Satu bulan berlalu, ibnu masih bertahan dalam pekerjaannya. “Ini surat pengunduran diri Raimas.” Ibnu menyerahkan satu amplop putih pada Shofiya, dan diterima dengan baik. “Jadinya Raimas saja?” tanya Shofiya memastikan. “Iya.” Ibnu menjawab singkat. “Keputusan yang tepat Ibnu, sejauh ini belum ada kinerjanya bagus seperti kamu, menurut aku mau pun Zeno, kamu memang tidak bisa mundur begitu saja.” “Ya, untungnya Zeno bersedia bersikap sebagaimana semestinya. Sikapnya yang bikin gue gak nyaman, bahkan baru satu hari kerja, bisa di bayangkan kalau dalam satu tahun seperti itu, bagaimana dengan hubungan gue sama Raimas, gue gak bisa ngebayanginnya.” “Iya, gue minta maaf soal itu. Lalu, Raimas kenapa mundur?” “Selamat pagi…” Zeno masuk bersama dengan Arei, keduanya bergandengan

