Enam tahun kemudian, hari dimana Wida dan Widi lulus kuliah dan menjadi seorang Dokter. Saat itu adalah hari yang sangat membahagiakan bagi Wida dan Widi bisa mencapai cita-citanya. Mereka berdua mengenakan toga dan topi wisuda dengan bangga, sambil tersenyum lebar di tengah-tengah teman-teman seangkatannya.
“Wida! Widi! Selamat yaaa…” kata salah seorang teman mereka yang menggunakan hijab berwarna putih bernama Reni. Dia memeluk mereka berdua dengan erat, menunjukkan kegembiraannya.
“Iya, makasih ya Ren.” kata Wida dan Widi yang kompak menjawab Reni. Mereka juga membalas pelukan Reni dengan hangat.
“Gue mau di foto dong, sama Dokter kembar yang cantik ini.” pinta Reni pada Wida dan Widi. Dia ingin mengabadikan momen spesial ini bersama sahabat-sahabatnya.
“Boleh dong.” kata Wida dan Widi serempak. Mereka pun berdiri berdampingan dengan Reni, sambil menunggu seseorang yang bisa memotret mereka.
“Sebentar ya.” lanjut Reni mencari mangsa untuk dijadikan fotografernya. Matanya berbinar-binar melihat sekeliling, mencari orang yang bisa dia mintai tolong. “Imaaaaann!!!” teriak Reni tiba-tiba, melihat seorang pria yang sedang memotret panggung acara wisuda. Pria itu bernama Iman, teman sekelas mereka yang juga lulus hari itu. Dia dikenal sebagai orang yang hobi fotografi dan selalu membawa kamera kemana-mana.
Seorang pria bernama Iman yang sedang memotret panggung acara wisuda tiba-tiba menoleh ke arah Reni, mendengar teriakannya. Reni pun langsung melambaikan tangannya agar Iman menghampirinya. Iman yang dilambaikan tangan oleh Reni pun hanya bisa celingak-celinguk perlahan menghampiri Reni. Dia bingung kenapa Reni memanggilnya dengan begitu keras.
“Apaan Ren?” tanya Iman dengan nada kesal. Dia tidak suka diganggu saat sedang asyik memotret.
“Tolong fotoin gue dong buat kenang-kenangan.” pinta Reni dengan manja. Dia menunjuk ke arah Wida dan Widi yang sudah siap berpose. “Ini kan Dokter kembar yang cantik, sayang kalau gak diabadikan.”
Iman menyeringai dan mengiyakan pinta Reni. Dia memang tidak tega menolak permintaan Reni, apalagi dia juga mengagumi Wida dan Widi yang pintar dan cantik. Dia pun mengambil kamera dari lehernya dan mengarahkannya ke arah mereka.
“Yaudah, siap yaaa… 3… 2… 1!” hitung Iman sambil menekan tombol kamera. Lampu kamera pun berkedip, menangkap gambar ketiga wanita itu dengan latar belakang panggung acara wisuda.
“Sip, udah!” kata Iman sambil menunjukkan hasil jepretannya ke Reni. Foto itu terlihat bagus, menampilkan ekspresi bahagia dari mereka.
“Ok! Makasih ya Man, entar kirim ke gue.” kata Reni sambil mengambil kembali kamera dari Iman. Dia senang melihat foto itu, dan berencana untuk membagikannya ke media sosial.
“Iye.” jawab Iman singkat yang dengan segera langsung meninggalkan Reni dan si kembar Wida dan Widi. Dia merasa canggung berlama-lama di sana, apalagi dia punya perasaan khusus terhadap salah satu dari mereka.
“Gue jadi enggak sabar pengen cepet lulus juga.” kata Reni sambil mengipas-ngipas wajahnya yang kepanasan. Dia masih harus tinggal, dan harus menunggu satu tahun lagi untuk bisa lulus. Dia iri melihat Wida dan Widi yang sudah berhasil meraih gelar Dokter.
“Kamu pasti bisa kok, Ren. Lo kan juga pinter, Ren.” kata Wida sambil menepuk bahu Reni. Dia tahu Reni adalah teman yang rajin dan berbakat.
“Iya, Ren. Jangan pesimis dong. Gue doain semoga lo lulus dengan nilai paling bagus.” kata Widi sambil mengangguk-angguk. Dia juga memberikan dukungan kepada Reni, yang selalu setia menemani mereka selama kuliah.
“Makasih ya, guys. Kalian emang bestay gue bangetlah.” kata Reni sambil tersenyum. Dia merasa beruntung memiliki Wida dan Widi sebagai sahabatnya. Mereka selalu saling mendukung dan membantu satu sama lain.
Ketiganya pun kembali duduk dan menikmati acara di panggung. Saat semuanya sibuk menatap ke arah panggung, tiba-tiba sesosok suara pria datang memberikan sebuah ucapan untuk Widi.
“Selamat ya, dokter Widi yang cantik.”
Wida, Widi, dan Reni terkejut mendengar suara pria yang tiba-tiba datang itu. Ketiganya pun langsung menoleh ke arah sumber suara. Mereka melihat seorang pria berdiri di samping meja mereka dengan membawa sebuket bunga. Rambutnya rapi, matanya bersinar, dan senyumnya manis.
“Arif?” kata Widi dengan nada terkejut dan senang. Dia mengenali pria itu sebagai Arif, seorang lulusan arsitek yang saat ini bekerja di sebuah perusahaan properti. Arif adalah teman dekat Widi sejak dia pindah ke Jakarta. Arif selalu mendekati Widi dan menunjukkan perhatiannya. Arif bahkan sudah beberapa kali menyatakan cintanya kepada Widi, tapi Widi selalu menolaknya dengan alasan dia belum lulus kuliah. Namun, Arif tidak pernah menyerah untuk mendapatkan hati Widi. Dia bersabar menunggu Widi hingga hari ini.
“Nih, buat lo!” Arif memberikan bunga untuk Widi sambil tersenyum. “Ini bunga mawar merah, lambang cinta yang abadi. Gue harap lo mau terima cinta gue juga.”
Widi merasa bingung dan malu menerima bunga dari Arif. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya memandang Arif dengan tatapan yang berkecamuk.
“Makasih ya, Rif. Lo udah mau datang ke acara penting gue.” kata Widi akhirnya. Dia berusaha bersikap biasa saja, seolah-olah Arif hanya datang sebagai teman.
“Masa sih gue enggak datang untuk jadi saksi kebahagiaan kalian?” kata Arif sambil melirik Wida dan Reni. “Gue kan temen baik kalian juga. Apalagi kalian berdua.”
“Kalian, apa Widi aja nih?” goda Wida pada Arif. Dia tahu maksud Arif sebenarnya. Arif ingin menunjukkan bahwa dia lebih dekat dengan Widi dan Wida. Apalagi saat Wida tahu dan melihat tangan Arif membawa bunga mawar untuk Widi. “Eh, eh, btw, lo kok jadi sok romantis gitu sih, Rif? Biasanya lo enggak kaya gitu.” goda Wida melanjutkan.
Arif hanya tersenyum malu mendengar godaan Wida. Dia memang tidak pandai mengekspresikan perasaannya. Dia lebih suka berbuat daripada berkata-kata.
“Udah enggak usah malu gitu deh, Rif.” kata Wida sambil memukul lengan Arif. “Lo kan udah berani ngasih bunga, berarti lo juga harus berani ngomong apa yang lo mau, dong?” lagi, Wida menggodanya.
Arif menghela napas. Dia tahu Wida hanya bercanda, tapi dia juga merasa tertantang. Dia ingin sekali mengungkapkan isi hatinya kepada Widi di depan semua orang.
“Hmm, gue mau minta izin nih sama sang calon kakak ipar.” kata Arif sambil menatap Wida.
“Dih, kakak ipar?” tanya Wida geli sambil terkekeh.
“Kalo gue sama Widi langkahin lo, enggak apa-apa kan?” canda Arif. Dia bermaksud untuk mengajak Widi untuk berpacaran. Dia tahu Wida belum punya pacar, jadi dia merasa tidak enak karena akan membuat Widi melangkahinya.
“Lo tuh apaan sih, Rif?!” sambar Widi sedikit melotot tapi sembari tersenyum malu. Dia tidak menyangka Arif akan berani menggoda Wida seperti itu. Dia merasa senang tapi juga gugup.
“Gue kan cuma minta izin, Di. Syukur-syukur kalo lo emang mau nerima gue beneran.” celetuk Arif sambil menatap Widi dengan penuh harap.
Widi mencubit Arif tanpa ampun. Dia tidak tahu harus menjawab apa karena dia masih bingung dengan perasaannya sendiri. Dia memang menyukai Arif, tapi dia juga takut untuk menerima cinta Arif.
“Aduh, aduh…ampun Di, cuma becanda kok.” Arif berpura-pura kesakitan. Dia tahu kalau Widi masih ragu-ragu. Dia juga tidak bermaksud untuk memaksa Widi. Dia hanya ingin membuat suasana menjadi lebih ringan.
“Enggak ada becanda-becandaan ya, Rif!” kata Widi sambil mencubit Arif lagi. “Lo kan tahu gue lagi serius nih. Gue baru aja lulus kuliah dan mau mulai kerja. Gue enggak mau ada yang ganggu fokus gue.”
“Gue sih setuju-setuju aja kalo emang Widi mau.” celetuk Wida tiba-tiba. Dia melihat Widi dan Arif yang saling beradu pandang. Dia merasa kasihan dengan Arif yang sudah menunggu Widi begitu lama. Dia juga ingin Widi bahagia dengan pilihannya. “Mau kalian langkahin gue atau gimana pun yang penting Widi bahagia sama pilihannya. Gue dukung kok.”
Widi terdiam mendengar kata-kata Wida yang terdengar bijak kali ini. Dia merasa terharu dengan dukungan Wida. Sebagai seorang kakak, Wida selalu menginginkan yang terbaik untuknya.
“Ooooohhh…” Widi gemas mendengar perkataan Wida. Dia lalu memeluk Wida dengan erat. “Makasih ya, Da. Lo emang kakak yang paling baik buat gue.”
“Gue enggak dibagi nih?” kata Arif sambil memasang pose lengan terbuka. Dia ingin ikut memeluk Widi dan Wida. Dia merasa senang melihat Widi dan Wida yang terlihat akur. “Liat gue udah siap-siap gini juga?” lanjut Arif sambil menunjukkan bunga yang masih di tangannya.
“Ogaaaaahh!” kata Wida sambil menggebuki Arif. Dia tidak mau Arif ikut-ikutan. Dia merasa Arif sudah cukup beruntung bisa dekat dengan Widi. “Lo udah dapet bunga, udah cukup lah. Jangan minta lebih.”
Widi juga ikut menggebuki Arif. Dia merasa Arif terlalu lancang. Dia belum siap untuk memeluk Arif. Dia masih bingung dengan perasaannya.
Arif tertawa melihat Widi dan Wida yang menggebukinya. Dia tidak marah. Dia malah merasa senang karena Widi dan Wida sudah menerima kehadirannya. Dia berharap suatu hari nanti Widi akan menerima cintanya juga.
***