“Kami tidak pernah mengusirmu, Zal. Kamu tahu itu.” Rizal tersenyum tipis lalu berdiri. “Aku akan ke kamar.” “Ya.” Sophie ikut berdiri. “Aku ingin belanja dahulu. Kamu tidak apa-apa kutinggalkan?” “Tidak masalah.” Rizal mengangkat bahu. Dia sudah biasa sendirian. Sophie mengulurkan tangannya menepuk bahu adik iparnya, “istirahatlah. Matamu terlihat lelah. Tidur sebentar tidak akan menyiksamu.” Wanita itu berkata seolah mengerti apa yang dirasakannya beberapa tahun ini. Sebagai jawaban, dia hanya mengangguk saja. Rizal berdiri dari duduknya lalu menggeret koper menuju kamar yang memang disiapkan untuknya jika suatu saat datang di lantai dua. Rumah kakaknya tidak terlalu besar menurutnya. Rumah biasa dengan tiga kamar tidur dengan kamar mandi di dalamnya, ruang tamu, ruang keluarga,

