Bab 12

2021 Kata
Febi terbangun dan langsung melihat jam dinding dalam kamarnya sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Febi menguap malas dan berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan untuk dirinya. Namun, langkah Febi terhenti ketika melihat pria yang dikenal sebagai kakaknya sudah duduk di kursi meja makan dengan sepiring nasi goreng. Bukan hanya itu saja, di seberang kakaknya sudah tersedia sepiring nasi goreng lagi. Febi yakin itu miliknya. "Abang sungguh menginap di sini tadi malam?" Tanya Febi duduk di kursi meja makan. Febi menduga malam tadi kakaknya itu tidak akan menginap dan akan langsung pulang ke rumah. Namun, ternyata dirinya salah. Kakaknya ternyata menginap di sini. "Iya, memangnya kau kira aku berbohong? Kau makanlah." Febri menyuruh adiknya untuk makan dan jangan berdiri terus seperti orang tidak punya tujuan hidup. Padahal Febi sudah memiliki tujuan hidup dengan berumah tangga bersama Kellan. Febi dengan malas duduk di depan kakaknya, dan menarik piring nasi goreng mendekat padanya. Dan langsung memakannya. Febi yang merasakan rasa nasi goreng itu tersenyum. Kakaknya memang selalu pandai memasak dan tidak pernah gagal sama sekali. Febi memakan dalam waktu sebentar, dan membawa piring dan juga gelas untuk dicuci. Hari ini Febi akan berdiam di apartement saja dan tidak akan ke kantor. Dia masih ingin beristirahat untuk melepaskan penatnya. "Kau masih mau bekerja hari ini? Kau lebih baik istirahat saja hari ini," ucap Febri tidak mau adiknya ini terlalu kelelahan. Febi yang sudah selesai mencuci piring dan gelas menatap pada Febri. "Aku tidak akan bekerja. Aku akan di rumah saja hari ini. Memangnya kenapa? Abang mau membantuku untuk bekerja hari ini?" Tanya Febi. Febri mencibir. "Tidak! Aku sudah tahu kau sudah menyelesaikan masalah itu. Kau mau pergi makan siang bersamaku nanti?" Tanya Febri, berharap bisa pergi makan siang bersama adiknya dan mereka akan membicarakan banyak hal bersama. Febi menggeleng. "Aku tidak akan kemanapun. Aku akan di rumah saja." Febi menolak. Dia tidak ingin pergi kemanapun. Hari liburnya sekarang, dia ingin menikmati waktu di rumah dengan bersantai dan bermalasan seharian. Febi hanya butuh itu. Kalau dia lapar bisa langsung makan dan setelahnya lanjut untuk tiduran. Febri menghela napasnya. "Kau sungguh tidak mau pergi denganku? Aku sangat ingin menghabiskan waktu dengan adikku ini," ucap Febri merasa gemas. "Jangan mencubit pipiku! Aku sudah dewasa dan sudah menjadi pimpinan perusahaan. Aku bukan anak kecil lagi!" Kata Febi mengelak dan duduk di sofa ruang tengah. Febri mendengarnya memutar bola mata dan mengangguk. Ya. Adiknya sudah dewasa. Dewasa dengan cepat dan mengambil alih salah satu perusahaan milik keluarga mereka. Dulu Febi sangat diraguka oleh penanam saham dalam perusahaan mereka dan kolega bisnis. Namun, Febi bisa membuktikan kalau dirinya bisa dan tidak suka dicemooh oleh mereka semuanya. "Aku tahu. Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu. Karena kau akan sering menghabiskan waktu dengan Kellan setelah ini. Seharusnya aku tidak berdoa kalian akan cepat baikan." Ucap Febri melekungkan bibirnya ke dalam. Tampak sedih, karena adiknya akan ikut dengan Kellan nanti. Dan sudah akan dijaga oleh Kellan. "Aku tidak akan ikut dengan dia dalam waktu dekat. Aku ingin pernikahan ulang antara diriku dengannya," ucap Febi, membuat Febri mendengar itu terkejut. Pernikahan ulang? Bukankah adiknya dan Kellan sudah menikah? Untuk apa menikah ulang? "Untuk apa kau menikah ulang dengannya? Bukankah kau dan dia sudah menikah?" Tanya Febri. Febi mendesah kasar. Dan mematikan tivi yang terus hidup. Ini akan menjadi pembicaraan serius antara dirinya dan kakaknya. Mungkin sebelum Febi mengatakan pada keluarga mereka dan Kellan. Lebih baik Febi mengatakan pada Febri terlebih dahulu. "Aku tidak sadar sudah menikah dengannya. Aku sudah lupa. Dan tidak mengingatnya. Dan juga, mana mungkin pernikahan anak di bawah umur akan sah. Aku saat itu berusia sepuluh tahun dan dia berusia tiga belas tahun. Tidak dapat dikatakan kami menikah. Aku ingin semuanya mulai dari awal, dengan pernikahan yang sah dan mengundang orang-orang," jelas Febi. Febri yang mendengar itu mengangguk, dan mengerti apa yang dimaksud oleh adiknya. Mereka tidak hidup di negara yang mana perempuan dan laki-laki bisa tinggal bersama tanpa ada ikatan pernikahan. "Kau sudah mengatakan ini pada Kellan?" Tanya Febri, pasalnya ini termasuk hal yang sangat penting sekali. Dan Kellan harus tahu secepatnya. "Aku belum memeritahunya. Aku akan memberitahukan pada Kellan saat dia sudah di sini nanti. Apakah tidak masalah aku meminta menikah ulang? Aku hanya ingin mensahkan hubungan kami lagi. Aku tidak mau hubungan seperti ini, dengan tidak ada kata sah lagi." Ucap Febi.. Febri mengangguk. "Sepertinya Kellan akan pulang dua atau tiga hari lagi. Dia tidak akan membiarkanmu di sini. Apalagi kau sudah menerima dirinya," ucap Febri mengedipkan matanya. Febi mendengar itu mendengkus. Dia tidak akan tersipu mendengar apa yang dikatakan oleh Febri padanya. Febi bukan orang yang mudah akan tersipu. Febi itu mudah mengendalikan dirinya. Dan tidak gampang untuk diejek seperti itu. "Terserah dia mau kembali kapan. Aku juga tidak memedulikannya." Ujar Febi cuek. Padahal dalam hatinya, Febi berharap Kellan akan pulang secepat mungkin. Gengsinya memang sangat besar sekali. Tidak mau mengatakan hal yang sebenarnya pada Febri, kalau dirinya juga ingin Kellan pulang cepat dan dia bisa memeluk pria itu. "Kau yakin mau dia pulang kapan saja. Aku melihat ekspresi wajahmu tidak yakin sama sekali. Aku tahu, kau mau dia cepat pulang. Jangan kebanyakan gengsi! Karena gengsi tidak akan membuat dirimu dengannya lengket bak perangko. Kau tahu bukan? Kalau Kellan itu salah satu pria incaran para kolega untuk dijodohkan dengan anak mereka. Aku tidak mau nanti Kellan merubah haluan, dan malah pergi dengan perempuan," kata Febri menghasut adiknya. Tapi, apa yang dikatakan olehnya tidam bohong. Memang Kellan banyak diincar oleh kolega bisnis untuk dijodohkan dengan putri mereka. Karena mereka tahu kualitas Kellan itu, sebagai pria nomor satu dan pengusaha terkemuka dan memiliki wajah tampan. Febi mendengarnya terdiam. Apakah benar seperti itu? Febi tidak mau Kellan pergi dengan wanita lain. Dia baru saja merasakan jatuh cinta dengan Kellan. Cinta? Ya. Dia sadar itu. Ketika Kellan tiba-tiba menghilang dan tidak mengganggunya lagi. Febi merasa kehilangan, dan saat membayangkan wajah tampan Kellan. Membuat jantung Febi berdetak merasakannya. Dia memang mencintai Kellan. "Aku tidak akan membiarkan Kellan pergi dengan wanita lain!" Kata Febi kesal. Febri mendengarnya tertawa pelan. "Kau tidak perlu berkata seperti itu. Dia juga tidak akan pergi meninggalkanmu," kata Febri. Febi mendengarnya menatap kakaknya penuh selidik. Apakah benar Kellan tidak akan meninggalkan dirinya? Kenapa Febi merasa sanksi dengan apa yang dikatakan oleh kakaknya ini. "Darimana abang tahu, kalau dia tidak akan meninggalkanku?" Tanya Febi. Febri berdecak mendengar pertanyaan dari Febi. "Kau seharusnya tahu, kalau dia sudah menikahimu sepuluh tahun lalu. Dan dia kembali ke sini untuk membawamu bersamanya dan hidup bersamamu. Dia setiap bulannya selalu mengirim pesan padaku, bagaimana kabarmu. Apakah kau baik-baik saja. Apakah kau dekat dengan laki-laki lain. Kalau kau dekat dengan laki-laki lain, aku akan disuruh olehnya untuk menyingkirkan laki-laki itu!" Jelas Febri membuat Febi tercengang mendengarnya. Kellan secinta itu padanya? Padahal Febi sudah bersikap kasar pada Kellan, dan sering mengusir pria itu. Walau pada akhirnya dia sadar, kalau dirinya mencintai Kellan dan tidak bisa berjauhan dengan Kellan. "Dan kau yang membuat laki-laki yang dekat denganku kabur begitu saja? Dan tidak terlihat batang hidungngnya?" Tanya Febi tidak menyangka apa yang dilakukan oleh kakaknya ini. Febri mengangguk. "Iya. Karena aku lebih percaya pada Kellan dibanding laki-laki yang mendekati dirimu itu, yang hanya mau hartamu saja dibanding mencintaimu dengan tulus," ucap Febri, yang sudah tahu biang dari laki-laki yang mendekati adiknya ini. Febi mengakui itu memang benar. Febi juga tidak tertarik pada merek semuanya. Yang hanya memanfaatkan hartanya saja dan tidak mencintainya dengan tulus. "Iya, aku tahu tujuan mereka. Dan sekarang kau senang bukan? Aku sudah menerima Kellan dalam hidupku?" "Tentu saja aku senang. Mama dan Papa juga sangat senang mendengarnya. Mereka ingin kau dan Kellan ke rumah. Mereka juga tahu kau menginap di sini, dan ada masalah di perusahaan. Papa ingin membantumu. Tapi, kau sudah menyelesaikannya terlebih dahulu. Kau memang sangat pintar Febi," puji Febri membuat Febi tersenyum mendengarnya. Febi selalu suka dirinya dipuji saat pekerjaan yang dilakukan olehnya memuaskan. Dan Febi termasuk wanita yang suka sekali bekerja dan pekerjaan itu harus tampak sempurna dan tidak cacat sama sekali. "Tapi, aku masih belum bis datang dengan Kellan ke rumah. Aku harus membicarakan pernikahan ulang dengan Kellan nantinya, agar Kellan mau mengerti," kata Febi. Dia harus membicarakan berdua dengan Kellan. Kalau Kellan setuju, maka dengan secepatnya mereka siapkan semuanya dan pergi ke rumah keluarga mereka membicarakan masalah ini. Dan paling penting, Kellan harus melamar dirinya kembali. Febi tidak mau melewatkan acara lamar melamar dalam hidupnya. Dia ingin pernikahannya sekali seumur hidup dan dirinya ingat semua moment itu. "Ya. Ya. Aku tahu itu. Dan aku akan mengatakan kata hal yang sama. Kalau Kellan tidak akan menolak menikah ulang denganmu. Dia akan menikah denganmu dan membuat pesta yang mewah!" Ucap Febri, sudah tahu kalau pernikahan ini akan berkonsep mewah nantinya. Mengundang banyak tamu dan tentunya tidak akan cukup seribu atau dua ribu tamu. Mungkin bisa lebih dari lima ribu tamu. "Aku terserah pestanya mau semewah apa. Yang terpenting aku sah dengannya. Dan dia harus melamar ulang diriku!" Kata Febi tersenyum manis pada kakaknya dan sudah tidak sabar dilamar oleh Kellan. "Apakah ini perlu aku yang mengatakan padanya?" Tanya Febri prihal lamar melamar. Febi menggeleng. "Ini tidak perlu abang yang mengatakan. Aku akan mengatakannya sendiri nanti pada Kellan, kalau aku ingin dilamar dan diperlakukan seperti pasangan yang menuju pernikahan pada umumnya. Aku ingin merekam semua moment ini dalam otakku," ucap Febi, yang tidak memerlukan Febri mengatakannya pada Kellan. Dia bisa mengatakannya sendiri. Untuk apa Tuhan menciptakan mulut, kalau Febi tidak bisa mengatakannya sendiri. Febi tidak mengenal kata gengsi. Karena kata gengsi nanti malah membuat kita menyesal pada akhirnya. Lebih baik dirinya menjadi blak-blakkan dan mengatakan semuanya. "Ya. Kau memang akan mengatakannya sendiri. Kau tidak pernah malu dan gengsi untuk mengatakan itu. Aku harap semuanya berjalan sempurna. Kau dan dia bisa menjadi pasangan teromantis dan tidak ada masalah dalam pernikahan kalian." Doa Febri. Namun, Febi malah tertawa kecil. "Setiap pernikahan itu pasti ada masalah nantinya. Ini bukan skenario novel yang diciptakan oleh penulis. Yang mana, penulis bisa sesuka hati mengatur kehidupan pemeran utama dalam novel. Ini adalah kisah hidupku dan rumah tanggaku. Aku tidak berharap banyak. Tapi, aku berharap kesetiaan dan kepercayaan dalam sebuah pernikahan," ucap Febi, yang tidak berharap hal-hal terlalu banyak. Febi hanya ingin sebuah kesetiaan dan kepercayaan. Febi tidak suka dikhianati oleh orang terdekatnya. "Aku percaya dia akan setia dan percaya padamu. Kau harus menyelesaikan masalah dalam rumah tanggamu dengan pikiran terbuka dan tenang. Dan jangan mudah untuk mengatakan kata perceraian! Itu kata yang sangat tidak pantas dikatakan saat emosi melanda dan berpikir singkat. Kau harus mengingat, kalau kau dan dia bisa mempertahankan rumah tangga kalian. Dan bisa menyelesaikan setiap masalah," nasihat Febri. Walau Febri belum mempunyai pengalaman sebuah pernikahan. Tapi, Febri tahu hal yang buruk dan tidak boleh dilakukan dalam sebuah pernikahan. Febri tidak mau adiknya dan Kellan dengan mudah mengatakan kata cerai. Sebuah kata yang akan menyakiti keduanya nanti. Dan bisa menyakiti anak mereka, kalau mereka sudah memiliki anak. Setiap anak ingin keluarga yang harmonis. Dan tidak mau orangtuanya bercerai. Pikirkan secara matang dan panjang sebelum berucap hal buruk seperti itu. Febi mendengarnya tertegun. Apa yang dikatakan oleh kakaknya memang benar. Sekuat apa pun mereka bertengkar, jangan sampai mengucapkan kata terlarang itu. Kecuali hubungan keduanya tidak bis diselamatkan lagi. Dan keduanya sudah memutuskan untuk berpisah. Tapi, Febi berharap mereka tidak akan pernah berpisah dan bercerai. Dirinya hanya ingin menikah sekali seumur hidup dan menjalin hubungan sampai tua. "Aku akan mengingatnya bang. Terima kasih, abang selalu menjadi abang yang terbaik. Aku sangat bersyukur memiliki abang," ucap Febi ingin menangis haru. Namun, ditahan olehnya. Febri yang melihat adiknya akan menangis. Membawa adiknya ke dalam pelukannya. "Itulah guna saudara. Kalau suatu hari nanti, kau ada masalah. Kau jangan sungkan berbicara padaku dan meminta pendapatku, aku tidak akan pernah menghakimimu. Aku akan mendengarkanmu dengan baik, dan memberikan nasihat padamu. Kau adikku satu-satunya. Yang aku sayangi dan ingin selalu aku jaga," ucap Febri mengecup puncak kepala Febi. Febi mendengarnya menghapus air matanya. Dia bersyukur memiliki kakak seperti Febri. Yang selalu ada untuknya, dan selalu menyayangi dirinya. Febi tidak akan pernah bisa marah lama dengan kakaknya ini, kalau mereka memiliki masalah. Febi akan hanya kesal dua atau tiga hari. Dan setelahnya dia akan bicara lagi pada kakaknya. "Terima kasih," ucap Febi tulus. Febri mendengarnya mengangguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN