4. Apakah ini bentuk cinta ?

1365 Kata
Beberapa hari berlalu "Kak Grisel, apakah kakak sudah siap ?" Grisel mengangguk menampilkan senyum manis kepada adiknya. "Fezya siap-siap dulu ya, jangan tinggalkan Zya ya, Kak.. ?" "Oke, Kakak akan tunggu disini." Fezya kembali ke kamarnya. Hari ini pun tiba, apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut mereka, begitu juga sebaliknya dan apa yang baik menurut mereka belum tentu baik menurut kita. Grisel kini tengah termenung di ruang tamu rumahnya, dia sedang menunggu Mommy nya untuk menjemput dia dengan adiknya untuk berangkat ke Indonesia. Ini adalah keputusan dari Mommy nya yang tidak bisa terbantahkan lagi. Mereka akan pergi ke Indonesia untuk sementara waktu. Kata Mommy nya tunggu Mommy bicara baik-baik sama suami barunya itu, agar Grisel dan Fezya bisa bergabung bersama keluarga barunya tersebut. Grisel juga tidak tahu entah sampai kapan. Nama Indonesia sebuah rencana yang tidak ada terpikirkan oleh Grisel selama ini. Indonesia negara yang katanya Indah itu tempat kelahiran Mommy nya, siapa sangka dia akan segera mengunjunginya. Seperti biasa suasana gaduh tidak lagi terdengar beberapa hari ini, kini yang ada suasana pagi yang begitu sunyi tapi inilah yang di inginkan Grisel, tidak ada lagi suara pertengkaran Mommy dan Daddy nya lagi. Tapi kali ini versi yang berbeda dan tak akan terjadi lagi di rumah ini karena semuanya sudah selesai. Daddy nya saja sudah tidak pernah berkunjung ke sini lagi. Fezya sedang bersiap-siap di kamarnya. Hari ini, Sella benar akan meninggalkan rumah ini rasanya seperti mimpi semuanya berakhir. Dimana rumah yang begitu banyak kenangan, tempat dimana dia tumbuh kembang di dalam rumah ini. Namun, kehidupan Kakak dan adik ini tidak bisa dibilang layak, karena hak mereka sebagai anak di dalam keluarga ini benar tidak terpenuhi oleh kedua orang tuanya. Sungguh sangat menyedihkan sekali. Mereka berdua harus menjadi dewasa sebelum waktunya. Rumah yang seharusnya bisa menjadi tempat untuk berpulang dengan menikmati rasa nyaman serta mendapatkan kehangatan dari keluarga, malah menjadi saksi bisu ketidakadilan untuk Grisel dan Fezya, dia dibenci kedua orang tua sendiri. Memiliki adik seorang penyintas membuat Grisel menaruh perhatian yang besar kepada adiknya untuk berjuang sembuh. Bukankah Tuhan sangat menyayangi manusia yang bisa memanusiakan manusia itu sendiri. Buktinya Grisel tidak pernah meninggalkan adiknya yang berjuang dengan penyakitnya tersebut, mereka berdua saling berpegangan tangan dan menguatkan diri satu sama lain untuk bertahan hidup. *** Grisel dan Fezya seperti orang bisu mereka banyak diamnya akhir-akhir ini, seperti mayat hidup. Setelah dia mendengarkan dari mulut Mommy nya sendiri Mommy nya sudah sah bercerai dari Daddy nya. Mereka dibiarkan hidup di rumah mewah ini seperti di dalam penjara dengan keadaan selalu terombang-ambing dengan nasib yang kurang baik. Beberapa hari berikutnya Mommy nya memutuskan untuk menikah lagi. Kata hancur sudah melekat pada dirinya. Pernikahan tersebut tentu tanpa kehadiran Fezya dan Grisel karena Mommy nya tidak pengen mereka hadir di pesta pernikahan itu, yang akan bikin suasana tidak menyenangkan. Kini semuanya sudah berubah dalam sekejap mata. Dia tidak akan mendengarkan lagi suara berisik sautan caci maki kedua orang tuanya lagi. Semuanya benar sudah berakhir dan kenangan itu akan tercipta lagi di benak Grisel. "Apakah barang sudah di bawa semuanya ? "Grisel tersadar dari lamunan menyakitkan itu yang sudah menghantam hati Grisel. Dia tidak mendengar Mommy nya sudah datang, yang kini sedang menatap ke arahnya. Grisel mengangguk kearah Mommy nya. Kini Fezya sudah bergabung duduk disampingnya Grisel. "Mommy harap kalian tidak meninggalkan barang kalian lagi di rumah ini karena Daddy kalian pasti tidak menyukainya. Bisa saja dia akan menjual rumah ini segera kepada orang lain karena Mommy tidak butuh lagi rumah ini dan tidak akan menginjakkan kaki lagi di rumah ini. " Grisel kembali mengangguk. Dia benar tidak ingin bicara dengan Mommy nya. "Mommy minta maaf ya, suami baru Mommy tidak suka Mommy membawa kalian ke rumahnya dulu. Mommy sudah berbicara sama dia, tapi dia belum mau menerima kalian. Mommy minta maaf, Mommy tidak mau memaksa hingga Mommy harus bertengkar dengan suami Mommy karena Mommy sangat menyayanginya. Mommy harap kalian bisa mengerti Mommy ya, tapi Mommy akan bicarakan lagi sama dia agar kita bersama lagi." Grisel menekan lagi jauh kedalam rasa sakit hatinya itu. "Kalian jangan khawatir, Mommy tidak akan melupakan kalian. Mommy akan sering berkunjung ke tempat Nenek dan Kakek kalian di Indonesia. Mommy akan bertemu dengan kalian, kita akan saling telponan nanti, pokoknya kalian jangan khawatir Mommy akan mengingat kalian." Grisel dan Fezya mengangguk kompak. Dia mulai terbiasa lebih tepatnya terbiasa membiasakan diri mereka tidak banyak bicara untuk apa kan, bicara pun mereka juga tidak ada yang mau mendengarkannya lagi. Mereka selalu salah kan di mata Mommy dan Daddy nya selama ini. Kata jangan dari mulut mereka ini pun sudah tidak ada artinya lagi. Tamparan keras waktu itu masih Grisel ingat dia mendapatkan tamparan pertama dari Mommy nya, kini dia mulai sadar menandai bahwa dia tidak perlu lagi memberikan bantahan apapun kepada Mommy. lagian apa yang dia ucapkan benar sudah tidak berarti lagi di dalam hidup Mommy. "Ucap Mommy barusan bentuk perhatiannya untuk kami berdua kah ?" "Ini apakah boleh dikatagorikan sebuah bentuk cinta, bentuk perhatian? Tapi kalau bentuk cinta nya ribet seperti ini, sepertinya aku nggak butuh lagi kan untuk apa perhatian itu di tampilkan sekarang sepertinya sudah basi untuk aku dan Fezya. Tuhan boleh kah kali ini aku egois aku tidak butuh lagi peran ibu seperti Mommy ku lagi." Grisel sudah capek, batin Grisel. *** Mereka sudah berada di bandara internasional Boston Logan. Grisel melirik kiri dan kanan dia sangat berharap bisa bertemu dengan Daddy nya untuk terakhir kalinya. Grisel sudah tidak melihat wajah Daddy nya lagi. Harapan itu selalu di harapkan Grisel seperti Daddy nya merasakan bersalah kepadanya dan Fezya, tapi harapan cuma harapan yang tidak akan terwujud karena semuanya benar sudah tidak bisa disatukan lagi. Ibaratnya cermin sudah retak seribu. Inilah takdir untuk Grisel, tak peduli sekeras apa pun dia mencoba memperbaiki retakan itu, cermin itu takkan pernah kembali seperti sedia kala. Bekas-bekas perbaikan akan selalu ada, seperti luka yang sembuh namun meninggalkan goresan. Setiap garis retak adalah pengingat tentang masa lalu yang tak bisa dihapus dari ingatannya. Grisel menghela napasnya untuk kesekian kalinya, semarah-marahnya Grisel dia tidak pernah benci dengan cinta pertamanya itu, walaupun Daddy nya tidak menyukainya lagi tapi Grisel kecil dulu pernah merasakan kasih sayang dari Daddy nya tersebut. "Daddy kalian tidak akan datang, dia lagi sibuk menyiapkan pernikahannya dengan cewek murahan itu, kalian dengar sendiri yang Mommy bilang cewek yang sempat Daddy bawa dia ke hotel. Dia akan menikah dengan wanita itu." Kepalan tangan itu mengepal kuat di dalam saku celana Grisel. "Sudah jangan mengharapkan dia lagi, dia tidak akan berlari kesini dan menangis kepergian kalian. Dia tidak merasakan kehilangan sama sekali dengan kalian. Dari awal Daddy tidak mengharapkan kalian hadir dia membutuhkan anak laki-laki. " Via menghela napasnya. "Dia tidak butuh anak perempuan seperti kalian, Maaf Mommy harus mengatakan faktanya. Ayo kita pergi, kalian harus bahagia di Indonesia walaupun tanpa ada Mommy dan Daddy lagi di sisi kalian, tapi Mommy tetap menyayangi kalian berdua." Grisel menautkan kedua alisnya, ucapan Mommy nya terdengar ambigu. Setelah mereka melakukan serangkaian pemeriksaan mereka bersiap-siap untuk berangkat. Grisel memilih posisi duduk di dekat jendela. Kini dia memilih untuk diam seribu bahasa dia menatap kearah jendela ntah apa yang dia lihat tatapannya sepertinya sangat kosong. Via melihat perubahan yang signifikan dari anak-anak nya. Dia mendesah pelan dia tahu Grisel orangnya tidak banyak berbicara. Karena dia bukan tipe orang yang mudah terbuka dengan perasaannya tapi lebih banyak ke tindakan. Namun kali ini rasanya berbeda sekali. " Apakah aku sudah menyakiti hati mereka ? Maafkan Mommy ya Nak, keadaan lah yang membuat Mommy terpaksa melakukannya. Kalian aman di tempat Nenek dan Kakek di Indonesia." Batin Via. Kini pesawat sudah lepas landas. Selamat tinggal Boston. Sebelum meninggalkan rumah masa kecilnya tadi Grisel meninggalkan selembar Foto masa kecil bersama Daddy nya, Foto tersebut Grisel sedang belajar bersepeda. Di belakang foto tersebut Grisel mengungkapkan perasaannya. Foto ini di potret oleh Mommy nya sendiri. Sengaja Grisel tinggalkan di kamar nya. Berharap Daddy nya akan melihat nanti. Terima kasih ya Daddy untuk semua hal indah yang pernah Daddy berikan untuk Grisel. Grisel kecil cuma mengucapkan kepada Daddy, Daddy itu merupakan Daddy yang paling baik di dunia Grisel. Grisel kecil belum pernah mengucapkan ini seumur hidupnya , Grisel tidak tahu bisa bertemu Daddy lagi atau tidak. Grisel sayang sama Daddy. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN