Bab 14 Pergi

2300 Kata
“Tidak!” Raina berteriak-teriak hingga beberapa orang yang hendak membawanya kewalahan. Dia meraih apa pun yang dapat dijangkaunya lalu dilemparkannya pada orang-orang yang ada di hadapannya. Bi Asih berdiri tidak berdaya melihat wanita yang dijaganya beberapa hari itu meronta-ronta ketakutan. “Tidak!” Raina kembali berteriak saat para perawat hendak menarik kedua tangannya agar mengikutinya. “Nona.” Bi Asih tidak bisa berkata-kata. Dia begitu iba melihat itu dan berharap majikannya pulang untuk membantu. Membujuk setidaknya. Kedua bola mata Raina melotot dengan geraman keluar dari bibirnya. “Pergi!” teriaknya pada beberapa orang yang hendak menangkapnya. “Raina.” Kala berbisik melihat bagaimana adiknya itu terlihat frustrasi. “Pergi kalian!” Raina berteriak lagi, “jangan bawa saya!” “Raina, kita pulang, ya.” Kala berkata. Membujuk. Mata itu melirik Kala, saat Raina melakukan itu, seorang perawat berhasil memitingnya. Dia berhasil ditangkap dan akhirnya dibius. Pembiusan itu membuat Raina tidak berdaya dan akhirnya dapat diangkat dengan mudah. Kedua bola mata itu mengeluarkan air mata dengan bibir berkomat-kamit mengucapkan kata dengan lirih; Rizal. Kala memandang iba Raina yang dalam pengaruh obat bius. “Aku harap kamu sembuh, Raina.” Bisiknya. Melihat Raina, dia teringat Rizal. Perkataan itu terngiang di kepalanya. Permintaan Rizal adalah amanah. Suatu amanah menjadi berat jika menyangkut rahasia. Raina sudah menganggap Rizal orang baik. Bagaimana jika Raina menanyakan Rizal nantinya? Apakah dia harus diam dan berpura-pura tidak mengenali? Mereka beriringan keluar dari rumah Rizal. “Terima kasih, Bi.” Ucap Kala pelan. Bi Asih mengangguk. Dibantu seorang perawat, Kala naik ke dalam mobil dengan Raina yang terikat di ranjang. “Ayo, pak, jalan.” Perintah Kala pada supir mobil ambulans. Mobil Rizal memasuki halaman rumahnya tepat sesaat setelah mobil ambulans pergi. Hari sudah beranjak siang ketika Rizal datang. Suasana rumahnya sepi. Tidak seperti sebelumnya ketika Raina masih ada. Pasti ada saja teriakan wanita itu di rumahnya. Bi Asih sedang membersihkan ruang tamu ketika Rizal membuka pintu. Beberapa barang pecah belah sedang disapunya. “Bi.” Sapa Rizal. Bi Asih meletakkan sapunya, “mas, baru saja Non Raina dibawa pergi sama mas Kala.” Ucap Bi Asih memberikan informasi. Rizal mengangguk lalu melepas sepatunya. Diperhatikan ruang tamunya yang kacau balau. Pasti Raina mengamuk hingga memecahkan barang yang ada di ruangan itu. Membayangkan amukan itu membuat Rizal menghela napas pelan. Terkadang ada sedikit penyesalan dia mesti pergi, tetapi itu lebih baik daripada menyaksikan Raina dengan mata kepalanya sendiri. Melihat Raina, dia teringat Kanya.   “Mas mau dibuatkan apa?” tanya Bi Asih saat melihat majikannya  tidak mengatakan apa pun lagi selain mengangguk tadi. “Apa saja, Bi.” Jawab Rizal lalu merebahkan dirinya di sofa kemudian memejamkan mata. Rumahnya kembali sepi. Tidak ada Raina yang duduk dengan pandangan kosong atau histeris. Rizal menghela napas panjang. Tidak seharusnya dia berpikir mengenai Raina. Dia pernah berjanji tidak akan mencari pengganti Kanya. Tidak sampai dia bertemu wanita yang memiliki kepribadian seperti Kanya. Ceria, polos dan apa adanya. Terdengar suara masakan Bi Asih, dia bangkit kemudian menuju ruang makan. Dia duduk di salah satu kursi makan, menunggu Bi Asih selesai memasak. “Non Raina marah-marah lagi, mas. Padahal selama mas Rizal pergi, Non Raina baik-baik saja. Waktu dibawa, Non Raina ngamuk. Vas bunga mas Rizal dipecahkan Non Raina, Mas.” Ucap Bi Asih seraya masak. “Kala sama siapa, Bi?” tanya Rizal, dia tidak peduli pada vas bunganya. Seharusnya dia tidak bertanya mengenai Raina lagi, namun dia penasaran. “Sama perawat katanya, mas. Nona mesti disuntik dulu baru bisa diangkat. Sepertinya sih dia tidak mau dibawa pergi, mas. Mungkin sudah betah di sini.” Rizal mengangguk samar. “Kasihan Non Raina. Sampai depresi seperti itu. Tega sekali.” Bi Asih bergumam sendiri. Ponsel Rizal bergetar. Sebuah pesan masuk dari Kala. Saya langsung membawa Raina ke New York. Terima kasih, Zal, sudah membantu menjaga Raina selama ini. Rizal tidak membalas pesan Kala. Sebaliknya, dia membuka pengaturan ponselnya lalu memblokir nomor Kala. Dia tidak ingin suatu saat nanti Kala menelepon atau mengiriminya pesan singkat lagi. Kemudian, pemikiran lain melintasi kepalanya. “Bi, kalau rumah ini dijual, laku berapa, ya?” Bi Asih menghentikan kegiatannya. Nampak berpikir sesaat. “Entah, mas. Tapi bisa milyaran mungkin. Rumah mas Rizal ‘kan bagus.” Rizal mengangguk-angguk. “Saya ada niat mau jual rumah ini, Bi. Mau pindah ke rumah yang lebih kecil lagi. Bibi ada informasi orang yang mau jual rumah? Yang biasa saja, Bi. Tidak perlu mewah-mewah.” Bi Asih mengangguk cepat. Teringat tetangganya yang ingin menjual rumah karena terlilit hutang. “Ada, mas. Tapi di kampung. Rumah biasa. Tidak mewah seperti ini. Tapi mobil bisa masuk, kok.” Tanpa berpikir dua kali, dia mengangguk cepat. “Besok antar saya ke sana, ya, Bi. Saya mau lihat. Kalau cocok, saya beli. Rumah ini saya jual saja.” Bi Asih mengangguk seraya melanjutkan masaknya. Dia tidak ingin menanyakan lebih lanjut keputusan tiba-tiba majikannya. Mungkin majikannya ingin suasana baru. mungkin rumah yang lebih kecil dapat membuat majikannya tidak merasa kesepian. *** Raina berteriak-teriak tidak karuan. Matanya menatap nyalang sekitar. Mencari seseorang dan ketika tidak ada yang dicarinya, dia kembali berteriak. Dokter memerhatikan bagaimana Raina yang histeris dan berteriak-teriak itu, sementara Kala dan Cinta hanya bisa terpaku. Setelah lelah berteriak, dia menangis meraung, lalu tertawa. Hal itu membuat Cinta dan Kala sedih bukan main. “Dia harus ditempatkan terpisah dari yang lain.” Ucap dokter. Kala mengangguk. “Kami ingin anda lakukan yang terbaik.” Sementara itu, Keputusan Rizal bulat. Dia tidak ingin meninggalkan jejak untuk Kala dan keluarganya nanti ketika orang itu kembali lagi dari New York. Dia tidak ingin Kala merasa hutang budi padanya atau Raina yang mencarinya. Rizal membeli rumah baru yang lebih kecil di perkampungan tanpa berpikir dua kali keesokan harinya. Rumah barunya itu berdekatan dengan rumah Bi Asih. Rumah lamanya diserahkan pada perusahan properti yang biasa memperjual belikan rumah. Suara ketukan di pintu rumahnya membuat Rizal beranjak dari sofa yang didudukinya. Suasana kampung yang ramai oleh anak-anak kecil membuatnya teringat saat dahulu dia dan kakaknya masih mengontrak rumah. Betapa rindunya dia pada kakaknya. Saat Rizal membuka pintu, terdengar suara anak laki-laki berbicara padanya seraya menundukkan kepala, “maaf, pak, kata nenek saya, ini untuk sarapan paginya.” Alis Rizal naik ketika tahu siapa yang datang. “Ben?” tanyanya memastikan penglihatannya. Anak laki-laki itu mendongak dan terkejut saat pelatihnya berdiri dihadapannya. “Pelatih? Kok ada di sini?” Rizal menatap geli Ben yang kaget. “Ini rumah saya.” “Hah?” “Ya. Hah.” Rizal ingin tertawa. Dibuka pintunya lebih lebar. “Masuk, Ben. Taruh sarapannya di meja makan.” Ben mengangguk mengikuti Rizal menuju meja makan. Rumah baru itu tidak begitu besar dan itu yang diinginkannya. Ben meletakkan rantang susun dua yang dibawanya dari rumah Bi Asih, kemudian menyusunnya di atas meja makan. “Jadi Bi Asih itu nenekmu?” tanya Rizal. Ben mengangguk. “Bi Asih punya tiga anak dan lima orang cucu. Saya cucu tertua.” “Oh.” Gumamnya. Diambilnya beberapa piring dari rak kemudian meletakkannya di meja makan. “Sudah sarapan?” “Sudah.” Ben mengangguk. Ben membantu Rizal menempatkan beberapa lauk untuk sarapan. Nasi sudah dimasak oleh Rizal pagi-pagi sekali. Sengaja dia meminta Bi Asih memasak sarapan pagi di rumahnya saja agar dapat meluangkan waktunya pada keluarganya. Jadwal bekerja Bi Asih seperti kesepakatan awal, namun dengan keberangkatan jam delapan pagi dan pulang pukul enam sore. Ben duduk di salah satu kursi makan. “Tidak ada niat untuk merenovasi rumah ini, pelatih?” tanya Ben. Rumah baru itu nampak sudah mulai kusam. Cat dinding luar sudah mulai mengelupas. Rizal menggeleng. “Tidak perlu, Ben. Biarkan saja seperti ini. Mungkin saya cari tukang cat rumah saja nanti.” Ben menggumam menanggapi ucapan Rizal. “Pak Agung apakah masih lama jalan-jalannya, ya?” tanyanya memecah keheningan. “Mungkin.” Jawab Rizal mengangkat bahu. “Pelatih masih ada jadwal keluar kota?” Rizal menggeleng. “Tidak ada.” Terdengar helaan napas Ben yang lega. “Syukurlah.” Rizal mendongak dari sarapannya. Diangkat alisnya pada Ben. “Kenapa kamu?” “Sasana sepi menurutku.” Rizal menggeleng heran. “Masih ada orang-orang yang datang, tidak akan sepi, Ben.” Ben mengangkat bahu menjawab ucapan Rizal. Dia sudah bisa meluangkan waktunya untuk sasana, sebab tidak ada Raina yang harus ditungguinya. *** Hari-hari selanjutnya berjalan normal bagi Rizal. Dia melakukan pekerjaannya seperti biasa. Dunia tinju sudah menjadi kebutuhannya. Hidup di perkampungan padat penduduk membuat sikapnya sedikit ramah pada tetangga sekitar. Para tetangga bahkan tidak begitu peduli pada Rizal yang seorang pesohor negeri. Mereka memandangnya yang merupakan tetangga mereka, pria tampan namun masih sendiri. Banyak dari mereka bertanya-tanya mengapa orang setampan Rizal tidak pernah membawa pulang wanita ke rumahnya. Sebagian dari mereka percaya bahwa dia pasti sudah memiliki kekasih. Rizal masih rutin berkunjung ke makam Kanya. Bercerita panjang lebar pada makam Kanya. Suatu hal yang semestinya tidak harus dilakukannya. Dia masih berkutat pada kesedihan terdalamnya ditinggalkan orang yang pernah menjadi penopang dan juga penyemangatnya dikala jatuh. Sementara itu kondisi Raina tidak ada kemajuan. Raina masih mengamuk dan berteriak-teriak. Bahkan tidak jarang dia menerjang perawat atau pun dokter yang hendak memeriksanya. “Kejiwaan Raina sangat terganggu.” Begitu kata dokter pada Kala dan Cinta. “Dia sangat kehilangan. Butuh proses panjang agar memulihkan kondisinya seperti semula.” Cinta meremas tangan Kala. “Lakukan apa pun, Dokter. Apa pun agar adik kami sembuh.” Pinta Kala pada dokter, penuh harap. “Akan kami usahakan semampu kami.” Kala mengangguk pasrah. Setelah berpamitan pada dokter, dia terdiam. Dia benar-benar bingung. Mengapa Raina tidak ada kemajuan? Apa yang salah? “Ta,” panggil Kala pada Cinta yang mendorong kursi rodanya. “Tolong telepon Rizal. Apakah sudah bisa ditelepon?” hanya pria itu harapannya. Cinta menuruti permintaan Kala. Dia menelepon Rizal dari ponselnya namun tidak ada sambungan. Cinta mengusap bahu suaminya yang membuat pria itu mendongak. “Bagaimana, Ta?” Cinta menggeleng. Sepertinya Rizal ganti nomor, jawabnya dengan bahasa isyarat. Kala menghela napas. “Apakah dia tidak ingin berhubungan lagi dengan kita?” Sebelumnya Kala menelepon dari nomornya tidak bisa, setelah memakai nomor Kieran untuk menelepon, keesokannya nomor telepon Rizal sudah tidak bisa digunakan. Sepertinya kita mesti menjaga amanah yang Rizal pinta untuk kita. Bahasa isyarat Cinta itu membuat Kala teringat lagi amanah yang diberikan. Kala menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. “Apakah dia kesal pada kita, Ta?” Cinta tersenyum kemudian menggeleng. Rizal orang baik, ucapnya, mungkin ada hal lain yang membuat dia begitu. Jika itu kemauan dia, kita ikuti saja. Mari kita berdoa semoga Raina sembuh. Kala mengangguk. Dia teringat ucapan pembantu Rizal ketika dia hendak membawa Raina, “Non Raina kalau tidak ada mas Rizal pasti marah-marah, mas. Tapi kalau ada mas Rizal, dia takut dan mau diatur. Sepertinya cuma mas Rizal orang yang Raina takuti.” Memang, ketika dia datang hendak membawa Raina, dia sedang duduk. Seolah menunggu seseorang datang. Akan tetapi, ketika tahu yang datang orang lain hendak membawanya, dia berteriak-teriak dan memecahkan benda-benda yang ada dalam jangkauannya. “Apakah kita harus kembali ke Jakarta, Ta? Membawa Rizal kemari.” Cinta menggeleng. Rizal sudah pindah. Ingat? Kala kembali pasrah. Orang yang disuruhnya untuk ke rumah Rizal malah membawa berita buruk. Rumah yang ditempati itu sudah dijual pada orang lain. Rizal sudah pindah rumah entah ke mana. Seolah ingin menghilang dari bumi dan tidak ingin dicari oleh siapapun. *** “Death! Death! Death!” Sorak sorai itu membuat Rizal mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Keringat membasahi tubuhnya. Uang taruhan malam ini lebih besar karena dia akan mengikuti dua kali tinju underground. “Kita jeda dulu!” teriak pembawa acara malam itu. “Sepuluh menit lagi, siapkan uang kalian untuk pertandingan Death yang lebih panas!” Rizal turun dari ring diiringi sorak sorai penonton yang menang taruhan. Dia menuju ruang tunggunya lalu meminum air putih yang dibawanya dari dalam tas. Balaclava masih dipakainya hanya untuk berjaga-jaga jika ada orang yang datang dan memergokinya. Pintu terbuka, pembawa acara datang diikuti seorang gadis muda di belakangnya. “Death.” Sapa pembawa acara itu padanya. Rizal mengangguk. Dia melihat pembawa acara itu menarik paksa gadis tersebut agar secepatnya masuk ke dalam ruangan yang ditempatinya. Gadis itu pasrah ketika ditarik dan didorong hingga jatuh berlutut di hadapannya. Dibawah kakinya. Dia memilih diam. “Nikmati hadiah spesialmu, Death!” ucap pembawa acara itu riang lalu menutup pintu ruangan. “Bangunlah.” Ucap Rizal pelan. Gadis itu bergeming. Dia masih berlutut. Kedua tangannya gemetar hebat. Gadis itu ketakutan hingga dia tidak tega melihat betapa kecilnya gadis itu. Mungkin berumur lima belas tahun. “Bangunlah. Aku tidak akan menyentuhmu.” Ucapnya lagi, berusaha menenangkan ketakutan gadis itu. Ucapan Rizal membuat gadis itu mendongak. Memastikan apa yang didengarnya tidak salah. “Bangun. Duduklah di kursi yang mana kamu merasa aman.” Katanya lagi. Gadis itu mengangguk. Dia memilih duduk berseberangan dengan Rizal. Dia menatap gadis itu. Wajahnya manis dengan rambut lurus yang dipotong pendek sebahu. Memakai gaun merah ketat yang malah membuat gadis itu terlihat semakin kurus. Gadis itu diam menunduk. “Aku tidak akan memberikan makanan dan minuman padamu jika itu yang kamu takutkan.” Ucap Rizal. Dia mengerti ketakutan itu. Gadis itu masih menunduk. “Siapa namamu?” tanyanya. “Mawar.” Bisiknya. “Namamu Mawar?” Rizal memastikan pendengarannya. Gadis itu mengangguk. Alis Rizal terangkat. “Nama aslimu? Bukan nama samaranmu.” “Mawar nama asliku.” “Oh.” Gumamnya menanggapi. Entah berapa kali dia mendapatkan ‘bingkisan istimewa’ dari bos pemilik bar. Pertama kali ketika dia baru memulai tinju underground. ‘Bingkisan istimewa’ dahulu sangat agresif padanya seperti Angella, dan semua bingkisan itu dia abaikan. Dia tidak ingin melakukan apapun pada wanita-wanita itu. “Angkat kepalamu. Aku tidak suka orang menunduk ketika aku ajak bicara.” Rizal menegaskan suaranya agar gadis itu menurut. Gadis yang bernama Mawar itu menurut. Dia mengangkat wajahnya. Tatapan mereka beradu. “Kita akan melakukan apa?” bisik Mawar ketakutan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN