Senyum di wajah Niana berubah sendu. Rasa kecewa itu tiba-tiba datang begitu saja ketika orang yang di harapkan datang tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Niana memaksakan senyumnya kepada laki-laki minim ekspresi di depannya, sedikit heran dengan kedatangan Sean---yang mengaku sebagai temannya El-Fatih. Meski Niana merasa sedikit aneh dengan penampilan Sean yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda sebagai seorang mahasiswa. Dengan setelan jas formal berwarna hitam dan wajah tegasnya yang tidak pernah menunjukkan banyak ekspresi. Sean lebih mirip pembunuh bayaran. "Bisa ikut saya sebentar? Ada yang ingin bertemu dengan anda." Niana mengernyit bingung. Ini pertama kalinya dia berbicara langsung dengan Sean, meski sering kali melihat laki-laki itu berbicara dengan El-Fatih.

