terakhir, dia agaknya menyantapnya ketika duduk di semester pertama kelas 3 SMP. Dan, itu ... bukankah udah lama sekali? Rasanya, ketika akhirnya ia mampu menemukannya kembali pagi ini di atas meja bar miliknya, Janya cuma merasa mendadak ada yang mengetuk-ngetuk kotak es dan menjalarkan selengkung kehangatan di hatinya. Meski faktanya kehangatan itu tak bisa berlangsung selamanya. Terlebih, tat kala sekelebat wajah tiba-tiba muncul di dalam benaknya. Janya menggeleng-gelengkan kepalanya untuk selanjutnya berlanjut membuka wadah yang mirip termos dan menjaring adanya sup makaroni yang masih mengepulkan uap panas. Hm, salah satu dari sederet jenis makanan yang kalau boleh disinggung, tak pernah absen untuk hadir menyemarakan hari ulang tahun ayahnya. Yah. Hari ini tiba kembali. Dan, sama seperti hari ini di tahun-tahun sebelumnya, yang punya hajat bukannya leha-leha, justru sedari sebelum subuh lumrahnya Ayah akan sibuk di dapur. Memasak dengan tangannya sendiri yang emang jagoan untuk meracik menu ini dan itu. Kebanyakan sih kedoyanan Janya. Perempuan yang pagi ini telah rapi dalam balutan kemeja lengan panjang dengan aksen ruffle di d**a tersebut sempat berpikir bahwa tahun ini mungkin bakal lain. Bagaimana pun toh Janya enggaklah keluar dari rumah dengan baik-baik. Dia sempat mencipta huru-hara, memicu ketegangan dan bahkan hampir-hampir peperangan dengan seisi rumah termasuk ya ... Ayah. Dia kira, ayahnya akan sakit hati. Otak sinetronnya bahkan berpikir kalau ayahnya boleh jadi nggak akan sudi mengakuinya sebagai anak lagi. Parahnya, mereka akan putus hubungan. Janya akan dibuang. Cih, dasar! Agaknya Janya benar-benar lupa sih kalau ayahnya adalah Reno Adipati. Tak hanya beken sebagai pengusaha Food & Beverage yang aktivitas sosialnya udah macem relawan UNICEF. Keramahan dan kebaikan hatinya yang suka disebut-sebut bak Keanu Reeves itu bahkan menyasar kepada nyaris semua orang yang ditemuinya. Lalu, Janya yang anak kandungnya ... sekali pun, dia sedurhaka Malin Kundang sepertinya sih untuk sekelas Reno Adipati, ayahnya itu tetap nggak bakalan mungkin tega mengutuk dia jadi batu. Jangankan batu, terancam makan batu saja ayahnya nggak akan mungkin membiarkannya sih. Oh, rekening Janya bahkan terus digenduti—boleh jadi sebab beliau takut Janya benar-benar jatuh miskin dan harus makan batu—lho, dengan cara terus ditransferi uang jajan setiap bulan bernominal fantastis yang tentunya nggak lagi Janya pakai sih. Iyalah. Gengsi dong! Lagi pula, sama seperti yang telah dia katakan dengan yakin pada seseorang tepat sebelum ia meninggalkan rumah, Janya akan bertahan di atas kakinya sendiri. Sesulit apa pun dunia luar yang harus dia arungi, itu jelas lebih baik daripada dia harus menghabiskan waktunya untuk terjebak di rumah yang semenjak dia lepas dari jenjang SMP maka, itu justru berubah jadi hunian yang terasa sangat super-sialan! Ugh! Balik lagi ke makanan yang kini terhidang dengan sedap di matanya, Janya lantas menyendok nasi dengan takaran penuh, mengisinya juga dengan sosis teriyaki dan kuah sup, mulutnya kemudian terbuka hingga selebar pintu gua untuk menampung suapan pertama itu. Janya mengunyah dengan pelan untuk lamat-lamat merasai titik-titik air asin yang luruh dari sepasang matanya mulai menjalar, ikut mampir masuk ke celah mulutnya. Itu ... masih seenak yang Janya ingat sempat dimakannya tahun lalu. Ayah memang top kalau udah urusan sama masak. Harusnya, beliau ikut Master Chef saja. Dia yakin, di kontes itu Ayah bakal jadi Lord. Lidah Chef Juna pasti bakal takluk oleh bakat memasaknya. Sialan! Janya masih sibuk menyuap sendokan berikutnya sambil menangis kala melirik ke secarik kertas yang terselip di dekat kantung tahan panas yang tadi membungkus makanan tersebut. Dia meraihnya kilat. Dan, di sana bisa dia dapat mengenali bahwa itu benar merupakan tulisan Ayah. Hurufnya terjajar dengan kecil-kecil dan rapi. Tak terlalu panjang sih. Janya membacanya dalam hati. Untuk Janya, I am summer. Yearning for a drop of your rain, kata Gemma Troy sih. Kalau kata Ayah: Sayang, mau ya ketemu Ayah? Karena, kalau mesti nunggu lagi Ayah takut nih bisa-bisa dikit lagi Ayah lupa muka Janya. Dari Ayah, yang sayang Janya baik kemarin, hari ini, besok, selalu dan selamanya. Lalu, bukannya mandek air matanya justru meluncur kian deras. Ia mendekap secarik kertas itu erat di d**a. Ayah .... Walau dia berusaha menyangkalnya. Namun, rasa itu tepat dan nyata. Janya ... dia juga rindu Ayah. Sangat rindu kepada ayahnya, Reno Adipati. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN