“Kak, aku kepikiran konsep baru buat series foto kita,” ucap Raimas sambil memegang ponselnya. Dari balik laptop, Ibnu masih sibuk mengetik. “Konsep apa?” tanyanya sekilas. “Visualisasi perasaan yang nggak kelihatan,” jawab Raimas cepat. “Kayak… rasa kehilangan, ketenangan, atau harapan. Tapi divisualkan dengan cara yang lebih modern—kayak konsep double exposure digital digabung sama efek glitch dan cahaya lembut. Kekinian banget, Kak. Aku pengen studio kita punya arah baru.” Ibnu mengangguk, matanya tetap ke layar. “Kedengarannya bagus, Rai. Tulis aja dulu konsepnya, nanti kita bahas waktu aku free, ya?” “Iya, Kak,” jawab Raimas singkat. Tapi hatinya sedikit berat. Ia tahu Ibnu memang sibuk, dan bukan berarti tidak peduli. Namun di saat seperti ini, ia butuh seseorang yang mau langsun

