bc

JANJI

book_age4+
11
IKUTI
1K
BACA
dare to love and hate
drama
male lead
highschool
office/work place
cheating
first love
school
naive
sacrifice
like
intro-logo
Uraian

Menurut Abi cinta itu begitu rumit, Apalagi saat dia di hadapkan pada sebuah pilihan yang membuatnya sangat sulit untuk memilih.

Sebelumnya Abi percaya jika cinta pertamanya itu akan kembali padanya. Tapi, tidak pada kenyataannya yang juga membuatnya jatuh hati pada kembaran sang kekasihnya.

8 tahun berlalu setelah lulus SMA, Abi dipertemukan kembali dengan Widi, kekasihnya saat SMA yang menghilang karena pindah ke Jakarta. Namun sayangnya, Widi ternyata sedang menjalin hubungan dengan sepupunya yang bernama Arif.

Sementara itu Abi juga di pertemukan kembali dengan Wida, kembaran Widi yang saat sekolah dulu sangat mengagumi Abi lebih dari apapun.

Saat Abi dan Wida menjadi sangat dekat, Widi pun seolah tidak menginginkan hal tersebut. Namun saat Wida tahu tentang semua rahasia Widi dan Abi, juga tentang perasaan Widi dan Abi yang ternyata masih saling menyayangi, Wida pun memberikan pilihan pada Abi.

Pilihannya adalah siapakah yang akan Abi pilih?

Wida atau Widi?

Lalu bagaimana dengan Arif?

chap-preview
Pratinjau gratis
Masa SMA
“Aku ke kantin duluan ya? Laper nih…” kata Abi sambil mengusap perutnya yang keroncongan. Dia melirik ke arah Okan yang masih mengerjakan tugas dari Bu Airin dengan wajah yang bosan. “Eh, nggak ah! Aku juga ikut! Udah beres kok.” Okan segera menaruh pulpennya di dalam buku lalu dia menutup bukunya tersebut dan beranjak mengikuti langkah Abi untuk pergi ke kantin. Dia tidak mau ketinggalan dengan sahabatnya yang selalu mentraktirnya. Okan dan Abi adalah sahabat sejak mereka masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Terkadang teman-teman mereka juga menyebut mereka dengan sebutan ‘anak kembar’ karena dimana ada Abi, di situ juga pasti ada Okan, begitu pun sebaliknya. Mereka memang sering menghabiskan waktu mereka bersama. Menurut Abi, Okan adalah satu-satunya teman yang paling mengerti dirinya dalam segala hal, sehingga Abi merasa nyaman saat bersama Okan. Walaupun sebenarnya Okan itu tipikal orang yang berisik dan konyol, tapi itulah yang membuat Okan begitu unik di bandingkan dengan teman-teman lainnya yang Abi kenal. Karakter Abi yang kalem dan Okan yang berisik itu membuat keduanya saling melengkapi dan mengisi satu sama lain. Saat Abi dan Okan melangkah bersama menuju ke kantin sekolah, ternyata di belakang mereka ada Niken, Wida, dan Dian yang diam-diam sedang membuntuti langkah Abi dan Okan. Mereka adalah anak dari kelas XII-2 IPA. “ABIIIIII!!!” teriak Dian dengan suara yang nyaring dan melengking. Dia berusaha menarik perhatian Abi yang sedang berjalan di depannya. Abi dan Okan pun terhenti saat mendengar teriakan yang memanggil nama Abi berulang-ulang. Abi dan Okan segera mencari darimana sumber suara tersebut berasal. Dan, saat Abi dan Okan menoleh, di lihatnya Dian dan Niken sedang mendorong-dorong Wida yang terlihat malu-malu. Wida memegang sebuah bungkusan kado berwarna merah muda dengan pita biru di tangannya. Dia menundukkan kepalanya dan kedua pipinya yang mulai memerah. Abi dan Okan pun hanya saling bertukar tatap heran. Mereka tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Apakah Wida sedang menjadi korban lelucon teman-temannya? Atau bagaimana? “Abi! Ada yang mau ketemu nih.” kata Dian sambil mendorong Wida ke arah Abi. Namun, sepertinya Wida malah menahan langkahnya. Dia tidak berani mendekati Abi yang sedang menatapnya dengan rasa penasaran. “Ayok cepetan! Mumpung orangnya ada disini!” sambung Dian lagi dengan suara yang memelan namun sedikit emosi dengan mata yang dia buat melotot. Dia sudah tidak sabar ingin melihat reaksi Abi saat menerima kado dari Wida. “Nanti kalo dia nolak gimana?” bisik Wida yang ragu memberikan kado pada Abi. Dia sudah lama menyukai Abi, tapi dia tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya. Dia hanya bisa diam-diam memberikan kado setiap bulannya pada Abi. Dian dan Niken sudah lama mengetahui rahasianya dan selalu memaksa Wida untuk berani bicara pada Abi. “Enggak! tenang aja pasti di terima kok.” Niken terus menarik tangan Wida. Dia berusaha meyakinkan Wida bahwa Abi adalah cowok yang baik dan tidak akan mengecewakan Wida. Dia juga ingin membantu Wida untuk mendapatkan hati Abi, karena dia tahu betapa Wida mencintai Abi. “Iya, lagian selama ini kan dia selalu nerima kado dari kamu.” sambung Dian yang mulai mendorong tubuh Wida sedikit rusuh. Dia ingin segera menyelesaikan misinya untuk menjodohkan Wida dan Abi, karena dia bosan melihat Wida yang selalu saja baper sendirian. Abi dan Okan hanya menatap bingung ke arah tiga orang gadis yang sedang berjalan ke arahnya dengan ekspresi wajah seperti orang yang sedang bermain tarik tambang saat acara perlombaan Agustus-an. Sehingga keduanya pun tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Apakah harus senang, kaget, atau marah? “Ada apaan sih?” tanya Okan sambil menggaruk kepalanya yang semakin heran. Dia tidak mengerti apa maksud dari ulah Dian, Niken, dan Wida. Wida terlihat menggelengkan kepalanya pada Dian karena malu dan ragu. Namun, Niken dan Dian terus memaksa agar Wida segera bicara pada Abi. Perlahan Wida kembali menatap ke arah Abi, namun tidak lama dia malah menundukan kepalanya saat berhadapan dengan Abi. Dia merasa gugup dan takut ditolak oleh Abi. Dan dengan sangat terpaksa, Dian pun sengaja menginjak kaki Wida agar Wida cepat bicara pada Abi. “Aduh!” pekik Wida kesakitan. Dia refleks mengangkat kakinya yang terinjak. Wida yang merasa kesakitan, kini matanya menatap sinis ke arah Dian, tapi Dian malah melototi Wida sambil memberi kode agar Wida segera bicara pada Abi. Dian berbisik di telinga Wida, “Ayo, cepet! Bilang sama Abi sekarang!" Dengan ragu Wida pun mulai bicara pada Abi. Dia berusaha menarik perhatian Abi dengan suara lembutnya. Dia berharap Abi mau mendengarkannya dan menerimanya. “A-akuu, c-cuma mau ngasih ini sama kamu.” kata Wida terbata-bata sambil memberikan kado yang dia bawa. Kado itu adalah sebuah jam tangan yang dia beli dengan uang tabungannya. Dia memilih jam tangan itu karena dia tahu bahwa Abi suka dengan jam tangan. Dia berharap Abi akan senang dengan kado itu dan mengenakannya setiap hari. Abi sedikit terkejut melihat tangan Wida yang saat ini sedang menyodorkan sebuah kado padanya. Dia benar-benar sangat bingung dengan sikap Wida. Dia tidak mengerti mengapa Wida mau untuk terus memberinya kado setiap satu bulan sekali. Dia juga tidak merasa memiliki hubungan khusus dengan Wida. Abi hanya menganggap Wida sebagai teman satu angkatan yang biasa saja. Dia tidak tahu bahwa sebenarnya Wida menyimpan perasaan padanya. “Kado lagi? Buat aku?” tanya Abi heran. Dia ingat bahwa ini bukan pertama kalinya Wida memberinya kado. Setiap satu bulan sekali, Wida selalu memberinya kado yang berbeda-beda. Mulai dari buku, pulpen, topi, hingga kaus kaki. Dia tidak pernah menolak kado dari Wida, karena dia merasa tidak enak. Tapi dia juga tidak pernah memakai atau memanfaatkan kado-kado itu. Dia hanya menyimpannya di lemari kamarnya. “I-iya… buat kamu.” jawab Wida singkat dengan wajah yang masih menunduk malu. Dia tidak berani menatap mata Abi, karena dia takut melihat ekspresi Abi yang mungkin tidak suka dengan kado yang dia berikan. Dia berharap Abi mau menerima kado itu dengan senang hati. Okan pun mencoba mengingat tanggal ulang tahun Abi. “Ini hari ulang tahun kamu Bi? Bukannya masih lama ya?” tanya Okan bingung. Dia tahu bahwa ulang tahun Abi masih dua bulan lagi. Dia heran mengapa Wida memberi kado pada Abi sekarang. Apakah ada sesuatu yang spesial hari ini? Abi hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan wajah polosnya yang kebingungan. Dia juga tidak tahu mengapa Wida memberinya kado hari ini. Dia tidak merasa ada sesuatu yang istimewa hari ini. Dia hanya merasa hari ini seperti hari biasa saja. Begitu juga Okan, karena setiap satu bulan sekali sepertinya Okan selalu melihat pemandangan seperti ini. Ya, Wida memang selalu memberikan kado pada Abi setiap satu bulan sekali. “Yang ini kado buat apa ya?” tanya Abi yang masih keheranan. Dia penasaran dengan isi kado yang Wida berikan. Dia ingin tahu apa yang membuat Wida mau memberinya kado tanpa alasan yang jelas. Apakah Wida punya maksud tertentu dengan kado-kado itu? “E-enggak… hmm… itu, apa namanya…” kata Wida terbata-bata. Dia tidak bisa menjelaskan dengan jelas apa maksud dari kado yang dia berikan. Dia tidak bisa mengatakan bahwa kado itu adalah ungkapan cinta dari hatinya. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa selain gugup dan bingung. Dengan kesal Dian pun meneruskan kata-kata Wida yang terdengar berbelit-belit. “Itu kado dari Wida sebagai ucapan makasih dia ke kamu.” kata Dian dengan nada yang agak tinggi. Dia berusaha membantu Wida untuk memberi alasan yang masuk akal. Dia berpikir bahwa ucapan terima kasih adalah alasan yang paling aman untuk memberi kado pada Abi. “Makasih?” Okan pun menatap heran ke arah Abi lalu beberapa detik kemudian mereka berdua mengarahkan pandangan mereka ke arah Wida. “Makasih untuk apaan sih?!” lanjut Okan penasaran. Dia tidak mengerti mengapa Wida harus berterima kasih pada Abi. Dia tidak ingat ada sesuatu yang Abi lakukan untuk Wida. Wida tersipu malu sambil menutup wajahnya, namun Dian dan Niken malah terus mendorong Wida agar mendekat pada Abi. Mereka berdua berbisik di telinga Wida, “Ayo, bilang aja kalau kamu suka sama Abi. Ini kesempatanmu untuk mengungkapkan perasaanmu. Jangan takut, kami akan mendukungmu. Abi pasti akan menerima kamu. Dia kan baik dan ramah. Dia pasti tidak akan menyakiti hatimu.” Wida merasa bingung dan takut. Dia tidak yakin apakah dia harus mengikuti saran Dian dan Niken. Dia tidak yakin apakah Abi akan menerima perasaannya. Okan yang masih kebingungan tidak sengaja melihat ke arah pintu kelas XII-2 IPA, dan dengan sangat reflek dia menyikut tangan Abi hingga mata Abi yang sedang menatap ke arah Wida pun kini tertuju pada Widi. Widi, dia sebenarnya adalah saudara kembar Wida. Selama ini, Widi dan Wida memang menyukai Abi sejak pertama masuk SMA. Namun, berbeda dengan Wida yang hanya bisa mengagumi Abi, Widi ternyata memang menjalin kasih dengan Abi sejak kelas X tanpa Wida dan anak-anak lain di sekolah tahu kecuali Okan. Widi baru saja selesai membuang s****h di dekat pintu kelasnya ketika ia melihat Abi dan Okan sedang asyik mengobrol dengan Wida, kembarannya, dan beberapa teman lainnya. Widi merasa penasaran dengan pembicaraan mereka, terutama dengan Abi yang selalu membuat hatinya berdebar. Ia pun berdiri di sana sambil tersenyum manis ke arah Abi. “Makasih ya, Bi, karena kamu udah bikin Wida jadi semangat belajar. Katanya gitu, lho. Bener nggak Da?” Niken, salah satu teman Wida, tiba-tiba menyela dengan nada menggoda. Ia sengaja ingin mengusik Wida yang memang diam-diam naksir Abi. Wida langsung merasa malu dan menepuk tangan Niken yang sedang memegang tangannya. Ia menundukkan kepala dan tidak berani menatap Abi. Sementara itu, Abi hanya bisa tersenyum simpul pada Wida. Ia tidak tahu harus berkata apa. “Eh, iya deh. Sama-sama, Wida. Makasih juga udah ngasih kado buat aku setiap sebulan sekali.” Abi mencoba menjawab sambil tertawa kecil dan menggaruk tengkuk lehernya. Okan yang mendengar jawaban Abi hanya bisa melongo. Ia tidak percaya bahwa Wida begitu sangat menyukai Abi. Sampai-sampai ia selalu memberikan hadiah untuk Abi setiap bulannya. Okan pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa kasihan dengan Wida yang tidak mengetahui kebenarannya bahwa Abi dan Widi sudah bersama sekian lama. Wida merasa senang karena Abi mau menerima kado darinya dengan baik. Ia berharap Abi bisa menyadari perasaannya. Ia pun tersenyum lembut pada Abi. “Y-yaudah, kalau gitu aku ke kelas dulu ya. Sampai ketemu nanti.” Wida berpamitan sambil menggaruk kepalanya yang gatal karena gugup. Abi mengangguk dan tersenyum sebagai respon atas ucapan Wida. Ia melihat Wida berjalan diikuti Niken dan Dian menuju kelasnya. Kemudian, ia menoleh ke arah pintu kelas XII-2 IPA. Di sana, ia melihat Widi yang masih berdiri di sana. Ternyata, gadis itu masih memperhatikan interaksi antara Abi dan Wida. Abi merasa ada sesuatu yang aneh dengan pandangan Widi. Ia pun tersenyum pada Widi dan mengangkat tangannya sebagai salam. Widi pun membalas senyuman dan lambaian Abi. Kemudian, ia segera masuk ke kelasnya. Okan pun menutup mata Abi dengan tangannya. “Parah-parah! Kamu kan udah deket sama Widi, ya. Terus kenapa Wida nggak buat aku aja sih?!” celetuk Okan untuk mengusir rasa cemburunya. Abi langsung menyingkirkan tangan Okan dari wajahnya. “Ya tanya aja sendiri sama Wida.” jawab Abi. Abi lalu beranjak pergi meninggalkan Okan. Sementara itu, Okan hanya bisa menghela napas sambil melihat ke arah kelas XII-2 IPA. Di sana, Widi sedang duduk di bangkunya. Okan pun memutuskan untuk melangkah mengejar Abi yang sudah lebih dulu pergi. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.3K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.9K
bc

TERNODA

read
199.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
66.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook