Suasana di kamar Raimas kembali berubah muram. Keceriaan yang dibawa oleh teman-temannya kemarin seperti hanya menjadi jeda singkat dalam drama kesedihan yang berkepanjangan. Kini, Raimas kembali terdiam, matanya kosong menatap ke satu titik di langit-langit. Di sampingnya, ibunya duduk dengan khusyuk, jari-jarinya sibuk membolak-balik tasbih, bibirnya komat-kamit melantunkan dzikir tanpa henti. Setiap doa dipanjatkan, setiap nama Allah disebut, berharap menjadi penawar bagi cucunya yang sedang bergantung pada selang-selang dan kabel di NICU. Beberapa jam berlalu dalam hening yang hanya diselingi oleh bunyi monitor di kamar Raimas dan lirihan dzikir sang ibu. Lalu, tiba-tiba, Raimas memecahkan kesunyian. Suaranya lemah, serak, tapi penuh dengan intensitas. "Mama, bayi kita... belum punya

