Febi turun dari dalam pesawat berjala keluar dari dalam bandara. Febi sudah mengabarkan supirnya, kalau dirinya akan tiba di sini dan menyuruh menjemput dirinya.
Febi menatap sang supir dengan senyuman tipis, memberikan koper kecil milik dirinya dan masuk ke dalam mobil. Febi menghela napas. Ya Tuhan! Dia baru sampai di sini dan langsung ke perusahaan miliknya. Febi sungguh melelahkan untuk dirinya.
"Kita langsung ke perusahaan sekarang!" Ucap Febi diangguki oleh sang supir.
Febi mengeluarkan ponselnya dan mengabari Kellan kalau dirinya sudah sampai dan akan langsung menuju ke perusahaan. Tentu saja hal itu membuat Kellan marah dan menyuruh Febi untuk pulang terlebih dahulu.
Mr. Strangers
Kau tidak pulang dulu? Kau harus pulang dulu!
Febi tersenyum melihat pesan yang dikirimkan oleh Kellan. Febi berdeham pelan sebelum membalas pesan dari pria yang menjadi suaminya itu. Febi terdiam. Suami? Febi tidak yakin pernikahan mereka waktu itu sah. Dan Febi ingin menikah ulang dengan Kellan, agar pernikahan mereka lebih sah dan tidak mendapatkan gunjingan dari orang nantinya.
Mereka tidak tinggal di negara yang mana pasangan belum menikah, bebas tinggal serumah dan tidak ada perlu ikatan pernikahan. Mereka tinggal di negara yang penuh dengan norma hukum dan tentunya banyak mulut yang akan menyinyir. Apalagi Febi termasuk pengusaha termuda di negara ini. Yang banyak dikenal oleh masyarakat.
Me
Aku akan pulang setelah semua pekerjaan di sini selesai. Kamu tidak perlu khawatir. Cepat selesaikan pekerjaanmu!
Febi memberikan kata semangat untuk Kellan. Supaya cepat menyelesaikan pekerjaan. Febi mendapatkan balasan pesan berupa pesan suara. Kellan mengatakan untuk jangan terlalu lelah bekerja. Dan Febi merasa lebih hidup dengan ada memperhatikan seperti ini.
Febi keluar dari dalam mobil, berjalan memasuki perusahaan dan menatap dengan senyum tipisnya. Beberapa karyawan yang menyapa Febi. Febi menghela napas, dan berjalan menuju lift menuju lantai tempat di mana ruangannya.
Febi keluar dari dalam lift, berjalan mendekati sang sekretaris dan tersenyum manis pada sekretarisnya.
"Apa kabar Sonya?" Tanya Febi, yang beberapa hari ini tidak bertemu dengan Sonya.
Sonya mendengar pertanyaan dari Febi langsung membungkuk hormat.
"Anda kembali cepat sekali," ucap Sonya tanpa membalas pertanyaan Febi.
Febi tertawa kecil. "Aku kembali cepat karena mendengar masalah di sini. Ada apa? Ada yang mau membuat curang di sini dengan menilap uang perusahaan?" Tanya Febi mengangkat sebelah alisnya.
Sonya yang mendengar itu mengangguk, dan menyerahkan satu buah berkas. Selama Febi pergi, Sonya yang bertanggung jawab di sini. Dan ada kejangalan di laporan keuangan. Sonya sudah memeriksa berulang kali. Namun, tetap saja sangat jangal sekali.
"Ini tidak sesuai. Saya sudah memeriksanya beberapa kali. Saya ingin melapor pada Tuan Febri, tapi, saya rasa dia juga punya masalah di perusahaannya. Dan terpaksa saya harus melapor pada anda. Padahal anda sedang menyusul suami anda," ucap Sonya sopan. Dan meringis ketika dirinya harus merepotkan Febi untuk cepat kembali pulang.
"Kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Kalau aku tidak mengurus perusahaan ini, siapa lagi yang mengurus? Hantu penghuni di sini?!" Canda Febi membuat Sonya kau tidak mau tertawa pelan.
"Suami anda tidak ikut pulang ke sini?" Tanya Sonya menatap ke arah lift.
Febi tersenyum. "Jangan panggil dia suamiku. Dia belum menikah ulang denganku!" Ucap Febi mengibaskan berkas di tangannya, dan masuk ke dalam ruangan.
Febi memeriksa berkas ini, dan menelitinya. Kerugian yang disebabkan oleh orang kurang ajar ini tidak terlalu banyak. Hanya berkisar tiga ratus juta. Tapi, Febi tidak pernah menerima seseorang yang berkhianat dalam perusahaannya.
Febi meletakkan berkas itu dan mengeluarkan ponselnya. Febi memang seorang perempuan. Tapi, kalau ada yang macam-macam padanya, Febi tidak akan tinggal diam. Dia akan membuat orang itu dikeluarkan dari sini dan sedikit bermain.
"Kau seret dia! Dan kau pasti tahu apa yang akan dilakukan. Aku tidak mau menunggu lama lagi," kata Febi mematikan sambungan teleponnya ketika mendengar kata ya di seberang sana.
Febi memijat pelipisnya. Tubuhnya butuh tidur. Pulang ke rumah orangtuanya sangat malas sekali dan lumayan jauh. Febi akan pulang ke apartement miliknya mengistirahatkan tubuhnya di sana. Setelah menyelesaikan ini dan mendengar kabar dari orang suruhannya.
Febi memeriksa pekerjaan lain, dan menyelesaikannya. Febi menguap ketika merasakan sudah dua jam dirinya berkutat dengan banyak berkas. Febi memeriksa ponselnya dan melihat pesan yang dikirim oleh orang suruhannya. Yang sudah mengatakan pekerjaan mereka sudah beres.
Febi tersenyum sinis. Semuanya sudah beres bukan? Febi memang sudah memeriksanya saat dia di dalam pesawat, dan sudah tahu pelaku kurang ajar itu. Febi ingin menyelesaikan dari tempat Kellan sekarang. Tapi, rasanya tidak mungkin. Ini sudah menyangkut masalah keuangan perusahaan, dan Febi harus di sini.
"Sudah beres," gumam Febi berdiri dari kursi kebesarannya dan berjalan keluar dari dalam ruangannya.
Febi menatap Sonya yang serius bekerja.
"Kau sudah makan malam?" Tanyanya. Febi tahu, kalau Sonya ini tipe orang yang sangat tekun sekali dalam bekerja. Dan sering melewatkan jam makan malam.
Sonya mendongak dan tersenyum pada Febi. "Sudah. Anda sudah mau pulang?" Tanya Sonya balik.
"Iya. Dan kalau ada masalah lagi kabari saja. Aku ingin istirahat. Berkas-berkas itu membuatku semakin mengantuk!" Ucap Febi tertawa pelan diikuti oleh Sonya.
"Anda seharusnya langsung istirahat tadi. Dan bisa besok pagi ke sini," kata Sonya sopan.
Febi mengibaskan tangannya. "Kalau aku langsung pulang. Maka aku tidak akan tenang. Aku juga sudah menyuruh HRD mengurus ini dengan mengganti posisi karyawan sialan itu! Sudah bersyukur dia diterima bekerja di sini, dengan gaji yang lumayan besar. Tapi, dia malah menilap uang sampai tiga ratus juta!" Ucap Febi geram.
Sonya mengangguk. Memang benar perusahaan ini memberikan gaji tidak sedikit. Dan masuk ke perusahaan ini tidaklah mudah. Banyak yang ingin masuk ke sini namun, banyak diantara mereka malah kena tolak. Orang-orang yang masuk ke sini seharusnya bersyukur dan jangan banyak tingkah. Mencari pekerjaan zaman sekarang sangatlah susah. Tidak mudah sama sekali.
"Anda benar. Aku sangat senang bekerja di sini," kata Sonya tersenyum.
Febi ikut tersenyum. "Aku pulang dulu. Kau tidak perlu lembur!" Kata Febi berjalan masuk ke dalam lift, dan meninggalkan Sonya.
Sonya yang melihat kepergian Febi tertawa pelan. Febi itu sungguh perhatian pada karyawan yang dekat dengannya. Walaupun ini perusahaan milik Febi, tapi, tidak jarang diantara mereka semua tidak menyukai sifat Febi yant kata mereka sombong.
Padahal Febi tidak sombong. Dia sangat baik. Hanya orang tertentu saja yang tahu kebaikan Febi. Sonya salah satunya.
***
Febi keluar dari dalam lift, menatap datar beberapa karyawan yang menunduk hormat padanya. Febi bukan tidak mau tersenyum pada mereka. Tapi, Febi tahu mereka hanya menunduk hormat terpaksa dan di belakang Febi mereka semua seperti ular.
Menghina dan sering menjelekkan dirinya. Febi benci orang bermuka dua. Kalau saja mereka tidak kompeten dalam bekerja. Mungkin Febi sudah memecat mereka semuanya. Namun, mereka sangat kompeten. Tidak semua bawahan menyukai atasan bukan?
Febi masuk ke dalam mobilnya, menyuruh supir untuk mengantarkan dirinya ke apartement. Febi mengambil ponsel dan memeriksa, apakah ada pesan masuk dari Kellan atau tidak. Ternyata tidak ada lagi. Mungkin Kellan sekarang sudah tertidur. Di sana bukankah malam sekarang?
Febi melihat mobil berhenti di lobi apartemen. Febi keluar dan berjalan memasuki apartement. Ya Tuhan! Kepalanya sungguh sakit sekali, dan matanya dari tadi ingin minta untuk dipejamkan.
Febi masuk ke dalam lift dan mengantarkan dirinya menuju lantai enam tempat apartement-nya. Febi keluar dari dalam lift, dan berjalan menuju pintu apartement-nya. Febi membuka pintu apartement-nya, membuang tasnya secara kasar di atas sofa.
"Lelah sekali!" Ucap Febi yang langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
Febi memejamkan matanya, dan mulai mengarungi mimpi tanpa mengganti pakaiannya. Febi yang baru tertidur satu jam, harus terbangun mendengar suara berisik yang masuk ke dalam kamarnya, dengan memanggil nama Febi tidak ada akhlak sama sekali.
"FEBI! FEBI! KAU SUDAH PULANG?!"
Febi menatap pada pintu kamarnya yang terbuka. Di sana Febri berdiri menatap ke arah Febi dengan senyuman membuat Febi ingin muntah.
"Ada apa?" Tanya Febi malas.
Febri tertawa pelan. "Kau kenapa pulang? Kau diusir oleh Kellan? Makanya dulu kau jangan menolak dirinya. Sekarang kau menyesal bukan?!" Ucap Febri tidak ada akhlak.
Febi meringis dan ingin meninju wajah kakaknya yang tidak tampan sama sekali.
"Jangan banyak bicara! Aku pulang karena ada masalah perusahaan. Bukan diusir oleh pria asing itu!" Kata Febi, dan ingin memejamkan matanya lagi dan tertidur.
Tapi, niatnya itu memang tidak akan terjadi. Lihat saja, si Febri malah menarik tangan Febi dan menyuruh Febi untuk duduk. Padah badan Febi rasanya remuk semua.
"Ada apa?! Aku malas untuk berdebat sekarang. Kalau abang mau tahu semuanya, bisa menanyakan pada Kellan! Jangan padaku!" Ucap Febi dan mulai memejamkan matanya kembali, dan ingin tertidur.
Namun, Febri tidak membiarkan semudah itu. Febri berdecak pelan, dan menyuruh adiknya untuk duduk dan menatap pada dirinya.
"Kau sungguh sudah menerima dirinya? Kau sudah melakukan itu padanya?" Tanya Febri sangat penasaran.
Febi mengeram. "Bang! Jangan banyak bicara! Bagaimana bisa abang menanyakan hal itu! Aku sudah menerimanya! Dan aku belum melakukannya!!" Teriak Febi kesal.
Bagaimana kakaknya ini menanyakan hal sensitif seperti itu. Febi memang sudah menerima Kellan, tapi, dirinya tidak melakukan itu dengan Kellan sekarang. Atau mungkin belum. Febi juga akan membicarakan menikah ulang dengan Kellan. Agar pernikahan mereka lebih sah lagi.
"Ck! Kau serius belum melakukannya? Kau menolak Kellan yang tampan dan hot?" Tanya Febri tak percaya adiknya bisa menolak Kellan.
Febi menarik napasnya perlahan dan melepaskannya secara perlahan. Sabar. Febi harus banyak sabar.
"Aku tidak mau melakukannya sekarang! Kau pergilah! Kepalaku pusing. Masalah perusahaan membuatku harus cepat pulang!" Ucap Febi lemas.
Febri mendengar itu mendesah kasar. "Kenapa kau tidak meminta bantuanku saja? Aku bisa membantumu dan kau bisa tetap di sana," kata Febri mengusap rambut adiknya lembut.
Febi tersenyum kepada kakaknya itu. Febri memang sering berdebat padanya. Tapi, pria itu sangat menyayangi Febi dan tidak mau sesuatu hal membuat Febi lelah dan nanti bisa sakit.
Bolak-balik seperti ini. Membuat Febi akan kelelahan dan bisa jatuh sakit nantinya. Febi juga harus memikirkan masalah perusahaan. Febri bisa menghandle semuanya. Walau Febri memiliki perusahaannya sendiri.
"Aku tidak apa. Lagian aku tidak bisa libur terus. Aku harus memikirkan karyawan di perusahaanku. Di sana Kellan juga bekerja bukan berlibur." Febi akhirnya turun dari atas ranjang, dan berjalan keluar dari dalam kamar diikuti oleh Febri dari belakang.
Febi mengambil air minum dan meminumnya. Febi menatap pad kakaknya yang duduk di sofa depan televisi.
"Bang! Kau kerajinan sekali datang ke sini," kata Febi menatap pada kakaknya.
Febri yang mendengar pertanyaan sang adik, langsung mendengkus. Sudah bersyukur dirinya mau ke sini menemui Febi dan melihat keadaan adiknya. Tapi, alasan paling utamanya. Dia ingin melihat bagaimana reaksi Febi terhadap Kellan sekarang. Ternyata tidak berhasil. Malahan Febi hanya diam dan menyuruhnya untuk pergi terus.
"Aku ingin melihat adikku yang cantik ini. Kau tidak mau melihat wajah tampanku?" Tanya Febri menaik turunkan alisnya.
Febi mencibir mendengar pertanyaan kakaknya. "Aku tidak sudi melihatnya! Kau sungguh tidak mau keluar dari sini?" Tanya Febi kembali mengusir Febri.
Febri yang kembali diusir oleh adiknya itu, langsung menggeleng dramatis. Adik mana yang tega mengusir kakaknya sendiri? Mungkin hanya Febi.
"Aku tidak akan pulang! Aku akan menginap di sini!" Kata Febri yang tidak mau pulang ke rumah.
Dia harus menemani adiknya bukan? Sebagai kakak yang baik, dirinya harus menjaga adiknya agar tidak terjadi sesuatu pada adiknya yang cantik ini.
Febi mendengar itu langsung terkejut. "Aku tidak menerima gembel di sini! Kau punya apartement sendiri. Pulanglah!" Kata Febi kembali mengusir untuk kesekian kalinya.
Febri tetap menggeleng. Sekuat tenagapun Febi mengusir dirinya. Dia tidak akan pulang. Walaupun dirinya dituduh gembel oleh Febi.
"Aku tidak akan pulang. Aku sudah mengatakan menginap di sini!" Ucap Febri tersenyum manis.
"Terserahmu! Jangan ganggu aku istirahat lagi. Aku ingin tidur!" Kata Febi berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Febri mendengarnya mengacungkan jempolnya. Dia tidak akan mengganggu Febi. Membiarkan adiknya itu untuk istirahat dengan tenang dan tidur dengan nyaman. Biarkan dirinya di sini.
Febri mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Kellan. Mengatakan pada pria itu, kalau dirinya berhasil menginap di sini dan akan menjaga Febi. Febri ini berkomplotan dengan Kellan.
"Kellan beruntung dirimu, adikku cepat sadar kalau dia mencintaimu," gumam Febri tertawa pelan mengingat kisah adiknya yang tidak wajar.
Menikah saat umur belia. Setelah itu Kellan pindah dan muncul lagi mengaku sebagai suami Febi. Bagaimana Febi mau percaya, kalau Febi saja tidak terlalu ingat. Atau Febi lebih suka mencari uang dan mengejar pendidikannya dibanding mengingat masa kecil.
"Aku harap kalian setelah ini bisa harmonis dan tidak bertengkar lagi," ucap Febri mendoakan yang terbaik untuk Kellan dan Febi. Dia sangat menyayangi kedua orang itu dan ingin yang terbaik untuk keduanya. Semoga mereka bisa menjalin hubungan ini dengan baik.