Saat keluar dari gedung mewah itu, langkah kaki Niana tiba-tiba terhenti ketika Sean berdiri di depannya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. "Saya akan mengan---" Niana mengusap air matanya, memaksakan senyumnya yang terlihat menyedihkan di mata Sean. "Nggak perlu. Saya bisa pulang sendiri." Ujarnya dengan suara bergetar. Niana hendak melangkahkan kakinya namun Sean kembali menghalangi jalannya. Laki-laki itu bersikeras mengantarnya pulang entah atas perintah siapa. "Maaf. Tapi saya harus tetap mengantar anda ketempat di mana seharusnya anda berada. Saya tidak ingin---" "Memangnya dimana tempat saya seharusnya berada?" Tanya Niana menantang, air matanya sudah tidak bisa lagi di bendung. Tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang melewati mereka. Jika beberapa menit yang l

