“Lho, ini jalan ke rumah kita kak?” Ibnu hanya menganggukkan kepala dan tersenyum lebar. “Aku dapat kabar kalau rumahnya telah selesai, dan kita bisa segera menempatinya,” tutur Ibnu. Raimas sangat berbahagia, namun di tengah itu, rasa khawatir juga menyapa hatinya. “Kenapa?” “Aku malah khawatir dengan kondisi kehamilan ini kalau sendiri di rumah, kakak kan tetap harus bekerja, sementara aku sendiri.” “Kalau belum siap, kita kan tidak harus pindah dalam waktu dekat Rai.” Raimas berdiri di ambang pintu rumah mungilnya, merasakan angin sejuk yang membawa aroma segar dari taman kecil di depan rumah. Kolam ikan yang mengilap di bawah sinar matahari membuatnya tersenyum, membayangkan betapa tenangnya suasana setiap kali ia duduk di sana menikmati waktu yang kini tidak akan sesibuk se

