“Apa kamu yakin ini ide yang baik, Rai?” suara Ibnu terdengar pelan tapi tegas saat pintu rumah tertutup di belakang mereka. Raimas menoleh, sedikit bingung. “Maksudmu?” “Indra,” jawab Ibnu cepat. “Aku nggak bilang aku nggak suka dia, tapi… kamu tahu sendiri, dia dulu bagian dari hidupmu yang—” “Yang sudah selesai,” potong Raimas lembut, meski nada suaranya menegang. Ibnu menatap istrinya lama, seolah mencari celah kejujuran di matanya. “Aku tahu kamu sudah menutup bab itu. Tapi aku juga tahu, perasaan manusia itu nggak sesederhana file yang bisa dihapus begitu saja, Rai. Aku cuma…” Ia menarik napas panjang. “Aku cuma takut, kehadirannya di studio nanti bikin suasana berubah. Antara kalian, atau antara kita.” Raimas menunduk. Ia tahu ini bukan sekadar cemburu buta. Ibnu tidak pernah p

