Pagi itu rumah Aurora terasa ramai dan hangat. Sejak subuh, ia sudah sibuk menyiapkan segalanya, seragam sekolah Zean dan Zoya, berkas pekerjaannya. Untung saja ada Bianca, sahabat sekaligus penyelamat di pagi hari yang selalu sigap membantu. “Makanan sudah siap! Ayo, sarapan dulu sebelum dingin!” seru Bianca dari dapur. “Ok, Aunty!” sahut Zean riang, disusul tawa kecil Zoya. Keduanya berlari menuju meja makan seperti sedang lomba lari kecil. Aurora hanya bisa menggeleng sambil tersenyum, menyusul mereka dari belakang. Bianca sudah menyiapkan nasi goreng hangat dan segelas s**u untuk masing-masing anak. “Tuh, nasi goreng favorit kalian. Makan yang banyak ya,” katanya sambil menatap penuh kasih. “Ra, emangnya kamu mau mewawancarai siapa sih?” tanya Bianca tiba-tiba sambil menuangkan ju

